
Beberapa hari yang lalu...
Sebelum Setia cuek terhadap Hanggi.
Pria itu mengacak rambutnya kasar, masuk kamar lalu menutup pintu dengan keras, menarik selimut hingga selimut itu mengenai benda-benda di meja belajar.
Ia berjalan mendekati meja tempat menyimpan aksesoris lalu menghempas semua barang hingga berantakan. Botol parfum pecah membuat kakinya berdarah sebab menginjak pecahan botol tersebut.
Detik selanjutnya ia memperhatikan bayangannya di cermin. Dan disana terlihat dengan jelas wajahnya yang sedang mengeluarkan air mata kekesalan. Ia menangis disertakan dengan ledakan amarah.
Tanpa pikir panjang ia hantamkan tangan kanannya ke cermin. Membuat benda itu pecah seketika. Darah merah keluar dari punggung jemarinya. Pipinya juga terkena percikan pecahan kaca. Lagi-lagi cairan merah keluar.
Kemudian tubuhnya melorot ke lantai dan ia terisak. Ia menekuk kaki, memeluk kakinya erat, dan membenamkan wajahnya disana.
Hangga terisak akan nasibnya saat itu.
Keluarga angkat yang menuntut balas jasa, gadis yang ia sukai direbut sahabatnya sendiri, bodohnya ia yang membuat semua itu terjadi.
Kenapa dirinya menyukai gadis itu? Itu karena ia ingin mencari sosok yang bisa ia lindungi dan akan peduli terhadap kondisi dirinya.
Maka dari itu, Hangga sengaja membuat keluarga angkatnya membenci dirinya dengan menjadi sosok berandalan.
Keluar dari keluarga yang akan menuntut balas budi, menuju gadis yang ia sayangi.
Namun semuanya tak sesuai yang ia harapkan dan rencanakan. Ketika hendak mendapatkan gadis itu, justru ia merelakan kepada sahabatnya sendiri.
"Gue sayang sama elo, Nggi," ucap Hangga seraya masih terisak. Tangannya memukul-mukul lantai hingga darah kembali keluar. Kulitnya pun sudah lecet.
"Tapi gue malah bikin elo jadian sama sahabat gue sendiri, HAAAH!!"
Hangga mengacak rambutnya kasar lalu mengambil kursi belajar dan melayangkan benda kayu itu ke arah pintu kamarnya. Benda itu langsung hancur berantakan. Kondisi kamarnya saat ini seperti kapal pecah.
Tanpa sepengetahuan dirinya, ada seseorang yang mendengar ucapan Hangga.
Malamnya Hangga datang ke Gor Satria. Tempat dimana ia bisa melampiaskan amarahnya saat itu. Bertanding bersama memuaskan kepentingan pribadi.
Malam itu malam Minggu dan suasananya begitu ramai. Banyak orang datang menonton dan banyak pula orang yang ikut balap liar.
"Satu ... Dua ... Tiga..."
Gadis itu melambaikan benderanya ke atas membuat para peserta beradu balap liar.
Hangga dan Setia ikut dalam pertandingan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua. Hangga bebas kemana saja setelah memutuskan untuk menjadi sosok berandalan.
Tapi Setia harus pergi diam-diam dari rumahnya mengingat kakek neneknya tidak akan mengizinkan dirinya balap liar.
Beberapa menit kemudian motor sport hitam mulai mendekati garis finish dan di belakang motor itu terdapat dua motor dengan model yang sama.
Setelah memasuki garis finish dan dinyatakan menang, pria itu berdiri dari motornya yang masih berjalan memberikan kiss bye kepada para penonton. Dan sorak sorai para penonton membuat suasana semakin riuh.
Dua peserta yang sampai setelah dirinya menaruh tatapan sinis tidak suka atas kemenangannya. Dibalik helmnya pria itu bergumam.
"Akhirnya tiba juga dimana gue bisa balas dendam. Tunggu aja kalian berdua, Jiyan datang."
Dua pria itu langsung meninggalkan area balapan itu. Mereka adalah Hangga dan Setia yang kalah dalam pertadingan balap liar.
Baru kali ini mereka dikalahkan oleh musuh balapan yang sudah menjadi lawannya sejak satu tahun lalu.
Dulu mereka berdua bertanding dengan semangat bersama, berbeda dengan saat ini yang mana diantara mereka berdua, salah satunya sudah membuang perasaan persahabatan.
Dan itu adalah Hangga. Ia membuang hubungan itu secara diam-diam. Tidak ada yang tahu diantara kedua sahabatnya. Ia main dua muka.
"Elo nggak usah ngikutin gue lagi," ketus Hangga seraya mengendarai motornya pelan. Disamping kanannya terdapat motor Setia.
"Emang nggak boleh? Suka-suka gue mau ngapain! Bukan urusan elo. Lagian kenapa lo...jadi cuek gitu si...ke gue?"
Setia langsung mempercepat laju motornya sebab kesal akan sikap ketus Hangga terhadap dirinya dan juga sohibnya itu tidak menjawab pertanyaannya.
Rumah berlantai dua bercat putih itu tampak begitu megah bersamaan dengan Hangga yang memarkirkan motornya di garasi.
Mendengar deru motor menggema diluar sana, seseorang keluar dari rumah itu.
"Elo habis balapan lagi?" tanyanya pada Hangga.
"Gue boleh nginep di rumah elo nggak? Elo dirumah sendirian, kan?" Hangga balik tanya tanpa membalas pertanyaan si pemilik rumah.
"Masuk," pinta Zidan pada temannya. Memang Hangga sudah sering menginap di rumah teman satunya itu.
"Tangan lo luka kenapa nggak di perban?" Zidan melihat luka di tangan Hangga saat pria itu membuka sarung tangannya. "Elo habis berantem?" lanjutnya.
"Gue tidur dulu. Makasih udah boleh nginep."
Hangga melenggang masuk ke kamar begitu saja. Memang ia sering tidur di kamar bawah sebab takut ketinggian.
Bukan sejak kecil ia takut ketinggian, tapi sejak beberapa bulan yang lalu. Entah apa penyebabnya ia sendiri tidak tahu.
➰ ➰ ➰
Setia duduk di teras rumah setelah balap liar seraya mengingat-ingat sebuah fakta menyakitkan.
Fakta dimana ia mendengar dengan jelas menggunakan telinganya sendiri bahwa Hangga ternyata juga menyukai Hanggi.
Kenapa pria itu membuat dirinya mendapatkan Hanggi dan merelakan perasaannya yang ujung-ujunga persahabatan diantara mereka bakal retak? Heran.
Setia bukan duduk di teras rumahnya, tapi teras rumah Hanggi. Sebentar lagi gadis itu akan keluar sebab tidurnya sudah diganggu dengan kedatangan motor Setia yang menderu.
"Elo ngapain malem-malem kesini? Udah gue bilang jangan ikut balap liar lagi," ucap Hanggi dengan nada khas orang baru bangun tidur.
Setia bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Hanggi. "Sorry gue bikin lo bangun tengah malem." Setia tersenyum manis.
"Lo balapan sama siapa? Hangga? Dimana tuh anak? Nggak ikutan kesini?"
Sesak. Itulah yang Setia rasakan saat gadis yang disayanginya terlihat mengkhawatirkan sahabatnya sendiri.
"Dia udah pulang ke rumah. Mungkin bukan pulang ke rumahnya sendiri. Tau sendiri Bang Jordi kalo marah kelewatan." Penjelasan Setia membuat Hanggi paham dalam sekejap.
"Setelah hari ini kalian berdua nggak boleh lagi balap liar! Gue nggak mau kalian berdua celaka. Cuman kalian sahabat gue saat ini. Nggak ada teman setelah orangtua gue kerja diluar kota."
Setia mendekap erat tubuh Hanggi dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu.
"Gue minta maaf, Nggi. Mungkin gue nggak bisa njaga lo lebih baik dari Hangga. Gue cuman playboy yang suka gonta-ganti cewek dan mempermainkan perasaan mereka."
Hanggi mengernyit tidak paham akan ucapan Setia barusan. Kenapa tiba-tiba pria itu mengatakan hal semacam itu?
"Maksud lo apaan, Set?" tanya Hanggi yang merasa heran seraya melepas pelukan Setia.
"Jaga diri lo baik-baik dan jangan khawatir sama kondisi gue." Setia mengelus puncak kepala Hanggi lembut. Lalu berpindah ke pipi dan dagu Hanggi. "Gue pulang dulu," lanjutnya seraya mulai melenggang pergi.
Hanggi hanya bisa menatap pria itu pergi dari halaman rumahnya dengan perasaan heran. Apa yang dikatakan Setia barusan tidak di mengerti dirinya sama sekali.
"Sorry, Nggi. Gue terpaksa nglakuin hal ini ke elo. Mulai besok sandiwara dimulai. Elo bakal benci sama gue. Tapi tolong jangan sampai elo benci sama Hangga."
Setia hanya bisa membatin saat membawa motornya menuju ke rumah.
Ternyata Setia memiliki sifat yang sangat Setia bukanlah untuk seorang wanita. Melainkan untuk sahabatnya sendiri, Hangga.
BERSAMBUNG...
💕SATU KATA BUAT PART INI💕
💕THANKS FOR READING💕
*SORRY FOR TYPO
*