
Di koridor gedung tiga, tampak dengan jelas Setia berjalan dengan cepat dan tangan kanan masuk ke celana OSIS-nya.
Dibelakangnya terdapat Hanggi yang sedang mengikuti dirinya dengan langkah panjang. Ia memanggil Setia berkali-kali tapi pria itu seperti tidak mendengar dirinya.
“Setia tungguin. Gue bawa roti isi buat elo dan gue yang nyiapin sendiri. Elo mau nggak?” Hanggi masih berusaha menyesuaikan langkahnya dengan langkah panjang Setia.
Merasa Hanggi akan mengejarnya terus-menerus, Setia berhenti dan balik badan menghadap Hanggi yang sedang berdiri dengan napas terengah-engah.
“Mau nggak?” tanya gadis itu lagi, namun tidak di sahut oleh Setia. Gadis itu menggoyang-goyangkan bekal makannya di depan wajah Setia sampai tangannya pegal. Detik berikutnya Hanggi menurunkan tangannya yang sudah pegal.
“Gue ada salah sama elo? Kalo iya bilang sama gue. Jangan diemin gue,” lanjutnya dengan wajah merasa bersalah.
“Elo nggak ada salah sama gue,” ucap Setia tanpa ekspresi.
“Terus ngapain elo nggak njawab saat gue tanya. Elo jalan terus saat gue panggil. Saat gue ngasih bekal, elo juga nggak trima.” Hanggi kesal.
Setia diam dan melanjutkan jalan menuju kelas. Hal itu membuat Hanggi merasa kesal sekaligus heran akan tingkah Setia yang berubah drastis. Merasa tercueki, Hanggi melenggang pergi ke kantin untuk sekedar duduk-duduk disana. Dan disana ia bertemu dengan Feni. Mereka pun langsung berbicara seperti biasanya.
➰ ➰ ➰
Disisi lain, tepatnya di parkiran sekolah bagian depan, tampak siswa-siswi membisikkan sesuatu sebab kedatangan seseorang. Kebanyakan siswi yang bereaksi dengan kedatangan orang tersebut.
Di parkiran sana seorang siswa sedang melepas helm full face dilanjutkan dengan turun dari motor dan melenggang pergi masuk ke area sekolah. Sebelum meninggalkan motornya di parkiran, ia sempat berkaca membenarkan rambutnya yang berantakan di spion motor sport hitamnya.
“Meleleh gue...” Ucapan si lebay.
“Cowok baru tuh. Gue gebet ah...” Ucapan jomblo akut.
“Hidungnya bisa mancung banget yah...” Ucapan si lebay dua.
“Kayaknya bingung tuh anak nggak tau ruang kepala sekolah.” Ucapan murid dengan kepedulian tinggi.
Kebetulan sekali sewaktu siswa itu sedang bingung hendak menuju kemana, terdapat guru yang bisa ia mintai bantuan untuk mencari ruang kepala sekolah. Guru itu mengantarnya hingga ke ruang kepala sekolah. Dan siswa baru itu ditempatkan di kelas XI Multimedia 2.
➰ ➰ ➰
Saat istirahat kedua, Hanggi berusaha untuk berbicara dengan Setia. Tapi pria itu sama sekali tidak mempedulikan dirinya lagi. Hal itu membuat tekad Hanggi semakin tinggi untuk dapat berbicara dengan Setia. Merasa usahanya sia-sia, Hanggi naik menuju lantai atap. Disana ia bisa membuang rasa sesak di dadanya.
“Kesambet apa Setia nyampe berubah drastis?” Hanggi memperhatikan aktivitas warga sekolah dari lantai atap.
“Nggak baik nglamun disini.”
Suara familier seseorang membuat Hanggi menoleh kebelakang. Dan disana terdapat Hangga yang sedang terbaring diatas bangku rotan seraya merokok. Sejak kapan pria itu disana?
“Balikin! Jangan dibuang! Yaaah,” gerutu Hangga saat gadis itu mengambil rokok yang terselip di jarinya lalu membuang rokok itu ke tempat sampah. Hangga mengambil rokok di saku celananya tapi terhenti sebab Hanggi merebut benda itu.
“Waktu itu gue udah bilang jangan ngrokok di sekolah dan juga jangan lagi untuk ngrokok. Tapi elo nggak ndengerin omongan gue.” Hanggi menggerutu kemudian menginjak bungkus rokok yang masih berisi dan duduk di sebelah Hangga.
“Yaaa gue udah kecanduan. Tau sendiri orang udah kecanduan gimana,” ucap Hangga enteng.
“Tau akh! Terserah elo.” Hanggi menyandarkan kepalanya di bahu kiri Hangga. Matanya menutup merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya.
“Jangan tidur!”
“Hmm.”
“Tangan elo kenapa diperban?” tanya Hanggi dengan kondisi mata tetap terpejam. Ia sempat melihat tangan Hangga yang terluka entah kenapa.
Hanya keheningan yang terjadi saat gadis itu bertanya. Hangga tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Dan Hanggi sadar mungkin itu adalah urusan pribadi sahabatnya dan dirinya tidak perlu tahu. Hangga menepuk-nepuk bahu Hanggi pelan. Lalu Hanggi melepas sandarannya dan menatap wajah Hangga cukup lama. Bukan tatapan cinta melainkan tatapan mengintimidasi.
“Mesum lo!”
“Elo sendiri yang ndeketin wajah ke gue dan otomatis gue tau kalo elo minta gue cium.” Hangga menggerakkan alisnya naik-turun.
“HANGGA!”
Pletak!!!
➰ ➰ ➰
Sepulang sekolah Hanggi sengaja menunggu Setia dari depan kelas. Pria itu sedang membereskan buku pelajaran yang masih berantakan di meja. Merasa sangat lama, Hanggi masuk ke dalam berniat membuat pria itu untuk cepat membereskan barang-barangnya.
“Setia cepetan. Gue nungguin elo lama banget. Lagi ngapain sih?” Hanggi berjalan mendekati Setia yang berdiri di pinggir jendela seraya menatap keluar sana.
“Jangan nungguin gue! Pulang aja dulu,” sahut Setia dengan nada datar.
“Elo marah sama gue? Gue ada salah? Kalo iya ngomong dong. Setia jangan diem aja... jelasin ke gue kalo ada salah,” ucap Hanggi seraya menggoncang-goncang tubuh Setia pelan. “Apa mungkin elo lagi sakit? Kalo iya sakit apa entar aku obatin. Yang penting elo jangan diemin gue. Tau sendiri rasanya di diemin.”
“Udah pulang sana,” pinta Setia dengan tatapan fokus ke luar jendela.
“Gue bakal nungguin elo.” Hanggi ikut menatap keluar sana.
“Udah gue bilang pulang ya pulang! Jangan bikin gue marah! Nurut aja napa! Nggak usah pake nungguin gue segala!” Perkataan Setia yang ketus membuat Hanggi tersentak. Gadis itu menatap Setia dengan tatapan mengintimidasi.
“Elo-,” Ucapan Hanggi terpotong saat Setia tiba-iba saja memojokkan dirinya ke dinding. Dari posisi sedekat itu Hanggi bisa melihat ekspresi Setia. Wajahnya lesu kemudian pria itu memejamkan matanya.
“G-gue minta maaf kalo ada salah,” ucap Hanggi dengan nada gugup. Ia bisa mendengar hembusan napas Setia yang terkesan berat. Detik selanjutnya ia menunduk tidak berani menatap wajah Setia. Mungkin dalam sekejap pria itu menjadi marah.
“Gue minta elo pulang,” ucap Setia dengan nada lembut.
“Gue mau pulang sam-,”
“Turutin aja. Jangan jadi sosok manja karena gue. Jangan ubah diri elo menjadi gadis lain karena gue. Dulu elo nggak banyak bicara dan jadi cerewet karena gue. Elo juga khawatir berlebihan karena gue. Dan gue nggak mau elo berubah jadi kek gitu.” Ucapan Setia yang terkesan begitu lembut dan mengena membuat Hanggi paham sekaligus heran.
Pria itu terlihat sangat mempedulikan dirinya tapi seperti berusaha untuk menjauh.
Setia menjauhi posisi Hanggi dan membiarkan gadis itu untuk keluar dari ruang kelas duluan. “Pulang,” pintanya dengan lembut.
“Gue pulang duluan.” Lalu Hanggi memeluk tubuh Setia sebentar. Tidak ada balasan pelukan sama sekali. Ia mendongak lalu mencium pipi Setia singkat tapi pria itu tidak menatapnya sedetikpun.
Kemudian Hanggi melenggang pergi dari ruang kelas dan meninggalkan Setia sendirian. Sebelumnya ia sempat menatap wajah Setia yang mungkin saja akan menatap dirinya dan menjelaskan kenapa dia menjadi seperti itu. Namun pria itu diam.
Hanggi keluar dari kelas dengan perasaan sakit di hatinya. Ia berjalan cepat dengan seraya meneteskan air mata sampai-sampai ia menabrak seseorang.
“Sorry nggak sengaja,” ucapnya setelah menabrak pria itu. Ia baru saja akan melangkah tapi terhenti tatkala pria itu berucap.
“Dan elo harus bayar hal itu. Kalo nggak bayar berarti utang.”
Hanggi mendongak. “Jiyan.”
Pria itu tersenyum.
Bersambung...
SORRY FOR TYPO :)
💕Satu kata buat part ini💕
💕Thanks for reading💕
💕See you next part💕
💕my ig : marselasepty20💕