NO NAME

NO NAME
P A R T 32 Penjelasan



Setia jalan kaki menuju rumah sohibnya, Hangga. Anggap saja kejadian kejar-kejaran kemarin sewaktu di sekolah adalah cara mereka mengembalikan persahabatan mereka yang sempat renggang.


Saat tiba di rumah itu, suasananya tenang. Lalu Setia mulai menaiki undakan menuju teras dan mengetuk pintu rumah itu.


Tok! Tok! Tok!


Keluarlah gadis kecil yang memakai pakaian tidur berwarna pink motif barbie.


Lalu Setia berjongkok menyamakan posisinya dengan gadis kecil itu.


“Lenata imut banget...” goda Setia seraya mencubit kedua pipi Lenata. Gadis itu tertawa hingga gigi rapinya terlihat.


“Abang kamu di rumah?” tanyanya dengan lembut dan tersenyum.


“Di rumah. Lagi di kamar ngerjain tugas kuliah.” Lenata tersenyum.


“Kalo Kakak kamu?”


“Lagi di kamar. Katanya gabut.” Setia mencium pipi Lenata lalu memasuki rumah itu dan menuju lantai atas.


Lenata memang membedakan panggilan untuk kedua kakak lelakinya dengan sebutan yang berbeda. Untuk Hangga ia memangginya dengan embel-embel ‘kakak’ dan untuk Jordi ia menggunakan embel-embel ‘abang’.


“Katanya takut ketinggian tapi kamarnya masih aja di lantai dua,” gumam Setia ketika sudah berada di dekat kamar Hangga.


“Itu kalo tingginya dari lantai dua gedung sekolah. Dan lantai dua rumah gue nggak setinggi itu.”


Ternyata Hangga mendengar gumaman Setia. Pria itu sedang duduk di balkon sana. Dari arah kamar Hangga lurus terus hingga terdapat pintu menuju balkon.


Lalu Setia berjalan mendekati sohibnya itu dan duduk di bangku sebelahnya.


“Katanya lagi di kamar.”


“Kata siapa?”


“Adek lo.”


“Oh.”


“Oh iya, Ngga. Selama persahabatan kita renggang elo ada masalah nggak? Setelah elo masuk rumah sakit gara-gara ginjal elo kumat, elo nggak ada masalah, kan?” Setia memang selalu peduli dengan sohib lakinya itu.


“Kasih tau nggak ya...”


“Nggak juga nggak papa,” ucap Setia dengan nada cuek.


“Ih ngambekan banget kek cewek. Gue kasih tau gih.”


Hangga mengambil posisi nyaman untuk duduk dengan kedua kaki naik ke bangku itu dan tangannya sibuk memainkan handphone-nya di antara kedua kakinya itu.


“Di keluarga ini gue cuman anak angkat. Ternyata sikap orangtua gue yang nglakuin gue beda dari Bang Jordi sama Lenata, itu karena gue anak angkat...”


“Mereka lebih keras sama gue sebab mereka pengin gue bisa jadi anak sukses yang nggak selalu bergantung sama orangtua...”


“Tapi gue ngiranya mereka nuntut balasan dari gue. Maka dari itu gue berubah jadi orang mirip brandalan,” jelas Hangga panjang lebar.


“Terus elo udah tau siapa orangtua elo yang sebenarnya?”


“Belum.”


Hening beberapa saat, lalu Setia berkata, “Elo udah ada rencana buat pacaran sama Hanggi?”


Ctak!!!


Hangga menjitak kepala Setia.


“Pacaran apaan! Gue nggak mau ngrusak hubungan persahabatan gue sama Hanggi. Lagian elo beneran mutusin Hanggi karena gue?”


Setia berjalan mendekati pagar pembatas dan menyaksikan kondisi bawah sana. Memang benar lantai dua rumah keluarga Hangga itu tidak setinggi lantai dua rumah Zidan maupun gedung sekolah.


Mungkin Hangga takut ketinggian saat berada di ambang ketinggian itu saja. Hangga akan langsung membayangkan dirinya jatuh dari ketinggian dan merasa pusing.


Anggap aja sok takut ketinggian.


“Gue emang mutusin Hanggi karena elo dan gue mau elo jadian sama dia. Elo lebih pantes sama dia ketimbang gue. Harusnya elo ada disaat gue ninggalin Hanggi. Jadinya dia nggak bakal temenan sama Jiyan si pria mesum.”


“Mesum?”


“Iya. Katanya dia punya penyakit atau apalah. Nafsunya melebihi batas kalo ngeliat cewek-cewek cantik dan hot. Waktu itu aja gue ngliat dia ciuman sama Hanggi.”


“He-eh. Gue mau balik nolongin tuh anak tapi dia keliatan marah banget sama gue dan saat itu juga mungkin dia bakalan milih Jiyan ketimbang gue. Dan karena gue nggak pengin hal itu lebih parah, gue pergi aja dari sana.” Setia membalikan badannya dan menatap kondisi wajah Hangga.


“Elo seriusan, Jiyan mesumnya kelewat batas?”


“Iya gue serius. Gue tau dari orang-orang yang sering ikut balap liar. Sering banget mereka bicara soal penyakit mesum Jiyan. Udah banyak cewek yang jadi korban tuh anak.”


Lalu Hangga bergegas menuju rumah Hanggi. Ia tidak ingin gadis itu kenapa-napa. Membayangkan saja sudah membuat dirinya takut kehilangan senyum ceria di wajah gadis itu.


Melihat sahabatnya itu terlihat sangat gelisah dan buru-buru, Setia tersenyum puas. Ia berpikir sahabat yang satu itu sangat aneh dan mungkin **** juga seperti dirinya.


Satu, takut ketinggian tapi sering naik ke tempat yang tinggi. Dua, “Cuman satu doang yang menurut gue aneh,” gumam Setia.


Dari balkon, Setia bisa melihat Hangga sudah menaiki motor sport hitam milik kakaknya dan langsung saja pria itu menjalankan motornya dengan cepat. Detik selanjutnya Setia tertawa bebas.


“Adadeh yang kedua. Mau banget tuh anak diboongin. Penyakit mesum? Hahaha.”


➰ ➰ ➰


 


“Kamu beneran ngliat kalung itu?” tanya seorang wanita pada anak lelakinya.


Wajah wanita itu sangat senang mendengar ucapan anaknya. Lalu ia memegang kedua bahu putranya dan tersenyum.


“Siapa yang make kalung itu? Apa ibu kenal sama dia? Apa dia temen kamu dan pernah dateng kesini?


Putranya itu mendongak.


“Apa ibu sayang banget sama dia? Kalo sayang kenapa dititipin di panti asuhan. Seharusnya ibu urus dia baik-baik. Nggak usah pake ditinggalin segala di panti. Kalo niatnya ninggalin dia disana selamanya seharusnya sekarang ibu nggak usah nyari tuh anak lagi. Mungkin aja dia jadi brandalan.”


Wanita itu melepas kedua telapak tangannya yang bertengger di kedua bahu putranya. “Sejak kapan kamu ngomongnya begitu?”


“Ya... aku nggak tega aja ngliat ibu mikirin anak ibu yang satu itu. Setiap hari mikirin anak itu buat kembali. Apa karena harta... ibu buang anak itu seenaknya?”


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi anak lelaki itu. Yang ia rasakan hanyalah panas sebab tamparannya begitu keras. Baru pertama kali ia mendapat tamparan dari ibunya.


Memang selama mendidik dirinya sejak kecil ibunya itu sangat keras, tapi hal itu tidak membuat dirinya memiliki sifat keras. Melainkan sifat lembut dan peduli.


Bahkan sejak kecil ia selalu menuruti perintah ibunya dan menentang anggota keluarga lainnya.


Seperti saat dirinya jatuh tersungkur di lantai, ibunya membiarkan hal itu, lalu dirinya bangkit tanpa berpikir untuk menangis di hadapan ibunya.


Lalu pamannya bilang, “Putra kamu jatuh harusnya ditolongin.” Dan ibunya sendiri membalas, “Aku nggak mau dia jadi manja.”


“Ya udah kalo kamu nggak mau di kembali, Ibu nggak akan maksa kamu buat ngomong siapa pemilik kalung itu.” Wanita itu duduk di sofa seraya memijit pelipisnya.


“Jujur saja kamu itu anak pertama Ibu yang paling Ibu sayangi. Sayangnya Ayah kamu meninggal sebab kecelakaan saat dalam perjalanan menengok Ibu di rumah sakit sebab kamu baru saja lahir,”


“Dan itu menjadi penyebab kenapa Ibu mendidik kamu dengan cara yang keras. Dan satu hal lagi, wajah kamu itu... mirip sekali dengan ayahmu.”


“Jadi, Ibu sering kerja nyampe larut malem terkadang juga nggak pulang sebab nggak mau ngliat wajah putramu sendiri?” tanya remaja pria itu.


Wanita itu menghela napas.


“Bisa dibilang begitu. Maafin Ibu. Ibu masih belum nglupain Ayah kamu yang udah meninggal. Dan wajah kamu sangat mirip dengan ayahmu. Terutama saat senyum. Dan saat kamu senyum, dada Ibu selalu sesak.” Wanita itu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan hendak menuju lantai dua.


“Aku bakal bawa putra Ibu yang satu itu pulang.”


Wanita itu menoleh ke belakang.


“Siapa namanya, Dan?”


“Hangga.”


➰ ➰ ➰


 


Jeng Jeng Jeng


Gimana gimana ceritanya?


Udah tau siapa ortu Hangga sebenarnya?