NO NAME

NO NAME
P A R T 5 SAMPUGU (Sang Merah Putih Menunggu)



"Nggi!"


Panggilan seseorang dari arah belakang sana, membuat Hanggi yang hendak memasuki rumah menengok kebelakang.


"Duh! Ngapain si Setia kesini sih?" gerutu Hanggi dalam hati.


"Elo ngapain kesini?" tanyanya ketus. Meski jantungnya kini berdegup kencang.


"Kok ketus gitu sih?" Setia bertanya seraya menstabilkan napasnya yang memburu.


Hanggi hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


"Ini hape kamu ketinggalan!" tegas Setia seraya menyodorkan benda pipih berwarna putih merek Samsung.


"Lo-," Ucapan Setia terputus ketika gadis yang diajak bicara langsung menyambar handphone dari tangannnya dan memasuki rumah.


Hanggi melepas sandal-memasuki rumah-dan segera mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Kini melihat wajah pria itu saja, sudah membuat dirinya gugup. Apalagi berbicara langsung yang mengharuskan tatap muka.


Setia yang masih di depan Rumah Hanggi-menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia menelengkan kepalanya mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi.


Namun, hal itu tidak membuat dirinya mengerti akan apa yang tengah terjadi. Ia membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauhi Rumah Hanggi.


Tidak semua orang bisa memahami apa yang kita pikirkan. Begitu pula sebaliknya, kita tidak bisa memahami apa yang semua orang pikirkan.


➰ ➰ ➰


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kamar, membuat seorang pria yang sedang tertidur pulas merasa terganggu. Ia segera mendekati pintu kamar itu dengan langkah malas-malas.


Sesekali ia menutup mulutnya ketika menguap. Ia rentangkan tangannya guna membuat tubuhnya lebih rileks.


Ceklekk


Hangga membuka pintu kamar.


"Bang Jordi," ucap Hangga dengan nada malas.


"Mau ngapain sih?" tanya Hangga seraya memperhatikan tatapan aneh kakaknya itu.


Jordi menatap adik lelakinya itu dengan tatapan lesu. "Hari ini hari apa?" tanyanya seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Selasa," jawab Hangga dengan nada pasti. Sepertinya ia sudah mulai rileks.


"Sekarang jam berapa?" Jordi melirik jam tangan hitamnya sekilas dan kembali menatap adiknya itu.


"Mmmm, jam tujuh. What?! Jam tujuh? Kenapa Bang Jordi nggak bangunin dari tadi sih?!" gerutu Hangga ketika sadar bahwa ia sudah telat untuk bersekolah hari ini.


Ia mengacak-acak rambutnya kasar-berjalan menuju kamar mandi-tak lupa pula ia mengambil handuk yang tergantung di gantungan baju.


Menyadari adiknya yang kian hari semakin malas, Jordi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Ia heran dengan tingkah adik lelakinya itu.


Sewaktu adiknya SMP, ia menjadi pria yang rajin dan disiplin. Namun, setelah adiknya itu mulai memasuki masa SMK, sikapnya berubah total.


Yang mulanya Hangga bisa mendapatkan peringkat satu dengan mudah, kini menjadi sangat sulit. Sulit sebab Hangga bermalas-malasan.


➰ ➰ ➰


 


Setia berlari hendak berangkat ke sekolah. Hari ini ia bangun kesiangan. Sebab semalam ia sibuk dengan akun sosmed-nya.


Ditambah lagi ia meminum kopi agar matanya terus terbuka lebih lama. Ia baru bisa tidur pukul 01.00 WIB.


Setia memanggil seseorang yang ada di depan sana. Ia sudah sangat kenal dengan pria itu.


"Hangga! Tungguin!" ucapnya.


Hangga mengikat lengan jaket abu-abu di pingangnya. Itulah kebiasaan Hangga.


Merasa terpanggil, Hangga membalikkan badannya. "Woi! Telat juga?" tanyanya.


"Elo telat baju masih dikeluarin, Ngga, Ngga! Contoh gue nih..." ucap Setia dengan nada meledek setelah berhasil menyejajarkan langkahnya dengan langkah Hangga.


Mereka berdua mulai berlari menuju sekolah. Jarak rumah mereka ke sekolah tidak terlalu jauh. Mereka bisa mengendarai sepeda motor ketika hendak berangkat ke sekolah.


Namun, mereka merasa hal itu justru akan menambah hukuman mereka berdua. Sebab sekolah tidak mengizinkan muridnya yang belum memiliki SIM untuk membawa kendaraan. Baik kendaraan beroda dua maupun roda empat. Terutama motor dan mobil.


"Lagian elo juga telat ngapain ngatain elo itu lebih baik?" gerutu Hangga seraya tetap berlari.


➰ ➰ ➰


 


Mereka berdua sudah sampai di hadapan gerbang sekolah. Hangga dan Setia. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.


Beruntung bukan hari Senin. Sehingga mereka tidak akan dijemur seharian di lapangan upacara. Kecuali jika hukuman tiba-tiba datang.


Mereka berdua hendak memasuki area sekolah lewat tempat langganan mereka. Lapangan belakang.


Mereka harus melewati gerbang depan sekolah sebelum menuju lapangan belakang. Ketika mereka melewati gerbang sekolah, suara satpam SMK membuat mereka berdua menghentikan langkahnya-menghadap satpam itu-dan menyeringai bersamaan.


"Maaf, Pak! Telat. Hehe," ucap Hangga seraya mendekati gerbang sekolah.


"Lagian kalian berdua biasa telat. Santai aja..." Ucapan Pak Dema, salah satu satpam SMK, membuat kedua pelajar itu merasa sedikit lega.


Mungkin karena mereka berdua sering telat bersamaan, membuat Pak Dema lelah untuk menasehati kedua pelajar itu.


Setelah membuka pintu gerbang, Pak Dema mempersilahkan kedua pelajar itu untuk masuk.


"Tapi inget! Hukuman di lapangan upacara sambil hormat kepada sang merah putih," Pak Dema memandang kedua pelajar itu setelah mengunci gerbang sekolah dan melanjutkan perkataanya, "Siap menyambut kalian berdua, hahaha..."


Hangga dan Setia hanya tersenyum. Senyum yang dipaksakan semanis mungkin. Lalu mereka berjalan menuju kelas.


Hari ini mereka belajar di ruang 311. Gedung tiga berada di area dekat lapangan belakang. Kemarin mereka masuk lewat lapangan belakang, tetapi belajar di gedung depan. Sekarang sebaliknya. Beruntung ruangan itu berada di lantai satu dan urutan kesatu.


"Hari ini yang ngajar siapa, Set?" tanya Hangga seraya berjalan terburu-buru menuju ke kelas.


"Bu Widi."


"Hm."


"****** dong?"


"Tenang, Ngga! Ada Setia yang selalu ada disaat elo susah maupun seneng."


"Ihh. Apaan si? Geli gue, kalo elo bucin kek gitu!"


Setia merangkul sohibnya itu. Seraya mengatakan hal-hal yang membuat Hangga bergidik.


Tentu saja Hangga mencoba untuk lepas dari rangkulan sohibnya itu. Sebab rangkulannya begitu erat hingga membuat dirinya serasa di cekek.


Hangga meronta-ronta minta di lepaskan. Sedangkan Setia berusaha tetap merangkul sohibnya itu. Sampai akhirnya Hangga berhasil lepas dari rangkulan sohibnya itu.


"Gue masih bujang tau?!" ucap Hangga seraya membenarkan kerah baju OSIS-nya yang berantakan.


"Emang gue mau ngapain?! Nyampe elo ngomong kek gitu?!"


Hangga tersenyum miris. Lalu berlari menjauhi Setia. Melihat sohibnya itu meledek dirinya, tentu Setia berusaha untuk mengejar Hangga dan memberikan balasan pada sohibnya itu.


➰ ➰ ➰


 


Hanggi merupakan anak yang rajin dan disiplin. Sehingga, ia sudah sampai di sekolahnya sejak jam setengah tujuh pagi.


Sekarang ia sedang duduk manis di kursi kelas dan siap untuk mengikuti pelajaran hari ini. Tapi ia tidak bisa fokus. Sebab dua kursi di kelasnya masih kosong. Hanya dua kursi yang kosong dan hal itu sudah biasa.


Hangga dan Setia memang dua murid kelas akuntansi yang sering telat. Dan mereka pula yang membuat nama akuntansi menjadi sedikit tercoreng.


Anak akuntansi tidaklah selalu disiplin dan tepat waktu. Itulah salah satu perkataan yang diucapkan oleh salah satu murid jurusan lain.


Lima menit kemudian, guru masuk ke kelas dengan wajah yang terkesan marah. Hal itu sudahlah biasa.


Memang hampir setiap hari, guru itu selalu menampilkan wajah sangarnya. Bu Widi, salah satu guru Matematika di SMK Maju Jaya, yang terkenal akan wajah sangarnya.


"Dua teman kalian sudah saya hukum! Jadi jangan tiru perbuatan mereka! Mungkin guru lain tidak akan menghukum mereka berdua seperti itu! Tapi tidak bagi saya! Saya ya saya!" ucap Bu Widi setelah duduk di kursi guru.


"Baik, Bu..." sahut seluruh murid yang berada di ruang 311. Mereka sudah tahu siapa dua teman yang dimaksud oleh Bu Widi.


➰ ➰ ➰


 


Beberapa waktu yang lalu...


Ketika hampir sampai di ruang teori, Hangga dan Setia dipanggil oleh seorang guru.


Mereka menengok ke belakang dan menyadari Bu Widi, guru yang terkenal akan wajah sangarnya, menyuruh mereka untuk mendekat. Mereka berdua menurut saja.


Dan tentu mereka sudah tahu kenapa guru itu memanggil mereka. Sang merah putih siap menyambut mereka berdua di hari yang panas ini.


➰ ➰ ➰


 


Hangga dan Setia sedang hormat pada sang merah putih saat ini. Matanya menyipit sebab cahaya sang surya terlalu menyilaukan mata. Keringat mulai keluar dari pori-pori tubuh mereka.


Hangga menghentikan hukumannya ketika melihat seorang gadis sedang berjalan menyusuri koridor gedung dua.


Ia tentu kenal dengan gadis itu. Segera saja Hangga mendekati gadis itu setelah memanggil namanya. Hanggi.


Hanggi sudah tahu jika kedua sohibnya itu sedang dihukum di lapangan upacara.


Bu Widi mengadakan remidi ulangan harian. Ulangan itu didakan beberapa hari yang lalu. Bagi siswa yang tidak remidi dipersilahkan untuk keluar kelas.


Hanggi yang tidak remidi, sengaja melihat kondisi kedua sohibnya itu.


Setia ikut mendekat ke posisi Hanggi ketika melihat dua botol air minum berada di tangan gadis itu.


Hangga dan Setia meminum air mineral yang Hanggi bawa hingga habis. "Makasih, Nggi!" ucap mereka bersamaan.


"Makin yakin kalo kalian itu homoan." Ucapan Hanggi membuat kedua sohibnya itu melotot. "Becanda, hehe," lanjutnya seraya terkekeh.


"Oh iya, Nggi!" Hangga mengambil jaket dan tasnya yang tergeletak di lantai koridor gedung dua.


"Bawain tas gue ke kelas ya!" Hangga memberikan tasnya pada Hanggi.


"Terus jaketnya elo pake aja!" Ia memakaikan jaket itu ke tubuh Hanggi.


Hanggi bisa mencium aroma tubuh Hangga saat pria itu memakaikan jaket ke tubuhnya. Posisi tubuh mereka juga sangat dekat.


Hanggi sempat melirik ke arah Setia. Setia memperhatikan perilaku Hangga dengan tatapan heran.


Menyadari jika Hanggi menatap dirinya, Setia mengulas senyum di bibirnya.


Tentu Hanggi langsung merasa sesak saat pria yang disukainya itu tersenyum.


***"Elo peka napa\, Set?! Malah senyum!"***gerutu Hanggi dalam hati.


 


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


Thank for reading


Bisa kasih pendapat di komentar


my ig : marselasepty20


***Next ***


👇