
Seperti hari-hari sebelumnya, gadis itu masih mengejar-ngejar pria yang disukainya-- hampir setiap hari. Tanpa lelah dan memikirkan untuk menyerah. Saat ini Hanggi sedang berusaha berbicara dengan Setia di hadapan kelas.
"Udah seminggu elo ndiemin gue, Set. Gue nggak tau kenapa elo kek gitu ke gue. Mungkin gue ada salah sama elo yang gue sendiri nggak tau. Kenapa sih elo nggak ngasih tau salahnya apa?" Hanggi menatap wajah Setia yang tatapannya entah kemana.
Tidak memperhatikan dirinya sama sekali.
"Aurel," panggil Setia pada gadis kelas XII yang baru saja turun dari tangga gedung. Gadis itu menoleh dan berlari kecil mendekati dirinya.
"Ada apa?" tanya gadis itu.
"Temenin gue ke kantin," pinta Setia seraya menarik lengan gadis itu menuju kantin.
Hanggi diam ditempat. Dadanya sesak saat pria itu menarik lengan gadis lain tanpa memperhatikan dirinya sama sekali.
Sakit.
Itulah perasaan Hanggi saat ini. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak sia-sia untuk menangisi pria yang menyakiti dirinya. Tapi tidak bisa. Air matanya tumpah dan ia langsung berbalik lalu berlari menjauh dari orang-orang.
Saat itu jam istirahat tengah berlangsung dan suasana begitu ramai. Hangga yang melihat sahabat perempuannya berlari entah kemana, mengikuti gadis itu yang berakhir di toilet.
"Hanggi! Setia nggak mau ngomong lagi sama elo?" ucap Hangga seraya menggedor pintu WC pelan. "Bener-bener tuh anak harus dikasih pelajaran," geram Hangga berniat menghajar Setia.
Merasa pria itu akan bertindak, Hanggi mencoba untuk mencegah. "Jangan lakuin itu sama dia, Ngga! Gue baik-baik aja."
"Gimana baik-baik aja, Nggi. Gue liat sendiri tadi elo nangisin tuh anak!" Hangga mengacak rambutnya kasar geram sendiri.
Detik selanjutnya Hanggi keluar dari toilet dengan wajah basah setelah membasuh dengan air kran.
"Gue pergi dulu." Hangga melenggang pergi menjauhi gadis itu.
"Jangan hajar, Setia." Hanggi memperingatkan pria itu dengan nada setengah berteriak.
Pria itu hanya membalas dengan mengangkat tangan kanannya lalu menunjukan jempolnya tanda OK.
Hanggi berjalan meninggalkan toilet dan dikagetkan oleh kehadiran seseorang.
"Gue liat, tadi elo nangis sebab pacar elo itu berkhianat. Tapi elo masih mau pacaran sama dia. Kenapa?" tanya Jiyan diakhiri dengan menghela napas lalu berjalan mendekati Hanggi yang telah keluar dari toilet.
"Gue suka sama dia. Itu sebabnya gue mertahanin dia. Mungkin ada alasannya kenapa dia jadi berubah," ujar Hanggi dengan tenangnya.
"Gadis se-ti-a..." ucap Jiyan dilanjutkan dengan mengacak rambut Hanggi lalu tersenyum singkat dan melenggang pergi. "Kalo butuh teman curhat hubungi gue," lanjutnya dengan tatapan tetap ke arah depan sana.
"Mana mau gue curhat sama cowok misterius kayak elo. Tiba-tiba aja muncul. ASTAGA!"
"Siapa cowok misterius yang elo maksud?" bisik seseorang di dekat telinga kanan Hanggi.
Gadis itu menoleh kebelakang dan memukul-mukul lengan orang itu dengan perasaan kesal. Kesal sebab mengagetkan dirinya dengan muncul begitu saja.
"Japri! Nggak usah ngagetin gue bisa, kan?! Bikin kesel orang aja, lu!" Hanggi tetap masih memukul pria itu.
"Aw aw aw! Pukulan elo keras banget tau! Gue nggak seperti elo yang tubuhnya penuh dengan daging yang berlipat-lipat. Pukulan elo nyampe ke TULANG!" Japri kesakitan pada bagian kaki kanannya yang diinjak gadis itu.
"Lo ngomong apa tadi?!"
"Daging elo-, AHSSS," gerutu Japri saat gadis itu menendang lututnya keras lalu melengang pergi.
"Cewek pms nyeremin juga," guman Japri yang masih bisa di dengar oleh gadis itu.
Hanggi menoleh ke belakang menatap Japri dengan tatapan tajam lalu menunjukan kepalan tangannya yang siap untuk menghajar temannya itu.
➰ ➰ ➰
"Tumben elo ngajak gue ke kantin, Set? Terus cewek lo gimana?" Aurel duduk di samping Setia. Mereka sedang berada di kantin tengah.
Setia hanya menghela napas lalu bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari area kantin.
"Elo mau kemana?" teriak Aurel menyadari kepergian Setia.
"Nggak usah ikut."
"Cowok aneh. Tadi aja pake narik-narik tangan gue ngajak ke kantin. Lah ini! Gue ditinggalin gitu aja," gerutu Aurel yang masih duduk di bangku kantin.
Setia berjalan terus hingga sampai di lantai atap gedung enam. Memang hanya ada satu lantai atap dan itu di gedung enam. Di atas lantai atap ia bisa melihat seorang siswa sedang terbaring di bangku rotan dengan kondisi satu kaki ditekuk ke atas dan lengan kanan menutupi kedua matanya.
Hangga mendongak dan bisa melihat orang itu adalah sahabatnya. "Elo ngapain Hanggi nyampe dia nangis?" tanyanya dengan posisi tubuh tetap terbaring.
"Hajar gue sesuka lo. Pasti tangan lo udah geram pengin nghajar gue."
"Gue nggak bilang pengin nghajar lo."
"Tapi gue tau kalo elo pengin nglakuin hal itu."
"Gue nggak bisa nglakuin hal itu sebab kemauan pacar lo. Dia nggak mau elo kenapa-napa begitu juga dengan gue. Dia pengin persahabatan kita tetap berjalan baik meski kalian berdua udah pacaran. Tapi elo malah men-cam-pak-kan dia seenaknya," ucap Hangga panjang lebar dengan nada datar.
Membalikkan badannya dan menatap Hangga, Setia berkata, "Kenapa nggak elo aja yang jadian sama Hanggi?"
Ucapan konyol itu membuat Hangga bangun dari posisi terbaringnya dan mendekati Setia. Detik selanjutnya ia mencengkeram kerah baju Setia dan menatap wajahnya tajam.
"Emang bener-bener elo suka mainin cewek-cewek seenaknya. Bahkan sahabat sendiri yang kini jadi pacar elo juga elo mainkan seenaknya. Elo pikir dia itu permainan yang bisa elo mainkan seenaknya?! Elo ambil saat butuh dan buang setelah elo punya yang lain. Playboy." Hangga melepas cengkeramannya, berbalik, lalu berjalan menuruni lantai atap.
"Elo nggak nghajar gue? Apa elo takut Hanggi kecewa sama elo?" Setia berteriak menguji kesabaran sahabatnya itu.
Hangga berdiri sejenak memikirkan ucapan sohibnya. Lalu ia memejamkan matanya sebentar untuk menghela napas. Kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Setia yang sedang menatap dirinya.
Ada perasaan sesak di dada Hangga.
➰ ➰ ➰
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid berhamburan hendak pulang ke rumah setelah belajar di sekolah. Hanggi, gadis itu berjalan membuntuti Setia tanpa bicara sepatah katapun.
"Jangan ngikutin gue!" Setia tahu jika gadis itu membuntuti dirinya. Dari arah koridor sana empat siswa sedang memperhatikan mereka berdua.
Hangga, Zidan, Japri, dan Kenzo.
"Atau elo mau yang lebih buruk dari ini," ucap Setia seraya membalikkan badannya dan berjalan mendekati gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
Setia maju dan gadis itu mundur dua langkah. Sampai akhirnya Hanggi berhenti di tempat saat posisi Setia di hadapannya.
Setia menatap lekat wajah gadis itu yang sedang menunduk.
"Lepas cincinnya," pinta Setia tanpa menatap gadis itu.
"L-lepas?"
"Emang gue bilang apa tadi?"
"Gue lepas," setuju Hanggi seraya melepas cincin itu dan meletakkannya di telapak tangan Setia. "Lagian dari awal gue sempat nolak cincin itu sebab gue miskin dan nggak pantas make cincin mahal," lanjutnya seraya menatap wajah pria dihadapannya.
Setia menghela napas kasar. "Emang elo nggak pantes make cincin mahal ini. Makanya gue ambil cincin ini dari elo dan bakal gue kasih ke yang lebih pantas," ucap Setia yang membuat gadis itu tertohok.
Hanggi menahan air matanya agar tidak sampai tumpah.
"Elo bukan Setia yang gue kenal," ucap Hanggi dengan wajah tertunduk. "Tapi gue bakal nyari tau kenapa elo jadi begini. Setiap hari gue bakal bertanya sama elo."
"Nggak perlu setiap hari dan cukup sampai hari ini aja."
"Kenapa?"
"Detik ini juga gue putus sama elo."
Setia melenggang pergi. Meninggalkan Hanggi yang tidak kuat menahan air mata dan sakit di dadanya.
➰ ➰ ➰
Satu kata buat SETIA :) :(