NO NAME

NO NAME
P A R T 18 In Limpa Kuwus



Hari Minggu telah tiba. Ketujuh remaja SMK itu sudah siap-siap untuk berangkat menuju Limpa Kuwus tepatnya hutan pinus. Disana udaranya masih alami dan belum tercampur oleh udara kotor perkotaan.


Banyak juga pohon pinus yang sengaja ditanam untuk menjaga udara tetap segar dan sejuk. Namanya saja hutan pinus, pasti banyak tumbuhan pinus disana.


Mereka bertujuh berkumpul di depan rumah Zidan. Jam delapan pagi, semuanya sudah berkumpul dan siap untuk berangkat. Zidan membawa motor sport hitam miliknya dengan Hangga duduk di belakang.


Hangga tidak ingin menggunakan properti milik keluarga angkatnya. Saat menggunakan benda-benda itu serasa dirinya akan dimintai balasan dari keluarga itu.


Setia dengan izin kakeknya membawa motor Ninja merah dengan Hanggi yang duduk di belakang. Kenzo dengan Feni menaiki motor sport hitam milik Kenzo. Lebih tepatnya milik kakak laki-laki Kenzo yang sudah bekerja di luar negeri.


Karena motor itu nganggur tidak sering dipakai, kakaknya meminta Kenzo untuk memakai motor itu. Japri naik motor Vixion oranye miliknya.


Mereka semua memakai jaket dan celana jeans. Mengingat mereka akan berjalan-jalan disana hingga sore nanti.


Dan saat sore hari, cuaca terkadang berubah dingin dengan datangnya kabut tebal.


Zidan keluar dari rumah dengan menenteng kunci serta tas punggung berwarna hitam untuk menyimpan kamera miliknya. Teman-temannya sudah menunggu sejak tadi.


“Bawa apaan, Dan?” tanya Japri penasaran.


Mereka semua hanya membawa tas kecil saja, tidak seperti Zidan yang membawa tas punggung. Paling mereka kesana hanya membawa handphone serta uang untuk jaga-jaga jika mereka kelaparan.


“Ini?” tanya Zidan seraya menunjuk tasnya dengan mengangkat tas itu. Japri mengangguk dan Zidan menjawab, “Kamera buat foto-foto.”


Empat motor mulai menderu dan meninggalkan rumah Zidan. Pertama motor Zidan kemudian disusul Setia, Japri, dan Kenzo. Hanggi tidak risih dengan Setia yang sudah menjadi pacarnya.


Feni yang anaknya paling cerewet di kelas juga tidak mempedulikan membonceng siapa. Kenzo ketua kelas yang profesional. Anggap saja seperti itu. Kenzo selalu memikirkan pelajaran, bukanlah perasaan.


“Elo beneran udah nggak papa, Ngga? Takutnya nanti malah ginjal elo kumat lagi,” tanya Zidan di balik helm full face-nya. Suaranya tidak jelas tapi bisa Hangga dengar karena motor itu berjalan agak lambat.


“Nggak papa. Gue udah baikan,” jelas Hangga kemudian.


Hangga melirik motor Setia yang berjalan di belakangnya dari balik spion motor Zidan. Tidak jelas, tapi ia tahu jika kedua sahabatnya itu saling menggumamkan sesuatu. Ia bahagia dengan kedua sohibnya yang sudah jadian. Tapi ada yang janggal pada dirinya.


***


Satu jam kemudian, mereka bertujuh sudah sampai di parkiran menuju hutan pinus. Tempat parkir itu hanyalan tanah sempit yang tersisa di pinggir jalan aspal. Harus hati-hati jika tidak ingin motor mereka jatuh ke sungai kecil.


“Ayo naik!” ucap Japri yang sudah berjalan duluan. Ia sangat semangat mengingat baru pertama kali ia datang kesini. Saat mengendarai motor, ia juga selalu dekat-dekat dengan temannya, tidak ingin ketinggalan.


“Hangga kayaknya masih lemes deh, Nggi. Coba elo tanya-tanya sana! Mungkin dia nggak deket-deket sama elo sebab nggak mau ngrusak hubungan kita,” ucap Setia yang merasa aneh akan tingkah Hangga.


“Akhirnya seorang Setia peka juga. Terima kasih Ya Allah, engkau telah menyadarkan dirinya,” ujar Hanggi dengan nada gembira bisa merasakan Setia yang mulai peka.


“Bentar. Apa mungkin elo itu cuman setia sama cowok. Kalo sama gue enggak?” Pertanyaan Hanggi membuat Setia mengusap lehernya.


“Nggak tau. Mungkin iya,” jawabnya dengan enteng.


Hanggi memanyunkan bibirnya kemudian berjalan mengejar Hangga yang sudah berada di depan sana. Jalanan sempit dan begitu menanjak. Mungkin semalam daerah sana hujan deras, buktinya saja jalanan tanah itu menampakkan genangan air. Harus hati-hati ketika naik maupun turun dari bukit jika tidak ingin terpeleset.


“Hangga tungguin,” ucap Hanggi dari belakang Hangga.


Hangga menoleh ke belakang dan berkata, “Hati-hati licin, Nggi.”


“Eh!” Hanggi terpeleset tapi Hangga langsung memegang tubuhnya menyelamatkan gadis itu agar tidak terjatuh.


Hangga mulai berjalan dengan Hanggi di belakangnya. Jalanan itu tidak muat untuk dua orang. “Aduh!” Hanggi mengaduh sebab saat menaiki jalanan itu ia menabrak Hangga. “Kenapa, Ngga? Ada yang sakit?” tanyanya kemudian.


“Elo yang di depan!” ucap Hangga seraya memberikan jalan untuk Hanggi berjalan di depan.


“Masih aja elo mikirin gue. Justru gue yang khawatir kalo elo kenapa-napa,” ucap Hanggi seraya berjalan mendahului Hangga.


“Gue mau ngomong sesuatu tapi elo dengerin, ya! Meski gue pacaran sama Setia elo nggak boleh jauh-jauh dari kita berdua. Jangan mengira kita bakal nganggep elo jadi penghancur. Itu yang elo minta dari gue sewaktu di rumah sakit. Jangan menjauh, oke!”


Hanggi membalikkan badannya dan menjulurkan jari kelingkingnya yang langsung disambut hangat oleh jari Hangga. Mereka menautkan jari kelingking mereka seraya menaruh senyum.


Di depan sana Zidan sedang bercakap-cakap dengan Japri. Napas mereka sudah mulai tidak teratur mengingat mereka sedang mendaki bukit. Sementara di belakang sana, Kenzo, Setia, dan Feni juga saling bercakap-cakap. Membicarakan entah apa.


➰ ➰ ➰


 


Mereka sudah sampai di puncak setelah tiga puluh menit mendaki. Itu karena mereka berhenti di tengah jalan. Di atas sana mereka bisa melihat pemandangan yang begitu indah.


Di puncak sama sekali tidak ada penjual. Yang ada hanyalan di bawah sana. Tidak mungkin para pedangang itu membawa dagangannya yang berat menaiki puncak yang begitu tingginya.


Diatas sana mereka sempat foto bersama. Zidan yang menjadi kameramen. Sesekali juga mereka meminta pangunjung lain untuk memotret mereka bersama-sama.


“Jadian nih ye...” ujar Japri dengan nada menggoda pada Setia dan Hanggi yang sedang duduk berjejer.


“Baru nyadar lo? Kudet banget,” ejek Setia pada temannya itu.


“Beneran mereka udah jadian, Ngga?” tanya Japri dengan nada serius.


Hangga hanya mengangguk.


“Cieeeee,” ledek Zidan, Japri, Kenzo, dan Feni.


“Elo mah nggak bilang sama gue, Nggi. Teman macam apa coba,” gerutu Feni yang merasa tidak dianggap.


“Ngapain juga gue pake nyebar-nyebar berita kalo gue udah jadian,” sahut Hanggi.


“Besok di sekolah gue bakal nyebar berita kalo elo sama Setia udah jadian. Pasti bakal jadi berita heboh deh. Hanggi cewek nggak pernah pacaran ternyata malah pacaran sama playboy cap jempol macam Setia. Pasti mantan Setia bakal ngamuk sama elo Nggi. Hahaha,” ucap Feni panjang lebar.


“Nggak disebar juga udah pada tau kalo gue sama Hanggi udah jadian. Gue udah upload status di facebook kalo gue udah jadian sama Hanggi. Noh fotonya?” Setia memperlihatkan handphone miliknya.


Feni hanya memanyunkan bibirnya kesal. Lalu ia berjalan menuruni bukit itu dengan kaki dihentakkan. Membuat ia terpeleset dan hampir jatuh jika saja Japri tidak menolongnya.


“Hati-hati,” ucap Japri seraya menopang tubuh Feni.


“JANGAN PEGANG-PEGANG!”


Otomatis Japri melepas pegangannya dan membuat Feni jatuh terduduk di tanah berumput.


“NGAPAIN DILEPAS?!”


“Sakarepmu arep ngomong apa,” gerutu Japri dalam hati menggunakan bahasa Jawa.


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


💕Satu kata buat part ini💕


💕Thanks for reading💕


💕See you next part💕


💕my ig : marselasepty20💕