
BENTAR LAGI END
SORRY FOR TYPO
Sore harinya...
Meidan, ibunda Zidan sudah duduk di sofa ruang tamu milik Keluarga Malik. Disana juga terdapat Hangga, Setia, Zidan, kedua orangtua angkat Hangga, Jordi, dan Lenata mungkin sedang tidur di kamarnya.
Setia dan Zidan buru-buru menuju rumah Hangga untuk memastikan apakah benar Hangga salah satu putra dari Ibu Meidan atau bukan.
Saat mereka baru saja keluar dari gerbang, mereka berpapasan dengan Meidan yang baru saja pulang dari warung.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya Meidan pada mereka berdua.
"K-kita mau ke..." Setia bingung menjelaskan semuanya pada ibunya Zidan.
Merasa ibunya itu perlu tahu dan semuanya harus segera diselesaikan, Zidan buka mulut.
"Kita mau ke rumah Hangga, Bu. Mastiin bener apa enggak dia putra kedua Ibu. Maaf Zidan baru ngasih tau nama putra Ibu yang kedua itu sekarang. Tapi ibu jangan gegabah, mungkin aja dia bukan putra Ibu," jelasnya.
Setelah mendengar semua itu, Meidan segera bersiap-siap untuk ikut menuju rumah Hangga. Beliau memiliki sesuatu yang hanya dirinya dan keluarga angkat anak putra keduanya, ketahui.
"Jadi, kamu yang ngasuh anak aku selama ini?" tanya Meidan pada Rifani mengawali pembicaraan diantara mereka. Biar saja banyak orang yang tahu akan kebenaran itu.
Rifani menatap suaminya untuk meminta pendapat akan memberitahu Meidan semuanya atau tidak.
"Tentu saja kami ingin merawat Hangga saat dia masih bayi hingga sekarang. Dari wajah anak itu, aku tahu bahwa dia akan menjadi anak yang baik dan berguna. Lagian apa buktinya kau menanyakan bahwa dia putramu? Dan kenapa kau mencari putramu itu setelah sekian tahun?" Rifani sudah tampak kesal.
"Dulu aku menitipkan b-bayi aku di panti sebab ada alasannya," ucap Meidan dengan dadanya yang mulai sesak sebab mengingat batapa bodoh dirinya meninggalkan putranya itu di panti asuhan.
"Okeh. Dia Hangga," tunjuk Rifani dengan dagunya pada Hangga yang duduk di sebelah Zidan. "Dan dia aku angkat dari panti. Tapi belum tentu dia putramu."
Tatapan Meidan dan Hangga sempat bertemu. Mereka sering bertemu saat Hangga datang ke rumah Zidan. Tapi Meidan sama sekali tidak menyadari keberadaan putranya saat itu.
"Zidan bilang Hangga punya kalung dengan logo bintang dan huruf H di tengah bintang itu, dulu aku ninggalin kalung itu bersama bayi yang aku tinggalkan."
"Memang dimana kau meninggalkan bayimu itu?" tanya Rino, ayah Hangga yang sedari hanya menyimak - pada Meidan.
"Panti Asuhan Bina Cipta Purwokerto pada tanggal dua Desember tahun dua ribu dua," jelas Meidan.
Panti Asuhan Bina Cipta hanya ada satu di Purwokerto, yang lainnya memiliki nama yang jauh berbeda, itu artinya Hangga anak dari Meidan, saudara tiri Zidan.
Rifani menghela napas dan kemudian ia meneteskan air matanya. Memang selama ini ia mendidik Hangga dengan cara yang agak kasar begitu juga dengan suaminya.
Tetapi ia tidak akan rela jika putra yang sudah ia rawat selama tujuh belas tahun, memilih kembali pada orangtua kandungnya.
"Kita pastikan besok dengan datang ke panti itu," ucap Rifani yang kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
Rino memijit kepalanya yang pusing akan kejadian barusan. Jordi saling bertatapan dengan Setia-Hangga bergantian. Sementara Zidan mencoba menenangkan ibunya.
➰ ➰ ➰
Disisi lain Hanggi sedang berjalan santai di sekitar rumahnya. memang kebiasaan anak SMK adalah merasa suntuk saat seharian di rumah. Kebetulan hari itu adalah tanggal merah. Sehingga sekolah libur.
Hanggi menoleh ke belakang sebab seseorang memanggilnya. Lalu ia tahu bahwa itu Jiyan. Ia berhenti dan menunggu pria itu yang sedang berjalan mendekat. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Gue mau nanya satu hal sama elo," ucap Jiyan dengan napas terengah-engah.
"Nanya apaan?"
"Tadi pagi ada wanita dateng ke rumah elo, itu siapa?" Jiyan sangat berharap bahwa itu adalah bukan ibunya Hanggi. Tapi...
"Dia nyokap gue. Emang kenapa? Elo kenal?"
Deg
Bagai dadanya ditonjok tombak,
Jiyan tersentak ke belakang setelah mendengar fakta barusan. Ia tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti itu.
Hanggi menyentuh pundak kiri Jiyan dan berkata, "Jiyan kok bengong... Elo kenapa? Elo kenal sama nyokap gue?"
Jiyan yang semula menunduk kini mendongak. "Dia nyokap gue, Nggi..."
"Wanita yang lebih milih hidup sama pria miskin dan ninggalin gue."
Deg
Serasa ditonjok. Itulah yang Hanggi rasakan pada dadanya. Bukan karena fakta bahwa ia memiliki hubungan keluarga dengan Jiyan, melainkan sebab kalimat 'pria miskin' yang pernah Jiyan katakan barusan.
Jiyan terlihat sangat membenci pria yang merebut ibu dari dirinya dan pria yang menjadi perusak hubungan keluarga Jiyan adalah ayah Hanggi sendiri.
Sosok pria yang menikahi wanita yang sudah menikah ternyata ayahnya sendiri. Sekali lagi 'pria miskin', dua kata itu membuat Hanggi merasa tersindir sekaligus sakit hati.
"Jadi... maksud elo bokap gue? Orang yang selalu elo bilang miskin dan perebut kebahagiaan keluarga elo?" tanya Hanggi seraya mengusap air mata di pipinya.
"Gue nggak tau kalo pria itu ternyata bakal jadi bokap elo. Tapi jujur aja, gue emang benci sama pria itu sebab udah ngrebut nyokap dari bokap gue," jelas Jiyan dengan nada kesal.
Hanggi yang mendengar hal itu membuat air matanya mengalir semakin deras. Jiyan memegang lengan gadis itu, tetapi langsung di tepis.
Lalu gadis itu beranjak dari posisinya dan Jiyan langsung saja menyambar lengan gadis itu - menarik secara kasar - hingga gadis itu berada di dekapannya.
"Sorry kalo gue udah bikin elo sakit hati. Gue nggak nyangka semuanya bakalan kek gini. Kalo boleh jujur, gue sekarang merasa kehilangan untuk yang ketiga kalinya. Pertama nyokap gue, lalu bokap gue yang meninggal karena kecelakaan, dan terakhir elo Nggi," ucap Jiyan panjang lebar.
Lalu Hanggi mendongak dan memperhatikan ekspresi wajah Jiyan. Ia tahu bahwa apa yang Jiyan katakan itu tidaklah main-main.
Pria itu masih memeluk pinggang dirinya dan Hanggi bertanya, "Terakhir gue?"
"Gue suka sama elo sebagai seorang pria."
Pernyataan barusan membuat Hanggi menaikan kedua alisnya dan mendorong dada bidang Jiyan menjauh dari dirinya.
"Tapi Tuhan emang nggak ngizinin gue untuk bikin elo jadi milik gue. See...elo ternyata adik gue. Adik yang polos sekaligus cantik."
Jiyan mengacak rambut Hanggi pelan. Ia juga sempat tersenyum dan itu membuat Hanggi juga ikut tersenyum, tetapi senyuman miris.
"Elo mau ketemu sama nyokap lo? Sekarang dia ada di rumah."
Bersambung...
Beberapa fakta yang mungkin sedang anda lakukan💕
1. Kalian sedang baca tulisan ini
buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat buat
buat huat buat buat buat buat
2. Kalian pasti capek baca tulisan itu berulang kali😥
3. Sampai nggak sadar kalo ada satu kata yang beda yaitu "buta"🤔
5. Kalian coba baca ulang...tapi tidak ada kata "buta"😂
6. Dan kalian juga nggak sadar kalo angka 4 tidak ada😆😆😆
Sekedar hiburan
See you next part💕💕