NO NAME

NO NAME
P A R T 16 Kristal Berkilau



Hangga pulang ke rumah jam satu siang. Itu karena di sekolah sedang mengadakan kegiatan bazar tahunan. Dan hanya berlangsung selama satu hari.  Satu hari saja sudah membuat siswa-siswi SMK itu bahagia. Karena sekolah biasa pulang jam empat sore tapi tidak kali ini.


Hangga masuk ke rumah dengan sebatang rokok terselip di jarinya. Ketika mengucapkan salam suara familier menyahut. Dan itu suara ayahnya. Skakmat. Hangga terdiam ditempat.


"Seberapa sering kamu balap liar?" tanya Rino, ayahnya, dengan nada tegas.


Hangga berjalan menaiki tangga rumah menuju lantai dua. Tapi langkahnya terhenti saat tangan kekar memegang lengan kirinya.


"Lepas!" Hangga berontak. Lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin menatap ayahnya sekalipun. Ia merasa sudah dibohongi. Dan bodohnya ia percaya.


"Sopan sama orangtua! Apa semua yang keluarga ini berikan padamu tidak cukup, hah?! Keluarga ini sudah membuat kamu hidup berkecukupan. Apa begini cara kamu membalasnya?" Rino mengusap lehernya yang berkeringat. Tidak tahan dengan tingkah anak keduanya.


"Jadi keluarga ini perlu balasan. Seharusnya dari dulu gue itu sadar, kalo keluarga ini bakal nuntut balasan." Hangga tertawa singkat–menatap Rino yang mematung, lalu naik ke lantai dua.


"Apa papa mengajarimu bahasa yang tidak benar?" Rino tidak ingin mendengar kata lo-gue dalam keluarganya.


Hangga yang sudah sampai di tengah tangga, membalikan badannya. "Itu kalo keluarga elo yang ngomong. Dan gue bukan anggota keluarga elo. Gue cuman anak pungut. Bahkan kau dan istrimu itu sama sekali tidak mengatakan kalo gue anak pungut." Hangga berbicara dengan bahasa campur aduk.


Rino diam ditempat. Sejak kapan anaknya itu tahu, jika dia bukan anak kandungnya? Rino memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Darimana kamu tau tentang semua itu?" tanyanya dengan wajah mendongak.


Lagi-lagi Hangga tertawa miris. "Nggak perlu tau. Ngasih tau aja nggak. Dan lo ingin tahu gue bukan anak keluarga ini dari siapa?!"


Hangga kembali menaiki tangga. Namun terhenti saat kepalanya pusing dan pingangnya sakit. Bahkan tubuhnya melemas. Mencoba membuka matanya yang hendak menutup, namun tidak bisa. Hingga akhirnya tubuh Hangga limbung.


"HANGGA!" pekik seseorang yang baru saja masuk rumah. Jordi baru pulang dari kampus.


➰ ➰ ➰


 


Setia mengajak Hanggi ke lapangan Gor Satria setelah pulang sekolah. Dan gadis itu langsung menyetujuinya. Sekarang mereka berdua sedang duduk di salah satu bangku di pinggir lapangan. Mereka datang kesana untuk menyaksikan perlombaan Paskibra.


SMK-nya memiliki perwakilan untuk mengikuti perlombaan itu. Satu per satu peserta lomba mulai menampilkan penampilnnya dan penampilan mereka tak kalah beda. Sama-sama keren dan kompak.


"Elo nggak ikutan lomba, Nggi?" tanya Setia pada gadis yang duduk di samping kanannya.


"Gue udah keluar dari kegiatan itu. Capek banget setiap hari Sabtu latihan, bahkan sepulang sekolah selalu latihan sebentar." Hanggi menyelipkan helaian rambut ke telinga kanannya.


"Oh udah keluar ya. Kirain masih ikutan. Sejak kapan?" tanyanya lagi.


"Sejak kelas sepuluh Setiaaaaa. Tau sendiri gue nggak ikut kegiatan ekskul sewaktu kelas sebelas. Kelas sebelas itu banyak kegiatan seperti pe-ka-el. Peka napa jadi orang!" Hanggi merasa geram akan tingkah Setia yang masih saja tidak peka.


"Ooh. Terus PKL-nya kapan?"


Hanggi sudah sangat geram saat ini. Ingin sekali dirinya menimpuk kepala Setia. Tapi tidak rela jika senyuman manis di wajah pria itu lenyap.


"Tau ah! Boro-boro PKL. Masuk kelas aja sering telat. Pasti sewaktu PKL elo bakal sering dapet hukuman dari bos kantor. Semoga aja gue ini nggak sekelompok sama elo sewaktu PKL." Hanggi menggerutu tapi Setia malah tersenyum seraya menatap dirinya.


PKL = Praktek Kerja Lapangan. Murid SMK dikirim ke salah satu tempat kerja untuk melatih mereka beradaptasi dengan lingkungan kerja sekaligus mempraktekkan apa yang telah dipelajari disekolah. Beberapa perusahaan akan memberi balasan kepada murid yang praktek di tempat mereka.


"Gue bakal berubah gih. Asal elo mau jadi pacar gue. Gimana? Mau nggak?"


Setia menggerakkan alisnya naik turun. Sementara Hanggi berusaha menetralkan degup jantungnya. Semudah itukan seorang playboy jap jempol seperti Setia mengungkapkan perasaannya?


"Terima nggak?" goda Setia kemudian.


"Ya iyalah."


"Kayak gitu caranya nembak gue?" **** dua kali.


"Terus maunya gimana?" Setia masih saja menggoda Hanggi.


"Ya elo nembak gue nggak ada romantis-romantisnya kaya di film-film. Sambil ngasih bunga kek, apa boneka, cincin, sesuatu yang bikin ceweknya seneng. Nah ini! Ngomong aja nggak ada kesan-kesan seriusnya," gerutu Hanggi dilanjutkan berdiri dari duduknya.


Namun Setia menarik lengan dirinya. Otomatis Hanggi limbung dan jatuh ke dada Setia. Mereka sempat bertatapan lama. Setia membelai rambut Hanggi. Bertepatan dengan itu, Hanggi menjauh dari Setia.


"Lepasin!"


Namun Setia kembali memegang tangan Hanggi. Membuat gadis itu menberontak tapi diurungkan ketika Setia tidak menarik tangannya.


"Oke kalo elo mau yang romantis. Gue bakal lakuin hal itu."


Hanggi diam saja saat Setia memegang tangannya. Detik selanjutnya pria itu mengambil sesuatu dari celana jeans-nya. Sebuah kotak kecil berwarna merah membuat Hanggi kaget. Apa Setia selalu memberikan sebuah cincin untuk orang yang ia cintai? Dasar orang kaya!


Setia bertumpu pada satu lutut dan satu telapak kakinya. Bak seorang pria yang akan melamar wanita. "Elo mau, kan? Jadi pacar gue," ucap Setia seraya membuka cincin dari kotaknya.


Cincin silver dengan sebuah kristal menghiasi benda lingkaran itu. Kristal itu bersinar ketika cahaya sang surya menembus dedaunan pohon mangga.


"Gue bakal setia sama elo. Mungkin gue di cap sebagai seorang playboy. Tapi kalo elo mau nrima gue, gue bakal berusaha buat jadi orang setia." Setia tersenyum, Hanggi pun tak kalah tersenyum manis.


"Kalo senyum berarti iya."


Setia mengambil cincin itu dari kotaknya dan memakaikan benda itu di jari manis Hanggi. Tapi Hanggi menarik tangannya.


"Kenapa?" tanya Setia merasa heran.


Setia bangun dari jongkoknya sebab kakinya sudah pegal–memegang kedua bahu gadis itu dan berkata, "Elo nggak mau jadi pacar gue?"


"Gue nrima lo jadi pacar gue. Tapi tidak dengan cincin itu. Nggak pantes orang nggak mampu kaya gue make cincin mahal." Hanggi tidak menatap wajah Setia.


Setia menghela napasnya pendek. Tak menyangka bahwa gadis itu selalu memikirkan tentang status saat menjalin sebuah hubungan.


"Jangan nolak!" Setia menarik tangan Hanggi dan memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiri.


"Benda ini memang mahal, tapi nggak semahal elo, Nggi." Sikap Setia yang suka menggoda muncul. "Dan ini semakin mahal kalo elo yang make," lanjutnya seraya memandangi jari manis Hanggi yang tersemat cincin pemberiannya.


Setia menarik tangan Hanggi dan mencium jari gadis itu yang tersemat cincin silver berhias kristal. Hanggi sadar akan Setia yang begitu romantis. Dan ia akan mengubah pria itu untuk memiliki sikap sesuai namanya. Setia playboy jap jempol akan Hanggi ubah menjadi Setia yang setia.


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


💕Satu kata buat part ini💕


💕Thanks for reading💕


💕See you next part💕


💕my ig : marselasepty20💕