NO NAME

NO NAME
P A R T 33 Terkuaknya Fakta Penyakit Mesum



Dari kejauhan Hangga bisa melihat Jiyan baru saja keluar dari rumah Hanggi. Hal itu membuat dirinya sangat khawatir mengingat apa yang diucapakan sohibnya itu mungkin ada benarnya.


Hangga ingin menghajar pria itu, namun Hanggi tidak akan suka hal itu. Ia ingin berhenti melakukan aksi kekerasan fisik dan mencari keluarga kandungnya.


Hangga memperlambat laju motornya saat rumah Hanggi sudah tampak. Ia memarkirkan motor itu di halaman rumah dan langsung berlari memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Clekkk!!!


Pintu dibuka.


Brakkk!!!


Pintu membentur dinding.


“Uhuk! Uhuk!”


Suara Hanggi terbatuk sebab ia sedang minum dan dikagetkan dengan bunyi benturan pintu yang sangat keras.


“Ngagetin orang tau nggak?!” ketus Hanggi seraya berjalan menuju ruang tamu.


Dan disana ia bisa melihat Hangga dengan wajah entah menunjukkan ekspresi apa. Seperti takut kehilangan seseorang tapi siapa yang akan hilang dari kehidupan orang itu.


“Apa Hangga khawatir kehilangan gue? Sadar Hanggi! Elo kesambet apasih?” batin Hanggi.


“Elo nggak papa?” tanya Hangga dengan nada lembut seraya berjalan mendekati Hanggi.


“Gue baik-baik aja. Emang kenapa?” Hanggi tampak bingung. Lalu ia sedikit mundur saat Hangga semakin mendekati dirinya.


“Parfumnya seger amat? Hanggi! Sadar dia sahabat elo sendiri. Lagian dia juga ganteng, udah sepantesnya gue suka. Haishh!”


Seperti ada dua setan yang sedang menggoda Hanggi untuk masuk ke jalan yang benar atau salah.


“Gue mau elo jauhin Jiyan?” Hangga tetap berjalan mendekati Hanggi hingga gadis itu membentur dinding pelan.


“Kenapa gue deg-degan? Dulu gue sering nolak cowok. Apa sekarang gue bakalan sering ditolak sama cowok?” Lagi-lagi Hanggi membatin. Lalu ia menatap wajah Hangga yang terkesan lesu.


“Waktu itu elo sendiri yang ngasih gue pilihan untuk ngejauhin Jiyan atau enggak. Gue milih nggak ngejauhin Jiyan seb-,” Ucapan Hanggi terpotong karena Hangga mengunci dirinya dengan kedua tangan menempel di dinding.


Posisi wajah sedekat itu membuat Hanggi tidak bisa berkata-kata. Ia bisa saja berkata bebas saat di hadapan sahabatnya itu.


Tapi...ada perasaan entah apa yang membuat Hanggi menjadi gugup. Entah setan mana yang memasuki Hanggi untuk memiliki perasaan terhadap pria itu.


Hangga memperhatikan wajah Hanggi dari dekat secara detail. Kemudian ia sadar bahwa gadis itu sedang menahan napasnya supaya tidak mengenai dirinya. Hangga mundur dan salah tingkah.


“S-sorry gue mepet elo kek gitu,” ucap Hangga kemudian. “Elo ngomong apaan sih, Ngga?” gerutunya dalam hati.


Hanggi tersenyum kikuk. “Tadi Jiyan dateng kesini dan minta maaf sebab waktu itu dia udah...nyi-um gue,” jelasnya pada Hangga.


“Elo diem aja sewaktu dia nyium elo?” tanya Hangga dengan tatapan mengintimidasi. Dahinya berkerut dan tidak senyum sedikitpun.


Itu membuat Hanggi semakin tidak berani untuk menatap pria itu.


“Ya gue diem aja sebab dia nggak mau lepas ciumannya!” ketus Hanggi seraya berjalan menuju sofa dan duduk disana.


“Gue nyuruh elo untuk jauh-jauh dari Jiyan karena dia orangnya mesum dan nafsunya tinggi kalo ngliat cewek cantik dan hot kayak elo,” ujar Hangga keceplosan. Terutama dalam kalimat ‘hot kayak elo’.


“Hot?” Hanggi melotor ke arah Hangga.


“M-maksud gue bukan begitu... Intinya elo jauhin aja si Jiyan.” Kemudian Hangga berjalan menuju pintu keluar. “Malam ini elo nggak boleh tinggal di rumah sendirian. Tidur bareng Lenata di rumah keluarga gue.”


“Tunggu dulu!” pinta Hanggi pada pria itu yang hendak keluar rumah. “Elo jangan percaya sama ucapan Setia. Mesti tuh anak mbohongin elo.”


Hanggi sempat tersenyum geli akan sikap Hangga yang dengan mudah percaya terhadap ucapan Setia.


“Dia bohong sama gue?”


“Duduk sini!” pinta Hangggi pada Hangga seraya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.


 


Waktu itu Setia berjalan mengikuti Hanggi yang hendak menuju Alfamart terdekat. Kebetulan sore hari dan mungkin Setia khawatir terhadap dirinya.


Tempat tinggal Jiyan dan Hanggi saat itu berdekatan dan mungkin saja Jiyan bisa melakukan apapun pada dirinya saat keluar malam.


“Elo nggak usah ngikutin gue bisa nggak?!” tanya Hanggi dengan ketus setelah membalikan badannnya.


Setia mengusap tengkuknya sebab kepergok mengikui gadis itu. “G-Gue khawatir aja sama elo sebab keluar malem sendirian. Makanya gue ikutin elo. Dan gue juga pengin ngasih elo sesuatu.”


“Ngasih apaan?”


➰ ➰ ➰


Saat itu Setia dan Hanggi sedang duduk di warung mie ayam terdekat. Ada yang harus Setia katakan pada gadis itu sehingga ia mengajak Hanggi ke tempat yang tepat untuk mengatakan semuanya.


“Elo mau ngasih gue apaan? Berita? Barang mahal? Kalo itu gue nggak bakal terima,” ujar Hanggi yang duduk berhadapan dengan Setia di dalam warung mie ayam. Di tengah bangku itu terdapat meja panjang sebagai pembatas.


“Sorry untuk waktu itu, gue mutusin elo tanpa ngasih tau alasannya. Tapi sekarang gue bakal ngasih tau hal itu sebab gue nggak mau persahabatan diantara kita bertiga hancur.”


Nyaris hancur!


“Cepetan jelasin gue mau pulang. Sebentar lagi petang.”


“Gue mutusin elo karena... Hangga.” Pernyataan itu membuat Hanggi memperhatikan wajah Setia dengan serius.


“Hangga suka sama elo. Waktu itu gue liat dia ngobrak-abrik kamarnya nyampe berantakan karena suka sama elo. Gue nggak mau sohib gue itu nyakitin diri sendiri lebih parah.”


“N-nggak mungkin Hangga suka sama gue. Dia bisa jaga perasaan,” elak Hanggi akan fakta barusan.


“Mungkin kalo njaga perasaan biar nggak ketauan bisa... Lebih tepatnya dia mendem perasaan,”


“Terserah elo mau percaya apa enggak. Dan gue punya rencana untuk ndektin elo sama Hangga. Nama kalian aja udah cocok dan pas. Hangga Hanggi. Beda huruf vokal di belakang.”


Hanggi terdiam.


➰ ➰ ➰


 


“Jadi, salah satu rencananya dia nuduh Jiyan orang mesum tingkat tinggi? Tuh anak emang bener-bener kampret.” Hangga tertawa ringan.


“Lagian Setia juga bilang kalo elo kampret,” ujar Hanggi ketika ingat nama kontak Hangga di handphone Setia.


“Gue kampret?”


“Iyaaa. Dia nyimpen nomor elo di kontaknya dengan nama ‘Kampret’,” jelas Hanggi dengan menekankan kata kampret.


“Emang bener-bener tuh anak ngeselin! Seenaknya aja mempermainkan orang-orang. Sahabat sendiri juga di permainin,” gerutu Hangga dengan nada cepat.


“Lo sendiri nyimpen kontak Setia pake nama apaan?”


Hangga terkekeh. “Sama juga sih...”


Ctak!!!


Hanggi tak segan-segan menjitak kepala Hangga hingga pria itu mengaduh.


“Sama-sama kampret juga,” makinya kemudian. “Oh iya, Ngga. Waktu itu Bang Jordi ngasih tau gue kalo elo ada masalah keluarga dan gue disuruh buat bantu elo nyelesein masalah itu. Emang bener kalo elo bukan anak kandung...dari keluarga elo saat ini?” tanya Hanggi to the point.


“Bener. Gue bukan anak kandung mereka. Gue hanya anak pungut da-”


Ucapan Hangga terputus sebab gadis itu menyenggol lengannya agak keras.


“Elo bukan anak pungut, Ngga. Lagian ada istilah lain yang bisa elo pake. Anak angkatlah, atau apalah yang lebih pantas.”


Hening.


“Ternyata elo suka sama gue Ngga. Sengaja gue nggak bilang ke elo rencana Setia ndeketin elo sama gue biar elo tetep ngrasa nyaman dan nggak terlalu gugup maupun salting di hadapan gue,” ucap Hanggi dalam hati.


Elo yang salting kali, Nggi! Gema suara Japri 😂😂😂


“Semoga elo cepet ketemu sama keluarga kandung elo,” lanjutnya seraya menatap wajah Hangga dan tersenyum.


Hangga membalas senyuman Hanggi hingga dirinya blushing. Lalu ia memalingkan wajahnya guna menetralkan perasaannya itu.


“Senyuman elo bikin gue blushing Ngga.”


Pintu rumah Hanggi memang tidak ditutup. Lalu munculah seorang pria cool memakai kemeja merah maroon dan celana jeans hitam.


Rambutnya dibuat sekeren mungkin dengan model menampakkan dahinya meski beberapa helai rambutnya jatuh menutupi dahi pria itu.


“Assalamu’alaikum,” ucapnya.


“Wa’alaikumusalam,” sahut mereka berdua yang duduk bersebelahan di sofa.


 


 


BERSAMBUNG...


SATU KATA BUAT PART INI💕


THANKS FOR READING💕


SEE YOU NEXT PART💕


MY IG : marselasepty20