
Sinta melangkah dengan berat menuju mobil tempat Anton sedang menunggu. Anton melihat Sinta dari kejauhan. Cara berjalan Sinta sudah menyiratkan sesuatu kegagalan.
Anton diam sambil menunggu reaksi Sinta saat masuk kedalam mobil.
"Ayo kita pulang tak ada lagi yang perlu kita lakukan disini"
"Aku akan menemui Indah"
Anton keluar dari mobil namun ditahan oleh Sinta.
"Sudahlah. Kita pulang saja. Dia tak ingin bertemu denganmu selamanya, " kata Sinta memberi kartu undangan pernikahan yang dipegangnya.
Anton meraih kartu itu kemudian membacanya.
"Ini pasti rekayasa, " kata Anton lalu menghancurkan kartu itu menjadi serpihan-serpihan.
"Aku akan menemuinya, " ujar Anton berlari menuju rumah Indah. Dan Sinta mengejar Anton dari belakang. Khawatir terjadi sesuatu yang mengerikan akan menimpanya.
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri! " teriak Sinta membuat langkah Anton terhenti sebentar kemudian Anton melanjutkan niatnya kembali.
"Indah, aku mau bicara. Keluarlah! " seru Anton saat tiba didepan pintu rumah Indah. Cukup lama Anton menunggu namun tak ada seorangpun yang muncul dihadapannya.
Anton mencoba membuat kegaduhan dengan menggedor pintu dengan sekuat tenaga.
Ternyata aksi itu membuahkan hasil. Pintu dibuka oleh Ayah Indah.
"Pergi kalian!! Atau kalau tidak ,aku akan lapor ke pihak keamanan kampung ini agar kalian diusir secara paksa. Aku hitung sampai tiga"
"Satu"
"Tolong pak. Izinkan saya bicara dengan Indah, " ujar Anton memohon.
"Dua"
Sinta menarik tangan Anton supaya menjauhi rumah Indah.
"Apa yang kamu lakukan tidak akan mengubah apapun. Percuma saja kamu merengek untuk mendapatkan cinta Indah kembali. Indah akan menikah satu bulan lagi, " ujar Sinta sengit.
"Posisikan dirimu sebagai manusia berakal. Kalau kamu masih bertahan, aku akan meninggalkamu sendiri disini, " kata Sinta sembari melepaskan tangannya dari tubuh Anton. Lelah juga menarik tubuh besar itu buat seorang perempuan seperti Sinta.
Anton menuruti perkataan Sinta. Ia balik arah menuju mobil. Anton tak mau sendiri menghadapi kemelut yang Dia ciptakan dikampung ini. Anton pasti akan jadi bulan-bulanan warga kampung jika tak jua beranjak dan pergi.
Di dalam mobil yang sedang melaju cukup kencang, Anton dan Sinta tidak bicara sepatah katapun. Sinta melihat kepedihan dimata Anton. Mata itu merah menahan tangis dan wajahnya melukiskan kesedihan yang dalam.
Sinta ikut merasakannya hingga airmata tak sengaja menetes dipipi. Sinta segera menghapusnya. Keadaan seperti ini tak boleh semua orang bersedih. Harus ada penenang diantara mereka agar tak semakin terjatuh. Sinta belum percaya telah melewati peristiwa yang menegangkan ini bersama Anton. Sinta merasa terhina atas perlakuan Indah yang sama sekali tidak mau mendengarnya bahkan merendahkan keberadaannya bersama Anton.
"Apakah kamu baik-baik saja? Kau mau aku yang mengendarainya? "tanya Sinta menawarkan bantuan untuk mengambil alih kemudi.
" Apa lagi yang harus aku lakukan? Andai saja ada jalan. Apapun itu pasti akan kulalui, "ujar Anton tetap mengemudikan mobilnya.
" Aku juga tak tahu lagi cara menaklukkan hati Indah. Semua jalan seperti buntu"
"Aku tak percaya Indah akan menikah dengan mantannya yang brengs*k. Tanpa memberi waktu menjelaskan terlebih dahulu denganku"
"Kau kenal dengan calon suami Indah? " Sinta tak menyangka Anton mengetahui orang yang akan menikah dengan Indah.
"Tentu saja aku mengenalnya. Orang itu selalu mengejar Indah saat kami mulai menjalin hubungan"
Sinta sekarang mengerti mengapa Indah begitu cepat meninggalkan Anton. Orang yang bernama Indra itu pasti sangat spesial bagi Indah.
Anton harus belajar melupakan Indah kalau tidak hidupnya tak akan pernah bahagia.
"Berusahalah mengikhlaskannya, " ucap Sinta sambil menatap Anton dari samping. Anton hanya diam sehari meluruskan badan kedepan.
"Aku akan berhenti ditempat ini sebentar. Aku butuh istirahat. Perjalanan ini bikin badanku remuk, " ujar Anton menepikan mobil pada sebuah cafe ditepi jalan. Sebenarnya bukan raga saja yang letih tapi hati dan pikirannya juga sangat lelah. Tak ada lagi semangat untuk berjuang menjalani kehidupan ini. Untuk apa Ia hidup kalau tujuannya telah hilang.
Sinta mengikuti Anton masuk kedalam cafe.
"Semua ini bukan salahmu jadi tak perlu menemaniku. Kau berhak menjalani hidupmu sendiri"
"Aku adalah temanmu jadi sudah sepantasnya aku disini, " balas Sinta sedikit tersinggung atas ucapan Anton.
"Kenapa baru sekarang kau katakan. Huh, " kata Sinta dalam hati.
Anton melirik jam di pergelangan tangan.
"Huuuaaaahh... Sudah malam sekali. Sebaiknya kita mencari penginapan, " kata Anton sambil berdiri. Sinta juga sangat mengantuk. Tak baik melanjutkan perjalanan dengan kondisi mereka seperti sekarang.
Anton menanyakan penginapan terdekat pada seorang pramusaji yang bekerja di cafe tersebut.
"Ada satu buah penginapan sederhana disekitar sini. Lebih kurang satu kilometer arah sebelah kanan dari cafe , " ujar sang Pramusaji.
Setelah mengucapkan terimakasih, Anton dan Sinta segera keluar menuju penginapan. Dan benar saja, mereka menemukan penginapan yang dimaksud.
Anton tanpa sadar memeluk punggung Sinta agar mereka dapat berjalan berdampingan.
Sinta membiarkan saja Anton mendekap nya erat. Tak hanya itu saja, Anton kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Sinta.
Sinta menuntun Anton menuju kamar yang tadi telah mereka pesan."Kita sudah sampai, "kata Sinta melihat Anton masih bersandar di bahunya. Anton hampir saja terjatuh ketika Sinta membangunkannya.
" Repot banget sama orang yang sedang putus cinta, "gerutu Sinta pelan.
Tring.. . Sungguh sial, kunci pintu jatuh saat Sinta ingin membukanya. Sinta berusaha untuk menjangkau sambil menahan tubuh Anton.
Akhirnya pintu terbuka setelah mendapat kunci dengan susah payah.
Kemudian Sinta merebahkan tubuh Anton namun sepasang tangan merengkuh tubuhnya.
" Aku membutuhkanmu. Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku, "bisik Anton setelah berhasil memeluk Sinta. Namun Sinta melepaskan pelukan Anton lalu merebahkan tubuh pria itu ditempat tidur dengan pelan.
" Tidurlah agar besok lebih segar, "kata Sinta pada Anton.
" Aku akan mengunci pintu kamar dari luar lalu aku selipkan kuncinya dibawah pintu, "ucap Sinta pada Anton yang sudah tertidur nyenyak bersama dengkurannya.
Dikamar Sinta merenungi kejadian yang baru saja terjadi bersama Anton. Jauh dilubuk hatinya ingin mengatakan bahwa Ia sedang jatuh cinta pada Anton. Kebersamaan mereka satu bulan ini menumbuhkan benih-benih cinta. Tapi Sinta tak pernah sedikitpun menunjukannya pada Anton. Biarlah Ia simpan saja. Karena begitu banyak alasan untuk tidak memiliki Anton. Walaupun hubungan Anton telah kandas bersama Indah. Tidak membuat Sinta bermimpi menjadi kekasih pria yang diam-diam dicintainya itu.
Sinta tak ingin menjadi orang yang dituduh perusak hubungan orang lain. Serta tak mau hanya sebagai pelarian Anton semata.
****
Pintu kamar diketok dari luar dan Anton tepat berdiri dihadapan Sinta.
"Syukurlah kau sudah bangun, " ujar Anton.
"Aku baru saja bangun mendengar ketokanmu. Maukah kau menunggu diluar selagi aku mandi dan berganti pakaian"
"Kalau begitu aku ke ruang makan buat sarapan"
"Okay. Nanti aku susul, " balas Sinta menutup pintu dan bergegas kekamar mandi.
Selesai sarapan, mereka melanjutkan perjalanan kembali pulang kerumah masing-masing. Tak ada pembicaraan berarti selama perjalanan. Bahkan peristiwa dikamar Anton semalam seperti tak terjadi apa-apa. Sinta juga tidak berani memancing Anton untuk buka suara mengenai selentingan ucapannya tadi malam.
Anton tiba-tiba menghentikan kendaraan kemudian menepi disisi tebing dengan hamparan lautan dihadapannya.
Anton meraih tangan Sinta,seketika Sinta terkejut sekaligus gugup.
" Aku tak mau menjadi pelarianmu, "ujar Sinta menarik tangannya.
" Yah.. . Padahal hanya kamu pengobat lukaku"
Sinta membuka tas jinjing miliknya dan mengeluarkan amplop kemarin yang Ia temukan dimeja.
"Aku akan dipromosikan menjadi kepala bagian jika bersedia pindah daerah, " kata Sinta memberikan amplop tersebut pada Anton.
"Aku sudah tahu. Karena promosi ini diputuskan berdasarkan hasil meeting"
"Kau akan menerimanya? " tanya Anton.
"Aku masih memikirkannya"
"Saat rapat aku menolak menyetujui surat promosimu itu tapi percuma saja jika suara terbanyak tidak berpihak padaku"
"Kalau begitu aku akan menerima tawaran mereka, " kata Sinta dengan hati yang bulat.
"Kau bisa saja menolaknya, " kata Anton berapi-api.
"Mereka tidak boleh memaksamu begitu saja. Kamu berhak untuk bertahan disini, " tambah Anto.
"Tidak.Keputusanku sudah sampai pada tahap seratus persen.Aku juga butuh suasana baru, "kata Sinta tak terbantahkan.
Anton mengendarai mobilnya kembali dengan kecepatan maksimal. Hidupnya saat ini benar-benar sial. Baru saja ditinggal menikah oleh Indah sekarang giliran Sinta, teman kerja yang paling diandalkannya.
Bersambung