NO NAME

NO NAME
P A R T 6 Five Boys



Masih di hari yang sama. Dimana Hangga dan Setia kena hukuman Bu Widi.


Sekarang sudah memasuki istirahat kedua. Kedua sohib itu merasa bosan dengan jajanan kantin.


Sehingga yang mereka lakukan saat ini adalah duduk-duduk di depan kelas seraya mengganggu para siswi yang lewat depan kelas mereka. Siswa pun mereka ganggu.


“Eh! Yolaaa, muka lo kenapa? Kena panu yah? Kudis? Kurap?” ledek Setia pada salah satu siswi yang dirinya kenal. Siswi itu memakai bedak yang membuat perbedaan jelas antara kulit leher dan wajah.


Siswi yang merasa diledek oleh Setia langsung menaruh tatapan tajam pada pria itu. Tentu Setia membiarkan siswi itu menatapnya tajam. Hal itu sudah biasa bagi dirinya.


“Jeno! Apa kabar, Bro?” ucap Setia seraya merangkul pria yang dikenal dengan nama Jeno.


“Baik-lah, Bro,” sahut Jeno seraya tersenyum.


“Muka elo kasap amat, No! Kaya jalanan aspal yang udah rusak!” Ledekan Setia mendapat respon timpukan dari Jeno.


Sedangkan Setia mencoba untuk menendang temannya itu seraya terbahak. Namun gagal.


Berbeda dengan Setia–Hangga hanya duduk di bangku yang tersedia di depan kelas. Matanya sibuk mengawasi entah apa di hadapan sana. Mungkin ia sedang memperhatikan warga sekolah yang berlalu-lalang.


Hangga boring. Ya boring.


Biasanya Hangga juga sama seperti Setia. Mengganggu warga sekolah saat jam istirahat terutama siswa-siswinya.


Melihat sohibnya itu sedari tadi hanya diam saja, tentu Setia mendekati sohibnya itu.


“Muka elo kusut amat, Ngga? Jarang dicuci ya? Haha,” ucap Setia dengan nada meledek seraya duduk di sebelah Hangga.


Hangga membalasnya dengan lirikan tajam. Hal itu sudah membuat Setia tutup mulut. Setia sudah tahu apa yang dipikirkan sabahatnya itu.


Bukan masalah pelajaran Akuntansi yang membuat neraca lajur butuh waktu berjam-jam, melainkan masalah pribadi. Masalah pribadi yang tak kunjung teratasi. Hanya dibiarkan begitu saja.


Di kelas XI Akuntansi 3 hanya terdapat lima siswa. Sisanya 25 siswi. Setiap hari terdapat perubahan teman tempat duduk. Sebab dua murid dari mereka harus duduk dengan lawan jenis.


Lima dari siswa tersebut diantaranya, Hangga, Setia, Kenzo, Japri, dan Zidan. Hangga yang sering telat sekolah, penampilan nyleneh dari peraturan, tapi banyak yang naksir dan tentunya peduli dengan sahabat.


Setia selalu dekat dengan Hangga, sehingga ia kecipratan sikap sohibnya itu.


Kenzo


Kenalin, gue Kenzo Pradena Seva. Biasa dipanggil Ken. Muka gue emang pas-pas-an. Tidak sesuai dengan nama gue yang keren itu. Tapi Tuhan memang adil.


Gue pinter iya, disiplin iya, dan masih iya iya lainnya. Karena hal itu, gue jadi ketua kelas. Meski gue kini pake kacamata rabun, gue tetep ganteng dong, masa cantik.


Dan satu hal lagi yang menjadi pembeda diantara keempat temen kelas gue. Apa itu? Gue jones, jomblo ngenes. Itu yang temen-temen gue bilang. Gue nganggepnya si single. Hal itu lebih gimana gitu?


Japri


Gue Japri, biasa di panggil Jap kalo enggak Pri. Tapi lebih seringnya si dipanggil Pri. Karena gue dipanggil Pri, jadi dikira kacang kapri deh gue.


Oh iya! Nama lengkap gue bagus banget noh, Japri Heldama Jayani. Gimana? Baguskan nama gue?


Pembeda dari keempat teman kelas gue cuman satu. Gue paling tinggi diantara mereka. Tapi sayangnya gue cungkring.


Kerempeng kayak kertas lipet yang sekali kena tiupan angin topan langsung melesat ke Arab Saudi. Gue banyak bicara.


Zidan


Gue Zidan. Ibu Meidan. Ayah Zulfana. Jadi, nama lengkap gue Zidan Meidan Zulfana. Jujur, gue paling irit. Irit bicara, harta, dan bertingkah.


Maka dari itu, gue dikenal sebagai cowok cool bin tampan bin pinter. Pinter sebab gue masuk jurusan Akuntansi.


“Woi!” panggil Kenzo pada kedua temannya yang sedang duduk berdua di bangku depan kelas. Ia duduk ditengah-tengah Hangga dan Setia.


“Berduaan mulu lo berdua!” Itu ucapan Japri. Merasa tempat duduk itu sudah sempit, ia berdiri di samping bangku itu seraya berkacak pinggang. Membuat tubuhnya itu siap diterjang angin ribut.


“Nggak risih?” Pertanyaan cool itu keluar dari mulut Zidan. Ia bersandar di salah satu penyangga gedung dengan salah satu sepatu menempel pada penyangga itu dan satunya lagi menempel dilantai. Tangannya dilipat di dada.


“Sirik lo bertiga!” Ucapan ketus sebagai balasan untuk ketiga pria itu muncul dari mulut Setia.


“Ceilehhh, siapa juga yang sirik sama elo berdua? Lagian biasanya juga elo pada ke kantin napa sekarang duduk-duduk doang?” Japri yang banyak bicara, mulai kepo.


“Kepo lu?” Akhirnya Hangga mengeluarkan suaranya.


“Mending ke kantin aja, yuk!” ajak Kenzo terutama pada Hangga dan Setia.


“Iya tuh! Nggak biasanya si Ken ngajak ke kantin. Setiap hari hampir tuh bocah diem di kelas. Nyampe ngeluarin telur mungkin di kelas.” –Japri.


“Ya udah yuk... ke kantin,” setuju Setia. Ia berdiri dari duduknya diikuti juga dengan Hangga.


“Ikut.” Singkat, padat, dan jelas. Itulah jawaban Zidan Meidan Zulfana.


Kelima siswa itu mulai berjalan menyusuri koridor hendak menuju kantin. Istirahat tersisa lima menit.


Tapi mereka tidak memikirkan hal itu. Sebab setelah istirahat kedua adalah jamkos, alias jam kosong.


Tentu senangnya dalam hati sebab jam kosong menyerbu mereka. Mereka murid kelas XI Akuntansi 3.


“Eh Hanggi. Sendirian aja lo? Yang lain pada kemana?” tanya Setia pada Hanggi ketika sampai di kantin sekolah.


Tepatnya kantin tengah. Sebab ada kantin depan (di gedung satu), tengah (di gedung tiga), dan belakang (di gedung enam).


Dan kantin inilah kantin yang paling ramai. Sebab posisinya paling tengah. Dan juga paling luas.


“Lagi ke toilet,” balas Hanggi seraya menggeser duduknya.


Sebab kelima siswa itu mulai duduk di bangku kantin yang sama dengan Hanggi. Mereka berenam berjejer juga berhadap-hadapan.


“Elo kenapa duduk di samping gue, Setiaaaaa?” gerutu Hanggi dalam hati seraya mengigit sedotan es jeruk manisnya.


Hangga yang duduk berhadapan langsung dengan Hanggi, tentu bisa mengerti apa yang sedang dirasakan gadis itu. Gugup.


“Bu Serrrrrr, pesen baksonya lima porsi dong!” ucap Setia dengan nada dibuat-buat. Ia sudah biasa memesan bakso di kantin itu seraya memanggi Bu Sera dengan panggilan Bu-Ser.


“Ashiyaaaaaaaap,” respon Bu Sera dengan nada bersemangat.


Kelima siswa itu sudah sepakat untuk membeli bakso Bu Sera ketika berjalan menuju kantin tadi.


“Elo kenapa diem aja, Nggi? Biasanya tuh mulut nggak bisa berhenti nyerocos?” tanya Setia ketika menyadari gadis disampingnya itu hanya sibuk dengan minumannya saja. Ia juga sempat mengacak rambut Hanggi.


“Ehk!” Hanggi tersedak.


“Pelan-pelan,” ucap Setia seraya menepuk-nepuk punggung Hanggi. Hal itu membuat Hanggi semakin gugup.


Hangga hanya mendengus melihat tingkah sohibnya itu yang tidak peka. Mungkin sangat tidak peka. Jelas-jelas Hanggi menaruh rasa terhadap dirinya, tapi ia tidak sadar akan hal itu. Saat ini juga, Hangga ingin menjitak kepala sohibnya itu sekeras mungkin.


“Elo nggak ke kelas, Nggi? Bel udah bunyi tuh!” Hangga mengatakan hal itu agar Hanggi bisa lebih enak untuk pergi dari kantin saat itu juga.


“Ini baru mau ke kelas.” Hanggi tersenyum pada Hangga dan segera pergi dari kantin itu setelah menaruh gelas bekas es jeruk di bawah kran air.


“Hoh! Pake nyuruh Hanggi buat masuk kelas segala lagi! Elo aja masih nongkrong disini?” ledek Kenzo pada Hangga.


“TERUS ELO?!” Pertanyaan tajam muncul dari keempat siswa itu.


Kenzo merupakan ketua kelas. Tetapi ia malah masih nongkrong di kantin setelah bel masuk berbunyi.


Seharusnya ia menjadi tauladan yang baik bagi semua teman-temannya, tetapi ia malah memilih untuk duduk di kantin seraya menikmati bakso di siang hari. Ditambah es jeruk, tentu lebih nikmat.


Teringat es jeruk, Kenzo memesan minuman itu. “Pak Deri! Pesen es jeruk manisnya lima gelas ya!”


“Wokeh!” balas Pak Deri, semangat.


“Yang satu air putih aja, Pak!” Itu Hangga yang berbicara.


“Oke!”


Keempat teman Hangga menatap dirinya heran. Dipikiran mereka berempat adalah : lebih nikmat jika menikmati bakso dengan es jeruk, teh manis, atau apapun itu selain air putih. Maksudnya air bening. Tapi sudahlah. Mungkin itu kebiasaan Hangga sejak kecil.


“Napa lo pada ngliatin gue kek gitu?” tanya Hangga ketika keempat temannya itu memperhatikan dirinya dengan tatapan aneh.


Keempat temannya itu langsung membuyarkan tatapannya yang semula menuju ke wajah Hangga.


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


Thank for reading


Bisa kasih pendapat di komentar


my ig : marselasepty20


***Next ***


👇