
Kenalin, gue Hangga Malik Rifano. Gue biasa dipanggil Hangga. Banyak orang bilang... gue itu perfect. Buktinya, muka gue yang ganteng ini, tidak bisa lepas dari pandangan cewek-cewek cantik di seantero SMK.
Kenapa banyak cewek yang suka, naksir, maupun mengagumi gue? Itu karena diatas tadi, gue perfect. Perfect dalam arti fisik. Kalo soal pelajaran sekolah... jangan ditanya.
Padahal... gue ini anaknya bandel, suka telat sekolah, baju kadang dikeluarin, rambut acak-acakan, dan yang paling parah... gue suka nge-gombalin cewek-cewek sekolah yang naksir sama gue. Termasuk guru mapel juga gue gombalin. Plak!
Alhasil, hukuman berdiri di lapangan upacara sambil hormat kepada kain merah putih yang berkibar, menjadi hukuman yang sering gue dapet dari sang guru mapel.
Sebab gue sering telat saat sekolah, sekarang gue lagi nangkring di atas dinding pagar sekolah. Tepatnya dinding lapangan sepak bola sekolah.
Apa yang bakal gue lakuin? Cuman satu! Lompat dinding dan cepat-cepat masuk kelas. Dan gue nggak sendirian, ada sohib gue yang selalu setia.
➰➰➰
Gue! Daniel Arga Prasetia. Nama panggilan gue, Setia. Kadang ada juga yang manggil gue Dani, Arga, maupun Pras. Anaknya hangat dan suka sapa terhadap siapa saja. Siapa saja itu maksudnya orang lho ya. Masa iya gue nyapa tuh kuburan yang diem-diem bae. Kalo tuh kuburan nyaut, lari tunggang langgang udah jadi kebiasaan.
Gue heran deh, sama sohib gue yang satu itu.
Anak orang kaya? Iya.
Ganteng? Iya.
Tapi bocahnya acak adul.
Tapi gue akui... dia memang punya muka yang terlanjur ganteng, dan muka gantengnya itu... nyebabin dia jadi cowok most wanted di SMK.
Di balik acak adul sohib gue itu, ada alasan dan penyebabnya. Dan yang tahu tentang kenapa sohib gue jadi mirip brandalan hanya ada tiga, dia sendiri, gue, dan tentunya Yang Kuasa.
Karena nama gue Setia, udah seharusnya gue punya sifat setia. Terutama pada sohib gue itu. Saking setianya gue sama tuh sohib. Gue dikira homo. Gimana rasanya coba? Dibilang homo. Sekarang gue lagi nangkring juga di atas dinding pagar lapangan.
➰➰➰
Satu... dua... tiga!
Mereka berdua loncat bersamaan ke lapangan sekolah.
"Uh," respon Hangga, ketika dirinya berhasil loncat dari dinding itu.
"Gue setia. Tapi untuk sohib gue ini," ucap Setia seraya melirik sahabatnya itu.
"Lo setia sama gue... tapi sama cewek justru sebaliknya!"
Mereka berdua menyeringai bersamaan.
➰➰➰
"Lama banget si mereka? Lima menit lagi guru masuk," ucap seorang gadis seraya duduk di kursi kelas. Tatapannya tertuju pada pintu ruang kelas yang terbuka lebar.
Kenalin, gue Hanggi Afsha Naomi. Banyak yang naksir sama gue. Terutama cowok-cowok cool, hangat, pendiam, dan masih banyak lagi. Tapi asal lo tau aja! Gue selalu nolak ungkapan mereka. Anggap saja gue tolak mereka mentah-mentah.
Tugas gue sekolah itu cari ilmu. Bukan cari orang yang akan selalu dirindu-rindu. Mungkin karena wajah gue cantik, tubuh ramping, jadi banyak yang naksir sama gue. Dan gue kepengin dapet cowok yang suka sama kecantikan hati gue. Bukan kecantikan fisik.
Sekarang gue lagi nunggu kedua sohib gue yang suka telat masuk kelas. Yang pertama orangnya termasuk most wanted. Dan yang kedua orangnya itu setia sama si most wanted. Karena itulah dia jadi kecipratan sama si most wanted.
Dari depan sana bisa gue lihat, kalo Pak Arya, Guru Sejarah Indonesia, hendak masuk ke ruang kelas gue ini. Ruang 131. Ruang teori di gedung satu (gedung yang paling dekat dengan jalan raya), lantai 3 ( sebab gedung ini memiliki tiga lantai dan ruangan teori yang gue pake ada di lantai tiga), ruangan urutan ke satu.
"Assalamu' alaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap Pak Arya ketika memasuki ruang teori 131.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut semua murid kelas XI Akuntansi 3 bersamaan.
"Maaf saya agak telat yah," ucap Pak Arya dengan nada lemah lembut disertai wajah cerianya itu, "Sebab saya dari lantai satu gedung dua, terus naik ke lantai tiga gedung satu, gimana rasanya yah," lanjutnya.
"Hahaha," respon beberapa murid ketika mendengar penjelasan Pak Arya.
Pak Arya. Guru Sejarah Indonesia. Orangnya suka bercanda dan tidak mudah marah. Hampir semua guru di SMK Maju Jaya ini memiliki guru yang baik-baik. Baik dalam arti selalu ramah dan tak mudah marah. Meski ada juga guru yang galak. Tetapi kegalakannya itu hanya untuk kebaikan murid semata.
"ASSALAMU'ALAIKUM!" ucap Hangga dan Setia bersamaan ketika sampai di ruang teori 131.
"Wa'alaikumusalam," sahut seisi ruang 131.
"Maaf... Pak... Arya... saya... telat..." Entah kedua murid laki-laki itu sudah sangat dekat atau makan apa? Mengucapkan kata-kata itu bersamaan.
Kedua tangan Hangga bertumpu pada kedua lututnya. Mencoba menstabilkan napas yang memburu. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Bahkan baju OSIS yang ia kenakan menampakkan kaos dalam yang membalut tubuh tegapnya itu.
Sedangkan Setia, berkacak pinggang. Berkali-kali pria itu mengelap hidung dan dahinya. Mencoba membersihkan keringat yang keluar dari pori-porinya.
Bayangkan! Mereka berlari dari lapangan sekolah belakang gedung, menuju lantai tiga sebuah gedung. Dan gedung yang mereka tuju ada di bagian depan sendiri. Lantai tiga lagi.
"Capek yah?" tanya Pak Arya pada dua muridnya itu.
"Capek, Pak!" sahut Hangga dan Setia bersamaan.
Memang beliau sering meledek muridnya. Beliau berpandangan, bahwa ketika meledek muridnya, murid itu merasa terdzolimi, sehingga doa apa saja dari orang yang terdzolimi akan cepat dikabulkan.
Hangga dan Setia langsung duduk di kursi masing-masing. Siapa datang ke kelas paling akhir? Mereka itulah yang akan duduk di bangku paling depan.
Pak Arya tidak perlu menyuruh kedua muridnya itu untuk duduk. Sebab beliau tahu, bahwa mereka memang sering terlambat masuk di jam pelajaran. Terutama saat mapel beliau.
"Kalian lagi ngapainnnn?" tanya Pak Arya menyadari Hangga dan Setia menggeser meja dari posisi paling depan menuju posisi paling belakang.
"Nanti ngantuk, Pak! Kalo pelajarannya pak guru duduk di depan." Ucapan Hangga membuat Pak Arya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah telat, pelajaran Sejarah, duduk belakang sendiri lagi, tambah ngantuk," ledek Pak Arya.
"Hahaha," Semua penghuni ruang 131 tertawa bersamaan.
Baru kelas XI, tingkah Hangga dan Setia sudah begitu! Mungkin sikap itu mereka bawa dari kebiasaan masa SMP dan kelas X.
Apakah sikap itu akan melekat terus pada diri mereka? Dua sohib yang sudah menjadi most wanted di sekolahnya. Padahal mereka dari jurusan akuntansi. Jurusan yang terkenal akan kedisiplinan muridnya.
Beberapa menit yang lalu...
Hangga
Asal kalian tau aja? Meski gue sering telat masuk sekolah, tapi gue nggak akan nyia-nyiain waktu belajar gue itu untuk bolos sekolah maupun nangkring di kantin sekolah. Buktinya sekarang gue sama si Setia lagi lari-lari menuju ruang teori.
➰➰➰
"Padahal kita dari jurusan Akuntansi, Bro? Tapi sering telat. Nggak sesuai sama konsep periode akuntansi!" ucap Setia seraya tetap berlari bersama Hangga.
"Maksudnya? Apa hubungannya Konsep Periode Akuntansi sama sikap kita?" Hangga bingung.
"Periode Akuntansi itu dihitung satu tahun dari kapan dimulainya usaha itu, tetapi kalo gue sama elo yang ngurus kerjaan akuntansi itu, urusan akuntansi yang harusnya selesai selama satu periode, mungkin baru selesai setelah dua periode! Sebab kita sering telat ngurus kerjaan," jelas Setia diakhiri dengan berhenti dari larinya.
Mereka berdua baru sampai di gedung 3 setelah sekitar 10 menit. Itu baru lantai dua. Ruang teori mereka berada di lantai 3.
"Sekarang itu, mapel Sejarah Indonesia! Bukan Akuntansi! Ngapain lo malah mbahas tuh pelajaran?!" tanya Hangga pada sohibnya itu.
"Tau akh!"
Braggg!!!
Tanpa disadari, Hangga dan Setia sudah jatuh telungkup di lantai. Mereka tidak memperhatikan undakan di lantai, sehingga mereka jatuh.
Awalnya, Setia yang tersandung undakan itu, sebab kaget, ia menarik lengan Hangga agar tidak terjatuh. Alhasil, dirinya tetap saja jatuh. Sohibnya itu, tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Mungkin alasan Warga Indonesia itu dibodohi oleh para penjajah sebab hal ini. Kebanyakan Warga Indonesia memiliki sikap ketergantungan terhadap warga lain. Sehingga saat seseorang berhadapan langsung dengan sang penjajah, dirinya hanya bisa diam sebab ketergantungan," jelas Hangga kemudian. Ia bangun dari jatuhnya. Lalu membenarkan tas serta pakaiannya yang sempat berantakan.
"Tuh sohib gue ternyata perhatian juga sama pelajarannya? Cuman karena alasan itu... dia jadi begono!" gerutu Setia dari arah belakang Hangga. Sebab sohibnya itu sudah berjalan duluan.
"Ngga!" panggil Setia dari arah belakang sana, "Tungguin!" Setia mulai berlari mengejar Hangga yang ternyata sohibnya itu juga berlari.
"Hai, Kak Hangga," sapa salah satu murid yang ternyata adalah adik kelas Hangga.
"Hai," sahut Hangga seraya tetap berlari dan menaruh senyum manis pada adik kelas perempuannya itu.
"Hai cantik..." ucap Setia pada murid perempuan yang tadi sempat menyapa Hangga.
Gadis itu tersipu malu. Kenapa? Sebab saat Setia tersenyum, akan muncul lesung pipit di pipinya.
"Ngga, tungguin!" Setia langsung melanjutkan mengejar Hangga.
"Ayo cepetan! Dah telat!" sahut Hangga dengan wajah tetap menghadap ke arah depan sana.
Saat Hangga dan Setia sampai di depan ruang 131, pintu ruangan sudah ditutup. Beruntung Pak Arya orangnya baik, jika tidak... hukuman di lapangan upacara sudah menunggu. Karena saking lelahnya, mereka berdua masuk begitu saja ke kelas itu.
"ASSALAMU'ALAIKUM!"
➰➰➰
Bersambung...
Gimana ceritanya?
Tulis pendapat di komentar :)
Follow my ig : marselasepty20
Next 👇