NO NAME

NO NAME
P A R T 29 Pandhawa Lima



SORRY FOR TYPO


Kelas XI Akuntansi 3 saat ini sedang melangsungkan pelajaran Akuntansi. Guru yang mengajar mereka saat ini adalah Bu Dania. Salah satu guru mapel Akuntansi yang super killer.


Gurunya berusia sekitar empat puluh tahun dan masih terlihat muda, sering tunjuk-tunjuk muridnya untuk maju mengerjakan soal padahal baru saja diajarkan dan belum tentu paham.


Satu murid tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas – ceramah panjang lebar menjadi hukuman bagi semua murid kelas itu.


Menganggap hukuman sebab salah sendiri tidak paham.


“Hari ini ibu ada urusan dinas. Jadi, saya tinggal dan kalian latihan mengerjakan laporan arus kas. Sewaktu kelas sepuluh sudah diajarkan tapi di kelas ini kita akan memantapkan bab tersebut," katanya.


"Semua soal sudah ibu siapkan. Tapi tidak hanya laporan arus kas saja, kalian mulai mengerjakan dari jurnal umum. Ada pertanyaan?” lanjut Bu Dania panjang lebar diakhiri dengan pertanyaan dan mendongak menatap muridnya yang semula pandangannya menunduk sibuk dengan absensi.


“Paham, Buuu,” sahut semua murid.


“Soal... ibu cuman punya satu. Bendahara kelas ini siapa?”


Feni mengangkat tangan,


“Saya, Bu.”


“Nanti fotokopi soal ini sesuai jumlah teman-teman kamu,” jelasnya.


“Ya, Bu.”


Guru meninggalkan kelas dan suasana langsung riuh. Yang mereka lakukan seperti, menghela napas panjang bagi murid yang super rajin seperti Kenzo sebab tugasnya panjang lebar seperti ucapan guru barusan.


Selanjutnya untuk murid yang biasa-biasa saja--sebab mereka bisa mencontek temannya yang rajin.


Dan paling akhir adalah murid yang sama sekali tidak memikirkan tugas itu. Mereka memilih untuk membuka benda pipih berbentuk persegi panjang untuk mendengarkan musik, nonton drakor, update status WhatsApp bertuliskan :


Akuntan sejati sedang bertugas


Hiya hiya


Wkwkwkwkwkwkwkwkwkw


Meski terdengar alay, itulah mereka.


Lima belas menit kemudian kelas tersebut terasa sangat membosankan dan sudah saatnya siswa paling kerempeng diantara mereka beraksi.


Japri dengan sigapnya langsung maju ke depan kelas tanpa diperhatikan sedikitpun oleh teman-temannya.


“Daripada puzhing ngerjain tugas Akuntansi nggak kelar-kelar, mending kita main tebhak-tebhakkan,” ujar Japri diakhiri dengan menaik turunkan alisnya.


“Japriiiiii.”


“Eakhhhhhh.”


“Hahaha.”


Teman-temannya sudah tertawa ketika mendengar perkataan Japri.


Hening.


“Nungguin...yaa,” gelak Japri hingga membuat teman-temannya kesal juga tertawa.


“Artis yang sering ditaburin bedak?” lanjut Japri memulai tebak-tebakannya.


“Gue tau nih,” sahut Wanda yang merupakan siswi paling banyak bicara dikelasnya juga cerdas.


“Hizzzzzz. Apa jawabannya, Nda. Nda, Nda, Ndaweeett.” Japri membuat suasana kelas penuh dengan gelak tawa.


“Enjel karambol,” ucap Wanda dengan jelasnya hingga semua teman-temannya tergelak.


Mungkin karena saking strenya mengerjakan tugas sekolah membuat mereka langsung tergelak ketika mendengar humor receh.


“Karamoy, Wanda,” ralat Hangga seraya menampakkan smirknya.


“Pertanyaan selanjutnya. Artis yang sering lupa?” Japri duduk di panggung kelas.


Hening.


“Apaan, Pri? Wanda nggak bisa jawab tuh,” ucap Feni memperingatkan.


Baru saja Japri akan menjawab tapi terhenti oleh ucapan Hanggi yang mengatakan, “Dona amnesia.”


“AGNESIA,” ujar seluruh teman-teman Hanggi yang membuat gadis itu mengusap tengkuknya dan terkekeh.


“Artis yang nggak pernah lucu?” lanjut Japri dengan permainan konyolnya.


Dengan gesitnya Setia yang sedari tadi diam langsung menjawab, “Garing Martin.”


Membuat semua teman-temannya tergelak receh.


“Giliran siapa noh. Udah abis qu-es-ti-on dari gue,” ucap Japri seraya berdiri dari duduknya.


“Quesyen,” ralat Hanggi kemudian.


Kenzo maju ke depan seraya tersenyum garing dan juga membenarkan posisi kacamatanya. Hal itu membuat teman sekelasnya berucap silih berganti, seperti :


“Babwang Kenzo naik panggung gaes.”


“Ciaaaaaa si mata empat maju.”


“Sikat abis pak ketua.”


Kenzo berdeham, “Ehem ehem.” Dan mendapatkan balasan dari Japri berupa, “Sok lu.” Lalu Kenzo melanjutkan untuk memulai pertanyaannya. “Artis yang suka kepanasan?”


Sekelas riuh mencari jawaban dari pertanyaan konyol Kenzo yang mungkin sudah ketularan Japri si kerempeng.


“Anisa Bakar.”


Jawaban itu membuat sekelas diam tanpa reaksi sedikitpun sebab yang menjawab adalah Zidan si pendiam. Ia sibuk dengan pensil yang dicoret-coretkan ke sebuah buku tulis – mengerjakan soal.


"Soal salinan dari youtube juga," lanjut Zidan dalam hati.


“Bahar kale...”


Ctak


Sungguh jahat seorang Japri menjitak kepala Zidan yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas Akuntansi hingga membuat pria itu mendengus sekaligus mendelik.


➰ ➰ ➰


 


Kelima siswa itu berjalan bersama menuju kantin. Hangga dan Zidan paling depan sementara tiga teman lainnya dibelakang mereka dengan Setia berjalan paling tengah.


Mereka hendak menuju kemana lagi kalau bukan kantin. Jam istirahat pertama tengah berlangsung dan itu di hari Jum’at.


Artinya hanya ada sekali saja istirahat itu berlangsung. Setelah Dzuhur kegiatan KBM usai.


“Bajunya dimasukin, Brur,” ucap Kenzo memperingatkan Hangga.


“Elo juga ikut-ikutan, Set?” Japri menatap pria disebelahnya.


Diam. Itulah yang Hangga dan Setia lakukan tanpa menggubris ucapan teman-temannya.


Mereka berlima menuruni tangga gedung tiga dari lantai dua, saat sampai di lantai satu, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang mungkin...begitu menyesakkan bagi sebagian orang.


“Gila bener si Hanggi udah jalan sama cowok lain. Tuh anak udah move on dari elo, Set? Denger-denger tuh cewek diputusin elo secara sepihak.” Japri menyenggol lengan kanan Setia.


“Emang dia pantes buat diputusin,” sahut Setia dengan tenangnya seraya memperhatikan apa reaksi Hangga mendengarkan pernyataannya barusan.


“Jiyan,” gumam Hangga yang masih bisa di dengar oleh Zidan.


“Gue kayak pernah ngliat tuh anak,” ucap Zidan yang sedari tadi hanya menyimak.


“Dia yang sering balap liar di Gor,” jelas Hangga seraya tetap fokus memperhatikan sahabat perempuannya yang sedang berjalan berjejeran dengan Jiyan.


Dua murid itu tampak sedang menggumamkan sesuatu. Tapi terlihat Hanggi berusaha menghindar dari Jiyan sebab pria itu pernah mencium dirinya.


“Dilihat dari wajah-wajahnya...tuh anak cuman memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” ujar Kenzo seraya memegang dagu dengan tangan kanan dan tangan kirinya menyangga tangan kanan tersebut.


“Gue udah bilang sama Hanggi supaya njauhin tuh anak tapi nggak mau denger,” gumam Setia yang masih bisa di dengar oleh keempat temannya.


“Lagian elo juga nyuekin Hanggi terus-terusan sampai elo sendiri yang mutusin Hanggi! Kalo mau mutusin Hanggi begitu aja ngapain elo jadian sama dia?! Bener-bener elo emang playboy! Gue trima kalo elo nglakuin aksi elo itu sama cewek lain selain Hanggi,” ujar Hangga dengan nada menyindir seraya tetap menatap ke depan sana.


“Gue tau elo suka sama Hanggi, Ngga. Andai aja elo tau apa yang gue pikirin,” gerutu Setia dalam hati.


“WOI MINGGIR,” ujar seseorang yang berdiri diatas tangga hingga membuat kelima siswa di bawah menoleh ke belakang lalu ke atas sedikit.


“Jalanan Mbahmu apa?! Baris kayak pandhawa lima,” lanjut gadis itu seraya melewati kelima siswa tersebut yang sudah minggir memberikan jalan.


“Silakan lewat ndoro putri...jalanan terbuka lebar.” Gadis itu tidak menggubris ucapan Japri.


“Kayak pantatmu yang lebar,” ledek Japri dilanjutkan dengan berlari menjauhi gadis itu yang sudah terlihat sangat marah.


Kenzo berlari mengikuti temannya itu begitu juga dengan Setia, Hangga, Kenzo, dan Zidan. Akhirnya suara mirip geledek menyambar.


“JAPRIIIIIIIIIIIII!!!”


➰ ➰ ➰


BERSAMBUNG...


SATU KATA BUAT PART INI💕


THANKS FOR READING💕


SEE YOU NEXT PART💕


MY IG : marselasepty20