
Setelah selesai olahraga, Setia langsung berlari menuju kantin untuk membeli minum tapi dihadang oleh Hanggi yang membawa sebotol air mineral. Setia tidak menerima minuman itu dan pergi begitu saja. Sakit. Itulah yang gadis itu rasakan setiap kali mendapat penolakan.
"Setia tungguin! Gue udah bawa minum buat elo. Jadi, diminum napa. Setia ngambek yah? Ngambek kenapa? Gue ada salah? Kalo iya ngomong dong. Jangan diem mulu. Gue kan nggak tau salah gue dimana." Hanggi tidak berhenti mengoceh hingga membuat pria itu berhenti dan menoleh menatap dirinya.
"Jangan peduli lagi sama gue dan nggak usah ngasih apapun ke gue. Elo sering ngasih gue roti isi juga nggak gue makan. Gue kasih makanan itu buat Japri. Dan kalo elo nggak mau kecewa, jangan deket-deket sama gue," ucap Setia dengan nada ketus. Lalu ia kembali berjalan meninggalkan Hanggi.
"Elo kan pacar gue, Set," gumam Hanggi yang masih dapat didengar oleh Setia.
Pria itu berhenti kemudian berjalan lagi. Dan Hanggi hanya menatap punggung pria itu hingga lenyap ditelan warga sekolah yang berlalu-lalang.
➰ ➰ ➰
Hanggi duduk di bangku rotan rooftop sendirian. Suara derap langkah seseorang membuat dirinya memperhatikan tempat kemunculan orang itu. Di sebelah kanan sana ia bisa melihat siapa yang datang. Zidan.
"Sendirian aja, Nggi? Jangan suka menyendiri." Zidan berjalan menuju dinding pembatas dan dari sanalah ia bisa leluasa memperhatikan warga sekolah berlalu-lalang.
"Lagian elo juga sendirian," singkatnya.
Zidan tersenyum singkat. "Gue sendirian bukan karena masalah dan nggak seperti elo yang sepertinya lagi mendem masalah. Elo ada masalah sama Setia?"
Hanggi mengernyit akan ucapan Zidan yang cukup panjang. Lalu ia menghilangkan kernyitan itu sebab bukan itu yang terpenting, melainkan perasaannya saat ini.
Hening beberapa saat.
"Kalo elo punya pacar dan dia itu nyuekin elo begitu aja tanpa ngomong alesannya, elo bakal lakuin apa?" tanya Hanggi to the point.
"Ya coba tanya baik-baik. Pasti ada alasannya dibalik kenapa dia itu diem," sahut Zidan dengan nada sedatar ekspresi wajahnya.
"Kalo udah coba baik-baik tapi tetep diem?"
"LO BENTAK BIAR DIA JAWAB!" Suara keras seseorang membuat Hanggi sempat tersentak begitu juga dengan Zidan.
"Emang Setia nyuekin elo, Nggi?" tanya Kenzo yang datang bersama Japri. Dan ucapan keras itu adalah ucapan Japri.
"Siapa yang bilang kalo Setia nyuekin gue?"
Kenzo menggaruk kepalanya dan Japri mengusap lehernya. Selanjutnya Hanggi pergi menuruni lantai atap. Setelah Hanggi pergi, ketiga pria itu berencana untuk mengetahui apa yang terjadi antara gadis itu dan Setia.
➰ ➰ ➰
Hanggi melihat Setia keluar dari toilet dan segera mengejar pria itu.
"Setia gue mau ngomong sama elo baik-baik." Ia berjalan mundur di hadapan Setia. "Harusnya elo ngomong baik-baik mengingat gue ini pacar elo. Nggak seharusnya elo ndiemin gue. AAA!!." Hanggi hampir saja jatuh ke belakang jika saja seseorang tidak menangkap dirinya.
"Hati-hati kalo jalan," ucap pria itu yang ternyata adalah Jiyan.
"Elo ngapain disini?" tanya Setia pada pria itu.
"Gue sekolah disini. Baru kemarin gue pindah kesini dan ternyata elo sekolah disini juga." Jiyan sempat menaruh senyum pada pria dihadapannya itu. Bukan senyum bahagia tapi...
"Pura-pura nggak tau aja nih orang." Setia hanya membatin.
"Kalian berdua saling kenal? Kenal dimana?" Hanggi yang baru saja bertanya langsung ditarik Setia menjauh dari pria itu.
"Takut juga cowok itu gara-gara ceweknya." Jiyan membatin.
Setia membawa Hanggi masuk ke kelas tempat mereka melakukan KBM yang sedang kosong tidak berpenghuni. Setelah olahraga semua teman-temannya menuju kantin. Ada yang sudah berganti pakaian maupun belum. Dan Hanggi sudah berganti pakaian sejak tadi berbeda dengan Setia.
"Elo kenal sama dia?"
Pertanyaan Setia membuat Hanggi sementara waktu tidak paham. Tapi ia mengerti akan pertanyaan itu setelah berpikir.
"Dia Jiyan."
"Kenal dimana?"
"Waktu itu gue lagi sepedaan sore hari dan tiba-tiba nabrak motor Jiyan. Jadi, sebagai ganti rugi gue nyuruh dia minta apa aja dan gue bakal ngasih hal itu."
"Dia minta apaan?"
"Dia minta supaya gue nemenin ke kafe dan gue mau. Lagian dia nggak nglakuin hal buruk. Buktinya aja dia nganter gue nyampe rumah dengan selamat."
Setia mengacak rambutnya kasar dan kembali menatap Hanggi.
"Jangan jadi cewek murahan yang mau diajak pergi sama orang yang nggak elo kenal. Jangan berubah jadi orang lain. Gue udah bilang sama elo kemarin. Dan seharusnya elo lebih mengerti akan hal itu."
Hanggi menunduk seraya menggaruk lehernya.
"Gue minta elo jauhin dia! Jangan deket-deket sama orang itu. mungkin diluar keliatan baik tapi belum tentu dalemnya." Setia mengatakan hal itu dengan serius.
"Emang kenapa?" Hanggi heran dengan Setia yang tiba-tiba saja meminta dirinya untuk menjauhi Jiyan.
"Nurut aja," ucap Setia lembut.
"Tapi ada syaratnya. Elo harus jawab kenapa njauhin gue."
Setia melengos pergi keluar dari kelas dan gadis itu mengikutinya. Saat Setia keluar dengan Hanggi mengikutinya di belakang, Hangga merasa kedua sahabatnya sedang bertengkar. Sepulang sekolah nanti ia akan mencoba bertanya.
Hangga bisa melihat Hanggi mencoba berbicara dengan Setia tapi pria itu tidak menggubrisnya sama sekali. Hanggi berjalan mundur dihadapan Setia tapi pria itu melengos pergi lewat samping gadis itu. Hanggi mencekal lengan Setia tapi langsung ditepis.
Pemandangan yang...
➰ ➰ ➰
Hangga pulang bersama Hanggi. Sempat Jiyan mengajak dirinya pulang bersama--naik motor tapi dirinya menolak dengan alasan akan pulang dengan Setia. Tapi pacarnya itu malah sudah pulang duluan.
"Elo ada masalah sama Setia?" tanya Hangga tanpa basa-basi.
"Emang keliatan kalo gue lagi ada masalah sama dia?" Hanggi balik tanya.
"Elo nggak bisa bohong sama gue. Jelas-jelas elo berdua lagi ada masalah. Gue liat sendiri tadi di sekolah elo ngejar-ngejar Setia ngajak bicara tapi dia-nya nolak."
Hening.
"Gue di-diemin sama Setia. Tapi seolah-olah dia itu tetep peduli sama gue meski menjauh." Hanggi menghela napas panjang.
"Dia nggak ngapa-ngapain elo, kan? Nyakitin fisik atau apa?" Hangga memasang tampang khawatir.
"Cuman hati gue yang sakit."
Setelah percakapan itu mereka saling diam sampai Hangga mengantar gadis itu hingga halaman rumah. Hangga mengajak gadis itu untuk menginap di rumahnya tapi ditolak. Dan Hangga terima saja apa yang diinginkan gadis itu.
Hanggi keras kepala sama halnya juga dengan Hangga.
"Oh iya, Ngga. Elo jangan nglakuin apa-apa sama Setia. Gue pernah ngomong sama elo supaya nggak pernah saling menghajar. Bukan hanya elo yang sakit tapi juga orang yang elo hajar. Dan satu hal lagi yang perlu elo lakuin. Jangan ngerokok! Elo mau kalo ginjal elo memburuk. Gue nggak mau kehilangan sosok sahabat yang peduli sama gue. Keluarga gue pergi kerja tapi ngerasa seperti mereka nggak akan pulang," ucap Hanggi panjang lebar, namun ia katakan dengan pelan.
Hangga tersenyum seraya memegang kedua gendongan tas dan mengangguk. Lalu ia membiarkan Hanggi masuk ke rumah hingga sosok gadis itu lenyap dari pandangannya. Pria itu berjalan pulang ke rumah.
"Padahal tangan gue udah gatel banget pengin mukul Setia. Tapi hanya karena elo gue nyerah, Nggi," gerutu Hangga seraya berjalan pulang ke rumah.
Bersambung...
💕Satu kata buat part ini💕
💕Thanks for reading💕
💕See you next part💕
💕my ig : marselasepty20💕