NO NAME

NO NAME
P A R T 37 Bahagiakah?



SORRY FOR TYPO


Pria yang berpakaian seragam OSIS, berpamitan kepada kakek dan neneknya serta kakaknya. Lalu dengan langkah tergesa-gesa pria itu langsung pergi menjauh dari rumahnya itu.


Dipunggungnya tergantung tas hitam dan di lehernya sama sekali tidak terikat dasi. Seraya melangkah tergesa-gesa, pria itu menyempatkan diri memasukkan baju OSIS-nya ke dalam celana.


Lalu ia melirik jam tangan di tangan kiri, jam 07.15 WIB.


“Haishh,” gerutu pria itu yang kemudian berlari cepat dan membiarkan baju bagian bawah sebelah kanan tidak masuk ke celana.


“Cepetaaaan!” ucapnya seraya berlari.


Saat berlari, pria itu melihat pria lain yang memakai pakaian sama-- sedang memakai sepatu di teras rumah, lalu bangkit dan melangkah tergesa-gesa.


Dasinya terikat di pergelangan tangan kanan dan bajunya di keluarkan. Satu lagi, jaket warna abu-abu itu melingkar di pinggangnya.


Detik selanjutnya ia berhenti dari larinya dan menyapa pria yang baru saja keluar dari gerbang rumah. “Elo telat juga, Ngga?”


“Telat? Emang sekarang jam berapa, Set? Mungkin matahari udah terang tapi sekarang mesti masih jam setengah tujuh. Kebiasaan sang surya udah terik di pagi hari,” ucap Hangga dengan pedenya seraya menatap sang surya di ufuk timur.


Pandangannya menyipit tatkala sinar mentari pagi itu mengenai kedua penglihatannya.


“Sekarang jam tujuh lebih dua puluh,” jelas Setia kemudian seraya menatap wajah sohibnya itu. Lalu mereka saling bertatapan beberapa detik.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Dan...


“Kampret!” ucap mereka berdua secara bersamaan kemudian berlari kencang menuju sekolah.


Entah hukuman apa yang akan mereka terima saat sampai di sekolah nanti. Jam pelajaran pertama adalah matematika. Artinya guru sangar sudah menanti. Siapa lagi kalau bukan Bu Widi yang terkenal akan kesangarannya.


“Kenapa elo nggak bilang dari tadi...?!”


“Ya kan elo ngomong terus gimana gue mau ngomong?!”


“Kampret lu!”


“Elu juga kampret!”


Pletak!


Pletak!


Hangga dan Setia berlari bersamaan seraya memaki dan menjitak kepala satu sama lain.


➰ ➰ ➰


 


Gadis itu pergi ke kantin untuk membeli minuman. Langkahnya begitu santai sebab ia memiliki waktu istirahat yang cukup lama dari teman lainnya. Dimana ada Bu Widi, pasti setiap ulangan harian Matematika ada sesi remidi setelah itu.


“Bu air mineralnya dua,” ucap gadis itu seraya mengambil sebotol air mineral di lemari pendingin.


Saat hendak membayar, tangan agak kekar menyentuh tangannya yang terulur hendak memberikan uang untuk membayar minumannya.


“Gue aja yang bayar,” ucap pria itu seraya tersenyum lebar.


Gadis itu tersenyum – memasukan uangnya kembali ke saku dan berkata, “Makasih Kak Jiyan...”


Dan itu membuat pria yang bernama Jiyan tersenyum geli akan panggilan adik perempuannya itu. Umur mereka tidak beda jauh dan juga mereka masih seangkatan.


➰ ➰ ➰


 


Hangga dan Setia mendapat hukuman baru dari Bu Widi. Bukan hormat pada sang merah putih di bawah terik sang surya. Melainkan mengelilingi lapangan basket sebanyak sepuluh putaran.


Untung lapangan basket, kalau lapangan sepak bola?


Dua siswa itu tampak sedang duduk di lapangan basket dengan bertumpu pada kedua tangan – wajahnya menengadah ke langit – matanya terpejam seraya menstabilkan napas dan kakinya selonjor ke depan.


“Haus?” ucapan seseorang membuat kedua siswa yang telah menyelesaikan hukuman itu membuka matanya dan menatap pemilik suara itu.


“Haaaaah...”


Itulah ekspresi mereka berdua setelah meneguk habis minumannya dan dilanjutkan dengan berkata, “Makasih, Nggi!” Secara bersamaan.


➰ ➰ ➰


 


Hanggi dan Setia sempat mengganti baju OSIS mereka dengan membeli baju yang sama di koperasi sekolah.


Keringat yang membasahi tubuh sebab mengelilingi lapangan basket sebanyak sepuluh kali membuat pakaian itu nyeplak.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di kantin bersama teman-temannya yang lain seraya bercakap-cakap entah membahas apa.


“Kalian berdua kena hukuman lagi?” tanya siswa yang memakai kacamata rabun. Siapa lagi kalau bukan Kenzo si ketua kelas.


“Hm,” respon Hangga dan Setia bersamaan yang tengah menyedot es jeruk dari gelas.


“Bener-bener sohib kalian berdua,” ledek Japri yang terkesan seperti pujian.


Dan ucapan Japri barusan membuat keempat siswa itu nyengir bersamaan. Mungkin lucu. Tapi hal itu tidak berlaku untuk siswa yang memiliki sikap cool diantara mereka.


Zidan sesekali melirik Hangga dari aktivitas memainkan handphone-nya.


“Ceileh kalian berdua napa diem-dieman? Deg-degan nunggu fakta bahwa kalian berdua bakalan jadi kakak beradik? Nggak us-sah seserius itu kaleeee,” ujar Setia diakhiri dengan menonjok kepala Hangga.


Pletak!


Hangga membalas perlakuan sohib kampretnya itu.


“Lagian kalo kalian berdua jadi kakak beradik cocok, kok,” ucap Kenzo menimpali. “Zidan si cool dan pria ber--kharisma terus...”


“...Hangga si kampret,” sambung Japri kemudian yang membuat Kenzo, Setia, dan dirinya tergelak.


Sementara Hangga berniat untuk membungkam mulut si kerempeng, dan Zidan hanya tersenyum kilas.


Kini Zidan rela jika Hangga akan menjadi adiknya. Sudah sepantasnya putra kedua ibunya itu mendapat kasih sayang dari ibu kandungnya.


Tujuh belas tahun lebih ibunya memberi kasih sayang pada dirinya dan sekarang giliran saudaranya itu.


Hangga Malik Rifano.


➰ ➰ ➰


 


Setelah pulang sekolah, Hangga langsung saja pulang ke rumah tanpa mampir-mampir. Dan saat sampai di depan rumah seorang wanita keluar dari dalam rumah keluarganya dengan ekspresi sedih bercampur bahagia. Lalu wanita itu menghampiri dirinya yang sedang melepas sepatu di undakan.


Hangga merasa kikuk saat wanita itu tidak menyingkir dari hadapannya. Dan setelah Hangga selesai melepas sepatu, ia berjalan memasuki rumahnya. Tapi dihentikan dengan pelukan wanita tersebut.


“Akhirnya ibu ketemu sama kamu,” ucap wanita itu seraya tetap memeluk tubuh Hangga yang tak lain wanita itu adalah Meidan. Ibunda Zidan. Artinya mereka berdua kakak beradik. Meskipun mereka berbeda ayah.


Di ambang pintu sana, Hangga bisa melihat kedua orangtuanya tersenyum bahagia begitu juga dengan Jordi dan Lenata yang mengacungkan jempol pada dirinya.


Menyesal sekaligus bahagia itulah yang Hangga rasakan. Menyesal sebab mengira hal tidak-tidak pada orangtua angkatnya dan bahagia sebab keluarganya itu masih peduli terhadap dirinya.


Tidak hanya keluarganya, teman-teman dan kedua sohibnya juga selalu ada.


 


 


End...


Tapi bo--ong


🔥🔥🔥


Wkwkwk


Sebentar lagi cerita bakal 'End', so...tunggu ya, kelanjutan ceritanya...


***Thanks for reading