
“Dada gue kenapa tiba-tiba nyesek kek gini?” batin Hanggi.
“Tuh bocah lagi ngapain si?!” batin Hangga.
Hangga dan Hanggi bisa melihat dengan jelas kejadian barusan. Kejadian dimana seorang siswi yang kelihatannya merupakan kelas XII, mencium singkat bibir Setia.
Siswi itu tersenyum setelah berhasil mencium Setia. Tapi tidak dengan Setia. Pria itu justru menaruh tatapan tajam pada gadis di hadapannya.
“Lo ngapain pake nyium-nyium gue segala si, Rel?” tanya Setia dengan ketus.
“Elo–kan pacar gue, Set! Masa gitu aja nggak boleh,” balas gadis itu yang ternyata bernama Aurel–dilanjutkan dengan mencolek dagu Setia.
“Nggak usah pegang-pegang!” ketus Setia seraya menepis tangan Aurel.
“Gue nggak ada hubungan apa pun sama elo! Jadi, jangan deket-deket sama gue lagi!”
Wajah Setia terlihat gelisah.
“Dan asal lo tau aja, Rel. Itu tadi ciuman pertama gue.” Ucapan Setia barusan membuat Aurel mengernyit,
“Kalo elo bukan cewek dan kakak kelas gue, pasti gue hajar lo!” lanjut Setia seraya mengangkat tangannya hendak memukul Aurel.
Gadis itu melindungi diri dengan kedua tangannya. Namun, Setia tidak memukul gadis itu, justru ia langsung pergi dari area toilet itu.
Mata Setia terbelalak saat menyadari Hangga dan Hanggi memperhatikan dirinya dengan sorot mata tajam.
“Hanggi kenapa natap gue kayak gitu? Masa iya dia cemburu?” batin Setia.
“Hanggi tunggu!” panggil Setia ketika melihat sohibnya itu berlari menjauh. Menjauh ketika dirinya hendak mendekati gadis itu.
“Lo ngapain natap gue kayak gitu?” tanya Setia pada Hangga.
Sebab sohib lelakinya itu sedari tadi menatap dirinya dengan tatapan tajam.
Hangga tidak menggubris pertanyaan Setia. Ia langsung lari menaiki tangga menuju kelas. Tujuannya mungkin bukan hal itu. Ia ingin bertanya sesuatu pada Hanggi. “Apa Hanggi suka sama Setia?” Itulah yang ada di pikiran Hangga saat ini.
Setia yang tidak mau diganggu oleh si menor dari kelas XII, langsung mengikuti kemana perginya Hangga.
Sampai akhirnya ketika ia menaiki tangga, ia mendengar Aurel mengucapkan, “Gue bakal tetep ndeketin elo! Nyampe kapanpun!”
“Akhhhh!” Setia mengacak rambutnya kasar.
Salah sendiri kenapa dirinya sering menggombal. Seharusnya dirinya itu tahu! Jika perasaan seorang wanita itu mudah terpengaruh. Baper.
Tidak hanya adik kelas maupun teman seangkatan, Setia juga sering menggombali kakak kelas.
Tapi tidak untuk Aurel. Gadis itu memang sejak Setia kelas X–selalu mendekati dirinya.
➰ ➰ ➰
Kriiiinggg...🔔🕭🔔
Bel sekolah berbunyi tanda kegiatan belajar mengajar hari ini telah usai. Semua siswa siswi SMK Maju Jaya langsung berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Ikut gue!” ucap seorang siswa seraya menarik lengan seorang siswi.
Melihat hal itu, Setia heran. Mungkin kedua sohibnya itu ingin membicarakan sesuatu yang penting. Sepenting itukah sampai-sampai Setia tidak diajak?
Siswa yang tadi menarik lengan seorang siswi adalah Hangga. Dan siswi itu, siapa lagi kalau bukan Hanggi.
Beberapa waktu yang lalu...
Hangga
Gue yang merasa aneh sama tingkah si Hanggi, gue niat untuk bicara sama gadis itu.
Biasanya dia tidak mempedulikan apa yang terjadi sama gue maupun si Setia.
Tapi pas dia ngliat Setia dicium sama kakak kelas, dia kayak nyesek banget. Gue sebagai sohibnya Hanggi, tentu peduli sama dia.
Bukan sebagai pacar atau apapun itu, tapi sebagai Hangga sohibnya Hanggi.
“Hanggi,” panggil gue sama si Hanggi. Dia nengok dan bukannya berhenti tapi dia malah masuk aja ke kelas, “Gue mau ngomong sama elo, Nggi!”
“Ngomong apaan?”
“Tadi gue ngliat elo kayak nggak rela ngliat Setia dicium sama kakel. Lo... suka sama Setia?”
Gue kaget dong! Pas gue ngomong ‘Lo...suka ama Setia?’ si Hanggi natap gue tajem banget. Gue langsung merinding.
“Bukan urusan elo! Lagian ngapain juga gue suka sama Setia?”
“Nanti jangan pulang dulu. Gue mau ngomong sama elo.” Gue ngomong kayak gitu sebab yang lagi diomongin masuk kelas. Bel masuk emang udah bunyi dari tadi.
Mungkin guru di SMK gue ini perhatian banget, so... mereka masuk kelasnya telat.
➰ ➰ ➰
Tangan Hanggi sampai merah sebab Hangga menarik gadis itu dari lantai tiga sampai lantai satu.
Hanggi memakai setelan OSIS atasan dan bawahan pendek. Dan tentunya selalu rapi.
Berbeda dengan Hangga. Baju dikeluarin, dasi tidak dipakai, dan rambut acak-acakan. Meski begitu, dia tetaplah tampan. Satu hal lagi. Selalu ada jaket yang terikat melingkari pinggangnya itu.
Memang dirinya sudah terlanjur memiliki wajah seperti itu. Tapi semua itu bagi sebagian siswa saja. Tidak semua siswa menganggap jikalau Hangga itu tampan.
“Lo mau ngomong apaan?” tanya Hanggi seraya menatap lantai.
Hangga merasa ada sesuatu yang terjadi pada sohibnya itu. Ia ingin menenangkan Hanggi. Dia berjalan mendekati Hanggi.
Dan... ia peluk tubuh Hanggi yang lebih kecil darinya.
Sebab Hanggi memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari Hangga. Pria itu bisa meletakkan dagunya di atas kepala Hanggi. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Hanggi.
“Kalo ada masalah harusnya elo itu ngomong sama gue, Nggi?! Jangan di pendem sendiri! Elo-kan sahabat gue.” Hangga mencoba menenangkan Hanggi.
“Sekarang jawab pertanyaan gue! Mungkin masalahnya bukan karena Setia, jadi bilang aja ke gue apa itu masalahnya,” lanjutnya.
“Elo bakal njaga rahasia ini-kan?” tanya Hanggi dengan posisi tubuh tetap berada dipelukan Hangga.
“Emang penting banget yah? Nyampe harus jadi rahasia? Haha,”
Hanggi yang kurang kerjaan, menarik-narik badge merah putih baju Hangga.
“Ini tentang Setia, Ngga. Kan elo sohibnya dia, pasti elo bakal ngomong sama dia, kan? Tentang rahasia yang gue mau omongin sama elo?” Hanggi masih sibuk dengan badge bendera merah putih Hangga.
“Oke gue janji nggak bakal ngomong sama dia soal rahasia elo. Rahasia tetap menjadi rahasia.”
“Janji yah...”
“Iya janji....”
“Gue suka sama Setia, Ngga.”
Pengakuan Hanggi bahwa dirinya menyukai Setia, membuat Hangga melepas pelukannya itu.
“Beneran?” tanya Hangga memastikan, dengan kedua tangan memegang kedua bahu Hanggi.
Wajahnya fokus meneliti ekpresi Hanggi. Mungkin gadis dihadapannya itu sedang bercanda.
“Iya beneran,” jawab Hanggi dengan seulas senyum di bibirnya.
“Sejak kapan?”
“Sejak pertengahan kelas sepuluh.”
“Kenapa nggak ngomong aja sama dia? Kalo dia punya cewek, pasti elo bakal sakit hati.” Nada bicara Hangga terkesan khawatir.
“Tuh... kan! Elo mesti bakal ngomong sama dia kalo gue ini suka sama si Setia. Elo udah janji loh!” ucap Hanggi seraya menyingkirkan kedua tangan Hangga yang berada di pundaknya.
“Siapa yang bilang kalo gue bakal ngomong sama si Setia?”
“Awas aja kalo elo ngomong sama dia! Elo udah janji loh sama gue!” ancam Hanggi pada sohibnya itu.
“Dan asal lo tau aja... Ngga! Kenapa gue nggak ngungkapin perasaan gue ke Setia. Itu karena Setia itu homo-an sama elo?”
Ucapan Hanggi membuat sahabatnya itu membelalakan mata tak percaya. Tidak hanya itu, dia juga menatap dirinya dengan tajam.
“Haha...” Hanggi tertawa melihat ekpresi Hangga saat dirinya mengatakan bahwa kedua sohibnya itu homo.
“Awas lo yah!” ancam Hangga seraya berlari mengejar Hanggi.
Gadis itu sudah berlari menjauh dari dirinya.
Ternyata kedekatan Hangga dan Setia sebagai sohib, membuat orang-orang mengira bahwa mereka berdua adalah homo.
***
Bersambung...
Thank for reading
Bisa kasih pendapat di komentar
Tersedia juga di *******
@ Septymarselaaa
my ig : marselasepty20
***Next ***
👇