
PART INI PENDEK
Dua remaja itu sedang berjalan menyusuri jalanan gang. Satu seorang pria dan satunya lagi gadis. Mereka tampak menggumamkan sesuatu – sekali-kali tersenyum.
“Hari ini ulang tahun gue,” ucap gadis itu seraya tetap berjalan.
“Terus?” tanya pria itu tidak paham akan ucapan gadis di sebelahnya.
“Ya biasanya kan elo ngasih gue hadiah. Mana hadiahnya, Ngga?”
Gadis itu tersenyum manis hingga membuat Hangga berdeham sebab tidak tahan akan senyuman gadis dihadapannya yang menjadi sahabat sekaligus gadis yang mulai ia sukai. Tangan gadis itu juga terulur meminta sesuatu.
Hangga menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Sorry gue belum nyiapin hadiah. Lagian elo juga bisa minta ke abang baru elo itu,” sahut Hangga dengan nada datar dan hal itu membuat Hanggi menarik tangannya.
“Ya udah nggak papa.” Hanggi kembali berjalan menyusuri jalanan gang bersama Hangga.
“Sebenernya gue udah nyiapin hadian buat elo, Nggi. Tapi karena alasan itu gue nggak jadi ngasih ke elo. Sorry!” batin Hangga.
➰ ➰ ➰
Saat Hangga hendak memberikan hadian kepada Hanggi di hari ulang tahunnya. Tepatnya pagi hari, ia bisa melihat dengan jelas di depan sana Setia sedang memberi sesuatu pada Hanggi. Meski tidak jelas, Hangga bisa mendengar sedikit pembicaraan mereka berdua.
“Cincin ini gue balikin ke elo, Nggi.” Setia memakaikan cincin yang pernah ia berikan pada Hanggi tepatnya saat pertama kali ia mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
“Tapi tenang aja, Nggi. Gue nggak bakal minta elo untuk jadi pacar gue lagi. Anggep aja ini hadiah ulang tahun dari gue. Dan satu lagi,” lanjutnya yang kemudian mengambil sebuat kotak cukup besar di atas motornya.
“Gue bawain kue coklat buat elo.” Setia membuka kotak itu dan berjalan mendekati Hanggi seraya menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada Hanggi.
Happy birthday to you...🎵
Happy birthday Hanggi...🎵
“Selamat ulang tahun, Nggi.” Setia tersenyum manis.
Meski hanya ucapan selamat yang singkat, bagi Hanggi itu bukanlah hal biasa dalam hidupnya.
“Taruh di kulkas, makan besok lagi.”
Hangga masih berdiri mematung memperhatikan mereka berdua. Apa dia harus merelakan Hanggi kepada Setia lagi? Tetapi ia tidak ingin gadis itu sakit hati lagi.
“Minyak apa yang bikin elo salting, Nggi?” tanya Setia sesekali mencolek cokelat pada kue itu dan mengoleskannya ke hidung Hanggi.
“Setia mah... jail,”
“Jawab dulu makanya...”
“Palingan juga gombal! IYA IYA GUE NGGAK TAU JAWABANNYA!” Hanggi mencoba menghindar saat Setia ingin mengolesi dirinya dengan krim cokelat.
“Minyak yang bikin elo salting itu... minyaksikan senyuman manis gue, jhahah!” Setia tertawa puas berhasil membuat Hanggi tersipu malu.
“Tuhkan gombal,” ucapnya dilanjutkan dengan menendang lutut Setia.
“Aw!”
Mereka berdua tertawa bersamaan dan saling mencolekkan krim cokelat satu sama lain.
“Gue masih suka sama elo, Nggi. Tapi rela gue tahan demi sohib gue, Hangga,” batin Setia.
Di sebelah sana Hangga masih menyaksikan kejadian itu. Tanpa berniat memberikan hadiah yang ia bawa untuk Hanggi, ia berjalan pulang ke rumahnya.
Memang sengaja ia menuju rumah Hanggi tanpa mengendarai motor. Lagi pula jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.
“Hangga!”
“Kita makan kue bareng-bareng!”
NEXT