NO NAME

NO NAME
P A R T 17 Plan to Limpa Kuwus



Hangga terbaring lemas di dalam ruangan bercat serba putih. Sekarang waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Artinya ia sudah terbaring di tempat itu selama kurang lebih enam jam setelah pulang sekolah.


Hangga mencoba membuka matanya. Rasanya amat berat saat ia membuka mata. Merasa Hangga mulai mencoba menggerakan badan, seseorang mulai memeriksa tubuhnya. Stetoskop menempel di dadanya. Dokter pria itu mencoba mengecek kondisi Hangga.


Kemudian dokter itu keluar dari ruangan. Hangga bisa melihat dari matanya yang belum terbuka lebar, orang-orang mulai masuk ke ruangan bercat putih. Bukan keluarganya yang datang kesana, namun teman-temannya saja yang masuk ke ruangan itu.


"Elo udah baikan, Ngga?" Cool dan singkat tanpa ekspresi. Pastinya ucapan Zidan.


"Masih inget sama gue, kan? Japri yang paling tinggi dan kerempeng di kelas."


"Sejak kapan elo sakit, Ngga? Pantes aja sewaktu elo beli minuman di kantin milih air putih biasa. Ternyata ginjal elo yang kena masalah." Kenzo duduk di salah satu kursi sebelah ranjang tempat Hangga berbaring.


"Dimana Hanggi..." Hangga bergumam tidak jelas. Bahkan ketiga temannya tidak bisa mendengar dirinya mengatakan sesuatu.


Zidan yang berdiri di sebelah Hangga, mendekatkan telinganya ke bibir temannya. Mencari tahu apa yang digumankan Hangga.


"Hanggi..."


Zidan bisa mendengar gumamam Hangga. Lalu ia melirik ke arah temannya dan berkata, "Hanggi."


"Ceileh, Ngga, Ngga. Masih sakit sempet-sempetnya mikirin orang lain. Pikirin diri sendiri aja napa?" Kenzo heran.


Hening cukup lama. Lalu Jordi dan Lenata masuk ke ruangan itu bersamaan dengan Hanggi dan Setia. Ingat akan pesan dokter tidak boleh terlalu banyak orang yang menemui Hangga, ketiga temannya itu beranjak keluar.


"Elo napa nggak bilang kalo punya penyakit ginjal? Kan bahaya, Ngga. Kalo penyakit itu nyampe parah." Jordi sangat khawatir akan keadaan Hangga.


"Hanggi..." Suara Hangga mulai terdengar jelas. Matanya masih belum membuka sempurna.


"Gue disini," ucap Hanggi seraya memegang bahu kanan Hangga.


"Mikirin orang lain tapi Kak Hangga nggak bisa jaga diri," ledek Lenata yang sedari tadi terbaring di sofa. Wajahnya menengadah ke langit-langit.


"Sini!" Ucapan Hangga membuat Lenata mendekat. Sebab saat mengucapkan kata itu, Hangga mengarahkannya ke posisi Lenata.


Lenata naik ke kursi dibantu Hanggi. Lalu gadis kecil itu mendekatkan Lenata ke dada bidangnya. Ia memeluk Lenata erat. Seperti pria yang tak mau kehilangan sosok wanita.


"Lenata sesak napas!" Ucapan itu membuat Hangga melepas pelukannya dan tersenyum.


"Papa sama Mama udah berangkat kerja, Ngga. Tiba-tiba ada urusan mendadak. Jadi, mereka nggak dateng njenguk elo," jelas Jordi seraya memasang wajah lesu. Lesu karena setelah sibuk kuliah harus mengurus Hangga sendirian.


"Gue mau ngomong sama elo, Nggi," ucap Hangga seraya menatap wajah gadis itu. Matanya sudah membuka lebar meski sangat berat. Ia juga tidak menggubris perkataan Jordi terkait Rino dan Rifani.


"Jangan tikung gue. Hanggi udah jadian sama gue," ujar Setia yang sedari tadi diam.


"Elo udah jadian?" tanya Hangga kemudian yang diangguki gadis itu.


"Gue cuman pengin elo nggak ngejauhin gue setelah tau semuanya. Kalo gue sakit," jelas Hangga seraya menatap Hanggi.


"Elo ngomong apaan si? Gue nggak bakalan mutusin persahabatan kita gara-gara penyakit elo. Ya nggak, Set?"


"Iya, Ngga. Kita bakal tetep sahabatan nyampe kapan pun. Dan status gue sama Hanggi bagi menjadi dua. Sahabat saat kita bertiga bersama-sama dan pacaran saat gue berduaan sama dia," jelasnya.


"Playboy lo udah ilang, Set?" tanya Jordi kemudian.


"Perlahan pasti bakal ilang," sahut Setia.


"Ajarin Kak Hangga tuh, Kak Setia. Biar dapet cewek." Lenata ikut campur.


"Tuh dengerin adek elo," ledek Jordi kemudian.


"Adek elo kali." Hangga menimpali. Detik berikutnya Hangga terlelap. Matanya sudah sangat berat.


➰ ➰ ➰


 


Sekarang Hangga terbaring di kasur empuk kamarnya. Matanya terpejam dengan selimut cokelat menutup tubuhnya hingga dagu. Ia sudah sembuh untuk sementara waktu.


Jika Hangga tidak menjaga diri dan terlalu lelah, penyakitnya akan kumat. Dan pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mengambil cuti lebih dari batasnya.


"Hangga gue ke kampus dulu. Kalo mau makan ke dapur aja! Gue udah siapin bubur kacang ijo buat elo," ucap Jordi yang sudah berpakaian kaos hitam, kemeja biru muda tanpa di kancing, dan celana jeans hitam.


"Hm." Hangga bergumam.


Sementara itu Lenata ikut berangkat Jordi menuju TK. Gadis kecil itu sangat rajin ke sekolah. Tidak seperti Hangga. Itu karena Hangga hanyalah anak angkat di keluarga itu.


Orangtua kandungnya meninggalkan ia di panti asuhan. Lalu orangtuanya sekaranglah yang menjadikan dirinya anak angkat. Tapi kedua orangtuanya tidak mengatakan kebenaran itu pada Hangga. Membuat ia menjadi sosok mirip brandalan.


Setelah tahu jika Hangga anak angkat dan terkadang mendapat perlakuan beda dari dua saudaranya, ia mencari tahu.


Di tempat kerja ayahnya, ia mencari dokumen yang mungkin memberinya petunjuk. Dan disana ia menemukan berkas saat Rino dan Rifani menyatakan mengangkat Hangga menjadi anaknya. Disana juga ia menemukan foto dirinya saat masih bayi. Wajah polos tanpa dosa.


Disana pula ia menemukan sebuah kalung yang ditempatkan satu kotak bersama foto dirinya saat masih bayi. Dan menurut pengurus panti asuhan itu, kalung dan foto itu ditemukan bersamaan dengan Hangga yang menangis di depan panti saat masih bayi. Artinya orangtuanya sengaja meninggalkan Hangga di tempat itu.


"Kalung ini nggak asing. Gue inget pernah liat ini di suatu tempat."


Hangga duduk di atas kasur seraya memandangi kalung itu. Kalung dengan logo bintang berwarna silver. Ditengahnya terdapat ukiran huruf H. Memang sudah takdir dirinya memiliki nama Hangga. Ia sengaja menyimpan benda penting yang menyangkut masa lalunya di kamar tanpa sepengetahuan kedua orangtua angkatnya.


➰ ➰ ➰


 


Tin... Tin... Tin...


Suara klakson mobil berulang kali membuat Hangga merasa terganggu. Ia bangun dari duduknya di sofa ruang tamu dan keluar rumah.


Zidan, Kenzo, Japri, dan Setia keluar dari mobil sport hitam. Sepertinya milik Zidan. Mengingat dia anak orang kaya skaligus anak tunggal. Tidak seperti Setia yang akan mendapat penolakan jika meminta barang mahal oleh kakek dan neneknya.


Dan tidak seperti Kenzo yang memiliki sifat irit. Ia masuk ke sekolah melalui jalur prestasi. Keluarganya tergolong tidak mampu membiayai sekolahnya. Untung dia pintar dan bisa berteman dengan keempat lelaki itu.


"Hari Minggu kita ke Limpa Kuwus. Lo ikut nggak?" tanya Japri to the point setelah duduk di sofa ruang tamu.


"Jangan maksa kalo lo masih sakit." Zidan memberi saran.


"Siapa aja yang ikut?" Hangga bertanya.


"Kita berlima, Hanggi sama Feni. Masalah kendaraan udah beres. Dan Nenek sama Kakek gue udah ngizinin gue bawa motor." Setia tersenyum.


"Gue bakal ikut tapi nebeng," ucap Hangga kemudian. Membuat keempat temannya mengernyit. Heran.


➰ ➰ ➰


Bersambung...


💕Satu kata buat part ini💕


💕Thanks for reading💕


💕See you next part💕


💕my ig : marselasepty20💕