NO NAME

NO NAME
P A R T 40 EPILOG



ANGGEP AJA PART BONUS :)


Gadis bertubuh kecil itu berjalan menyusuri jalanan paving di sebuah taman. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan model kriting gantung dengan warna kecoklatan.


Ia memakai celana pensil berwarna putih ketat hingga menampakkan kaki jenjangnya. Untuk atasan ia memakai kaos putih polos dibalut dengan jaket tanpa tudung kepala--berwarna hitam. Di punggungnya tergantung tas jansport kecil berwarna biru muda.


Banyak orang yang berlalu lalang disana untuk berjalan-jalan di taman. Gadis itu juga sempat tersenyum ketika berpapasan dengan seseorang dan orang itu tersenyum pada dirinya.


Saat melihat orang yang dirinya kenal, ia menghentikan langkahnya dan menatap dua pria di hadapan sana. Kedua pria itu sama-sama memakai celana jeans hitam.


Bedanya pria yang paling tinggi memakai hem kotak-kotak berwarna hitam putih tanpa di kancing dengan kaos putih di dalamnya. Untuk pria yang sedikit rendah darinya, memakai jaket warna biru tanpa tudung kepala dengan kaos putih didalamnya.


Detik selanjutnya gadis itu berjalan mendekati dua pria itu seraya tersenyum. Dua pria itu juga berjalan menuju arahnya seraya bercakap-cakap dan tersenyum kilas. Mereka berpapasan dan gadis itu berhenti di tempat.


Tapi...


Dua pria itu berjalan melewati dirinya seraya tetap membicarakan sesuatu tanpa melirik dirinya sekalipun. Detik selanjutnya gadis itu berbalik sebab kesal.


“Hyaaaaa, apa kalian tidak mengenalku?!” tanya gadis itu dengan nada keras hingga membuat kedua pria itu menoleh ke dirinya.


“Kau... bertanya padaku?” tanya pria yang memakai hem kotak-kotak berwarna putih seraya menunjuk dirinya menggunakan jempol tangan kanan.


Gadis itu mengangguk.


Sementara pria yang memakai jaket biru dan memiliki tubuh lebih rendah dari pria di sampingnya menelengkan kepala lalu berkata, “Mungkin kau salah orang. Sana pergi hush hush,” usir pria itu yang kemudian melanjutkan langkahnya.


“Diam disitu!” ancam gadis itu.


Lalu gadis itu berjalan mendekati dua pria itu dan...


Cup


Satu kecupan di pipi kanan pria berjaket biru.


Cup


Dan satu kecupan untuk pria ber-hem kotak-kotak hitam--di sebelah pipi kiri.


Kedua pria itu tersenyum miris.


“Apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh orangtuamu? Dan kau seenaknya mencium orang yang tidak kau kenal,” ujar pria berjaket biru.


“Dari penampilanmu...kau itu datang dari luar negeri. Mungkin karena pengaruh budaya barat sana kau jadi tidak sopan,” timpal pria di sebelahnya.


“Hahah,” gadis itu tertawa ringan, “Jadi kalian berdua sungguh tidak mengenalku? Kalian berdua pernah bilang meski aku belajar di luar negeri selama bertahun-tahun kalian akan tetap mengenalku. Tapi itu hanya omong kosong. Hah!”


“Tetap mengenal...”


“Belajar di luar negeri...”


Kedua pria itu saling bertatapan kemudian seperti mengingat sesuatu sehinga mereka berucap bersamaan, “Lenata?”


“Iya. Gue Lenata,” sahut gadis itu kemudian. Lalu dua pria itu berjalan mendekat dan memeluk dirinya.


“Ternyata elo masih bisa ngomong pake lo-gue, hahah!”


“Kak Hangga sendiri yang sering ngomong kek gitu. Ya udah aku ikut-ikutan.” Lenata tersenyum.


Mereka melepaskan pelukannya masing-masing.


“Gimana kuliahmu di Amerika?” ucap pria itu seraya mengacak rambut Lenata singkat.


“Bikin capek, Bang.”


“Ish.” Lagi. Jordi mengacak rambut adiknya itu.


Lenata memang di kirim belajar keluar negeri oleh kedua orangtuanya. Selama sembilan tahun ia belajar di Amerika. Disana ia tinggal bersama ayahnya, Rino.


Ayahnya itu sedang mengurus bisnis di Amerika. Sedangkan Rifani, tetap tinggal di Indonesia bersama Jordi. Hangga tinggal di rumah keluarga kandungnya bersama Zidan dan ibunya.


Meski terkadang ia juga sempat menginap di rumah keluarga angkatnya.


“Hangga!” Suara itu membuat pemilik nama itu menoleh. “Itu... Lenata?”


Hangga mengangguk pada gadis itu yang ternyata adalah Hanggi. Di sebelahnya berdirilah seorang playboy jap jempol yang ternyata setelah bertahun-tahun penyakit itu tidak hilang, Setia.


Kemudian Lenata memeluk Hanggi lalu bergantian memeluk Setia.


“Elo bener-bener udah kayak orang luar negeri, Len,” ucap Setia pada adik sohibnya itu.


“Cuacanya cerah banget. Kalian bertiga berdiri disitu. Entar gue fotoin,” titah Hanggi pada Hangga, Jordi, dan Lenata.


Hanggi siap-siap memotret dengan handphone-nya dan...


Cekrik


Hasil gambarnya tersimpan di penyimpanan.


 


 



➰ ➰ ➰


“Oh iya, Nggi. Elo... njomblo terus emangnya nggak bosen apa?” tanya seorang pria dengan nada menimbang-nimbang takut salah akan perkataannya.


“Gue nggak pernah bosen sebab kerjaan gue di bank bikin stres, Ngga,” sahutnya kemudian. Mereka berdua, Hangga dan Hanggi sedang duduk di bangku taman. Di depan sana tampak Lenata, Jordi dan Setia sedang membeli es krim.


“Gue mau ngomong sesuatu sama elo, Nggi,” ujarnya dengan tatapan ke depan sana.


“Ngomong apaan? Tinggal ngomong aja,” ucapnya. “Kok, gue deg-deg-an ya? Jangan ngarep Hanggi,” lanjutnya dalam hati.


“Gue...” Hangga bangun dari duduknya dan berjongkok di hadapan Hanggi seraya memegang kedua tangan gadis itu. “Gue mau nglamar elo, Nggi.” Lalu Hangga mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya.


“Ini beneran? Gue nggak salah denger,” batinnya.


“Will you marry me, Hanggi Afsha Naomi?” Hangga membuka kotak berwarna merah yang ternyata berisi cincin silver logo huruf H.


Hanggi tersenyum manis dan itu sudah cukup bagi Hangga untuk tahu bahwa gadis itu menerima lamaran dirinya. Mereka saling bertatapan beberapa saat sambil tersenyum.


Detik selanjutnya Hangga menarik pelan lengan gadis itu dan menarik ke dalam pelukannya seraya berbisik, “Thank you.”


Cup


Hangga mengecup dahi Hanggi sejenak.


 


 


Cukupkah Epilognya sebagai penyempurna Ending???


Terima kasih untuk para reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca karya saya ini :) Gomawo 💕


Bye...


Untuk info cerita bisa juga cek di my IG : marselasepty20