
Minggu pagi. Purwokerto Utara, Jawa Tengah.
Kemarin Setia mengatakan bahwa dirinya akan mengajak Hanggi untuk jalan. Hanggi sempat memikirkan tawaran Setia berulang kali. Terima atau tidak? Namun akhirnya Hanggi menerima tawaran Setia.
Gadis itu juga sedang berusaha agar dirinya tidak terlihat gugup kala berhadapan langsung dengan Setia.
Semoga saja Setia segera tahu akan perasaan dirinya. Itulah yang selalu Hanggi harapkan. Ia berharap lebih terhadap sosok playboy jap jempol seperti Setia.
Hari ini Setia sengaja mengajak Hanggi keliling Kota Purwokerto. Entah itu ke taman, sekedar jalan-jalan di sekitar toko, tapi tidak ke mall.
Gadis itu sangat anti untuk datang ke tempat ramai seperti itu. Ia lebih memilih tampat yang bisa untuk dirinya santai dan menenangkan pikiran.
Setia tahu jika Hanggi tidak suka pergi ke mall sebab dirinya sudah berteman dengan gadis itu sejak lama.
“Elo nggak papa-kan gue ajak jalan-jalan?” tanya Setia ketika berjalan-jalan dengan Hanggi di area banyak penjual.
Samping kanan-kiri jalan paving itu terdapat penjual yang menjual makanan, minuman, dan lainnya. Tak lupa juga dengan toko yang menjual aneka pakaian.
“Ya nggak papa-lah. Lagian kalo gue di rumah terus-kan suntuk,” sahut Hanggi seraya tersenyum manis.
Sekarang ia sudah bisa membuat jantungnya itu tidak berdegup kencang kala berada di dekat Setia.
Setia ikut tersenyum saat sahabat perempuannya itu tersenyum manis. Senyuman dirinya juga tak kalah manis. Lalu Setia mencoba untuk merangkul Hanggi.
Setelah merangkul gadis itu, mereka saling bertatapan. Mereka saling melempar senyum dan mengalihkan tatapan mereka ke arah depan sana.
Hanggi sedang berusaha agar bisa menjaga detak jantungnya itu tetap normal. Jangan sampai ia gugup saat ini.
“Oh iya, Nggi! Elo... nggak ada apa-apa, kan? Sama si Hangga? Akhir-akhir ini gue sering ngliat elo sama Hangga deket banget kayak orang pacaran.” Setia tetap merangkul Hanggi.
“Gue sama Hangga nggak ada apa-apa, kok. Cuman sahabatan. Mungkin karena persahabatan itu sudah lama, efeknya jadi kek gitu. Gue sama Hangga keliatan akrab banget. Nyampe elo aja ngira gue sama dia pacaran,” jelas Hanggi dengan tatapan tetap tertuju ke arah depan sana.
“Awas!”
Setia menarik tubuh Hanggi hingga gadis itu jatuh ke dekapannya. Ia mencoba melindungi sahabatnya itu tatkala pengendara sepeda ontel hampir saja menyerempet tubuh Hanggi.
Tadi sempat ada orang yang memberi kode agar mereka berdua menghindar dari sepeda ontel yang berjalan sangat cepat. Tidak mempedulikan kondisi sekitarnya.
“Emang jalanan mbah-mu apa?! Make sepeda cepet banget kek gitu!” maki Setia pada pengendara sepede ontel tadi.
Hanggi yang merasa Setia terlalu lama memeluk dirinya, tentu berusaha untuk lepas dari pelukan itu.
“Oh! Sorry! Hehe.” Setia melepas Hanggi dari pelukannya dan sempat terkekeh.
Mereka berdua kembali berjalan beriringan. Sempat keheningan melanda mereka berdua. Namun Setia berhasil membuang suasana hening itu.
Hari ini Setia memakai celana jeans hitam panjang dan kaos putih polos dibalut dengan jaket jeans hitam.
“Nggi,” panggil Setia pada Hanggi.
“Hm.”
“Elo mau es krim nggak? Entar gue beliin,” tawarnya.
“Emang elo bawa duit?”
“Bawalah! Masa iya mau jalan-jalan nggak bawa duit,” jelasnya.
“Ya udah sono beliin!”
“Bentar ya!” Setia menarik lengan Hanggi dan menyuruh gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di sebelah kedai penjual es krim. “Duduk sini dulu!” pintanya.
Hanggi duduk di bangku kayu itu dan menunggu Setia yang sedang membeli es krim untuk mereka berdua.
Ketika menunggu pesanan itu, Setia sesekali melirik Hanggi yang sedang duduk manis.
Gadis itu memakai celana jeans abu-abu panjang dan kaos putih yang dibalut dengan hem kotak-kotak warna merah. Kaos itu terlihat sebab hem itu dibiarkan terbuka. Rambutnya yang melebihi bahu, tergerai sempurna.
Diwajah gadis itu tergores sebuah kebahagiaan yang tidak dapat Setia artikan. Bahagia sebab Setia mengajak gadis itu jalan? Atau bahagia sebab alasan lain?
Setia mengalihkan pandangannya dari gadis itu–menerima dua cup es krim dari sang penjual–membayar es krim itu–menerima uang kembalian–dan beranjak dari posisinya menuju dimana Hanggi duduk.
“Nih!” Setia memberikan es krim itu pada Hanggi.
“Elo masih suka es krim vanilla, kan? Apa udah suka sama es krim lain rasa?”
“Masih vanilla, mmm,” sahut Hanggi diakhiri dengan senyuman seraya menatap wajah Setia. Pria itu duduk di samping kanannya.
“Elo manis banget si, Nggi? Baru nyadar gue,” ucap Setia seraya mencubit hidung Hanggi gemas. Nada bicaranya juga terkesan menggoda.
“Apaan si?”
“Jangan baper lho!” nada bicara Setia yang semula menggoda, berubah menjadi nada mengancam.
“Emang kenapa kalo baper?” Hanggi mencoba memanas-manasi sahabatnya itu.
“Sebab Hanggi yang gue kenal itu nggak baperan.”
“Masa?” tanya Hanggi dalam hati.
“Dia itu selalu cuek akan kondisi sekitarnya.”
“Bahkan dia nggak peduli sama perasaan hatinya sendiri. Semua cowok yang suka sama dia selalu di tolak mentah-mentah.”
“Emang gue suka nolak cowok yang suka sama gue!”
“Gue heran sama dia, apa nggak ada pria sama sekali di hatinya?”
“Elo Setia! Elo ada di hati gue sekarang ini!”
“Atau mungkin ada seorang pria yang membuat dia menolak cowok yang suka sama dia?” Setia mengambil sesendok es krim cokelatnya dan segera memasukkan ke mulut.
“Cuman elo yang ada di hati gue saat ini, Set! Nggak ada yang lain.”
Setelah berhenti berceloteh, Setia menatap gadis yang ada di sampingnya itu. Gadis itu diam dan seperti sedang menahan air matanya agar tidak keluar. Dadanya juga mungkin sedang sesak saat ini.
“Elo nangis, Nggi?” tanya Setia kemudian.
“Enggak. Cuman kelilipan,” jelas Hanggi pada Setia seraya mengucek dan mengusap matanya itu. Tatapannya tetap ke arah depan sana.
“Lagian juga orang yang elo omongin itu ada disini. Tapi seolah-olah elo lagi ngomongin orang yang disana,” lanjutnya seraya tersenyum dilanjutkan dengan memasukkan sesendok es krim vanilla ke mulutnya.
“Tapi gue yakin itu bukan kelilipan!” tegas Setia seraya memegang dagu Hanggi dan membuat gadis itu menatap dirinya.
“Elo tadi nangis, kan?” tanyanya setelah tatapan mereka bertemu.
“Hm? Jawab gue, Nggi? Kenapa elo nangis? Apa karna omongan gue tadi? Atau mungkin elo lagi ada masalah? Kalo emang elo lagi ada masalah cerita sama gue, Nggi! Dan kalo omongan gue tadi nyakitin hati elo, gue minta maaf!”
Hanggi tersenyum. Ia tetap menatap kedua bola mata Setia. Sebab pria itu tetap memegang dagunya. “Gue tadi emang nangis,” jelas Hanggi.
“Alasannya?”
Setia berganti menangkup wajah Hanggi dengan tangan kanannya. Memang wajah Hanggi saat ini terlihat sangat resah dan susah diartikan.
Apa yang ada di dalam hati sahabatnya itu, Setia tidak mengerti.
Hanggi mencoba untuk menstabilkan napas dan jantungnya yang berdegup kencang. “Gue itu...”
“Stabilin napas dulu. Santai aja... gue-kan sahabat elo. Masa iya elo gugup sama sahabat sendiri?” Setia melepas tangannya dari wajah kiri Hanggi.
Ucapan Setia yang menganggap Hanggi adalah sahabatnya, kenapa membuat dadanya itu lebih sesak?
Apa karena ada perasaan itu? Perasaan yang Hanggi saja tidak bisa mendeskripsikan?
Sehingga dirinya tidak rela jika Setia menganggap bahwa ia hanyalah seorang sahabat.
“Udah stabil napasnya? Sekarang tatap mata gue! Dan elo ngomong ke gue! Apa yang bikin elo itu jadi kek gitu!” Setia kembali memegang dagu Hanggi dengan tangan kanannya.
“Gue s-,”
“Setia!”
Ucapan Hanggi terpotong oleh suara seseorang. Otomatis Setia menengok sebab ada seseorang yang memanggil namanya.
Begitu juga dengan Hanggi yang sudah siap mengatakan perasaannya pada Setia. Namun diurungkan sebab ucapannya terpotong. Setia dan Hanggi berdiri sebab orang itu mendekat.
“Kamu apa kabar sayang? Aku kangen sama kamu,” ucap gadis itu seraya memeluk tubuh Setia.
Setia mengernyit lalu menatap Hanggi yang sepertinya tidak rela jika dirinya dipeluk gadis lain.
Merasa tidak tahan dengan pemandangan menyesakkan itu, Hanggi pergi meninggalkan Setia setelah tersenyum pada pria itu. Bukan senyuman ikhlas. Tapi senyum paksa.
Gimana rasanya coba? Saat seseorang yang kita sukai itu berpelukan atau bermesra-mesraan dengan orang lain. Dan tentunya bukanlah saudara. Nyesek.
“Elo kenapa, Nggi? tanya Hangga yang tiba-tiba saja muncul dan melihat Hanggi berjalan cepat seraya menangis.
Hangga menarik lengan gadis itu dan memeluknya erat. Lalu ia menatap ke arah depan sana.
“Elo emang **** banget, Set! ****! ****! ****! Hari ini gue nggak bakal diem aja!”
Hangga tidak bisa berkata-kata saat ini. Hanya hatinya saja yang bisa menggerutu. Dan tangannya itu sudah sangat geram ingin menghajar Setia.
***
Bersambung...
Thank for reading
Bisa kasih pendapat di komentar
my ig : marselasepty20
Bonus pictures
Setia & Hanggi