NO NAME

NO NAME
P A R T 13 Kampret?



Hangga duduk termenung di tempat biasa saat dirinya suntuk. Ia sedang duduk di pinggir kolam renang.


Kakinya tercelup ke kolam renang itu. Kedua tangannya ia gunakan untuk menyangga badan. Tatapannya lurus ke depan sana.


Pergelangan tangan kanannya masih nyeri. Ia ingat betul saat Hanggi bersikeras untuk mengobati dirinya.


Ketika gadis itu mengobatinya, ia selalu menatap wajah gadis itu. Hanggi khawatir.


Namun Hangga lebih khawatir akan kondisi Hanggi. Gadis itu tinggal di rumah sendirian.


Beberapa menit kemudian, Jordi datang menemuinya. Pria itu duduk di sebelah Hangga dan melakukan hal yang sama seperti adiknya itu.


Mencelupkan kakinya ke kolam.


“Kamu bikin Papa marah lagi?” tanyanya.


“Selalu,” jawabnya singkat.


“Alesannya kenapa? Kan heran, tiba-tiba aja kamu itu berubah kaya brandalan.”


“Harusnya kalian semua itu tahu alesannya tanpa gue kasih tau.”


Hangga tetap fokus ke depan sana. Lalu menit selanjutnya ia bangun dari posisinya.


“Jangan ngomong pake lo-gue kalo di depan Papa. Dia nggak suka bahasa itu.” Jordi memperingatkan adiknya.


Hangga yang sudah berdiri hanya tersenyum miris. Ia selalu mendapat perlakuan yang berbeda dari Jordi dan Lenata.


Tapi bukan itu alasannya kenapa ia menjadi sosok seperti saat ini. Ada alasan lain yang membuat dirinya gundah gulana.


➰ ➰ ➰


 


Hangga mengambil jaket hitamnya di gantungan baju. Lalu memakainya dan pergi dari rumah itu.


Hangga mengambil motor sport warna hitam. Ada tiga motor di garasi. Ia tinggal pilih saja motor itu.


Sebelum melenggang pergi dari area garasi, Hangga memakai sarung tangan ala pembalap.


➰ ➰ ➰


 


Disinilah Hangga saat ini.


Area Gor Satria Purwokerto.


Disanalah tempat para pembalap liar bisa saling bertemu dan beradu.


Hangga tahu tempat itu sejak lama. Dan ia hanya lewat saja ketika pergi ke suatu tempat yang mengharuskan dirinya melewati tempat itu.


Setelah ia tahu jika tempat itu sering digunakan untuk balap liar, ia datang ke tempat itu.


Mencoba mencari kesenangan pribadi.


Ia melakukan hal itu sekitar dua tahun yang lalu. Dan sekarang masih ia lakukan.


Mungkin setiap malam Minggu. Tapi hari ini suasana hatinya sedang buruk. Sehingga ia datang ke tempat itu.


Hangga bersiap di garis start–menunggang motor sport-nya. Samping kanan kiri sudah ada pembalap lain.


Ia hanya bisa melihat mata dan hidung saingannya. Itu karena mereka semua memakai helm full face. Helm yang hanya menampakkan hidung dan mata si pemakai.


“Satu... dua... tiga...”


Wanita itu mengangkat bendera ala balapan. Kemudian para peserta balapan itu langsung melenggang pergi.


Beradu dalam satu area untuk memuaskan kesenangan pribadi.


Beberapa menit kemudian, Hangga sampai di garis finish paling awal. Ia tidak merasa senang seperti biasanya.


Bukan karena tidak ada Setia yang menemani dirinya saat itu, melainkan karena suasana hatinya saja yang sedang campur aduk.


Peserta selanjutnya sampai di garis finish. Pria itu menaruh tatapan tidak suka pada Hangga. Motornya tidak asing. Sport hitam dengan kode motor seperti biasa.


Hangga kenal dengan motor tersebut. Sebab ketika dirinya menang, hanya pria itu saja yang menatapnya tajam.


Atau mungkin ada pria lain, namun dirinya tidak memperhatikan hal itu.


Hangga memberi kode untuk pergi duluan. Peserta dan beberapa penonton mengizinkan dirinya untuk pergi.


Hangga menjalankan motornya dan berhenti dipinggir jalan untuk memeriksa handphone-nya.


Pasti ada banya notif dari seseorang yang peduli terhadap dirinya.


30 pesan belum dibaca


7 panggilan tak terjawab


Notif itu bisa Hangga lihat setelah menyalakan handphone-nya. Saat balapan ia sengaja mematikan benda itu.


Panggilan itu berasal dari Rifani, Rino, Jordi, Hanggi, Setia, Japri, Kenzo, dan Zidan tidak menelepon dirinya.


Pria itu sungguh cool.


Pasti Jordi yang memberitahu akan dirinya yang menghilang tiba-tiba kepada teman-temannya.


Untuk pesan dari Hanggi :


Elo dimana?


P


P


Dicariin sama Bang Jordi!


Jangan nglakuin hal yang aneh-aneh lho!


Dst.


Dari Setia.


Elo dimana ngga abang elo nyariin jangan bilang elo mbalap di Gor


Tanpa tanda baca apapun.


Ia baca pesan dari yang lainnya. Dan yang terakhir adalah pesan dari Zidan. Baru saja pesan itu masuk. Hangga buka pesan itu.


Elo mau pulang atau nginep di rumah gue? Gue dibelakang elo.


Hangga segera menengok ke belakang. Dan disana sudah ada Zidan yang berpenampilan seperti dirinya.


Zidan si pria cool diam-diam ikut balap liar.


“Nggak usah ngliatin gue kek gitu. Baru pertama kali gue ikut balap liar. Dan gue nglakuin hal itu untuk elo,” ucap Zidan panjang lebar.


Saat hal itu penting, ia tidak segan-segan untuk berucap panjang lebar.


“Buat gue?” tanyanya seraya tersenyum.


“Hm.”


“Kenapa buat gue?”


Zidan mendengus. “Ya kali aja elo ada apa-apa sewaktu balapan. Gue cuman ngawasin doang,” jelasnya.


O. Itulah kondisi mulut Hangga saat mendengar pernyataan Zidan.


“Elo pulang atau nginep?” tanya Zidan seraya memasang helm full face-nya.


“Nginep.”


“Di rumah?”


Hangga berpikir sejenak.


Lalu ia berkata, “Hanggi.”


Hangga menyalakan motornya dan segera meluncur menuju dimana Hanggi berada.


Tapi saat diperjalanan, Hangga menghentikan motornya.


Zidan pun ikut berhenti. “Kenapa?” tanya Zidan dari balik helm-nya.


“Jam berapa?”


“Tuh.”


Zidan mengangkat dagunya menunjuk jam dinding yang terpasang di Alfamart.


03.00 WIB.


1. Hanggi sudah tidur.


2. Tidak mungkin gadis itu menungu dirinya.


3. Apa yang harus Hangga lakukan?


“Lo serius mau pulang ke Rumah Hanggi?” – Zidan.


“Ke rumah elo aja, boleh?” – Hangga.


Zidan jelas sedang tertawa. Hangga tahu akan hal itu. Dan dirinya hanya bisa terkekeh di balik helm-nya.


Zidan melajukan motornya duluan. Sementara itu, Hangga mengikutinya dari belakang.


➰ ➰ ➰


 


Gadis itu belum tidur. Ia hanya terkantuk-kantuk saja.


Kemana perginya Hangga?


Di rumah temannya tidak ada. Hanggi pikir temannya itu akan datang ke rumahnya. Namun nihil.


Jam tiga pagi. Selama itulah Hanggi menunggu pria itu? Dari jam sembilan malam.


“Kemana ya tuh anak?” gerutunya tidak jelas. Ia sudah sangat mengantuk.


Hanggi memutuskan untuk tidur di kamar. Sedari tadi ia duduk di sofa. Ia berjalan seraya mengucek-ucek matanya. Kakinya juga sempat menabrak sofa.


Namun ketukan pintu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan mendekati pintu rumah. Ia berpikir itu adalah Hangga. Ia buka pintu rumahnya dan berkata,


“ELO HABIS DARIMANA?!”


“Dari rumah,” sahut pria itu.


“Eh Setia... kirain Hangga, hehe.” Hanggi menggaruk-garuk alisnya yang tidak gatal.


“Elo belum tidur?”


“Belum.”


“Se-setia itukah Hanggi menunggu Hangga?” batin Setia.


“Nunggu Hangga?” lanjutnya.


Hanggi mengangguk. “Elo ngapain kesini?” lanjutnya dengan nada bertanya.


“Nih.” Setia memperlihatkan layar handphone-nya.


Kampret


Coba cek Hanggi. Dia di rumah sendirian. Dia udah tidur apa belom? Kalo belum tidur suruh dia tidur aja. Jangan nungguin gue.


Setelah selesai membaca pesan itu, Hanggi bertanya,


“Siapa kampret?”


➰ ➰ ➰


 


Bersambung...


💕Thank for reading💕


Bisa kasih pendapat di komentar


my ig : marselasepty20


***Next ***


👇


➰ ➰ ➰


Nih Zidan si cool