NO NAME

NO NAME
P A R T 39 Sahabat? Setia



SORRY FOR TYPO


TERIMA KASIH  BUAT YANG SUDAH MENGIKUTI CERITA HANGGA SETIA HANGGI SAMPAI SEJAUH INI :)


Hangga sedang duduk di sofa ruang tamu rumah Keluarga Malik. Kebetulan saat itu ia sedang berkunjung ke rumah keluarganya. Meski ia sudah pindah ke rumah Zidan, tetapi ia juga sering menginap di rumah Keluarga Malik.


Sesekali Hangga melirik ka arah atas, kamarnya. Hanggi sedang berada di kamarnya itu. Memang sudah sejak kecil mereka tidak sungkan-sungkan untuk masuk ke kamar satu sama lain. Dan Hangga menghawatirkan satu hal.


Hadiah ulang tahun.


“Hangga kamar elo berantakan banget,” ujar Hanggi yang sudah keluar dari kamar Hangga dan sedang berjalan menuruni tangga.


“Beresin napa,” kekeh Hangga kemudian.


“BTW makasih kalungnya,” ujar Hanggi seraya memegang kalung berwarna silver dengan bandul huruf H.


“E-elo nemu dimana?” Hangga gugup bukan hanya karena Hanggi menemukan kalung itu. Ada yang lain.


“Dan gue udah baca surat elo,” jelas Hanggi seraya tersenyum lalu ia keluar dari rumah itu dan berjalan pulang. “Makasih Hangga...”


Hangga hanya tersenyum kikuk.


Dari kecil kita bertiga berteman sampai akhirnya kita sahabatan. Kita jalani kehidupan bersama-sama, susah senang selalu saling support. Meski kita sering bertengkar, itu hanya sebentar.


Awalnya memang gue ngira diantara persahabatan kita bakal ada perasaan lain. Ternyata benar, Setia suka sama sahabat perempuan gue.


Memang Setia playboy jap jempol, tapi dia bisa berubah. Gue juga nggak nyangka kalo yang suka duluan itu sahabat perempuan gue.


Tanpa disadari, gue juga suka sama sahabat perempuan gue. Dan gue coba untuk tahan. Tapi gagal. Hari ini gue bawa hadiah buat ulang tahun sahabat perempuan gue yang ke tujuh belas.


Happy birthday Hanggi. Dan satu hal lagi. Tapi elo jangan kaget. Gue suka dan sayang sama elo sampai saat ini. Tentunya sebagai seorang pria.


Setelah mengingat apa yang Hangga tulis pada surat itu, ia langsung berlari ke kamarnya dan menggerutu tidak karuan. Ia bergulat di kasur empuknya.


Geser sana geser sini, balik kanan putar kanan, jambak rambut, usap muka kasar, dan lainnya.


“Ngapain dibaca coba, akkkkhhhh. Haahh!!! Mana alay banget suratnya!!”


➰ ➰ ➰


 


Semua murid kelas XI Akuntansi 3 berlarian menuju papan mading yang terletak tepat di depan kelas mereka. Tepatnya sebelah pintu masuk. Masa depan pintu masuk. Mereka saling desak-desakkan melihat hasil peringkat kenaikan kelas.


“Woooaah selamat, Nggi. Elo peringkat satu lagi.” Feni bersalaman dengan Hanggi.


“Hahah.” Setia dan Hangga saling bertatapan dan tertawa ringan setelah melihat hasil peringkat.


“Hahah.” Mungkin teman-teman mereka sudah mengira Hangga dan Setia gila.


“Woooah.” Japri menatap Hangga dan Setia bergantian. “Hahah.” Ikutan kesambet dia.


Penilaian Akhir Semester sudah berakhir dan raport juga sudah dibagi. Berdasarkan hasil nilai yang dicapai murid kelas XI Akuntansi 3, susunan peringkatnya adalah sebagai berikut :


1. Hanggi Afsha Naomi


2. Zidan Meidan Zulfana


3. Kenzo Pradena Seva


4. Feni Fatikasari


5. Hangga Malik Rifano


6. Daniel Arga Prasetia


7. Japri Heldama Jayani


Dan seterusnya hingga akhir...


Entah keajaiban darimana Hangga menduduki peringkat ke lima yang kemudian disusul Setia, sohibnya. Biasanya setiap ada peringkat, mereka berdua selalu berada di posisi terakhir.


Kalau tidak Setia yang terakhir, pasti Hangga. Mungkin karena alasan itu mereka berdua semangat belajar. Alasan untuk mendapatkan Hanggi.


➰ ➰ ➰


 


Hangga dan Setia berjalan di jalanan paving sekitar rumah mereka seraya membahas masalah perjanjian waktu itu.


Saat ini waktu menunjukan pukul tiga sore dan cuaca masih cerah. Hari ini Hangga memakai celana jeans biru tua dan Setia memakai celana jeans hitam.


Hangga memakai hem kotak-kotak biru dengan semua kancing dibuka hingga menampakkan kaos putihnya. Untuk Setia, ia memakai sweater warna merah maroon.


“Elo masih inget, kan? Perjanjian waktu itu? Kalo yang peringkatnya paling rendah bakal mundur,” ucap Hangga pada Setia.


“Kapan gue janjian sama elo?” tanya Setia dengan entengnya.


“Nggak usah sok lupaan deh. Waktu itu kan kita udah sepakat sewaktu di rooftop. Oooh, karena elo kalah, elo mau sok-sok-an lupa?”


“Gue waktu itu cuman bilang ‘kita liat aja nanti’ gitu doang. Gue nggak ngomong ‘setuju’. Artinya waktu itu kita nggak janjian. Setelah dilihat elo menang dan gue kalah. Tapi gue nggak janjian sama elo. Jadi... nggak ada kesepakatan apapun.”


“Hei kalian berdua!”


Suara familier itu membuat keduanya menoleh ke belakang. Didapati Hanggi sedang berdiri seraya melipat tangannya di dada.


“Lagian ngapain kalian pake janjian segala! Gue sendiri yang bakal milih siapa yang jadi pacar gue.”


Hanggi tersenyum dan berjalan mendekati dua sohibnya itu. Lalu ia merangkul erat kedua leher mereka setelah menimpuk kepala keduanya.


“Sakit tau!” –Setia


“Ngapain nimpuk gue coba?!” –Hangga.


“Kalian pantes kena timpuk.”


Mereka berjalan seraya tetap saling merangkul. Saling merangkul dalam keadaan apapun.


Meski awal menghadapi masalah mereka sempat menjauh, tetapi akhirnya mereka kembali dan saling merangkul membawa senyum bahagia.


“Nggi!” ucap dua pria itu bersamaan.


Mereka bertiga berhenti berjalan dan melepas rangkulan.


“Kenap-,”


Cup


Dua ciuman sekaligus mendarat di kedua pipi Hanggi. Senyuman muncul dari dua orang yang berbeda tapi dalam waktu bersamaan.


Hanggi memegang kedua leher belakang sohibnya dan...


Jedug


Ia membenturkan dahi Hangga dan Setia hingga kedua pria itu meringis.


“Dasar kampret.”


Merasa Hanggi akan bertindak lebih lanjut, kedua pria itu berlari menghindari amukan gadis itu. Hanggi mengejar kedua sohibnya itu.


Mereka saling tertawa puas bersamaan, saling meledek, dan sebagainya, di sore hari yang cerah.


Sahabat memang selalu ada. Meski rentan saat ada masalah, tapi mereka berusaha untuk menyelesaikan permasalahan itu. Sampai akhirnya mereka berhasil memecahkan masalah itu dan kembali bersama.


“Sahabat!”


“Setiaaaa!”


“Sahabat Setia dong? Ya kalian berdua.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


End.


Gimana endingnya?


Sengaja dibikin para tokoh utamanya (Hangga, Setia, dan Hanggi) itu... tetep sahabatan.


Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya...


MASIH ADA EPILOGNYA


TUNGGU SEMENTARA WAKTU YA :)


Bye...