
Hanggi bersiap untuk berangkat sekolah. Saat hendak berbelok menyusuri jalanan gang, ia dihentikan oleh seseorang yang mengendarai motor sport hitam. Ia sudah kenal dengan orang yang membawa motor tersebut.
Jiyan.
Pria yang beberapa hari lalu mengalami lecet pada sepeda motornya dan pria yang kemarin ia temui di sekolahnya. Pria itu pindah ke daerah tempat tinggal Hanggi begitu juga dengan sekolahnya.
“Yuk berangkat bareng,” ajak Jiyan pada gadis itu.
“Gue udah ada temen berangkat. Elo duluan aja,” pinta Hanggi seraya tersenyum.
“Naik motor gue dulu nyampe rumah temen elo. Terus gue berangkat duluan setelah itu,” paksa Jiyan pada Hanggi.
Gadis itu mendengus kemudian naik ke jok belakang. Kebetulan hari ini ia jadwalnya olahraga. Sehingga ia memakai celana dan tidak perlu menyamping ketika naik motor tersebut.
Jiyan menjalankan motornya setelah gadis itu bilang, “Udah.” Yang dijawab dirinya dengan, “Udah ya turun!” seraya terkekeh dan hal itu membuat Hanggi hendak turun tapi Jiyan segera menjalankan motornya hingga membuat gadis itu menabrak punggungnya keras.
Detik selanjutnya gadis itu menimpuk helm Jiyan.
“Berhenti disini,” ucap Hanggi seraya menepuk-nepuk punggung Jiyan. “Makasih,” lanjutnya seraya berjalan menuju rumah Setia.
Jiyan tetap memperhatikan gadis itu sampai berangkat bersama temannya. Namun gadis itu keluar dengan wajah ditekuk. Sepertinya Setia sudah berangkat.
“Temen elo udah berangkat?” tanya Jiyan dari balik helm full face-nya.
“Kata kakaknya udah.”
“Ya udah buruan naik. Lagian gue juga sekolah disana.”
Hanggi naik motor tersebut dan Jiyan langsung memacu motornya perlahan kemudian agak cepat. Masih pagi dan ia tidak ingin terburu-buru.
Dari dalam rumah sana seorang pria memperhatikan kepergian Hanggi bersama pria lain. “Siapa cowok itu?”
“Jadi, selama seminggu gue pinjem motor sport elo, Set. Elo udah janji kalo gue ngomong ke Hanggi elo udah berangkat sekolah elo bakal minjemin motor itu selama seminggu.” Ara melipat tangannya di dada.
“Iya iya. Dikasih yang Ninja malah nggak mau.” Setia memanyunkan bibirnya.
Ara berjalan mendekati adiknya. “Lagian elo ada masalah apa sih sama Hanggi?”
“Nggak perlu tau. Gue berangkat dulu.” Setia melengos pergi.
“Salam apa gimana kek. Pake nylonong aja.”
➰ ➰ ➰
Hanggi segera turun dari motor Jiyan setelah sampai di parkiran. Ia berterima kasih dan langsung berjalan menuju gedung dua dan untungnya kelasnya berada di lantai satu. Sehingga ia tidak perlu menaiki gedung menuju lantai dua atau tiga. Olahraga memang di lapangan tapi setelah itu ia kembali menggunakan kelas itu untuk pelajaran selanjutnya.
“Gue suka sikap cueknya,” gumam Jiyan saat gadis itu melenggang pergi.
“Kalian liat Setia udah berangkat?” tanya Hanggi pada teman-temannya yang sudah berangkat pagi-pagi sekali.
“Nggak liat tuh,” sahut salah satu temannya. “Biasanya juga berangkat paling akhir bareng sama kembarannya,” lanjutnya.
Hanggi keluar dari kelas dan menunggu Setia. Mungkin pria itu mampir ke suatu tempat. Hanggi duduk di bangku depan kelas seraya menengok kekanan, kekiri, dan ke layar jam tangannya.
“Katanya udah berangkat tapi di sekolah nggak ada. Apa dikantin yah? Gue cek.” Hanggi bangun dari duduknya dan pergi ke kantin. Tapi langkahnya terhenti saat orang yang ia cari sudah muncul dan sedang berjalan menuju kelas.
“Elo mampir kemana? Kata kakak elo tadi udah berangkat?” Hanggi membuntuti Setia yang masuk ke kelas. Pria itu hanya diam dan menaruh tasnya di kursi kemudian keluar dari kelas itu.
“Setia jangan cuekin gue dong.” Hanggi tetap membuntuti pria itu.
“Jangan ikut gue!” ketus Setia.
“Gue nggak bakal ngikutin elo kalo udah jawab pertanyaan gue. Sebelum itu gue terus ngikutin elo.” Hanggi mencekal lengan Setia tapi langsung ditepis begitu saja.
“Gue mau ke kantin beli makan.”
“Gue bawa roti isi buat elo. Makan roti itu aja jadi uang jajan alo irit.”
Setia berhenti dan membalikan badannya menghadap Hanggi. “Gue bukan orang miskin yang bakan ngirit uang untuk beli makanan. Makan aja sendiri roti itu!”
Ucapan Setia membuat dirinya tertohok serasa pria itu menyindir dirinya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Memang dulu ibunya sangat kaya raya tapi karena keserakahan dalam memanfaatkan kekayaan itu, keluarganya menjadi kurang mampu.
Setia melanjutkan jalan menuju kantin dan Hanggi diam di tempat. Sementara dari lantai dua seorang siswa memperhatikan kejadian itu. Ia merasa puas dan tersenyum penuh kemenangan.
“Ternyata itu cewek Setia. Bakal makin seru semuanya. Kita liat aja nanti.”
➰ ➰ ➰
Dari semua guru laki-laki yang mengajar kelas XI Akuntansi 3 hanyalah guru olahraga yang usianya paling muda dan juga tampan serta bugar. Hal itu membuat beberapa siswi terpesona sekaligus nge-fans terhadap sosok guru olahraga tersebut. Namanya Pak Ilham dengan tinggi tubuh sekitar 187 cm.
“Pagi anak-anak!” Pak Ilham sangat tegas dalam setiap kata-katanya.
“Pagi, Paaaaaaak,” sahut semua murid yang sudah duduk di area lapangan basket.
“Pak-nya panjang amat.” Guru itu tersenyum dan membuat salah satu siswi merasa klepek-klepek. Lebay.
“Hari ini materinya permainan bola basket. Tapi kalian akan diajarkan dulu teknik mengoper yang terdiri dari tiga macam. Coba yang bisa njawab angkat tangan!” Pak Ilham mempertegas kalimat akhirnya. Memang beliau adalah pembina kegiatan pramuka. Sudah sepantasnya beliau tegas.
Zidan angkat tangan, “Satu over head pass yaitu operan diatas kepala dengan tujuan untuk mengoper bola jarak jauh.”
Japri angkat tangan, “Dua bounce pass yaitu operan bola pantul untuk mengoper bola dengan cara dipantulkan.” Beberapa teman-temannya terkekeh akan jawaban Japri entah lucunya dimana.
Terakhir Kenzo yang mengangkat tangan. “Tiga chest pass yaitu operan bola setinggi dada dengan tujuan mengoper bola jarak pendek.”
“Kalian bertiga kompak! Terus yang dua itu?” Pak Ilham menunjuk Hangga dan Setia dengan dagunya.
“Mereka itu pacaran, Pak. Kemana-mana juga selalu bersama. Dalam suka duka, susah bahagia, susah sulit, susah hati. Aww!” Japri mendapat timpukan dibagian kepala oleh Hangga. Teman-teman lainnya sempat ada yang tertawa dan Pak Ilham hanya geleng-geleng kepala.
“Ada yang mau nglawak lagi?” tanya Pak Ilham pada murid-muridnya.
“Buah semangka, buang kedondong. Hanggaaaaaa, peluk aku dong,” ledek Japri pada Hangga. Pria itu hampir saja menimpuk kepalanya jika saja ia tidak segera bangun dari duduknya dan menghindar.
“Satu kali lagi,” ucap beberapa murid bersamaan.
“Giliran Pak Ilham noh,” tunjuk Japri dengan pedenya.
Pak Ilham tersenyum dan siap berpantun. “Ke pasar beli sekuteng.”
“Aseeekkk,” timpal semua murid seraya hura-hura dengan kedua tangannya.
“Emang bisa pake bukalapak.”
“Hora hora.”
“Heh Japri. Kamu jangan sok ganteng.”
“Waow.”
“Mukamu mirip jalan stapak.”
“Astagfirullah.” Japri beristighfar. “Ampunilah doa guru-guru hamba. Sesungguhnya orang yang terdzolimi doanya segera dikabulkan.”
Disisi lain teman-temannya sudah tertawa terbahak-bahak merasa pantun Pak Ilham sangatlah lucu.
“Becanda Jap. Jangan dimasukan hati. Kamu sendiri yang minta pantun,” ucap Pak Ilham.
“Santai, Bro. Kita kan friend.”
Japri berlari menjauh ketika Pak Ilham hendak saja mencengkeram dirinya. Matanya saja sudah melotot mengajak baku hantam. Tapi dibalik semua itu Pak Ilham menganggap itu hanyalah hiburan semata terhadap murid-muridnya yang stres akan pelajaran di kelas.
Bersambung...
SORRY FOR TYPO
💕Satu kata buat part ini💕
💕Thanks for reading💕
💕See you next part💕