NO NAME

NO NAME
P A R T 34 Takut Kehilangan



SORRY FOR TYPO


"Assalamu'alaikum," ucap pria itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab dua orang yang sedang duduk bersebelahan di sofa.


"Elo rapi banget mau kemana, Dan? Kondangan?" Hangga merasa temannya itu begitu...  cool.


"Ikut gue!" pinta Zidan pada Hangga.


"Mau kemana emangnya?" tanya Hanggi penasaran.


"Ke rumah gue. Cepet Ngga," desak Zidan kemudian.


"Ya udah. Gue duluan, Nggi. Entar kalo udah sore elo dateng ke rumah gue. Lo nggak boleh tidur di rumah sendirian," ucap Hangga dilanjutkan dengan berdiri dan melenggang pergi setelah Hanggi menjawab, "Okeh."


"Ada apaan sih?" Ucapan Hangga dari luar rumah masih bisa di dengar Hanggi.


"Udah ikut aja," sahut Zidan dengan nada datar.


Hangga menuju rumah Zidan menaiki motor sport yang ia kendarai saat menuju rumah Hanggi sedangkan Zidan naik motor sendiri. Kali ini bukan sport, melainkan Ninja Merah. Memang benar-benar anak orang kaya.


Saat di perjalanan, Hangga merasa aneh dengan sahabatnya itu. Seperti ada rada-rada tidak suka Zidan terhadap dirinya. Oleh karena itu, Hangga sengaja menghadang jalan motor Zidan dengan motornya.


"Ada apa?" tanya Zidan yang tiba-tiba saja motornya dihadang.


"Je... bukannya itu kalung..."


Hangga mengeluarkan kalungnya dari baju dan menyamakan benda itu dengan milik Zidan.


Sama. Persis. Kembar malah. Eh, beda logo.


➰ ➰ ➰


 


"Elo mau kemana, Nggi?" tanya Setia yang baru saja muncul dari gerbang rumah kakek neneknya.


"Mau nginep di rumah Hangga. Maksa banget tuh anak. Ya udah gue turutin," sahut Hanggi yang sudah membawa baju untuk berganti di tas gendongnya. Mereka berdua sudah sempat berbaikan hanya demi persahabatan diantara mereka.


"Ooh." Setia menggaruk kepalanya yang benar-benar gatal.


"Ya udah gih. Sana pergi. Apa mau gue anter?" goda Setia kemudian.


"Dasar playboy," maki Hanggi dengan bibir dimanyunkan. Sementara Setia hanya tersenyum meledek.


"Hati-hati di jalan," ujar Setia tatkala gadis itu menjauh. Hanggi tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. "Entar ketabrak angin."


 


 


"Woi, Set!" Panggilan itu membuat Setia menoleh dan berkata,"Berdua doang lu pada. Zidan mana?" tanyanya pada kedua temannya itu, Japri dan Kenzo, yang datang naik sepeda motor Japri. Bukan Vixion, tapi matic. Mungkin milik ibunya.


"Mana mau tuh anak ikutan main PS! Kalo ikut juga cuman mainan hape," jelas Japri yang duduk di jok belakang.


"Masuk gih," ujar Setia seraya melebarkan gerbang menuju rumah. Lalu Kenzo melajukan motornya menuju parkiran.


"Tungguin gue... gue mbonceng!" Setia mulai menaiki sepeda motor. "Tariiiikkk bwang!!!" Setia duduk di jok belakang dengan posisi badan terbalik.


"Sempit tau akh," ujar Japri seraya memundurkan tubuhnya.


"Jalan Bang Gojek..." suruh Setia dengan nada ledekannya.


"Gue nggak bisa nge-gas lah. Badan elo berdua nyesekin." Kenzo manimpali.


"Nggak bisa nge-gas ya syukur. Entar lingkungan rumah gue tercemar kentut lo..." Setia malah becanda.


"Nih orang malah bercanda... turun kagak, Set?!" ujar Japri menyuruh Setia turun.


Mereka bertiga saling desak-desakan. Setia mundur dan hal itu membuat Japri dan Kenzo mundur. Sampai akhirnya Kenzo menjalankan motornya sesuai kemauan Setia.


➰ ➰ ➰


 


Mereka berdua saat ini berada di salah satu cafe Purwokerto. Datang kesana hanya untuk berbicara hal penting. Hangga memperhatikan tatapan Zidan terhadap dirinya. Pria itu seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahan.


"Itu kalungnya dari mana? Modelnya sama, cuman beda huruf," ucap Hangga mengawali pembicaraan diantara mereka.


Zidan menghela napas dan siap menjelaskan. "Ini kalung dari nyokap gue," jelasnya seraya memegang bandul kalung itu.


"Logonya huruf Z dan punya elo huruf H." Zidan memasukan kalunya ke dalam kemejanya.


"Lo ngajak gue ke rumah elo mau ngapain?" tanya Hangga seraya menatap wajah Zidan.


"Sebenernya nyokap gue dulu pernah ninggalin putra keduanya di Panti Asuhan Bina Cipta. Nyokap gue pernah nikah dua kali. Pertama sama bokap gue dan kedua bokap elo yang udah nikah lagi sama wanita lain." Jeda ambil napas.


"Dia ninggalin kalung yang sama kayak punya gue cuman beda huruf. Gue pikir mungkin anak itu elo. Jadi... gue bawa elo ke rumah gue. Biar nyokap gue yang nyari tau sendiri elo anaknya atau bukan."


Mendengar penjelasan Zidan yang panjang lebar, Hangga mulai merasakan dadanya begitu sesak sampai-sampai ia tidak bisa membendung air matanya. Lalu ia bangun dari duduknya dan meninggalkan Zidan yang mulai mencegah temannya itu.


"Elo mau kemana?" Zidan memegang lengan Hangga tapi ditepis.


"Pastiin dulu bener apa enggak!" Zidan hanya mendengus ketika Hangga mulai melenggang pergi mengendarai motor milik sendiri.


"Hah!" kesal Zidan seraya mengusap rambutnya kasar.


Dalam perjalanan, Hangga hanya  bisa membatin. "Artinya gue anak kedua dari wanita itu. Tapi kenapa gue dibuang ke panti? Apa wanita itu cuman sayang sama anak pertamanya, Zidan? Dan nggak mau ngasuh gue sebab anak kedua?"


"Emang udah nggak ada yang sayang sama gue!" ucapnya di balik helm.


Hangga mempercepat laju motornya membelah kota Purwokerto. Pikirannya berkecamuk memikirkan untuk pergi ke club malam, Gor Satria untuk balap liar, atau tempat buruk lainnya. Tapi ia masih punya wanita yang bisa menghibur dirinya.


➰ ➰ ➰


 


Hangga langsung masuk ke rumah dengan langkah cepat. Ketika sudah berada di dalam rumah ia berjalan menuju kamar adiknya. Ia sudah menyuruh Hanggi untuk menginap di rumahnya. Pasti di kamar Lenata.


Cklekk!


Dan benar saja gadis itu sedang duduk di tepi ranjang seraya menatap Lenata yang tengah tertidur. Mendengar pintu di buka ia melangkah mendekati Hangga.


"Udah pulang," ucap Hanggi seraya tersenyum. "Tad-," Ucapannya terputus sebab Hangga memeluk dirinya erat. Pelukan erat takut kehilangan.


"Elo kenapa, Ngga? Ada masalah? Kalo iya cerita sama gue! Tadi Zidan ngomong apaan? Elo ke rumah Zidan kok sebentar doang?"


Hangga melepas pelukannya dan mendengus.


"Gue nggak mau elo jadi cerewet!" tegas Hangga seraya menatap gadis dihadapannya dengan tatapan tajam.


"I-iya minta maaf," ucap Hanggi dengan nada lirih.


Hangga memegang kedua bahu gadis itu kencang. Hal itu membuat Hanggi sempat merasa takut. Mungkin saja Hangga akan meluapkan amarah di hadapannya.


Lalu Hangga kembali memeluk gadis itu. Dan gadis itu hanya diam saja saat Hangga memeluknya erat. Takut kehilangan.


BERSAMBUNG...


SATU KATA BUAT PART INI💕


THANKS FOR READING💕


SEE YOU NEXT PART💕


MY IG : marselasepty20