
SORRY FOR TYPO
Hanggi sedang berdiri di lantai atap gedung enam. Tatapannya kosong memandang ke arah bawah sana.
Hari masih pagi dan baru beberapa murid yang berangkat sekolah. Sebuah tangan kekar menepuk pundaknya hingga ia menoleh ke belakang.
“Jiyan,” ucapnya dilanjutkan dengan tersenyum kilas lalu kembali memandangi bawah sana.
“Nglamunin apa, Nggi?” tanya Jiyan yang sudah berdiri di samping kiri Hanggi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana OSIS-nya.
“Nggak nglamunin apa-apa,” balasnya lirih.
“Kalo itu masalah keluarga elo, udah jangan dipikirin. Gue yakin mereka pasti bakal balik lagi nemuin elo. Mereka nggak bakal tega ninggalin elo sendirian di rumah.”
Jiyan memegang kedua pundak Hanggi hingga gadis itu menatap dirinya. “Elo percaya sama gue, kan?”
“Mmm.” Hanggi tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa ketika ia berada dekat dengan Jiyan ia merasa nyaman.
“Sadar Hanggi! Jangan sampai elo suka sama Jiyan. Baru aja kenal beberapa hari,” gerutunya dalam hati.
Kemudian Hanggi menyingkirkan kedua tangan Jiyan dari bahunya dan melenggang pergi dari sana.
Sekarang hanyalah Jiyan yang berada di rofttop. Jiyan menghembuskan napas beratnya dan berguman, “Ibu dimana sih? Jiyan kangen.”
➰ ➰ ➰
Hangga berjalan menyusuri koridor gedung enam. Matanya jelalatan kemana saja. Ia mencari teman-temannya di kelas, tidak ada.
Kenzo ada urusan OSIS. Zidan dan Japri entah kemana. Sedangkan Setia belum berangkat sekolah.
Hangga sedang berusaha jauh-jauh dari sohibnya itu, Setia. Setiap kali ia berada di dekat sohibnya itu, ia ingin sekali menghajarnya sebab memperlakukan Hanggi dengan seenak hati.
Mata Hangga fokus ke depan sana ketika melihat seorang gadis yang ia kenal baru saja turun dari tangga. Sepertinya dari lantai atap.
“Hanggi!” Hangga berlari kecil mendekati gadis itu seraya tersenyum.
Saat pria itu berlari, Hanggi melamun seraya membatin, “Sejak kapan Hangga keren begitu? Rambutnya melambai saat berlari dan senyumnya bebas tanpa beban.”
Plak!
“Elo kenapa, Nggi? Haha...muka sendiri di tampar.”
Hangga merangkul Hanggi dan tertawa melihat gadis yang ada di rangkulannya itu tadi menepuk pipi kirinya.
“E-enggak kenapa-napa,” balasnya bohong.
“Elo seriusan udah putus sama Setia?” tanya Hangga dengan entengnya.
“Serius.”
“Udah tanya lagi sama tuh anak?”
“Udah. Dan dia cuek.”
Banyak pasang mata yang memperhatikan dua murid tersebut ketika berjalan menyusuri koridor.
Entah itu murid yang baru saja berangkat sekolah, keluar dari kelas, menyapu halaman kelas, dan lainnya. Dan mereka dua hanya diam saja tak menggubris.
“Elo kenal sama Jiyan?” tanya Hangga seraya tetap berjalan dan merangkul Hanggi.
“Baru beberapa hari gue kenal sama dia. Lagian orangnya juga keliatan baik. Elo mau minta gue jauhin dia kayak Setia?” Hanggi mendongak memperhatikan wajah Hangga yang lebih tinggi darinya beberapa senti.
“Keliatannya emang baik. Tapi dibalik semua itu pasti ada rencana liciknya, Nggi. Kalo gue si...terserah elo mau jauhin tuh anak apa enggak. Pasti elo tau apa yang baik dan buruk.”
Cup
Hangga mencium pipi Hanggi dan langsung melenggang pergi dengan pikiran yang berkecamuk atas tingkah bodohnya barusan.
“Elo kenapa bisa nyampe kebablasan si...Hangga! ****! ****! ****!” gumam Hangga seraya menepuk dahinya berkali-kali.
Di belakang sana Hanggi mengusap pipinya yang baru saja di cium sahabatnya itu.
“Apa omongan Jiyan bener? Kalo Hangga lebih suka sama gue ketimbang Setia? Ah masa bodo!” Hanggi mengacak-acak rambutnya hingga mencuat kesana-kemari.
➰ ➰ ➰
Disisi lain seorang siswa sedang menghajar murid lain di belakang gedung enam.
Tidak ada yang melerai mereka sebab mereka berada di tempat yang cukup sepi dan jarang sekali warga sekolah datang kesana kecuali untuk alasan kerja bakti.
“Salah gue apasih? Tiba-tiba aja elo mukul gue! Setia...Setia. Apa elo cemburu gue deket-deket sama Hanggi?”
“Gue tau elo cuman manfaatin Hanggi untuk kepentingan elo sendiri. Elo udah tau kalo kita bertiga sahabatan. Elo pengin persahabatan diantara kita bertiga hancur. Sebaiknya elo nggak usah ikut campur urusan kita bertiga!” tegas Setia pada pria yang ada dihadapanya itu. Jiyan.
Jiyan mengusap sudut bibirnya yang berdarah sebab kena hantaman Setia.
Jiyan duduk di bangku sebelah Setia. Dan pria itu hanya diam. Artinya jawabannya iya.
“Udah gue sangka. Mending elo gabung aja ke grup balap liar gue dan jauhin Hangga. Tuh cowok udah nikung elo sendiri.”
Ucapan Jiyan membuat Setia meliriknya tajam dan segera beranjak dari posisinya meninggalkan Jiyan sendirian di belakang gedung.
“Gue nggak pengin elo gabung ke grup balap liar gue.” Ucapan Jiyan membuat Setia berhenti melangkah dan mengernyit heran.
“Alasannya gue udah mulai suka beneran sama mantan elo itu.” Kedua tangan Setia mengepal geram.
“Anaknya polos tapi pendiriannya begitu teguh,” ujar Jiyan seraya tersenyum membayangkan gadis yang ada dipikirannya itu.
Setia berbalik dan menghantam pelipis Jiyan. Lalu ia menopang kedua tangannya di bangku yang diduduki Jiyan hingga pria itu terkunci oleh badannya.
Mereka bertatapan cukup lama. Setia dengan tatapan tajamnya dan Jiyan yang memasang wajah tanpa dosa.
“Jangan lakuin hal itu lagi sama Hanggi,” ucap Setia dengan nada datar.
Jiyan mengangkat kedua alisnya dan bersikap sok tidak tahu. “Lakuin apa?”
“Gue liat waktu itu elo nyium Hanggi dirumah tuh anak.” Setia menunduk di hadapan pria itu tanpa melepas kuciannya.
Lalu Setia mendongak sebab mendengar pria yang ada dihadapannya itu tertawa.
“Mungkin itu ciuman pertamanya. Dan elo renggut hal itu darinya. Elo mungkin udah lakuin hal itu terhadap cewek di luar sana. Tapi berani-beraninya elo nglakuin hal itu sama Hanggi,” ujar Setia dengan nada geramnya.
Detik selanjutnya Setia berdiri – menendang kaki pria itu hingga mengaduh dan meringis – lalu melenggang pergi.
“Gue bukan cowok yang suka nglakuin hal itu sama cewek manapun!” tegas Jiyan seraya memandang pria yang pergi menjauhi dirinya.
➰ ➰ ➰
Saat jam istirahat berlangsung...
“Haaaaaah...kenapa gue pake nyium Hanggi segalaaaaa,” gerutu Hangga saat terbaring di bangku rofttop.
Kepalanya menggantung di pinggir bangku itu dan saat ia meneguk ludahnya pasti jakunnya naik-turun.
“Kalo gue ketemu sama dia gimana coba? Bentar...gue kan nggak ada perasaan apa-apa sama Hanggi. Cuman sahabatan. Itu doang.”
“Serius cuman sahabatan doang?”
Ucapan seseorang yang sangat familier bagi Hangga membuat dirinya terlonjak kaget sampai tubuhnya itu hampir jatuh ke lantai atap.
Di dapati Setia sedang berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada dan alisnya naik-turun menggoda dirinya.
“Kayak setan aja lo! Tiba-tiba muncul,” maki Hangga terhadap sahabatnya itu.
Lalu Hangga kembali duduk di bangku itu dan memperhatikan Setia yang berjalan mendekati dirinya dan duduk di samping kanannya.
“Gue udah tau kalo elo suka sama Hanggi. Waktu elo...ngobrak-abrik kamar nyampe nangis,” jelas Setia seraya menatap wajah Hangga.
Lalu ia bisa melihat kedua daun telinga Hangga memerah. “Sejak kapan lo suka sama dia?”
Hangga berpikir sejenak untuk menjelaskan semuanya atau tidak. “Sebelum elo suka sama dia,” balasnya dengan nada lesu.
“Woaaaah. Ternyata oh ternyata.” Setia tetap tenang akan fakta yang baru saja diungkapkan oleh sohibnya itu.
“Berarti elo nguping waktu itu?!” tanya Hangga setelah sadar akan ucapan Setia yang mengatakan bahwa pria itu melihat dirinya mengobrak-abrik kamar.
“Y-ya... nggak nguping juga sih... cuman nggak sengaja ndenger aja, hahah," kata Setia.
Hangga bangun dari duduknya dengan cepat hingga membuat Setia ikut bangun dan hendak melarikan diri sebab sepertinya Hangga akan meluapkan emosinya.
Lalu Hangga melirik sohibnya itu dengan tatapan tajam hingga mata Setia melotot.
“Gue nggak sengaja ndenger ucapan elo waktu itu. Sebab gue pengin tau ya gue dengerin diem-diem, hehe.”
“YA ITU NAMANYA NGUPING ****!”
Amarah Hangga menyembur hingga sohibnya itu lari tunggang langgang meninggalkan dirinya. Lalu Hangga berlari mengejar sohibnya itu.
➰ ➰ ➰
BERSAMBUNG...
SATU KATA BUAT PART INI💕
THANKS FOR READING💕
SEE YOU NEXT PART💕
MY IG : marselasepty20