NO NAME

NO NAME
P A R T 27 Datang Lagi



SORRY FOR TYPO


Gadis itu berdiri di depan gerbang rumah keluarga Setia. Ia hendak masuk ke rumah itu tapi tidak memiliki nyali sama sekali.


Niatnya hendak berbicara dengan pacarnya itu terhenti saat Denan, kakak kelas XII dari jurusan Multimedia 1 berjalan mendekati dirinya.


"Lagi ngapain, Nggi?" tanya pria itu dengan wajah bahagianya. Entah apa yang membuat pria itu bahagia.


Bertemu Hanggi?


"O-oh. Kak Denan. Mau ke rumah Setia." Hanggi gugup.


"Tinggal masuk aja. Bukannya kalian sahabatan? Nggak biasanya elo gugup kek gini."


Denan memperhatikan setiap inchi wajah gadis itu hingga membuatnya sedikit malu.


"Elo ... pacaran sama Setia?" tebak Denan tanpa pikir panjang. Hanggi menatap wajah Denan kemudian berkata, "Iya."


"Kirain elo pacaran sama Hangga." Denan tertawa ringan. "Waktu itu aja dia mukul gue nyampe babak belur. Menurut gue ... elo lebih cocok sama Hangga. Dia lebih peduli sama elo. Beda sama Setia yang anaknya playboy. Gue pergi dulu."


Denan beranjak pergi dan Hanggi mencoba memahami ucapan kakak kelasnya itu. Memang ia sadar akan perlakukan Hangga yang lebih menghawatirkan dirinya ketika dalam kesusahan.


Tapi ia anggap hal itu biasa saja sebab mereka sudah sahabatan sejak lama.


"Gue pulang aja deh," ucap Hanggi seraya berjalan menjauhi rumah keluarga Setia.


Setia telah memutuskan dirinya secara sepihak. Tapi Hanggi menganggap pria itu tidak benar-benar memutuskan dirinya.


Sementara di balik jendela sana, Setia memperhatikan kepergian gadis itu. Ia bisa merasakan dadanya saat ini sesak dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.


"Sorry, Nggi," gumamnya.


 


 


"Hanggi!" Seseorang memanggil gadis itu.


Hanggi menoleh dan dibelakang sana datanglah Jiyan dengan motor sport hitamnya.


Tadi Denan, sekarang Jiyan. Siapa selanjutnya?


"Jiyan. Elo mau kemana?" tanya Hanggi tanpa basa-basi.


"Gue mau nyamperin elo," jawab pria itu dilanjutkan dengan tersenyum.


Jiyan tidak memakai helm seperti biasanya. Pakaiannya juga terlihat begitu santai sebab ini hari Minggu. Pria tampan itu memakai jeans hitam, kaos polos warna putih dengan jaket merah sedikit terbuka bagian atas.


"Elo nyamperin gue?" Hanggi bingung kenapa pria itu tiba-tiba mengatakan hal itu.


"Temenin gue jalan. Mau nggak?" Jiyan tersenyum.


"Gue nggak bisa," tolak Hanggi sehalus mungkin.


"Gue tau elo pacar Setia dan dia nyuekin elo. Sebentar doang temenin gue," ujar Jiyan seraya menarik lengan Hanggi hingga gadis itu membentur kaki kirinya.


Mereka bertatapan. Hanggi sempat merasa takut sebab tatapan pria itu sangat tajam. Tatapan yang menunjukan bahwa pria itu tidak menerima segala jenis penolakan.


"Gue jalan sama elo." Hanggi melepas cengkeraman pria itu dan mulai menaiki jok belakang.


Sementara itu, Jiyan mulai menjalankan motornya pelan kemudian sedikit kencang. Sesekali ia melirik Hanggi yang duduk manis di jok belakang.


Gadis itu tampak cantik dengan sweater pink dan jeans hitam. Rambut gadis itu dibiarkan tergerai. Tampak gadis itu akan pergi ke suatu tempat mengingat sudah rapi berdandan.


"Elo tadinya mau pergi, Nggi?" tanya Jiyan seraya tetap fokus mengendarai motornya.


"Hmm," gumam gadis itu.


"Sama Setia?"


"Hmm."


Menyadari sepertinya gadis itu sedang kesal, Jiyan berhenti bertanya dan fokus saja mengendarai motor.


➰ ➰ ➰


 


Hangga duduk di teras rumah keluarganya dan terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang.


Ia sudah rapi dengan memakai celana pensil berwarna krem dan hem kotak-kotak berwarna merah.


"Elo mau kemana, Ngga?" tanya Jordi yang muncul dari dalam rumah. Pria itu memakai jeans selutut dan kaos hitam.


"Mau ke panti, Bang. Gue tau Bang Jordi nggak bakalan marah kalo gue nyari tau orangtua gue yang sebenarnya. Beda sama orangtua Bang Jordi yang bakal marah kalo gue nyari tahu soal orangtua kandung," jelas Hangga.


"Makasih, Bang. Udah peduli sama gue dari dulu," ucap Hangga seraya menatap wajah kakaknya sekilas kemudian tersenyum.


"Gue pengin njelasin sesuatu ke elo, Ngga. Sebenarnya orangtua angkat elo sekarang ini sama sekali nggak ngarepin apapun dari elo. Mereka tulus ngrawat elo. Mereka bersikap lebih keras sama elo supaya mereka mudah mendidik elo. Perlakuan keras mereka karena khawatir sama elo. Mereka nggak pengin elo jadi manja, tapi mereka pengin elo jadi orang yang berguna. Justru elo malah jadi brandalan saat mereka keras sama elo," jelas Jordi diakhiri dengan bangun dari duduknya.


"Gue ikut ke panti." Jordi memasuki rumah untuk bersiap mengikuti Hangga pergi ke panti asuhan.


Deru motor mulai mendekat. Hangga mendongak dan ia bisa melihat dua temannya menaiki satu motor sport hitam yang sepertinya milik Kenzo. Japri duduk di jok belakang dan tersenyum pada Hangga.


"Tinggal berangkat, kan?" tanya Japri memastikan dari balik helm ink-nya.


"Tunggu Bang Jordi bentar," sahut Hangga seraya berjalan menuju garasi untuk mengambil motornya.


Hangga memilih memakai motor sport hitam milik kakaknya. Fasilitas motor hitam itu adalah untuk kakaknya dan Hangga memperoleh fasilitas motor Vixion biru. Tapi ia malah sering memakai motor kakaknya untuk balap liar.


"Widiiiiihhh, Bang Jordi cakep benerrr mau kemana? Ehem ehem." Japri menggoda kakak temannya itu.


"Ketemu doi," sahutnya seraya memasang jari telunjuk dan jempol di bawah dagu.


"Lenata di tinggal, Bang?" tanya Kenzo pada Jordi.


"Lagi di rumah mbahnya. Entar sore gue jemput," jelas Jordi seraya duduk di jok belakang motor sport-nya setelah menerima helm full face dari adik lelakinya.


"Elo yang nyetir, Bang," ucap Hangga kemudian.


"Elo aja lagian udah di depan. Gue mbonceng. Yuk jalan," ucap Jordi diakhiri dengan menepuk pundak Hangga.


"Gue nggak tau tempatnya."


"Pekok!" Jordi menonjok helm Hangga dari belakang.


➰ ➰ ➰


Dua orang itu sedang duduk di pinggir lapangan Alun-Alun Purwokerto.


Jiyan mengajak Hanggi jalan-jalan mengelilingi Purwokerto dan berhenti di Alun-Alun. Mereka sedang menikmati es krim vanilla yang Jiyan belikan untuknya.


"Makasih udah mau nemenin gue, Nggi," ucap Jiyan yang sedari tadi duduk di samping kanan Hanggi.


"Elo juga yang maksa," sahut Hanggi dengan entengnya.


Jiyan mendekatkan wajahnya hingga bibirnya itu menyentuh telinga Hanggi.


"Jadi elo anggep jalan-jalan hari ini sebagai paksaan?" gumam pria itu di telinga Hanggi yang membuatnya bergidik saat itu juga.


Hanggi bergeser menjauhi posisi Jiyan duduk. "E-elo sendiri yang maksa gue buat ikut."


Jiyan tersenyum singkat melihat tingkah Hanggi yang ketakutan setiap kali dirinya mendekat. Mungkin karena bekas luka gores yang ada di dahi dan rahang tegas dirinya.


"Jangan jauh-jauh entar ilang," ucap Jiyan seraya menarik lengan Hanggi untuk mendekat.


Dan Hanggi mengerucutkan bibirnya.


"Elo tinggal dirumah sendirian? Gue liat-liat rumah elo itu sepi setiap kali gue lewat."


Rumah yang Jiyan tempati memang masuk gang dan melewati rumah Setia dan Hanggi. Sehingga ia bisa melihat dua rumah itu.


"Gue emang sendirian di rumah semenjak orangtua gue kerja di Jakarta," jelas Hanggi dengan tatapan fokus ke depan sana.


"Gue juga selalu tinggal di rumah sendirian semenjak SD. Sekarang gue pindah rumah dan satu komplek dengan lo. Gue cuman tinggal sama sopir yang di suruh buat njaga gue. Gue udah nyuruh sopir itu supaya nggak njaga gue lagi tapi nolak dengan alasan ingin njalanin amanat almarhun bokap gue." Jiyan menghela napas beratnya.


"Artinya orangtua elo dari keluarga mapan dong? Punya sopir."


"Ibu gue orang kaya tapi pergi ninggalin bokap gue yang berasal dari keluarga mapan dan memilih hidup sama pria miskin. Gue pengin nyari dimana nyokap gue sekarang. Tapi nggak ketemu. Brandal itu pasti yang ngumpetin nyokap gue."


Jiyan terdengar sangat kesal dan sangat benci terhadap ayah tirinya.


Sementara itu, Hanggi mencoba menahan air matanya. Perkataan Jiyan barusan mampu membuat dadanya sesak.


Ucapan Jiyan sama dengan kondisi keluarga Hanggi yang miskin.


BERSAMBUNG...


SATU KATA BUAT PART INI💕


THANKS FOR READING💕


SEE YOU NEXT PART💕


MY IG : marselasepty20