
Sekarang memasuki istirahat pertama. Semua murid berhamburan kesana-kemari.
Ada yang ke kantin, ruang guru, ataupun mendekam di ruang kelas.
Terserah mereka mau melakukan apa. Sepanjang hal itu tidak menyalahi aturan sekolah.
Hanggi sedang duduk di depan kelas bersama temannya. Feni. Gadis itu duduk satu bangku dengannya.
Kelas XI Akuntansi 3 memang tidak membeda-bedakan teman. Selama tiga tahun, mereka tetap satu kelas. Mereka harus berjuang bersama agar tiga tahun di SMK selalu bersama.
Back to the point.
Feni berdecak ketika melihat kelima siswa itu sedang berjalan beriringan.
Mereka menjadi sorotan warga sekolah. Terutama siswa-siswinya.
Hangga mengeluarkan baju OSIS-nya, lengan jaket merah itu melingkari pinggangnya, dasi tidak dipakai pada tempatnya, melainkan diikat di pergelangan tangan.
Anehnya banyak siswi yang menjerit melihat dirinya. Mungkin karena dia tampan ditambah rambutnya itu melambai ketika berjalan.
Setia melambai ketika siswi cantik menyapanya.
Kenzo sibuk dengan handphone.
Japri bersikap sok cool.
Meniru Zidan yang memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Hangga berjalan ditengah. Disamping kanannya ada Setia si manis kemudian Kenzo si ketua kelas.
Sedangkan di samping kirinya ada Zidan pria cool dan Japri si kerempeng.
Hanya Hangga saja yang tampilannya tidak seperti anak Akuntansi. Mungkin Setia sudah bertobat untuk lebih rapi.
“Ada tugas apa, Ken?” Hangga bertanya tetap pada posisi. Ia tahu jika temannya itu habis dari ruang guru mengambil tugas.
“Ngerjain soal latihan dari buku paket. Suruh bikin jurnal umum,” jelasnya seraya memandangi layar handphone-nya.
Banyak tugas dari guru yang disampaikan lewat aplikasi WhatsApp.
“Tambah kurus gue,” ujar Japri kemudian.
Mungkin karena pusing mengerjakan tugas itu, akan mengurangi berat badannya.
“Zidan...” panggil Setia dengan nada menggoda.
“Nggak boleh nyontek tapi kerjasama!” tegas Zidan kemudian.
Ia sudah tahu jurus sakti Setia untuk meminta contekan darinya. Tapi ia menolak. Cukup kerjasama ketika mengerjakan tugas.
Prinsipnya :
1. Nggak boleh nyontek tapi kerjasama (saat mengerjakan tugas).
1. Nggak boleh nyontek sama kerjasama (saat ulangan).
Pengumumam! Pengumuman ditujukan kepada semua pengurus OSIS untuk segera menuju ke Ruang OSIS saat ini juga. Terima kasih.
Panggilan untuk semua pengurus OSIS terdengar di seantero sekolah.
Yang merasa menjadi pengurus OSIS, langsung menuju tempat sesuai pengumuman.
“Info tugas Akuntansi udah aku share ke grup. Kalian kasih tau ke temen yang lain ya! Gue kumpul OSIS dulu.”
Kenzo melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari keempat temannya.
“Ikut organisasi apa aja tuh anak?” Japri heran. “OSIS?” lanjutnya.
“Iya,” jawab Hangga dan Setia kompak. Zidan hanya diam saja.
“Pramuka?”
“Iya.”
“Paskibra?”
“Nggak boleh ikut ekskul lebih dari dua.”
Kalimat cool itu muncul dari Zidan. Sudah setahun lebih ia duduk di SMK ini. Tentu ia sudah paham hal-hal terkait sekolah yang ditempatinya.
“Oh iya, Nggi!” panggil Setia ketika menyadari sesuatu. “Gue mau ngomong sesuatu sama elo. Di luar dulu ya!” lanjutnya.
Dan Hanggi menjawab, “Sebentar lagi masuk. Dan juga ada tugas Akuntansi. Gue mau ngerjain dulu.”
Ucapan Hanggi membuat Setia melongo O.
“Tutup mulutnya! Entar kemasukan laler lho.” Japri menepuk bibir Setia dengan telapak tangan kanannya.
“Hah!” Akhirnya Zidan tertawa meski itu suatu bentuk peledekan.
“Sabar!” Hangga menepuk pundak sohibnya itu.
***
Dua jam pelajaran telah berakhir. Waktunya sholat Dzuhur.
Semua warga sekolah yang beragama Islam, diberi waktu selama setengah jam untuk sholat.
Jam pelajaran Akuntansi tiga jam. Dua jam sudah terlaksana. Berarti masih tersisa satu jam setelah istirahat kedua.
Saat waktu istirahat selesai, Hangga menoleh ke belakang sebab seseorang memanggil dirinya.
“Ada apa, Pak?” tanyanya kemudian pada Pak Arya. Guru Sejarah Indonesia.
“Itu dasinya kamu pake yah! Jangan diiket di tangan,” nasehatnya.
“O-oh. Nanti Pak dikelas.” Hangga tersenyum. Setelah itu ia kembali berjalan menuju kelas.
“Hangga!”
Lagi-lagi seseorang memanggilnya. Ia sudah berada di ambang pintu kelas.
Apa mereka nge-fans dengan sosok Hangga Malik Rifano?
“Ada apa, Nggi?” tanyanya dengan nada lembut setelah mengetahui siapa yang memanggil dirinya.
“Dasinya di pake,” ucapnya seraya melepas dasi itu dari pergelangan tangan Hangga.
“N-ngak usah.”
“Diem!” bentak Hanggi kemudian, saat sohibnya itu menolak.
Hangga menurut. Ia biarkan gadis itu melepas ikatan dasi di pergelangan tangannya.
“Sshhh...” Hangga meringis kesakitan.
“Ini kenapa?” Sontak Hanggi bertanya seperti itu.
Pergelangan tangan Hangga bagian bawah menganga cukup lebar. Ia sendiri sampai ngeri.
“Kena pisau tadi pagi.”
“Ikut!” Hanggi menarik lengan kiri pria itu.
“Mau kemana?”
“UKS.”
“Nggak usah. Nanti juga sembuh sendiri.”
“Nurut aja!”
Hangga menurut.
***
Tadi pagi. Lokasi : Kediaman Keluarga Malik.
Hangga yang sudah selesai makan hendak menuju dapur untuk mengambil air hangat.
Ia minum air hangat ketika pagi dan malam hari. Ketika selesai minum, ia berbalik.
Tanpa sengaja, Rino yang sedang lewat kaget sebab Hangga tiba-tiba berbalik. Ia sedang membawa pisau.
Dan pisau itu mengenai tepat di pergelangan tangan Hangga bagian kanan.
“Papa nggak sengaja. Diobatin dulu,” ucap Rino kemudian.
“Nggak usah!” tolak Hangga dengan nada ketus.
Lalu ia mendekati wastafel - menyalakan kran air dan mencuci tangannya.
Darah terus mengalir tanpa henti. Setelah darahnya berhenti.
Hangga melepas dasi dan mengikat pergelangan tangannya itu dengan dasi tersebut.
“Napa masih disitu? Nggak usah sok peduli.” Ucapan Hangga menohok hati ayahnya itu.
Tangan Rino menggenggam keras. Giginya bergemeletuk. Matanya menatap tajam.
Hangga tidak takut.
Dan satu tamparan hampir saja melayang jika suara ‘Hangga’ tidak segera datang.
***
Bersambung...
💕Thank for reading💕
Bisa kasih pendapat di komentar
my ig : marselasepty20
Hangga Malik Rifano