NO NAME

NO NAME
P A R T 19 Jiyan



Sore telah tiba dan kumpulan kabut mulai datang menyeruak masuk ke dalam kumpulan pepohonan. Ketujuh remaja itu segera turun dari bukit setelah melihat datangnya kabut yang cukup tebal.


Sejak pagi mereka hanya duduk-duduk disana seraya berfoto. Tujuannya hanyalah refreshing dari tugas sekolah yang begitu menumpuk.


Mereka turun dari sana dengan langkah lambat dan hati-hati. Jalanan sudah tertutup kabut tebal.


Setia yang melihat Hanggi merasa kedinginan langsung melepas jaketnya guna membuat gadis itu merasa hangat.


"Pake jaketnya," ucapnya seraya memakaikan jaket itu ke tubuh Hanggi.


"Entar elo kedinginan. Gue udah pake jaket, kok. Jadi elo aja yang make." Hanggi menepis jaket yang hendak Setia pakaikan pada dirinya.


"Nurut nggak," bentak Setia pada Hanggi yang otomatis membuat gadis itu bungkam dan menurut saja. "Lagian gue juga pake kaos panjang," lanjutnya seraya merengkuh tubuh Hanggi dan berjalan menuruni bukit itu.


Teman-teman yang memperhatikan mereka sejak tadi langsung membuyarkan lamunannya dan ikut menuruni bukit. Di depan sana Japri terlihat sedang membujuk Feni untuk memakai jaketnya. Namun gadis itu selalu menolak dan meminta pria itu untuk jauh-jauh darinya.


"Pake jaket gue. Entar elo kedinginan lho. Lagian gue nggak ada maksud apa-apa, Fen. Cuman sekedar ngasih bantuan sebagai seorang teman. Entar kalo elo kedinginan kan kita juga yang dapat omelan dari orangtua elo. Dikira nggak bisa jaga." Ucapan panjang lebar Japri membuat Feni menurut.


"Ya udah sini!" Feni meminta jaket itu, tetapi Japri memakaikan jaketnya langsung ke tubuh gadis itu.


"Gue pakein," jelasnya. "Mau gue peluk nggak?" lanjutnya dengan nada menggoda dan itu membuat Feni berjalan cepat mendahului Japri.


"Hati-hati nanti kesandung." Japri memperingatkan gadis itu seraya membuntuti.


Setelah sampai di bawah, lebih tepatnya parkiran, mereka langsung saja pulang menuju rumah. Cuaca semakin buruk ketika hari semakin sore.


➰ ➰ ➰


 


Di sore hari setelah pulang dari hutan pinus, Hanggi sengaja bersepeda di jalanan. Di kota sama sekali tidak dingin seperti di bukit sana. Hanggi mengendarai sepedanya pelan terkesan menikmati indahnya sore hari.


"Andai saja orangtua gue di rumah, pasti gue nggak bakalan kesepian. Di rumah selalu sendirian." Hanggi merasa kesepian meski banyak teman yang selalu berada disisinya.


Ciiiittt.


Brak.


Sepeda Hanggi menabrak motor seseorang saat hendak melewati pertigaan. Motor itu keluar dari gang dan kena sepedanya.


"Sorry nggak sengaja," ucap Hanggi merasa bersalah. Kemudian ia turun dari sepeda dan memarkir sepedanya di pinggir jalan. Di sebelah jalan itu terdapat bengkel. Kemudian ia mendekati pemilik motor itu yang sudah membuka helm full face-nya.


"Sorry yah! Karena gue motor elo jadi lecet," ucap Hanggi seraya memperhatikan bekas goresan di bagian samping kanan motor sport hitam tersebut.


"Santai aja kali. Lagian cuman lecet sedikit. Bayangkan jika elo yang jatuh," ujar pria itu dengan nada terkesan happy. Tidak ada nada marah ataupun kesal.


"Beneran elo maafin? Elo minta apa deh? Entar gue turutin." Hanggi merasa sangat bersalah karena baru pertama kali ia menabrak motor yang tampaknya mahal.


Pria itu tersenyum hingga sedikit menampakkan gigi putihnya. "Apapun yang gue mau bakal elo turutin?"


"Hmm. Ya bilang dulu mau elo apaan?" Hanggi tersenyum pada pria itu.


"Cantik juga nih cewek. Mana polos banget lagi," batin pria itu.


"Ngapain pake ngomong mau nurutin segala kemauan dia sih? Nggak kenal juga," gerutu batin Hanggi merasa sangat bodoh dengan perkataannya barusan.


"Temenin gue ke kafe gih," jelas pria itu mengatakan apa yang diinginkannya.


"Terus gue yang bayar?" tanya Hanggi dalam hati.


"Gue yang traktir. Anggep aja elo nemenin gue di kafe karena udah bikin motor gue lecet," jelas pria itu yang seperti mendengar batin Hanggi.


Hanggi menggaruk alisnya yang tidak gatal seraya memikirkan ajakan pria itu. Baru pertama bertemu dan kejadian tak terduga bisa saja terjadi.


"Okeh gue temenin. Tapi awas, jangan macem-macem," ucap Hanggi seraya menodongkan jari telunjuknya mengancam.


Memakai helm full face-nya menyuruh gadis itu naik, "Naik! Entar gue anter pulang sekalin."


Hanggi naik ke jok belakang dan meninggalkan sepedanya di pinggir bengkel. Lagian pemilik bengkel itu sudah kenal dengan dirinya dan tidak akan membiarkan sepedanya hilang.


➰ ➰ ➰


 


Pria itu memilih meja paling sudut depan supaya bisa melihat kendaraan yang berlalu lalang di sore hari. Gadis itu hanya menurut saja mengingat dirinya sedang membayar janji.


"Elo pesen apa?" tanya pria itu seraya membolak-balik menu pesanan.


"Terserah lo aja. Gue ngikut," sahut Hanggi seraya tersenyum.


Pria itu melambai ke arah pelayan untuk memesan minuman dan makanan.


"Special spagheti sama ice cappucino masing-masing dua," ucap pria itu memilih pesanan.


"Special spagheti dua porsi sama ice cappucino dua?" ulang pelayan wanita itu


"Ya," balas pria itu seraya mengangguk pelan.


Pelayan itu melenggang pergi dan membiarkan dua insan itu duduk berhadapan seraya saling bercakap-cakap.


"Oh iya. Nama elo siapa?" tanya Hanggi mengingat dia belum tahu siapa pria itu.


"Jiyan," sahutnya seraya mengulurkan tangan meminta berkenalan.


Hanggi menerima uluran tangan itu dan berkata, "Hanggi," seraya tersenyum. Hanggi melepas tangannya sebab pelayan itu datang membawakan pesanan dan Jiyan juga terlalu lama memegang tangannya.


"Makan," pinta Jiyan pada Hanggi.


Dan sesi makan bersama itu berlangsung hening. Tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua.  Mereka baru kenal dan tidak ada topik yang hendak dibicarakan.


"Elo sekolah dimana?" Jiyan memecah keheningan yang berlangsung cukup lama.


"Di sekolah lah masa di kandang ayam," balasnya dalam hati. "SMK Maju Jaya Purwokerto. Elo sendiri?"


"Gue dari SMK Giriandi Purwokerto."


Hanggi hanya mengangguk mengiyakan. Ia tahu sekolah itu sebab terkenal akan siswanya. Disana hanya menyediakan jurusan yang cocok untuk siswa meski ada juga siswi yang bersekolah disana.


"Sekarang berarti utang gue udah lunas dan gue bisa pergi." Hanggi bangkit dari duduknya, namun lengannya ditarik hingga ia duduk kembali.


Hanggi merasa deg-deg-an saat pria itu mendekati wajahnya dan menatapnya seraya tersenyum.


"Sisa makanan di bibir elo," ucapnya seraya mengelap bibir Hanggi menggunakan tisu basah. Dalam posisi wajah sedekat itu Hanggi melakukan satu hal. Menahan napas.


"Lagian juga napa elo nganggepnya utang?"


"Y-ya gue udah bikin motor elo lecet dan untuk membalasnya itu gue anggep utang."


"Jadi, makan bareng sama gue elo anggep utang?"


"Hehe," kekeh Hanggi yang kemudian membeku di tempat karena Jiyan menyentuh puncak kepalanya singkat. Lalu pria itu berjalan keluar dari kafe mendahului dirinya. "Gue anter pulang," ucapnya kemudian setelah menjauh dari Hanggi.


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


Udah part 19 😥


See you next part💕