
Lain dengan kehidupan Leo dikampung. Anton kini mulai menata hidupnya menjadi lebih baik. Pangkat baru yang telah disandang membuat pendapatan Anton juga meningkat. Sekarang Anton sudah mampu membeli pakaian merek terkenal serta punya kendaraan pribadi keluaran terbaru.
"Minggu ini kita akan rapat dengan klien diluar kota. Jadi aku ingin Sinta ikut mendampingiku selama di sana, " kata Anton kala meeting pagi bersama rekan satu kantor.
"Baiklah, " Sinta setuju saja tanpa keraguan jika sudah menyangkut tugas dari pekerjaan.
Saat semua orang berjalan kembali kemejanya masing-masing terdengar suara sumbang ditelinga Sinta.
"Ehm.. Semakin dekat semakin akrab akhirnya semakin cinta eaea eaea"
"Jangan ngomong sembarangan kalian, si Anton sudah punya tunangan. Kalau ada yang mau maju menggantikan ku silahkan saja, " Sinta mulai risih jika dijodohin dengan Anton.Mentang-mentang saat ini Dia masih
single.
Andai saja saat ini Anton juga sedang sendiri maka itu lebih baik. Ia tak perlu sungkan bila bersama Anton. Tapi sayang Anton sudah menjadi kekasih orang lain yang harus dijaga perasaannya.
****
"Sial.Kamar tinggal satu ," kata Anton saat kembali dari meja resepsionis hotel tempat Anton dan Sinta akan menginap selama dua hari.
"Kalau begitu kita pindah hotel saja, " usul Sinta.
"Tidak bisa. Klien ingin bertemu hanya dihotel ini"
"Kenapa mereka tidak pesan kamar untuk kita"
"Mereka sudah pesan tapi hanya satu. Mereka tidak tahu kalau ada dua orang"
"Kalau gitu biar aku cari hotel yang lain"
"Jangan.. Sekarang sudah larut malam, " kata Anton menarik tangan Sinta kemudian berjalan menuju lift yang akan membawa mereka kekamar hotel.
Setiba dipintu kamar hotel. Anton menatap wajah Sinta seraya memohon, "Aku akan tidur ditempat lain. Dan kamu bisa tidur dikasur, okay? "
"Yah baiklah tak masalah, " Sinta menyerah sebab Ia juga tidak tahu lagi solusi dari masalah ini. Lagipula rasa penat mengalahkan rasa nyamannya.
Saat pintu kamar dibuka nampak ruangan yang begitu mewah. Disana ada satu set sofa, meja televisi, pesawat telepon dan beberapa bunga didalam vas terbuat dari keramik mahal.
Sedangkan tempat tidur terletak dalam suatu ruangan tertutup. Selain tempat tidur ada kamar mandinya yang dibatasi oleh dinding kaca.
"Kamu tidur disini dan aku tidur disofa, " kata Anton.
Sinta berbaring dikasur yang sangat empuk. Baru satu kali pertama Ia merasakan tidur seenak ini. Hingga tanpa Ia sadari langsung saja terlelap di peraduan.
Anton hanya geleng-geleng kepala. Tak menyangka Sinta bisa tidur secepat itu.
Mata Sinta sedikit terbuka ketika tak sengaja melihat tubuh Anton dengan jelas dari kaca kamar mandi yang transparan.
"Duh.. Anton ganteng juga, " pekik Sinta dalam hati kemudian Ia kembali memejamkan mata dan segera membalikkan tubuhnya kearah lain.
Setelah selesai mandi, Anton mengendap-endap keluar kamar. Ia tak mau Sinta terbangun lalu melihatnya memakai handuk saja.
Sekilas Anton melirik pada Sinta yang masih tidur. Ternyata Sinta cantik juga kalau sedang tidur. Puji Anton dalam hati.
****
Ketika malam telah berganti pagi. Sinta terbangun lebih dahulu. Secercah cahaya matahari masuk dari celah-celah jendela menyilaukan mata.
Sinta melihat Anton masih terlelap di sofa.
Ah, masih ada waktu dua jam lagi dari jadwal meeting jadi tidak perlu buru-buru. Sinta dengan langkah lemah gemulai menuju kamar mandi.
"Aww.. Panas, " Sinta membuka salah satu kran yang ada dikamar mandi.
"Ada apa? " tanya Anton terbangun mendengar teriakan Sinta. Anton pun segera mencoba mematikan kran air panas tersebut.
Tubuh Sinta dan Anton berdekatan diruangan yang sempit. Pakaian mereka sama-sama basah terkena air panas yang sempat mengalir . Entah karena suhu masih terasa panas, hasrat mereka pun mulai memanas. Ada desir-desiran aneh mengalir di darah membuat Anton mendaratkan bibirnya pada bibir Sinta. Sedetik kemudian bibir mereka menyatu namun secepat kilat dilepaskan oleh Anton.
"Maaf, " kata Anton dengan perasaan bersalah pada Sinta dan juga pada Indah. Mengingat wajah Indah membuat hati Indra terasa sakit.
"Ehh,, , aku juga minta maaf, " ujar Sinta tak tahu harus ngomong apa. Ingin rasanya saat itu Ia berlari kemana saja atau menghilang.
"Baiklah, " kata Anton mulai bergerak menjauhi Sinta.
"Okay, sekarang aku mau mandi. Bisakah kamu menutup pintu itu saat keluar nanti, "kata Sinta menunjuk pintu kamar.
" Ya. Tentu saja. Oh, ya jangan lupa kalau ada stiker merah tandanya air panas dan stiker biru untuk air dingin, "ujar Anton mengingatkan Sinta.
Setelah satu jam mereka secara bergantian menggunakan kamar tidur guna mempersiapkan diri menuju ketempat meeting.
Sinta memakai celana panjang dan kemeja dipadukan dengan blazer tanpa lengan terlihat anggun sekali. Begitu juga dengan Anton yang berpenampilan sangat elegan. Sentuhan terakhir, Anton merapikan rambutnya dengan minyak jadi terlihat sangat rapi. Penampilan Anton kali ini sangat berbeda. Anton kelihatan lebih tampan sehingga membuat Sinta terpesona.
"Baiklah.Mulai dari pintu itu. Jika kita sudah membuka dan melewatinya berarti kita sudah melupakan apa yang telah terjadi, " kata Anton dengan suara pelan namun tegas.
"Aku setuju, " jawab Sinta dengan mantab.
Bersambung