
Hangga mengendarai motor Vixion-nya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera memberikan balasan pada sohibnya itu.
Bahkan sebutan untuk sohib pada Setia sedikit berkurang. Lebih pantas ia menyebut sohibnya itu ********. Tapi apa daya.
Pasti setelah perkelahian singkat mereka–keesokan harinya mereka sudah baikan.
Saat mengendarai motor, Hangga bisa melihat Setia juga sedang mengendarai motor Ninja merah dari arah depan sana.
Lalu ia sengaja menghentikan motornya itu dihadapan motor Setia. Ia juga sempat menengok ke arah kanan sebelum mengarahkan motornya menuju posisi Setia.
Jalanan tampak sepi. Sebab itu merupakan jalanan gang.
Hangga turun dari motornya itu dan siap menghajar Setia. Tanpa pikir panjang, ia melayangkan bogem mentah ke wajah Setia.
Mereka biasa mengendarai motor tanpa helm. Terutama jika bepergian ke daerah dekat rumah mereka.
Setia yang sedang duduk di atas jok motor, langsung jatuh ke jalanan. Pukulan sohibnya itu sangat keras bahkan sampai membuat Setia meringis.
Setia bangun dan terjatuh lagi sebab hantaman Hangga datang lagi. Kesabaran Hangga sudah melampaui batas.
Hantaman Hangga berikutnya jatuh pada sudut bibir Setia, pelipis, dan tulang hidung.
Hangga menarik jaket Setia. Bahkan kaos putihnya itu ikut tertarik.
“Kenapa elo diem aja, hah! Elo nggak bisa nglawan gue?! Gimana kalo elo jadian sama Hanggi, hah?! Kalo dia di goda sama pria lain?! Elo bakal diem aja kek gini?!”
Hangga tidak memukul Setia lagi. Ia hanya mendorong Setia kasar. Sampai pria itu sedikit terhuyung ke belakang.
Detik selanjutnya, Setia menatap wajah Hangga. Ucapan pria itu barusan, membuat dirinya berpikir.
Tentu ia tidak akan membiarkan Hanggi di goda oleh pria lain. Terutama pria yang memiliki pikiran kotor.
Setia melemaskan lehernya yang kaku–tersenyum miris seraya menatap wajah Hangga–dan ditinjunya wajah sohibnya itu. Hantaman itu mengenai sudut bibir Hangga.
Hangga membuka mulutnya seraya mengusap sudut bibirnya itu yang mengeluarkan cairan merah.
“Gue nggak bakal diem aja saat seseorang nyakitin Hanggi suatu saat nanti!” Ucapan Setia barusan membuat Hangga tersenyum miris.
“Liat aja nanti! Hanggi udah sabar nunggu elo sampai-sampai dia sakit hati. Gue nggak tau dia masih berharap sama elo apa enggak!”
“Dan elo nggak ngasih tau ke gue kalo Hanggi itu suka sama gue?”
Ucapan Setia membuat Hangga mengernyit. Perlahan kerutan di dahinya itu mulai menghilang.
Dan ia berkata, “Sebab gue udah janji sama Hanggi. Kalo gue nggak bakal ngomong ke elo kalo dia nyimpen rasa sama lo.”
Hangga duduk di trotoar.
“Hanggi yang minta sendiri?”
Setia-pun ikut duduk di samping Hangga. Nada bicara mereka juga sudah tidak terkesan mengancam.
“Hm.”
“Terus elo mau gitu aja?”
“Hm.”
“Alesannya?”
“Bego!”
“Ya?”
“Elo **** Setia! Ya alesannya karena dia itu perempuan-lah. Dia nggak mau ngungkapin perasaannya dulu!” jelas Hangga dengan nada secepat kilat. Lalu ia berdiri dan pergi dari situ.
“Elo mau kemana?” tanya Setia ketika sohibnya itu mulai menaiki motornya.
“Ke Rumah Hanggi.”
“Ngapain?”
“Nengok dia udah bangun apa belum.”
“Maksud elo? Elo tadi nganter Hanggi ke rumah nyampe dia tidur gitu? Heh Hangga! Jawab pertanyaan gue dulu? HANGGA!”
Hangga yang sudah bosan dengan pertanyaan Setia–langsung menjalankan motornya itu menuju Rumah Hanggi.
Hari sudah sore dan sebentar lagi petang datang. Hangga juga sempat tersenyum saat sohibnya itu bertanya panjang lebar. Seperti ada aura-aura cemburu pada sohibnya itu.
Atau mungkin itu efek dari seorang playboy jap jempol? Entahlah. Hangga tidak tahu hal itu sebab dirinya bukan playboy. Ia bahkan belum pernah pacaran. Paling-paling cuman mengajak perempuan jalan.
Setelah perempuan itu mulai memiliki perasaan terhadap Hangga–perempuan itu tidak segan-segan untuk mengungkapkan pada Hangga.
Dan Hangga sudah pasti menolak perempuan itu. Ia tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita yang mengungkapkan dulu perasaan suka pada dirinya.
“Terus elo ninggalin Hanggi di rumah sendirian, Ngga? Ninggalin cewek dirumah saat dia lagi tidur? Elo kunci apa enggak rumah itu? Akhhhhh.”
Setia bertanya pada angin dan diakhiri dengan mengacak rambutnya kasar.
Tiga sahabat dengan kepribadian berbeda. Untuk masalah cinta, mereka tanggapi dengan cara masing-masing.
Hangga yang tidak pernah berpacaran sejak dulu. Ia menginginkan wanita yang tidak mengungkapkan perasaannya dulu pada dirinya. Tapi justru kebalikannya. Dan itu menjadi masalah bagi dirinya.
Setia yang memiliki sifat playboy, tentu bisa memiliki wanita yang ia mau. Dan tentunya dengan persetujuan si wanita. Tapi sikap playboy-nya itu membawa ia dalam masalah.
Hanggi selalu menolak pria yang mengungkapkan perasaan pada dirinya. Ketika tidak ada pria yang mengungkapkan rasa, ia justru menyukai sahabatnya sendiri. Dan sahabatnya itu tidak tahu akan perasaan dirinya. Tentu itu menjadi masalah.
Disaat dibutuhkan tidak muncul. Tapi disaat tidak dibutuhkan, muncul begitu saja.
Masalah demi masalah datang dan menimpa ketiga sohib itu. Masalah berbeda dan cara penyelesaian yang berbeda pula. Dan masalah itu akan cepat selesai jika diatasi bersama-sama.
➰ ➰ ➰
Hangga pulang ke rumah dulu sebelum menuju Rumah Hanggi. Saat ini ia sudah mandi dan siap-siap untuk pergi ke rumah itu.
Ia memakai kaos hitam panjang. Di bagian dada kaos itu tertera tulisan Badboy–berwarna putih. Ia memakai celana longgar dengan bagian mata kaki ketat. Warna celana itu senada dengan warna kaosnya.
“Kak Hangga mau kemana?” tanya Lenata pada kakaknya itu yang sudah rapi berdandan dan hendak pergi entah kemana. Ia sedang menonton siaran kartun di televisi.
Hangga selesai menuruni tangga dan berkata, “Ke Rumah Hanggi.”
“Lenata ikut boleh?”
Hangga menghentikan langkahnya dan menatap adiknya itu.
“Nggak usah,” tolaknya.
“Kamu di rumah aja! Lagian juga sebentar,” lanjutnya.
“Tinggal ajak aja napa, Ngga! Katanya cuman sebentar. Lagian Lenata bukan anak yang bawel.” Jordi memberikan saran untuk adik lelakinya itu.
“Ya nggak, Len?” tanya Jordi pada adiknya itu.
Cup.
Lenata mengecup pipi kanan Jordi.
“Iya dong... Lenata-kan anak yang penurut,” ucap Lenata seraya melirik Hangga. Alisnya naik-turun ketika menatap Hangga.
“Nggak usah! Anak TK juga.”
Hangga keluar dari rumah itu dengan langkah cepat. Ia tidak ingin adiknya itu ikut untuk pergi ke rumah sahabatnya yang sedang sakit hati.
“Ish,” gerutu Lenata dan Jordi bersamaan.
“Apa hubungannya coba?” batin Jordi.
“Tadi bibir Kak Hangga kenapa, Bang? Kok keunguan kek gitu?”
“Nggak tau.”
Motor Vixion biru Hangga menderu. Perlahan mulai menjauh dari rumahnya.
Selang beberapa menit kemudian, suara deru mobil mulai terdengar oleh kedua kakak adik di dalam Rumah Keluarga Malik.
“Mama...” panggil Lenata ketika mamanya itu keluar dari mobil. Ia pun langsung menghamburkan pelukannya itu pada mamanya.
“Lenata udah makan? Sekolahnya lancar, kan? Terus kakak kamu nggak bersikap aneh-aneh, kan?”
Pertanyaan itu muncul dari Rifani. Ibunda Lenata, Jordi, dan Hangga.
“Lenata udah makan, sekolah lancar, terus...” Lenata melirik Jordi yang keluar dari rumah.
“Napa ngliat-liat kek gitu? Mau bilang kalo aku sama Hangga bersikap aneh sama kamu?” tanya Jordi kemudian.
“Hehe...” Lenata terkekeh. Lalu menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal.
Rifani tersenyum dan mencium kening Lenata, kedua pipi putrinya itu, dan terakhir?
Belum sampai Rifani mencium bibir putrinya itu, Lenata sudah mengecup singkat bibir mamanya.
“Hah...”
Rino, suami dari Rifani, merentangkan tubuhnya–mencoba untuk melemaskan tubuhnya itu. Pekerjaan kantor membuat ia dan istrinya merasa sangat lelah.
“Hangga mana?” tanyanya kemudian. Ia melirik Jordi.
Lenata dan ibunya sedang mengambil oleh-oleh yang sempat Rifani dan Rino beli–di dalam mobil.
“Ke Rumah Hanggi,” sahut Jordi seraya mendekati ayahnya itu.
Rino memeluk tubuh putranya itu dan menepuk-nepuk punggungnya.
“Mereka pacaran?” bisiknya.
“Nggak tau.”
Lenata membawa oleh-oleh itu masuk ke rumahnya. Saat melihat kakaknya itu sedang berpelukan, ia meledek.
“Cieeee pelukan.”
Ia langsung berlari memasuki rumah dan tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu coba?
Rifani mendekati Jordi dan melalukan hal yang sama pada putrinya. Mengecup kening Jordi, kedua pipi, dan bibir.
Tinggi tubuhnya itu hampir sama dengan putranya. 180 cm. Dan Rino tentu lebih tinggi sedikit dari mereka berdua.
Rifani memasuki rumah seraya mengandeng lengan Rino. Lalu mereka menoleh ke belakang bersamaan dan berkata, “Semangat kuliahnya.”
Melihat hal itu, tentu Jordi terkekeh geli. Geli sebab kedua orangtuanya itu selalu kompak kapan saja. Bahkan tingkah kedua orangtuanya itu seperti orang muda yang sedang menikmati masa berpacaran.
➰ ➰ ➰
Bersambung...
Thank for reading
Bisa kasih pendapat di komentar
my ig : marselasepty20
***Next ***
👇
Hanggi Afsha Naomi