NO NAME

NO NAME
P A R T 30 Masa Lalu



Beberapa tahun yang lalu...


Pria yang memakai seragam kantor itu sedang sibuk dengan berkas-berkas perusahaan yang menumpuk di meja ruang tamu.


Lalu ia mendongak saat seorang wanita masuk ke rumah itu. Wanita itu adalah istri dari pria yang sedang sibuk mengurus berkas perusahaan.


“Darel. Aku mau bicara sama kamu,” ucap wanita itu pada suaminya.


“Tinggal bicara. Aku sibuk dengan kerjaan kantor, Nad. Tapi pasti aku dengerin,” ujar Darel seraya tetap sibuk dengan berkas-berkasnya.


Nadia melipat tangannya di dada seraya tetap berdiri di hadapan suaminya itu.


“Ck. Aku nggak bisa hidup sama kamu lagi, Darel. Kamu selalu sibuk dengan kerjaan kantor. Bahkan untuk sekedar ndengerin aku ngomong aja kamu nggak mau,” ucap Nadia dengan nada kesal.


Mengira istrinya itu hanya bicara omong kosong, Darel tetap sibuk dengan pekerjaannya.


“Aku sibuk juga kerja buat ngasilin uang. Dan uang itu untuk kamu sama putra kita yang masih bayi,” jelasnya dengan nada datar.


“Aku serius dan nggak main-main, Darel.”


Darel mendongak dan menatap istrinya itu, lama. Ternyata istrinya itu tidak main-main akan ucapannya.


“Kamu minta cerai?” ucap Darel tanpa pikir panjang yang langsung diangguki istrinya itu.


“Alesannya?” Darel menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


“Aku udah bosan aja sama kamu yang kurang peduli sama aku,” jelas Nadia seraya menatap wajah Darel dengan dahi berkerut.


“Cuman itu kan alasannya? Kalo emang iya kamu nggak bisa pisah dari aku. Kasihan putra kita yang usianya baru seminggu. Kamu mau ninggalin dia gara-gara aku nggak punya waktu sama kamu?” Darel sudah tampak kesal.


“Kamu bisa urus putra kita sendiri. Nggak perlu bantuanku. Lagian aku udah nggak peduli sama kamu. Aku pengin kamu jaga putra kita dengan baik,”katanya.


“Jaga Jiyan, putra kita. Dan satu hal lagi, kamu nggak akan nolak untuk pisah denganku sebab sebulan lagi aku bakal nikah sama pria yang lebih peduli sama aku. Terserah kamu mau dateng ke acara pernikahanku atau tidak,” ucap Nadia diakhiri dengan menaruh undangan di meja ruang tamu.


Nadia berbalik dan mulai berjalan keluar dari rumah itu. Namun langkahnya terhenti saat Darel mengucapkan sesuatu.


“Ibu macam apa yang ninggalin putranya yang baru berusia seminggu dan memilih untuk hidup dengan pria lain! Apa pria itu sangat peduli denganmu? Dia lebih kaya dariku dan bisa memenuhi kebutuhanmu setiap hari?” Darel memasang wajah sinis yang tidak disaksikan oleh istrinya.


“Mungkin dia nggak sekaya kamu. Tapi dia bakal peduli sama aku. Nggak kaya kamu yang hampir setiap hari nggak ada waktu buat aku.”


“Okeh kita sepakat bercerai.”


➰ ➰ ➰


 


Hangga sengaja berkunjung ke rumah Zidan untuk menghilangkan rasa suntuknya di rumah.


Hangga datang kerumah itu dengan mengendarai motor Vixion biru-nya. Saat sampai di rumah temannya itu, Hangga bisa melihat Zidan sedang duduk di kursi depan rumah.


Tatapannya fokus pada handphone di genggamannya. Dahinya juga sampai berkerut saking fokusnya.


“Fokus amat, Dan? Ngliatin apaan?” ucap Hangga seraya melirik layar handphone Zidan.


Temannya itu langsung saja menjauhkan benda pipih itu dari jangkauan penglihatan dirinya.


“Nglirik cewek lu?” Hangga berjalan untuk duduk di kursi lain.


“Kalo mau cari cewek biar gue ngomong sama Se... tia buat minta ban... tu... an.” Hangga memang sedang kesal dengan Setia.


Zidan tertawa ringan dengan tatapan tetap fokus pada layar handphone-nya.


“Elo musuhan sama Setia?” tanyanya dengan nada lirih.


Hangga mengusap tengkuknya. “Gimana nggak musuhan. Orang dia udah bikih sahabat perempuan gue sakit hati. Udah bener Hanggi jauhin tuh anak. Biar tau rasa.”


“Masalahnya... larinya Hanggi tuh ke Jiyan, bukan elo,” ucap Zidan masih dengan nada datarnya.


Nama Jiyan memang terkenal sebab ia menjadi siswa baru di SMK Maju Jaya. Setiap murid di sekolah itu pasti akan mencari tahu siapa murid baru yang akan belajar disana.


Anggap saja murid SMK Maju Jaya kebanyakan kurang kerjaan. Sampai ingin tahu hal sekecil apapun.


“Emang kenapa kalo ke gue?”


“Ya lebih aman daripada dia sama Jiyan.”


Hening.


“Liatin apaan si?” Hangga melihat layar handphone Zidan dengan gerakan cepat. Tapi pria itu langsung menjauhkan benda pipih itu.


“Gue cuman penasaran.”


Sebuah mobil sport warna merah mulai memasuki area rumah Zidan. Siapa lagi kalau bukan Ibu Meidan. Ibunda dari Zidan.


Keluarga Zidan memang tajir. Rumah yang saat ini mereka tempati bahkan sangat luas dan memiliki dua lantai.


Kendaraan pribadi keluarga mereka bahkan tidak hanya satu. Membuat mereka tinggal memilih saja saat hendak bepergian.


“Ibu aja yang sering nggak pulang ke rumah. Tuh anak sering nginep disini,” sahut Zidan menjawab pertanyaan ibunya yang seharusnya untuk Hangga.


“Ya nggak papa ya, Ngga. Kan jadinya Zidan nggak kesepian.”


Meidan mengusap puncak kepala Hangga pelan hingga pria itu tersenyum.


“Suruh masuk, Dan,” lanjutnya seraya berjalan masuk dan mengacak rambut putranya itu.


“Seneng banget elo punya nyokap yang peduli sama elo,” ucap Hangga dengan nada lirih.


“Emang nyokap elo nggak peduli sama lo? Keliatannya dia sayang benget sama lo.”


Hangga bersandar pada sandaran kursi dan memejamkan matanya.


“Dia bukan orangtua kandung gue. Dan gue cuman anak angkat mereka.”


Hangga hanya memberitahu Kenzo dan Japri terkait status di keluarganya waktu itu.


“Serius.” Zidan menatap wajah temannya itu yang matanya terpejam.


“Hmm.”


“Kok gue baru tau?” ****. Hanya kata itu yang ada di dalam pikiran Zidan. “Udah mesti lah jawabannya,”


“Kan gue baru ngasih tau elo, Dan. Masa iya elo tau duluan sebelum gue kasih tau. Dukun lo?” Hangga sempat tertawa.


“Terus elo udah tau siapa orangtua kandung elo?”


“Lagi cari tau. Dan gue suruh pake kalung ini,” ucap Hangga seraya mengambil kalung berlogo bintang dengan huruf H di bagian tengahnya dari saku celana.


“Itukan...”


➰ ➰ ➰


 


Hanggi berjalan hendak menuju Alfamart. Setelah kedua orangtuanya meninggalkan ia ke Jakarta, mereka tetap mengirimi dirinya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Jumlahnya juga tidak seberapa.


Dulu ibunya tajir, tapi sekarang sebaliknya. Saat berjalan melewati rumah keluarga Setia, Hanggi ingin sekali menyapa sahabatnya itu.


“Nggak nyangka persahabatan gue bakal hancur.”


Hanggi bertatapan dengan Setia tatkala pria itu keluar gerbang rumah. Pria itu tidak senyum sama sekali dan langsung berjalan entah kemana.


“Setia elo marah sama gue?” Hanggi mengejar pria itu.


“Elo beneran mutusin gue?” Hanggi menghalangi jalan Setia hingga pria itu berhenti dan menatapnya.


“Gue masih nggak yakin aja...kalo elo mutusin gue seperti itu.” Hanggi merasa agak gugup ketika pria itu menatapnya lekat.


“Jadi elo nggak percaya kalo gue udah mutusin elo?”


“Elo sahabat baik gue dan gue selalu mikir yang baik-baik soal elo. Kita sahabatan udah lama dan persahabatan itu hancur gara-gara gue suka sama elo dan elo berusaha untuk bales perasaan itu.” Hanggi berbicara dengan nada kesal.


“Jadi... elo udah mutusin gue?”


Setia tetap menatap wajah Hanggi hingga gadis itu merasa gugup.


“Sorry, Nggi.” Setia membatin.


“Jangan natap gue kek gitu. Kemarin-kemarin aja elo sama sekali nggak mau natap gue sama sekali,” kesal Hanggi kemudian.


“Sejak kapan elo jadi cerewet? Hanggi yang gue kenal nggak cerewet. Kalo karna gue elo jadi begitu, sekarang jangan lagi, Nggi. Gue nggak pengin elo berubah hanya karena gue.”


“B-buat apa elo meduliin gue lagi.” Hanggi melenggang pergi meninggalkan Setia.


Setia bisa merasakan dadanya sesak saat ini dan bergumam, “Gue tahu ini salah. Nggak seharusnya gue ngejauhin elo, Nggi. Disisi lain gue egois mutusin elo gitu aja,”


“Tapi di lain sisi gue peduli sama sahabat gue, Hangga. Dia keliatannya ikhlas kita pacaran. Tapi dibelakang, sohib gue itu merasa sangat sakit. Dia nyampe nyakiti dirinya sendiri secara fisik,”


“Dan gue nggak mau sohib gue itu putus asa. Semoga aja dia ngungkapin perasaannya ke elo, Nggi. Secepatnya.”


 


 


 


Thank for reading...


Sejauh ini gimana ceritanya?


Tulis di kolom komentar :)