
Saat jam istirahat di SMK, Setia sengaja pamer status hubungannya dengan Hanggi. Hal itu mengundang berbagai ocehan dari siswa-siswi di SMK-nya.
“Cocok deh mereka berdua. Satunya manis dan satunya cantik.” Ucapan supporter Setia-Hanggi.
“Kasian Kak Hanggaaaaa, kenapa juga Kak Hanggi harus sama Kak Setia si playboy?” Untuk itu adalah ucapan supporter Hangga-Hanggi.
“Ckckck, masih sekolah juga! Ucah maen pacar-pacaran.” Dan yang ini adalah ucapan jomblo akut yang iri-nya tingkat dewa.
Parahnya lagi siswi yang selalu mengejar-ngejar Setia sejak kelas X. Siapa lagi kalau bukan Aurel. Setelah mengetahui Setia jadian dengan Hanggi, gadis itu langsung frustasi dan hendak membalas apa yang Hanggi lakukan pada dirinya. Ia tidak rela jika pacar baru Setia bukanlah dirinya.
“Elo jadian sama Hanggi, Set?” tanya Aurel dengan nada ketus seraya duduk di sebelah Setia yang sedari tadi sudah duduk bersebelahan dengan Hanggi di bangku kantin.
“Kalo iya emang kenapa? Lagian bukan urusan elo, gue mau jadian sama siapa,” ketus Setia tanpa menatap gadis itu.
Aurel menatap Hanggi dengan sinis seraya menggumankan sesuatu entah apa. Di SMK itu sama sekali tidak ada yang namanya pembulian. Istilahnya anti pembulian. Mungkin hanya saling menaruh rasa iri sebentar, lalu baikan.
“Udah jadian teman sendiri dilupain,” ucap Japri yang tiba-tiba datang ke kantin dan duduk berhadapan dengan Setia.
Aurel yang merasa akan menjadi obat nyamuk pergi dari sana.
“Bahkan sahabat deket elo dijauhin, Set!” Ucapan Kenzo membuat Setia mengernyit. Kemudian ia duduk di sebelah Japri.
“Hangga?” tanyanya.
“Iya lah, siapa lagi coba. Masa iya si Hanggi yang gue maksud.”
“Dimana Hangga?” tanya Setia kemudian.
“Ada urusan sama Kak Denan,” sahut Zidan dengan entengnya. Lalu ia duduk di sebelah Kenzo.
“Kak Denan!” ucap Hanggi dengan nada keras seraya bangun dari duduknya.
“Kenapa, Nggi? Elo kenal sama dia? Ouh elo pasti kenal sama dia sebab dia ketua ekskul Paskib,” ucap Setia kemudian.
“Cepet cari Hangga!” Hanggi menggoncang-goncang tubuh Setia dan pria itu langsung berlari mencari Hangga– disusul ketiga temannya.
“Kenzo ke depan. Liat jadwal penggunaan kelas dua belas Multimedia satu ada di ruangan berapa! Gue coba cari di gedung ini dulu,” jelas Hanggi pada Kenzo.
“Okeh,” sahut Kenzo yang kemudian berlari.
➰ ➰ ➰
Saat Hangga hendak menuju rumah Hanggi, menjenguk temannya itu apakah baik-baik saja, ia melihat seseorang sedang mengikuti Hanggi yang sepertinya habis dari Alfamart. Ditangannya terdapat keresek putih yang mungkin barang belanjaan Hanggi.
Awalnya Hangga biasa saja saat pria itu berjalan dibelakang Hanggi. Mungkin orang itu memiliki arah tujuan yang sama dengan Hanggi. Tapi Hangga geram saat pria berjaket hitam dengan tudung jaket menutupi kepalanya–tiba-tiba memeluk Hanggi dari belakang. Hal itu membuat Hangga tidak tinggal diam. Ia mendekati pria itu dan langsung menghajarnya habis-habisan.
Bugh
Satu hantaman lolos mengenai rahang tegas pria itu. Otomatis pria itu limbung dan jatuh ke semak-semak pinggir jalan. Hangga duduk diatas pria itu memastikan siapa yang berani memeluk Hanggi malam-malam begini.
“Kak Denan,” gumam Hangga saat melihat wajah pria itu.
“Lepasin gue ****. Elo berat banget tau nggak!” tegas Denan seraya mencoba bangun. Namun Hangga tidak membiarkan hal itu. Justru ia semakin geram untuk menghajar kakak kelasnya itu habis-habisan.
Bugh. Hantaman di pelipis.
Bugh. Kali ini di tulang hidung.
Dan baru saja Hangga ingin memukul sudut bibir Denan, tangannya dipegang oleh seseorang. “Udah, Ngga. Lagian gue nggak papa,” ucap Hanggi dengan nada lembut. Hal itu membuat Hangga luluh seketika itu juga.
Hangga bangun dari atas tubuh Denan dan membiarkan pria itu meringis kesakitan. “Lain kali awas aja kalo elo nglakuin hal itu sama Hanggi! Gue nggak bakal diem aja,” ancam Hangga dengan raut wajah sangar.
“Udah, Ngga.” Hanggi menarik lengan sahabatnya itu menuju rumah. Ia tidak ingin Hangga menyakiti kakak kelasnya yang dulu pernah mengajarinya sewaktu ekskul Paskibra kelas X.
“Dia udah babak belur sama elo, Ngga. Dan itu sudah cukup. Lagian gue juga nggak papa, kok,” ucap Hanggi mencoba menenangkan Hangga. Ia menepuk pundak Hangga mencoba membuat amarah sahabatnya itu mereda.
“Sorry, Nggi!” Hangga mendekap erat tubuh Hanggi. “Bukannya gue yang nenangin elo malah sebaliknya,” lanjutnya.
Hanggi tersenyum di balik pelukan sahabatnya itu. Hangga memang selalu menghawatirkan dirinya. Terlebih setelah mengetahui kodisi keluarganya. Hangga menjadi semakin perhatian meski sudah tahu dirinya berpacaran dengan Setia.
➰ ➰ ➰
“Hangga berhenti! Elo bisa masuk BK!” Zidan mengeraskan suaranya.
Di depan sana murid-murid sudah mengerumumi Hangga yang duduk di atas Denan–menghajar pria itu. Diantara mereka sudah banyak yang mencoba melerai pertengkaran itu, namun diurungkan karena melihat sosok Hangga yang sedang marah.
“Gue bilang berhenti!” Zidan menarik tubuh Hangga agar menjauh dari Denan. Pria itu sudah terbaring lemas di lantai koridor. Wajahnya juga babak belur serta keunguan kena hantaman Hangga berulang kali.
Hanggi bisa melihat kondisi Hangga saat itu. Bibir sahabatnya itu mengeluarkan darah, rambutnya acak-acakan, dan pakaiannya sudah tak karuan. Japri dan Setia mencoba menenangkan Hangga yang ingin kembali menyerang Denan.
“Segitu pedulinya elo sama Hanggi? Nyampe nglakuin hal ini sama gue dua kali.” Denan mencoba bangkit berdiri.
Hangga kembali mencengkeram baju OSIS Denan, namun kawan-kawannya segera melerai. Kenzo datang dengan napas memburu. Ia sudah mengecek jadwal penggunaan kelas XII MM 1 di papan pengumuman.
Saking jauhnya papan pengumuman itu ia harus nebeng bapak pengurus kebersihan sekolah yang kebetulan sedang naik motor dan hendak menuju gedung paling depan.
Dan setelah ia tahu dimana letak kelaas itu, ia langsung memberitahu teman-temannya lewat pesan. Kelas yang digunakan saat itu adalah ruang 321. Gedung tiga, lantai dua, ruangan urutan ke satu.
“Ada apa ini ribut-ribut?” Suara familier itu membuat siswa-siswi yang mendengarkanya sontak menoleh. Di dapati guru BK yang paling tegas sedang berjalan mendekat. Pak Gino. Bel masuk memang sudah berbunyi dan guru siap untuk mengajar.
“Mereka berantem, Pak. Dan kami sudah berusaha melerainya,” jelas Kenzo selaku ketua OSIS juga siswa yang bertanggung jawab.
“Kalian berdua ikut saya ke BK! Cepetan!” Pak Gino berjalan melenggang pergi menuju ruang BK dan kedua siswa itu mengikutinya dari belakang.
Hanggi memperhatikan Hangga yang melewati dirinya. Pria itu tersenyum singkat seraya menatap dirinya. Hanggi sendiri heran kenapa Hangga masih mencoba membalas perlakukan Denan terhadap dirinya malam itu. Saat Denan mencoba menatap Hanggi yang sudah berada agak jauh dibelakang, Hangga menepis kepala kakak kelasnya itu tanpa rasa sopan santun sedikitpun.
“Masih berani elo natap Hanggi, gue bogem semua gigi lo!” ancam Hangga dengan gigi bergemeletuk.
“Berani juga elo sama kakak kelas?”
“Posisi elo kakak kelas gue atau siapapun itu gue nggak mikirin. Kelakuan elo aja nggak seperti kakak kelas yang harusnya memberi contoh baik.”
“Jauh-jauh dari gue!” Denan mendorong tubuh Hangga saat bahu mereka bersentuhan.
“Elo juga yang deket-deket sama gue.”
Hangga mendorong Denan tak kalah keras. Sampai akhirnya terjadi aksi saling dorong mendorong. Murid-murid yang menyaksikan hal itu membisikkan sesuatu.
Denan terkenal akan dirinya sebagai ketua Paskib. Berbeda dengan Hangga yang terkenal akan tingkah laku buruknya di sekolah. Sering telat lah, di hukum hormat bendera lah, ganteng lah, suka baku hantam lah, dan lainnya.
Aksi dorong mendorong itu berhenti ketika kedua siswa itu menabrak Pak Gino yang tiba-tiba berhenti saat berjalan.
“KALIAN BERDUA BISA DIEM NGGAK? TINGGAL JALAN AJA SUSAH BANGET! JALANAN LUAS!”
Dua siswa itu hanya diam dan menurut.
➰ ➰ ➰
Bersambung...
See you next part
👇