NO NAME

NO NAME
P A R T 38 Bagian II》Taruhan



SORRY FOR TYPO


Tak terasa sudah memasuki semester akhir dan sebentar lagi semua murid SMK Maju Jaya akan melaksanakan Ulangan Kenaikan Kelas atau yang sekarang sudah berganti nama menjadi Penilaian Akhir Semester.


Satu minggu lagi, kegiatan tahunan itu akan dilaksanakan. Tentu semua murid akan mempersiapkan kegiatan itu dengan belajar giat.


Saat itu waktu istirahat tengah berlangsung. Hanggi dan Feni sedang duduk di bangku kantin seraya menikmati bakso pesanan mereka berdua.


"Gila sambelnya banyak benget, Nggi. Emang nggak mules apa? Makan pake sambel sebanyak itu?" ucap Feni ketika melihat Hanggi menaruh beberapa sendok sambal pada bakso pesanannya itu.


"Udah biasa," sahutnya yang dilanjutkan dengan melahap bakso pesanannya.


Sementara itu, Feni hanya geleng-geleng kepala. Di sebelah kiri sana, tepatnya sebelah meja kantin yang ditempati Hanggi dan Feni, duduklah tiga pria yang sedang memakan pesanan mereka entah ada.


Ada Zidan, Kenzo, dan Japri. Sesekali juga mereka terbahak membicarakan sesuatu yang lucu tetapi tidak untuk Zidan. Ia hanya tersenyum singkat menanggapi hal itu.


Detik selanjutnya Hanggi kembali menusuk bakso di mangkuk dengan sendok garpu dan hendak memasukkannya ke mulut.


Tiga senti...


Dua senti...


Satu senti...


"Aemmm." Tiba-tiba saja Jiyan menyambar bakso di garpu yang Hanggi pegang hingga bibir mereka berdua sempat bersentuhan. Kilas.


"Elo ngapain sih?! Pake nyosor segala?!" ketus Hanggi pada kakaknya itu. Memang aneh dikatakan kakak. Terus gimana lagi? Abang?


"Hehe," kekeh Jiyan dilanjutkan dengan mengunyah bakso di mulutnya.


Melihat Hanggi hendak memasukan baksonya ke mulut, Jiyan berniat melakukan hal seperti tadi tapi diurungkan.


"Aaa." Hal itu membuat Hanggi mengerucutkan bibirnya dan memasukan bakso yang hendak ia makan ke mulut Jiyan.


"Beli sendiri napa?!" tanya Hanggi - tetap fokus pada makanannya.


"Gue lupa nggak bawa duit," jelasnya kemudian. "Ketinggalan di sofa rumah."


"Oh iya." Hanggi merogoh saku roknya. "Duitnya gue bawain," lanjutnya seraya memberikan uang tiga lembar berwarna biru pada Jiyan.


Memang Jiyan menerima semua kekayaan dari ayahnya yang sudah meninggal. Dan ia diminta oleh ayahnya itu untuk menggunakan harta itu bersama dengan ibu kandungnya.


Sehingga ia mencari ibu kandungnya yang ternyata juga mempertemukan dirinya dengan Hanggi.


"Dari tadi napa?" Jiyan menyambar uang itu dan segera menuju penjual bakso untuk membeli makanan itu.


Setelah memesan, ia balik duduk berhadapan dengan Hanggi dan makan bersama di kantin yang semakin lama semakin ramai.


Saking ramainya kantin itu, membuat ketiga siswa yang sedang duduk di meja sebelah, pindah ke meja yang di tempati Hanggi sebab mereka merasa peduli terhadap pengunjung lain yang datang ke kantin dan ingin duduk.


Sungguh peduli sekali mereka.


➰ ➰ ➰


 


Di rooftop sana, dua siswa saling membicarakan sesuatu. Siapa lagi kalau bukan Hangga dan Setia. Hangga duduk di bangku rotan yang selalu diletakkan disana meski hujan atau panas dan Setia berdiri membelakangi dinding pembatas.


"Gue kira elo udah bener-bener ngrelain Hanggi buat gue, Set. Tapi ternyata masih suka," ujar Hangga yang diakhiri dengan tertawa garing.


"Ya... gue nggak pengin aja liat elo nyakitin diri sendiri. Makanya gue nglakuin hal itu," jelas Setia kemudian.


"Sebentar lagi PAS dan gimana kalo kita taruhan aja. Siapa yang peringkatnya paling tinggi diantara kita berdua, itu yang boleh ndeketin Hanggi. Terus yang kalah harus ngalah. Gimana?" Hangga menaikkan kedua alisnya.


Mereka berdua berjalan hingga berhentilah di kantin yang ramai sebab mereka melihat teman-temannya ada disana.


"Rame-rame yah?!" ujar Setia dengan nada keras ketika sampai di meja kantin yang ditempati teman-temannya.


"Rame-rame? Oooh itu mah minuman sachet jaman dulu. Yang rasanya jeruk, kan?" Japri terkekeh.


"Ingetan elo kuat juga yah, Pri?" tanya Kenzo yang merupakan pujian sekaligus ledekan.


"Dasar kacang kapri," guman Hangga yang sudah duduk di sebelah Zidan.


Japri masih bisa mendengar ucapan Hangga. Lalu pria itu menatap aneh ke arah Hangga kemudian tersenyum dan berkata, "Cocok." Seraya menatap Hangga dan Zidan yang duduk bersebelahan.


Hangga dan Zidan lalu bertatapan sebentar dan kembali ke aktivitas masing-masing.


"Oh iya, Dan. Untuk merayakan kehadiran adik elo yang super acak adul seharusnya elo traktir kita-kita doooong," ujar Setia dengan nada anehnya itu.


"Gue nggak bawa duit. Hangga tuh bawa duit banyak," jelas Zidan kemudian lalu sibuk menatap layar handphone-nya.


Apasih yang selalu Zidan lihat di handphone-nya? Temennya mau liat aja nggak boleh!


"Jiyan!" panggil Setia pada pria yang duduk berhadapan dengan Hanggi. "Elo bawa duit banyak, kan? Traktir dong. Cuman gue..." Setia menaik turunkan alisnya.


Jiyan merogoh saku celananya dan memberikan uang untuk Setia. "Nih."


"Gini baru friend..."


Setia berjalan memesan bakso. Memang ia sudah baikan dengan pria itu. Pria yang menjadi musuh dalam balap liar kini menjadi kakak sahabat perempuannya. Dan hal itu membuat Setia melupakan permusuhan itu begitu juga dengan Hangga.


"Setia. Sekalian gue beliin minum es jeruk manis," pinta Japri pada Setia.


"Gue sekalian." Kenzo ikut-ikutan.


"Gue bakso sama es jeruk, Set." Lebih parahnya Hangga juga ikut-ikutan.


"Pake duit Jiyan, nih?" tanya Setia memastikan.


"Tentunya," sahut ketiga siswa itu bersamaan yang ternyata bukanlah Hangga yang cuman kampret. Kenzo dan Japri pun ikut-ikutan.


"Tekor gue," gerutu Jiyan sangat lirih.


"Elo nggak pesen, Dan?" tanya Feni yang sedari tadi diam.


"Puasa."


"Terus ngapain disini?!" ketus Kenzo kaget.


"Solidaritas."


Semua temannya menepuk dahi bersamaan termasuk Setia yang baru datang ke kumpulan itu dengan membawa semangkuk bakso.


Mereka heran dengan tingkah Zidan.


BERSAMBUNG...


SATU KATA BUAT PART INI💕


THANKS FOR READING💕


SEE YOU NEXT PART💕


MY IG : marselasepty20