NO NAME

NO NAME
P A R T 11 Keras Kepala



Hanggi sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia sendirian di rumah. Kedua orangtuanya sedang bekerja di Jakarta.


Hidupnya itu tidak semewah kedua sahabatnya. Hangga anak orang kaya, begitu juga dengan Setia.


Beruntung mereka semua tidak memikirkan status kekayaan saat menjalih hubungan persahabatan.


Hanggi mendekati pintu rumah saat mendengar pintu itu di ketuk.


“Elo ngapain kesini?” tanya Hanggi setelah membuka pintu rumah.


Hangga tidak menjawab dan langsung masuk ke rumah itu begitu saja. Ia berbalik dan mulai bertanya kepada Hanggi.


Rumah itu sepi saat dirinya datang tadi siang sewaktu mengantar Hanggi pulang.


“Nyokap bokap elo kemana?”


“E-elo nggak perlu tau!”


“Kalo ngomong tatap mata gue!”


Hanggi menatap wajah sahabatnya itu.


“Mereka lagi kerja di Jakarta. Udah setahun yang lalu,” jelasnya.


“Terus elo tinggal di rumah ini sendirian?” tanya Hangga ketus.


“Iya.”


“Setiap hari?”


“Iya.”


“Terus kenapa elo nggak bilang sama gue atau ke yang lain kalo elo itu tinggal di rumah sendirian setiap hari?! Elo bisa tidur di rumah gue! Sekamar sama Lenata! Kalo ada orang jahat yang masuk ke rumah elo tiba-tiba, gimana coba?!”


Hangga tampak kesal saat ini. Ia memang sangat peduli terhadap seorang sahabat. Terutama jika itu adalah wanita.


Hanggi tersenyum dan memeluk tubuh Hangga.


“Sejak kapan elo tinggal sendirian?” tanya Hangga dengan nada lembut.


“Satu tahun yang lalu. Mereka cuman pulang ke rumah sewaktu idul fitri. Mereka juga lebih milih tinggal di Jakarta saat liburan kerja. Katanya untuk menghemat ongkos perjalanan. Gue nggak sekaya elo, Ngga. Hidup elo selalu berkecukupan. Uang setiap hari bisa elo dapet dari orangtua tanpa diminta. Beda sama gue.”


Tanpa disadari, Hanggi mengeluarkan air mata. Bukan karena nasib dirinya, melainkan pengorbanan keras kedua orangtuanya.


Mereka berkata, “Kamu jadi anak sukses ya, Nggi. Belajar yang rajin. Setelah itu kami berdua baru bisa tenang. Kematian bisa datang kapan saja. Semoga kamu sukses dan bisa hidup mandiri.”


“Hiks... hiks...” Hanggi menangis tersedu-sedu saat mengingat pesan orangtuanya itu.


“Sorry, Nggi! Gue nggak tahu kalo hidup elo kek gini. Lain kali elo ngomong ke gue sewaktu kesusahan. Gue pasti bantu elo, kok.”


“Hiks... hiks...” Hanggi melepaskan pelukan–mengusap pipinya yang basah–dan mencoba untuk rileks.


“Sekarang ke rumah gue! Bawa juga keperluan sekolah elo buat besok. Elo bisa tidur sama Lenata. Kalo enggak lo bisa tidur di kamar t-,”


Ucapan Hangga terpotong oleh jari Hanggi yang menempel di bibirnya.


“Gue nggak mau nyusahin elo.” Hanggi tersenyum.


“Pintu rumah bisa dikunci rapat-rapat. Dan nggak bakal ada orang jahat masuk ke rumah,” lanjutnya.


“Oke! Fine.” Ucapan Hangga membuat Hanggi tersenyum.


“Gue bakal tidur di rumah elo dan sekamar sama elo! Titik nggak pake koma.”


Deg.


Hanggi tersentak.


“What!”


Ternyata selain perhatian dan peduli, Hangga sangat keras kepala. Pria itu berjalan masuk menuju kamar Hanggi. Ia tidak peduli akan ocehan Hanggi yang meminta dirinya untuk tidak tidur di rumah itu.


➰ ➰ ➰


 


Setia bangun pagi-pagi sekali. Ia ingin berbicara empat mata dengan Hanggi. Terutama ia ingin meminta maaf pada gadis itu sebab dirinya tidak peka.


Masalah agar dirinya menyukai gadis itu, itu masalah nanti. Setelah ia mendapat permintaan maaf itu.


Jam enam pagi Setia sudah siap untuk berangkat sekolah. Bahkan kakak perempuan, kakek, dan neneknya heran akan sikap dirinya yang tiba-tiba berubah.


Biasanya ia selalu bangun kesiangan tapi tidak kali ini. Semalam Setia sudah dihujani banyak pertanyaan dari ketiga orang itu.


Kenapa wajah kamu bisa babak belur? Siapa yang nglakuin itu ke kamu? Kenapa kalian bisa berantem?


“Nek... Setia berangkat dulu. Assalamu’alaikum,” ucap Setia seraya mengecup punggung tangan neneknya itu.


Ia melakuakan hal yang sama pada kakeknya. Dan terakhir pada kakak perempuannya. Ia hanya memiliki satu kakak.


“Ka Ara yang cantik... Setia berangkat dulu,” ucapnya dengan nada dibuat-buat, “Assalamu’alaikum,” lanjutnya.


“Wa'alaikumsalam.” Kakaknya itu tomboy.


Setia memicingkan matanya ketika melihat dua orang yang tampak familier bagi dirinya naik motor bersama.


“Pagi-pagi banget tuh si Hangga udah naik motor bareng si Hanggi. Kapan njemputnya coba?” Setia merasa heran.


“Baru aja jam enam pagi,” lanjutnya setelah melirik jam tangan.


➰ ➰ ➰


 


Hanggi terbiasa bangun pagi. Setelah bangun, ia bangunkan juga Hangga yang tidur satu ranjang dengan dirinya.


Satu ranjang coba? Padahal mereka bukan muhrim? Ckckck. Tapi Hangga tidak akan macam-macam pada sahabatnya itu.


Setelah membangunkan pria itu, Hanggi langsung siap-siap untuk berangkat sekolah.


Hangga numpang mandi di rumah sahabatnya itu. Kebetulan ada dua kamar mandi.


Saat Hanggi hendak sarapan pagi, sama sekali tidak ada makanan di rumah itu. Menyadari hal itu, tentu Hangga mengajak gadis itu untuk sarapan di rumahnya.


Hanggi terima saja tawaran pria itu. Jika tidak? Sikap keras kepala Hangga akan segera muncul.


Hanggi sudah memakai seragam OSIS lengkap tapi tidak dengan Hangga. Pria itu menginap di Rumah Hanggi tanpa ada rencana sebelumnya.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah sampai di kediaman Keluarga Malik.


Saat masuk ke rumah itu, sudah ada empat orang yang siap mewawancarai mereka berdua.


Lenata menyunggingkan bibirnya. Jordi melipat kedua tangannya di dada. Rifani berkacak pinggang. Dan yang terakhir Rino, ayahnya itu memukul-mukulkan tangan kanannya ke telapak tangan kiri.


“Habis darimana kamu?!” Pertanyaan ketus itu muncul dari sang ayah, Rino.


“Nggak baik tidur di rumah gadis!” Pernyataan itu dilontarkan oleh Rifani.


“Kamu beneran tidur sama Hanggi?” tanya Jordi memastikan.


“Ckckck... nggak nyangka Kak Hangga orangnya begitu! Lenata minta tidur sama kakak aja nggak boleh. Nah ini...” Itu perkataan Lenata.


“Dengerin dulu!” ucap Hangga dan Hanggi bersamaan.


Hal itu membuat keempat orang di depan sana mengernyit.


“Semua ini tidak seperti yang kalian pikirkan,” jelas Hangga.


“Kita bisa njelasin semuanya,” jelas Hanggi kemudian.


“Santai aja...” Kenapa Rifani berkata seperti itu?


“Santai...” Dan Rino juga begitu. Nada bicaranya melembut!


“Santai... santai.” Apakan Jordi dan Lenata kesambet?


Hangga dan Hanggi saling bertatapan sebab heran. Mereka berpikir akan mendapatkan pertanyaan yang melimpah ruah, tapi tidak jadi.


“Makanan udah siap... sarapan dulu, Nggi,” ucap Rifani seraya duduk di kursi makan.


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


😊


Terima kasih buat yang udah baca karya saya ini wkwk


Sejauh ini gimana si? Cerita Hangga Setia Hanggi?


See you next part



Daniel Arga Prasetia