
Setia melangkahkan kakinya menuju kelas. Sepanjang koridor pria itu selalu tersenyum manis menyapa siswi-siswi yang melirik dirinya. Untung cakep. Bakal dikira orang gila jika dirinya tersenyum seperti itu.
Suasana hatinya sangat gembira. Ia bisa menemani Hanggi tadi malam. Tapi tidak seperti Hangga yang tidur di ranjang Hanggi. Setia menemani gadis itu dengan tidur di sofa kamar Hanggi. Setia mulai terpesona dengan sahabatnya itu. Wajahnya sangat polos saat tertidur.
"Cantik," gumam Setia saat sampai di depan kelas yang akan ia tempati. Bertepatan dengan itu, Aurel si menor berpapasan dengannya. Membuat senyuman di wajah Setia lenyap.
"Elo bilang apa tadi? G-gue cantik? Serius? Akhirnya elo sadar juga Setiaaaa." Aurel kelas dua belas, gadis yang pernah mencium Setia waktu itu.
Setia buru-buru masuk kelas saat gadis itu mendekat hendak memeluk dirinya. Setia masuk dan segera menutup pintu kelas.
"Setia keluar," teriak gadis itu dari luar kelas seraya menggedor-gedor pintu kelas. Gedorannya berhenti setelah beberapa waktu. "Gue balik ke kelas dulu, Arga."
Setia mengernyit saat Aurel memanggil dirinya dengan nama 'Arga'.
"Bye the way itu panggilan baru gue ke elo setelah elo bilang gue cantik."
Setia bergidik geli. Lalu ia bisa mendengar derap langkah Aurel mulai menjauh. Ia membalikkan badannya dan merasa lega. Tidak tahu apa yang akan gadis gila itu lakukan pada dirinya jika berdekatan terus.
Hanggi agak risih saat pria yang semalam menemani dirinya tidur berada di dalam kelas. Dan mereka hanya berduaan saja. Tatapan mereka bertemu, seketika itu juga Hanggi mengalihkan tatapannya.
"Tumben elo berangkat pagi?" tanyanya tanpa sadar.
"Kan dia tidur di rumah elo, Nggi! Elo juga yang mbangunin. Pake nanya lagi," gerutu Hanggi dalam hati.
"Kan gue tidur di rumah elo." Setia berjalan mendekati posisi dimana Hanggi duduk. "Elo juga yang mbangunin gue 'Setia bangun udah pagi.' Pake nanya lagi." Setia sudah duduk di samping Hanggi. Membuat gadis itu merasa malu sekaligus gugup.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Setia saat gadis itu berdiri dari duduknya dan hendak pergi.
Hanggai memejamkan matanya lalu berbalik. "Ngomong apaan?" tanyanya ketus setelah berhasil menstabilkan degup jantungnya.
"Soal jalan-jalan waktu itu. Dan gue nggak mau elo salah paham sama gue. So, duduk dulu." Setia menepuk-nepuk kursi disebelahnya, menyuruh duduk.
Berjalan mendekat, lalu duduk kembali di kursi itu. "Cepet ngomong," ucap Hanggi kemudian.
"Dia Clara. Mantan gue."
"Kenapa gue bisa suka sama playboy?" gumam Hanggi yang masih bisa di dengar oleh Setia.
"Elo sendiri yang suka sama gue napa nyesel." Setia tertawa garing dan gadis itu tersentak.
Setia mengalihkan pandangannya ke depan. "Dia udah pindah ke Bandung dan kembali kesini untuk liburan. Sekaligus buat... nemuin gue."
"Kalian balikan?" Lagi. Hanggi tanpa sadar akan ucapannya. Keceplosan.
"Ngapain gue pake balikan segala. Lagian gue juga udah nggak ada perasaan apapun sama dia. Gue udah move on."
"Ouh." Hanggi tiba-tiba saja merasa bahagia. Bahagia karena pria yang ia sukai tidak ada hubungan apapun dengan gadis waktu itu. Niat awal dirinya untuk menjauhi Setia ia urungkan. Hubungan Setia dengan Clara dirinya tidak tahu kapan itu dimulai. Mengingat Setia sering bergonta-ganti pacar.
"Jadi gue bakal berusaha mbuka perasaan buat elo, Nggi. Elo masih suka, kan? Sama gue?" Setia serius. Nada bicaranya saja terkesan serius.
Bertepatan dengan perkataan Setia, Hanggi mematung. Ia masih suka dengan Setia. Tapi tidak mengira akan jadi seperti ini. Tapi disisi lain harapannya terkabul. Harapan agar Setia sadar akan perasaan dirinya.
"Gimana, Nggi? Elo masih mbuka hati elo buat gue, kan? Atau udah ada..."
"Gue bakal ngasih elo kesempatan," sahut Hanggi setelah manarik napas dalam-dalam.
"Makasih," ucap Setia seraya tersenyum manis. Hingga lesung pipinya nampak jelas.
"Mau ngapain?!" Hanggi kaget saat Setia berdiri dan hendak memeluknya. Otomatis tubuhnya menjauh.
"Pelukan sebagai sahabat." Setia memeluk Hanggi dari samping. "Nggak sadar sewaktu elo mulai suka sama gue persahabatan kita mulai rentan." Setia tersenyum di balik pelukannya.
"Hangga," ucap Hanggi kemudian. Hangga berdiri di ambang pintu setelah pintu itu terbuka. Tersenyum. Hanggi bisa melihat dengan jelas saat pria itu tersenyum.
"Sorry kalo gue ngganggu. Gue ke kantin dulu," sahut Hangga lalu berbalik dan meninggalkan ruangan itu.
Hari ini hari Rabu. Semua murid memakai seragam jurusan. Untuk Akuntansi memakai seragam berwarna hijau. Siswa dengan atasan hijau panjang dan bawahan celana hitam. Untuk baju dimasukkan ke dalam celana. Sementara siswi memakai atasan hijau dan bawahan celana. Warna yang sama dengan atasan. Hijau tua. Tapi untuk baju dibiarkan diluar. Tanpa dimasukkan.
➰ ➰ ➰
Semilir angin menerpa tubuh seorang siswa. Siswa itu terbaring di bangku rotan yang berada di rofttop. Satu kakinya lurus dan lainnya menekuk ke atas. Lengan kirinya melindungi mata dari paparan sinar matahari pagi. Sementara tangan kanannya memegang sebatang rokok. Asap mengepul begitu Hangga mengeluarkannya dari mulut.
"Elo ngrokok, Ngga?" Pertanyaan datar itu muncul dari Japri. Ia sudah berdiri dengan gagahnya. Bajunya yang tampak kelonggaran membuat angin dengan mudahnya menggerakkan baju itu. Ia mendekat dan berdiri di dekat dinding pembatas. Sehingga ia bisa melihat warga sekolah yang berlalu-lalang dibawah sana.
Hangga yang sedang terbaring dan merokok diam saja.
"Hape elo ketinggalan di rumah gue, Ngga." Ucapan itu membuat Hangga bangun cepat dari posisi terbaringnya.
"Udah gue cas." Zidan melempar benda pipih itu menggunakan tangan kanan. Sementara tangan kirinya masuk ke dalam celana.
Hangga menangkap benda yang menjadi miliknya dengan kedua tangan. "Thanks," ucap Hangga dengan nada kurang jelas. Sebab rokok itu terselip dibibirnya.
Zidan berdiri di sebelah Japri. Menyaksikan aktivitas dibawah. Sekarang mereka berada di gedung enam. Gedung paling belakang. Dan hanya gedung itu yang mempunyai lantai atap. Detik berikutnya Hangga membuang rokok itu ke tempat sampah. Lalu berjalan medekati kedua temannya itu. Tapi ia berdiri membelakangi dinding.
"Anda kena DO sebab merokok," ucap Kenzo kemudian. Ia sudah tahu apa yang dilakukan Hangga diatas atap. Merokok saat galau dan stres.
Hangga hanya meringis kilas. "Tau darimana kalo gue ngerokok?" Hangga menopang tubuhnya dengan kedua siku menempel di dinding pembatas. Matanya memperhatikan Kenzo yang berjalan mendekat.
Kenzo mendorong dada Hangga. Hingga pria itu terdorong beberapa senti ke belakang. "Gue bisa nyium bau rokok." Kenzo mengendus di depan wajah Hangga seraya tetap mendekati wajahnya. Sebab Hangga selalu mundur saat dirinya mendekat.
"Jauh-jauh dari gueeee! Ntar kalo gue jatuh gimana?! Kenzooooooo!!" Hangga meronta minta dilepaskan. Cakep-cakep begitu, Hangga takut akan ketinggian. Kepalanya pusing saat ia melihat sesuatu dari ketinggian.
Hangga merasa lega saat Kenzo melepaskan dirinya. Hangga jongkok, memeluk kedua lututnya, dan membenamkan wajahnya disana. Peluh sudah membasahi wajah, leher, dan bagian lain.
"Elo nangis, Ngga?" tanya Kenzo kemudian saat heran dengan tingkah temannya. Ia mendekat dan bisa melihat tubuh Hangga bergetar.
Japri ikut mendekat. "Lo kenapa, Ngga?"
"Hangga takut ketinggian," jelas Zidan kemudian tanpa mendekati posisi Hangga.
Hening.
Japri dan Kenzo saling bertatapan.
Tawa pecah diantara mereka berdua. Bahkan Japri sampai terduduk dan menepuk-nepuk lantai atap. Lebih parahnya lagi Japri. Ia sampai tiduran di lantai seraya tertawa.
"Laknat," ucap Hangga dan Zidan bersamaan. Meski mereka tidak saling dengar.
➰ ➰ ➰
Bersambung...
💕Thank for reading💕
Bisa kasih pendapat di komentar
my ig : marselasepty20
***Next ***
👇