NO NAME

NO NAME
P A R T 9 Hadirnya Angin Lalu



“Elo bisa anter gue pulang, kan?” tanya Hanggi pada Hangga yang masih memeluk dirinya.


“Oke gue anter.”


Hangga menarik lengan Hanggi menuju parkiran motor. Ia memang sengaja mengikuti Hanggi dan Setia ketika berjalan-jalan.


Mungkin akan ada kejadian yang tak  terduga dan menyebabkan masalah. Dan ternyata benar. Hanggi menangis sebab seseorang perempuan memeluk Setia.


Sesampainya di parkiran, Hangga langsung menyalakan motor Vixion biru miliknya–menyuruh gadis itu naik–dan segera saja ia meluncur mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya.


Selama di perjalanan, Hangga sesekali melirik Hanggi yang duduk di jok belakang. Gadis itu memandang dengan tatapan kosong.


Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sampai di Rumah Hanggi. Rumah minimalis itu tanpa pagar. Halamannya begitu asri. Banyak tanaman hias yang di tanam di sekitar rumah itu.


Hanggi turun dari motor itu dan langsung masuk ke rumah. Ia masuk dengan langkah panjang.


Sebagai seorang sahabat, tentu Hangga ingin menenangkan sahabatnya itu. Lalu Hangga berjalan masuk ke rumah itu.


“Assalamu’alaikum,” ucap Hangga ketika memasuki rumah itu.


Ia bisa melihat sahabat perempuannya itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Kepalanya menengadah ke langit-langit rumah.


“Wa’alaikumusalam,” sahut Hanggi ketika merasa seseorang mengucapkan salam dan masuk ke rumahnya.


Hangga duduk di samping gadis itu.


“Elo pulang aja sana! Gue pengin sendiri!” tegas Hanggi pada sahabatnya itu.


Hangga ikut menengadah ke langit-langit ruang tamu.


“Gue tau kalo sekarang elo itu lagi butuh temen, Nggi. Dan gue bakal nemenin elo disini.”


“Terserah!”


Hanggi menghela napas panjang. Dan pria disampingnya itu pun bisa mendengar dirinya menghela napas.


Hangga mendekatkan kepala gadis itu ke bahunya. Dan gadis itu menurut saja atas perlakuan dirinya.


Tangan kanannya mengelus rambut Hanggi. Mereka hanya diam ketika berada di rumah itu.


“Kok berat si? Elo tidur, Nggi?” tanya Hangga saat menyadari beban di pundaknya itu semakin berat.


“Nggi, Nggi.”


Hangga memanggil gadis itu dengan nada lembut. Ia lirik wajah gadis itu untuk memastikan apakah ia benar-benar tidur. Dan ternyata benar. Mata gadis itu sudah terpejam.


Secepat itukah Hanggi tertidur? pikir Hangga.


Hangga teringat akan sohibnya. Ia berniat untuk memberi pelajaran kepada sohibnya itu.


Tetapi ia sedang menemani Hanggi. Dan rumah gadis itu begitu sepi. Mungkin kedua orangtuanya sedang ada urusan.


Buktinya saja sampai sekarang tidak ada keluarga Hanggi yang menemui mereka.


Hangga tidak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian di ruang tamu dalam keadaan tidur.


Oleh karena itu, ia mengangkat gadis itu dan mengantarnya menuju kamar. Ia sudah tahu seluk beluk rumah itu.


Rumah itu memiliki satu lantai. Tidak seperti rumahnya yang memiliki dua lantai.


Setelah sampai di kamar gadis itu, Hangga menidurkan Hanggi di kasurnya. Ia benahi rambut Hanggi yang menutupi wajah.


“Gue nggak bisa liat elo sedih, Nggi. Gue pergi dulu!”


Hangga keluar dari kamar Hanggi dan berniat untuk menemui sohibnya itu. Sebentar lagi aksi hantam menghantam akan segera dimulai.


Apakah mereka akan saling menghantam? Atau hanya satu yang di hantam?


***


Beberapa waktu yang lalu...


Setia pasrah saja ketika Hanggi pergi meninggalkan dirinya dengan Hangga. Itu semua terjadi karena gadis yang sedang memeluk dirinya saat ini.


“Elo bisa, kan? Nggak meluk-meluk gue secara tiba-tiba?” ucap Setia seraya menjauhkah tubuh gadis itu dari pelukannya.


“Emang kenapa? Itu tadi pacar baru kamu? Sorry kalo aku udah bikin dia pergi. Aku beneran nggak tau kalo itu pacar baru kamu. Nanti aku jelasin ke dia deh. Apa yang dia lihat itu sebenarnya tidak seperti apa yang dia pikirkan,” jelas gadis itu panjang lebar.


Setia mengacak rambutnya kasar.


“Elo kenapa? Tadi itu pacar kamu, kan?” Gadis itu bertanya lagi.


“Gue bukan pacarnya Hanggi. Kita cuman sahabatan, Ra,” Setia duduk kembali di bangku yang tersedia di samping penjual es krim.


“Terus tadi dia kenapa kayak cemburu kek gitu?” tanya gadis itu seraya duduk di samping Setia.


“Clara, Clara. Ya mungkin dia cemburu sewaktu elo meluk gue tadi! Pake nanya lagi!” ucap Setia tanpa sadar.


Lalu ia menelengkan kepalanya mencoba untuk mencerna apa yang ia ucapkan barusan.


“Cem-bu-ru? Hanggi cemburu sama gue?” Setia masih belum paham. Lalu ia berdiri dari duduknya.


“Itu berarti?” Setia tertawa.


“Jadi, selama ini? Hanggi, Hanggi suka sama gue?” Nada bicara Setia semakin melemah.


Begitu bodoh dirinya selama ini. Ia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia tidak paham akan perasaan gadis itu pada dirinya.


“Setia!” Panggil Hanggi dari belakang sana. Ia masih di sekolah saat itu.


Setia yang merasa terpanggil langsung menoleh ke arah gadis itu dan bertanya.


“Eh ada apa, Nggi?”


“Gue bawain elo roti isi, nih! Gue sendiri yang nyiapin buat elo,” jelas Hanggi seraya menyodorkan bekal makan itu pada Setia.


“Oh.” Setia menerima bekal itu. “Tumben elo ngasih gue bekal? Elo udah makan, kan? Nanti malah elo ngasih bekal ini ke gue ujung-ujungnya elo belum makan?” tanya Setia dengan raut wajah khawatir.


“Gue udah makan tadi di rumah, mmm.” Hanggi tersenyum manis.


Karena Setia playboy, sudah tentu ia akan bertingkah.


“Manis banget si?” Setia mencolek hidung Hanggi.


“Makasih ya? Bekalnya,” ucap Setia seraya berjalan menjauhi Hanggi.


Gadis itu hanya bisa tersenyum.


“Elo bawa apaan, Set?” tanya Japri ketika temannya itu datang ke kantin dengan bekal makanan di tangannya.


“Gue di kasih roti isi sama si Hanggi,” jelas Setia seraya duduk di bangku kantin.


Hari masih pagi dan ketiga orang itu sudah nongkrong di kantin. Setia, Japri si kerempeng, dan Kenzo si ketua kelas.


Setia tidak biasanya berangkat pagi-pagi sekali. Dan Hangga mungkin masih mandi di rumah.


“Elo mau nggak, Pri? Gue udah makan tadi di rumah.”


Setia memberikan bekal makan itu pada Japri yang duduk berhadapan dengan dirinya.


“Kan itu buat elo, Set. Masa iya elo kasih itu buat si Japri. Kasihan si Hanggi udah bikinin itu buat elo,” sela Kenzo kemudian.


Setia hanya terdiam.


“Gue makan, nih?” tanya Japri seraya membuka bekal itu.


“Makan aja gih! Tapi elo bilang ke Hanggi kalo gue yang makan. Gue nggak mau nyakitin perasaannya,” jelas Setia pada temannya itu.


“Gue nggak ikut-ikutan! Duluan ya. Gue mau ke kelas. Bentar lagi masuk.”


Kenzo yang merasa tidak ingin ikut campur dengan urusan Setia–pergi dari kantin itu–menuju kelas.


“Arga!”


Setia tersentak saat seseorang memanggil namanya dengan nama ‘Arga’. Panggilan itu merupakan panggilan mantan terindah dirinya. Dan mantan itulah yang sekarang ini sedang duduk di samping Setia.


“Jangan panggil gue Arga! Gue udah bilang ke elo panggil aja gue Setia!” Tegas Setia kemudian.


“Oh maaf! Terus gimana sama si Hanggi tadi? Jadi, selama ini dia suka sama kamu tapi kamu nggak nyadar?” tanya Clara seraya memandang wajah Setia.


Beberapa detik Setia tidak menjawab pertanyaan Clara. Tentu gadis itu paham akan mantannya itu. Sehingga ia diam saja.


“Elo ngapain kesini? Bukannya elo udah pindah ke Bandung?” tanya Setia pada gadis itu.


“Aku liburan sebentar ke Purwokerto. Juga aku pengin nemuin kamu, hehe,” jelas gadis itu pada Setia.


“Ish, nemuin gue...” Setia sempat tersenyum.


Yang namanya playboy pasti bersikap sok romantis dan manis di hadapan semua wanita yang ingin ia goda.


“Sekarang udah ketemu sama gue, kan?” tanya Setia seraya berdiri dari duduknya.


“Sekarang elo pulang sana! Gue ada urusan! Dah...”


Setia pergi dari posisinya saat itu. Tak lupa juga ia melambaikan tangannya pada gadis itu.


Melihat tingkah mantannya itu, Clara tersenyum dan berkata, “Sorry ya, Ga. Eh maksud aku Setia. Kedatanganku justru bikin persahabatan kamu itu jadi renggang.”


“Ceilehhh, ngapain mukanya sedih kek gitu, Neng?” tanya penjual es krim itu menyadari gadis di samping kedainya berdiri–memasang ekspresi sedih.


“Mending beli aja es krim abang ini. Hampir semua varian rasa ada. Seperti vanilla, cokelat, strawberry, nanas, a-,”


“Makasih atas tawarannya...” ucap Clara seraya berjalan menjauh dari penjual itu.


Merasa tercueki, penjual es krim itu memasang wajah sedih.


“Mungkin belum rejekinya,” ucap penjual itu dengan nada lemah.


“Fighting!” Tiba-tiba nada bicaranya yang semula lemah menjadi semangat.


***


Bersambung...


Thank for reading


Bisa kasih pendapat di komentar


my ig : marselasepty20


***Next ***


👇