
SORRY FOR TYPO
Hanggi berjalan pulang ke rumahnya. Dipikirannya saat ini adalah apa yang terjadi pada Hangga kemarin sore setelah pergi bersama Zidan.
Ia tidak fokus saat berjalan. Hingga ia tidak melihat seseorang sedang duduk di teras rumahnya. Melihat Hanggi, pria itu bangun dan menghampiri dirinya.
"Elo habis darimana? Gue nunggu elo selama sejam lebih," ucap Jiyan di hadapan gadis itu.
Hanggi melirik jam tangannya yang menunjukan jam 08.00 WIB. Artinya Jiyan menunggu dirinya sejak pukul 07.00 WIB. Sekarang adalah hari Minggu.
"Gue nginep di rumah Hangga," jelas Hanggi lalu tersenyum singkat.
"Elo biasa nginep di rumah Hangga?" tanya Jiyan penasaran.
Hanggi mengangguk sebagai balasan 'iya'.
"Elo mau ngapain pagi-pagi udah kesini?"
"Gue cuman mau ngasih ini."
Cup
Jiyan mencium pipi kanan Hanggi singkat dan hal itu membuat Hanggi sedikit tersentak ke belakang.
Lalu Jiyan mengacak rambut Hanggi seraya berkata, "Gue pulang dulu." Dan tersenyum manis.
"Cowok gila," maki Hanggi dalam hati lalu masuk ke rumahnya.
"Selalu aja dia nyium gue seenaknya tanpa izin dulu. Kalo izin dulu udah pasti gue tolak. Aaaaaaa...Hanggi elo nggak boleh baper," gerutu Hanggi setelah menutup pintu rumahnya dilanjutkan dengan memukul kepalanya sendiri.
Sementara di luar sana Jiyan berdiri mematung menyadari kehadiran seseorang. "Wanita itu..." gumamnya dengan suara tidak jelas.
"Apa kau temannya Hanggi?" tanya wanita itu seraya tersenyum.
"Oh." Jiyan sadar dari lamunannya. "Iya. Saya temennya Hanggi," lanjutnya seraya tersenyum kilas.
"Apa Hanggi di rumah?" tanya wanita itu lagi.
"Di rumah. Tadi baru aja masuk."
Lalu wanita itu mengelus rambut Jiyan singkat seraya tersenyum dan berjalan masuk ke rumah Hanggi.
Merasa dadanya sesak, Jiyan segera melenggang pergi menjauhi rumah Hanggi.
"Apa dia nyokapnya Hanggi? Nggak mungkin! Mungkin aja dia bibinya Hanggi atau temen nyokapnya." Pikiran Jiyan berkecamuk tidak jelas.
➰ ➰ ➰
"Hanggi udah balik, Len?" tanya Hangga pada adiknya yang sedang makan nasi goreng di ruang makan.
"Udah," singkat Lenata sebab sedang makan.
Mengambil gelas kaca lalu menuangkan air putih ke gelas itu dan meminumnya. Hangga melirik kakaknya yang sedang mengambil nasi goreng dan menaruhnya di piring.
"Napa liat-liat?" ucap kakaknya itu.
"Nggak!" ketus Hangga menanggapi ucapan kakaknya.
Jordi berjalan mendekati Hangga dengan membawa dua piring nasi goreng . "Nih makan dulu! Kemaren sore elo nggak makan apa-apa. Udah dibilangin jangan telat makan."
Jordi duduk berhadapan dengan Hangga yang dibatasi meja makan.
Melihat kakaknya sudah menyiapkan makanan untuk dirinya meski sibuk kuliah, Hangga menyendok nasi itu dan memasukkan ke mulutnya.
Sesi makan pagi bersama hanya di dominasi oleh suara dentingan sendok yang mengenai piring. Tanpa ada suara orang yang berbicara.
➰ ➰ ➰
Disisi lain, Setia datang ke rumah Zidan. Ia ingin tahu kenapa teman satunya itu kemarin tidak ikut main Play Station di rumahnya. Apa seharian anak itu belajar?
"Dan! Ngapain bengong? Entar kesambet lho," ujar Setia lalu duduk di sebelah Zidan. Mereka berdua duduk di teras rumah.
"Kemarin elo kemana? Gue WA suruh elo dateng ke rumah gue maen PS cuman di read doang."
"Gue sibuk," singkatnya.
"Belajar?"
"Ngurus anak kedua nyokap gue," balasnya dalam hati. "Iya."
Zidan yang baru saja pulang dari kafe setelah menemui Hangga, langsung di sambut banyak pertanyaan dari ibunya.
"Kamu udah ketemu sama anaknya? Dimana sekarang? Dia nggak ikut kesini? Katanya kamu mau bawa dia kesini?"
Zidan merasa iri akan kepedulian ibunya yang berlebih terhadap saudara tirinya.
"Dia nggak mau kesini. Baru aja Zidan jelasin sedikit dia udah langsung pergi."
"Kasih tau siapa namanya! Nanti ibu coba bicara sama dia. Pasti dia bakalan ngerti."
"Biar dia sendiri aja yang dateng kesini. Kalo ibu nemuin dia justru nantinya dia merasa tertekan."
"Zidan elo nggak boleh iri! Kan elo udah dapet kasih sayang lebih daripada anak kedua nyokap elo. Jangan iri...jangan iri. Dia saudara elo sendiri.
"WOI!" Setia menepuk pundak Zidan sebab temannya itu melamun.
"Mikirin pelajaran lo? Nyampe nglamun segala. Elo udah tau kalo Hangga bukan anak kandung di keluarganya saat ini?"
Deg
"Apa emang bener Hangga saudara tiri gue?" batin Zidan. "Baru denger gue," singkatnya.
Awalnya Zidan memang belum yakin jikalau Hangga adalah saudara tirinya.
"Ternyata dia itu anak yang diangkat dari panti asuhan Bina Cipta. Tapi beruntung banget apapun yang dia mau dikasih. Beda sama gue yang harus mohon-mohon sama Kakek." Setia tersenyum singkat.
Ctak!!
"Dari tadi bengong mulu." Setia menjitak kepala Zidan.
"Gue balik aja. Percuma disini elo diem aja."
Saat Setia bangkit dari duduknya, Zidan memegang lengannya hingga ia menatap Zidan dan bertanya,"Kenapa? Nggak mau ditinggal sama gue? Jomblo mulu sih," ledek Setia pada Zidan.
"Hangga diangkat oleh keluarga itu saat usia berapa?" tanya Zidan setelah Setia duduk di sebelahnya.
"Nggak tau usia berapa si...yang pasti sewaktu dia masih bayi," jelas Setia.
"Orangtua Hangga dirumah? Mereka pasti tau orangtua kandung Hangga."
"Nyokap sama bokap Hangga sibuk kerja. Pulangnya nggak tau kapan. Jarang banget gue ketemu sama mereka. Emang elo tau sesuatu?" jelas Setia dilanjutkan dengan bertanya.
"Gue minta bantuan lo!"
"Bantuan apaan?" Setia menaikan alisnya.
"Jadi, nyokap gue pernah naruh bayi di panti yang sama. Nyokap gue juga ninggalin kalung sebagai tanda mungkin suatu saat nanti mereka bakal ketemu lagi,"
"Kalung itu sama kayak punya gue. Dan yang punya kalung itu si Hangga. Gue udah liat sendiri kalungnya," jelas Zidan panjang lebar.
"Kalung bintang yang ada logo huruf H?" tanya Setia sebab ia pernah melihat kalung itu di leher Hangga.
"Iya. Kalo punya gue logonya huruf Z."
➰ ➰ ➰
Hangga yang sedang duduk di sofa merasa handphone di mejanya bergetar, mengambil benda itu lalu menggeser icon hijau bahwa ia mengangkat telepon dan mendekatkan benda itu ke telinga.
"Ada apa, Set?" tanyanya langsung.
"Nyokap bokap elo udah balik kerja belom?" tanya Setia dibalik telpon.
"Bel...Udah!" Hangga melihat mobil sport hitam mulai memasuki gerbang rumahnya.
"Yang bener? Gue lagi serius."
"Iya serius ini baru aja mobilnya masuk."
"Gue kesana sekarang."
Tut...tut...
Telepon terputus.
Hangga hendak pergi meninggalkan rumah itu tapi teringat akan Setia yang ingin datang ke rumah itu. Ia tinggal di rumah itu tetapi ia tidak ingin bertemu dengan orangtua angkatnya.
"Hangga udah baikan?" tanya Rifani, ibunya, seraya memeluk Hangga dari belakang sebab putranya itu sedang duduk di sofa.
"Maaf yah...Ibu nggak bisa njenguk kamu sewaktu kamu sakit sebab ada urusan kerjaan. Tapi ginjal kamu baik-baik aja, kan?"
Rifani duduk di sebelah Hangga. Ucapan dan tatapan wanita itu serius. Hangga jadi merasa bersalah. Tapi wanita itu masih saja lebih mengutamakan pekerjaannya.
"Aku apa gue...?" batin Hangga. "Hangga baik-baik aja." Hangga tersenyum singkat.
"Syukur kalo kamu baik-baik aja. Dan ada satu berita bagus buat kamu. Anggap aja sebagai balasan sebab selama ini Ibu sibuk kerja terus."
Rifani tersenyum dan Hangga hanya memasang wajah datar. Ia kikuk saat senyum di hadapan Ibu angkatnya itu.
"Ibu bakal berhenti kerja dan lebih fokus ngurus kamu."
"Ternyata gue udah salah menilai orang," batin Hangga.
Yap! Hangga menjadi sosok mirip berandalan karena kesalahpahaman mengenai penilaian dirinya terhadap orangtua angkatnya saat ini.
Yang mengetahui semua itu hanyalah Setia. Alasan kenapa Hangga berubah total. Karena itulah Setia sangat setia terhadap Hangga hanya ingin sahabatnya itu bahagia.
BERSAMBUNG...
SATU KATA BUAT PART INI💕
THANKS FOR READING💕
SEE YOU NEXT PART💕