
Hangga sedang duduk di pinggir kolam renang saat ini. Kedua kakinya ia masukkan ke dalam air kolam.
Kolam itu cukup luas untuk dirinya berenang. Matanya menyipit sebab sinar matahari membuat matanya silau.
“Jadi elo suka sama si Setia?” tanya Hangga pada angin.
“Harusnya elo bilang dari dulu, Nggi! Kalo elo itu suka sama si Setia. Mesti gue bantuin elo buat ndapetin dia,” ucap Hangga diakhiri dengan menghembuskan napas beratnya.
Hangga mengambil posisi terlentang. Kedua tangannya ia gunakan sebagai bantal.
“Tapi gue heran sama elo, Nggi. Masa iya elo suka sama manusia kaya Setia? Playboy iya, seneng gangguin cewek iya, tapi ganteng dan manis. Tau ah! Gantengan juga gue, Nggi. Suatu saat elo pasti bakal sadar akan kegantengan gue ini!” Senyuman nakal muncul dari bibir Hangga.
Hangga menggoyang-goyangkan kakinya, hingga air di kolam mengombak. Ia pejamkan matanya guna menikmati hembusan angin di sore hari.
Langit di sebelah barat sana sudah mulai berubah warna. Berubah warna menjadi oranye.
“Aw!” respon Hangga ketika mendapat cubitan di bagian perut.
Ia pun langsung membuka matanya dan menatap siapa yang berani mengganggu dirinya saat sedang bersantai.
“Temenin aku ke supermarket yuk, Kak! Masa iya aku pergi ke sana sendirian? Kan udah sore. Kalo ada tukang begal atau apa? Gimana coba?” ucap gadis kecil itu yang ternyata adalah adik Hangga.
Hangga mempunyai satu adik perempuan dan satu kakak laki-laki.
“Sama Bang Jordi kan bisa, Len. Lagian Bang Jordi udah pulang kuliah, kan?” pinta Hangga atas permintaan adiknya itu.
“Tadi Lenata udah minta sama Kak Jordi, tapi nggak mau,” gerutu adiknya itu seraya membuat pola lingkaran di keramik pinggir kolam–secara berulang-ulang. Wajahnya juga ia buat secemberut mungkin.
“Mau yah? Temenin Lenata. Kalo enggak...” lanjutnya seraya mengancam kakaknya itu.
“Kalo enggak kenapa? Mau ngadu sama mama? Silakan aja!” ucap Hangga dengan dahi berkerut.
“Lenata cium Kak Hangga!”
Ucapan Lenata barusan, membuat Hangga mengernyit. Ia heran dengan sikap adiknya itu. Usianya baru sekitar enam tahun.
Gadis kecil itu baru belajar di TK. Tapi kelakuannya sudah seperti orang dewasa.
“Ogah gue dicium sama bocah cilik kaya elo, Len!” Hangga bergidik.
Ia bangun dari posisi terlentangnya–dan mulai menjauh dari Lenata tatkala adiknya itu mulai mendekati dirinya.
“Sini Lenata cium... masa iya kakak ngga mau dicium sama anak seimut Lenata?” ledek adiknya itu seraya tetap mendekati posisi Hangga.
Sampai akhirnya Hangga menaikkan kakinya itu dari kolam. Masih dengan posisi duduk–Lenata mulai memeluk tubuh Hangga dari depan dan mencium pipi kanan kakaknya itu.
Hal itu membuat Hangga tersenyum dilanjutkan dengan tertawa.
“Ayo, ayo ke supermarket,” ucap Hangga seraya menjauhkan tubuh adiknya itu.
Cup
Hangga mengecup singkat dahi Lenata. Membuat gadis kecil itu tersenyum manis. Semanis gula Jawa (Eaakhhh).
➰ ➰ ➰
Seorang gadis sedang memilih aneka makanan ringan di supermarket saat ini. Ia memakai sweater warna pink dan celana jeans selutut. Rambutnya ia biarkan tergerai hingga sebahu lebih.
“Pilus garuda... dibelakang. Iya bener dibelakang,” ucap Hanggi seraya menuju posisi belakang dalam supermarket itu.
Dirumahnya sama sekali tidak ada camilan yang bisa ia makan, membuat dirinya datang ke supermarket itu sendirian.
Kenapa sendirian? Sebab jarak rumah dan supermarket itu tidak terlalu jauh.
“Astaga!” respon Hanggi ketika dirinya menabrak seseorang.
Ia hendak berbelok ke kiri, namun tubuhnya menabrak seseorang hingga membuat ia kaget.
“Maaf nggak sengaja!” ucap Hanggi seraya mendongak.
Saat melihat wajah orang yang ditabrak dirinya, kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang? Tubuhnya juga memanas. Dan apakan pipinya merona?
“Pipi elo kenapa kek gitu, Nggi?” tanya pria itu seraya tersenyum manis.
Senyuman yang biasa ia tujukan untuk semua orang. Jadi, bukanlah senyuman istimewa.
“O-oh. Emang kenapa sama pipi gue, Set?” tanya Hanggi pada pria itu yang ternyata adalah Setia–seraya mengusap-usap kedua pipinya.
“Bisa malu juga, elo ya, Nggi!” ledek Setia dilanjutkan dengan mencubit hidung Hanggi.
Ia berjalan melewati Hanggi untuk mencari barang yang ingin dirinya beli di supermarket itu.
“Huh!” Hanggi membuang napas setelah Setia menjauh dari dirinya.
Sedari tadi ia menahan napasnya yang memburu. Dulu ia tidak ada perasaan apapun dengan Setia. Sehingga jika dirinya bertemu dengan pria itu, ia biasa-biasa saja.
“Dulu senyum elo itu biasa aja, Set. Tapi kenapa sekarang...?” ucap Hanggi seraya membayangkan senyuman manis Setia ketika mencubit hidungnya tadi.
“Akh... fokus Hanggi fokus! Lo nggak boleh lemah gara-gara pria kayak si Setia,” lanjutnya seraya memukul-mukul kepalanya dengan kedua telapak tangan.
Hanggi menuju kasir setelah memilih semua makanan ringan yang ingin dirinya beli. Ketika di hadapan kasir, Setia juga ada di sebelahnya.
Hanggi mencoba untuk tidak terpengaruh dengan kehadiran Setia di sampingnya. Namun, gagal.
Pria yang terlihat biasa saja, kini tak lagi. Meski hanya memakai kaos hitam dengan hem kotak-kotak merah di bagian luar, Setia terlihat mempesona untuk Hanggi Afsha Naomi.
Ditambah lagi pria itu memakai jeans ketat hitam, baju hem itu dibiarkan tidak terkancing, dan kedua lengan baju itu digulung hingga siku.
“Kenapa elo ngliatin gue kaya gitu, Nggi? Nggak biasanya elo merhatiin gue selekat itu?” ucap Setia seraya menatap wajah Hanggi.
Hanggi tidak perlu menjawab pertanyaan Setia ketika kasir selesai menghitung jumlah barang yang dirinya beli.
Hanggi membayar barang beliannya itu dan segera keluar dari supermarket tanpa menjawab pertanyaan Setia barusan.
“Allah hu akbar!” Hanggi yang sedang gugup, dikagetkan dengan kehadiran seorang pria di hadapannya secara mendadak.
Ketika membuka pintu supermarket, ia tidak memperhatikan orang yang hendak masuk ke supermarket itu.
“Emang elo abis ngliat hantu ya, Nggi? Nyampe kaget gitu?” tanya pria itu yang ternyata adalah Hangga.
Di sebelah kanan pria itu ada seorang gadis kecil. Siapa lagi kalau bukan Lenata, adik perempuan Hangga.
Hanggi menengok ke belakang, dan Hangga mengikuti arah pandangan gadis itu. Tentu dirinya paham setelah menyadari Setia berada di dalam supermarket. Ia sudah tahu jika Hanggi menyukai Setia.
Sehingga yang ada dipikiran Hangga saat ini adalah, “Ooh ada si Setia. Pantes aja Hanggi nyampe gugup kek gitu!”
“Gue balik dulu, Ngga! Dah...” ucap Hanggi seraya berlari menjauhi supermarket itu.
Melihat tingkah sahabatnya itu, Hangga tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Hanggi, Hanggi. Nggak nyangka elo itu suka sama si Setia,” lanjutnya.
“Kak Hangga kenapa senyum-senyum sama geleng-geleng kepala? Suka sama Kak Hanggi ya?” tanya Lenata ketika melihat tingkah kakak lelakinya.
Ia sudah kenal dengan Hanggi, sebab gadis remaja itu sering bermain ke rumahnya.
“Kepo nih ye, si Miss Lenata,” ledek Hangga dilanjutkan dengan menarik lengan Lenata masuk menuju supermarket.
“Hei, Bro! Mau ngapain ke supermarket?” tanya Setia ketika berpapasan dengan sohibnya.
“Nih! Nemenin si Lenata jajan,” jelas Hangga seraya sedikit mengangkat lengan Lenata.
“Ooh. Tadi elo liat si Hanggi nggak?”
Menyadari sepertinya kakaknya itu hendak berbincang-bincang dengan sahabatnya, Lenata masuk dulu ke dalam supermarket dan memilih aneka jajanan yang hendak dibelinya.
“Udah pulang tadi. Dan kayaknya buru-buru banget tuh anak. Nyampe lari-lari,” jelas Hangga.
“Buru-buru sebab ada elo disini!” batin Hangga.
“Ini hape-nya ketinggalan di meja kasir,” ucap Setia seraya menunjukkan Hp Hanggi di tangannya, “Ceroboh banget tuh anak. Dan tingkahnya juga beda dari hari-hari biasanya pas ketemu ama gue. Lo... tau tentang sesuatu kenapa Hanggi jadi kayak gitu?”
“Emang Hanggi kenapa kalo ketemu sama elo?” Hangga pura-pura tidak tahu.
“Ya... gitu! Susah njelasinnya. Kapan-kapan gue jelasin. Gue mau balikin dulu nih hape. Duluan, Bro!” ucap Setia seraya berlari ke arah perginya Hanggi.
Rumah mereka berdua tidak terlalu berjauhan. Posisi Rumah Hanggi harus melewati Rumah Setia terlebih dahulu.
Hangga memasukkan kedua tanganya ke dalam saku jaket abu-abunya. Lalu masuk ke dalam supermarket.
Dan di dapati adiknya sudah berdiri bersebelahan dengan satu keranjang penuh jajanan.
“Gara-gara elo, Set. Adik gue jadi belanja sebanyak itu. Duitnya cukup nggak ya?” gerutu Hangga ketika menyadari belanjaan adiknya itu sangat banyak.
Bahkan jika dirinya belanja, tidak akan sebanyak itu. Ralat! Hangga tidak pernah belanja di supermarket.
Ia hanya pergi ke tempat seperti itu untuk menemani seseorang yang mengajak dirinya berbelanja.
➰ ➰ ➰
Bersambung...
Thank for reading
Bisa kasih pendapat di komentar
my ig : marselasepty20
***Next ***
👇