
Hari Sabtu telah tiba. Hari dimana sekolah yang menanamkan program lima hari kerja mendapat libur.
Sudah seminggu Hanggi menyimpan rasa terhadap sahabat lelakinya itu. Banyak orang bilang, jika wanita itu tidak bisa berteman dengan seorang pria. Sebab ujung-ujungnya pasti akan ada satu rasa yang sudah biasa. Cinta.
Namun hal itu tidak akan terjadi jika sang wanita dan pria itu bisa menjaga persahabatan dan tidak memunculkan yang namanya perasaan cinta. Tapi orang juga bilang, cinta itu bisa datang kapan saja.
Hangga sudah mencoba meyakinkan gadis itu agar mengungkapkan perasaannya pada Setia. Tapi gadis itu menolak dengan alasan bahwa dirinya adalah gadis dan tidak etis jika dirinya mengungkapkan perasaannya pada Setia lebih dulu. Gadis itu lebih memilih menunggu hingga Setia menyadari akan perasaan dirinya.
“Gadis lugu. Ngapain pake nunggu orang kayak Setia? Tuh anak sering gonti-ganti cewek, Nggi!” gerutu Hangga suatu waktu saat dirinya merasa kesal akan Hanggi yang begitu sabar.
Boleh sabar. Asal jangan sampai melebihi batas kadar maksimun. Tidak kebagian, tau rasa.
➰ ➰ ➰
Hanggi saat ini sedang lari pagi. Ia sudah biasa melakukan hal itu setiap waktu libur sekolah. Tujuannya agar ia bisa mengurangi lemak di tubuhnya.
Hanggi memang memiliki body yang bisa dibilang wanitable. Ramping iya, tinggi iya, intinya wanitable. Istilah itu memang dirinya yang membuat sendiri.
Hanggi memakai kaos pendek berwarna putih dibalut dengan jaket warna pink. Lalu untuk bawahan ia memakai celana training biru dongker dengan white line di sisi celana itu. Handuk kecil juga tersampir di lehernya. Rambutnya sengaja ia kucir kuda.
Lari pagi masa rambutnya di gerai? Gerah iya, caper juga iya.
Itulah hal yang pernah dikatakan oleh Hanggi. Alasan kenapa dirinya mengucir kuda saat lari pagi. Tidak ingin gerah juga caper. (Cari perhatian).
Di depan sana, Hanggi bisa melihat dua pria yang sangat dirinya kenal. Siapa lagi kalau bukan Hangga dan Setia. Dua pria yang hampir selalu bersama.
Hanggi sempat lengah saat memperhatikan pria itu dengan saksama. Hanya dengan kaos hitam polos dan celana training dengan warna senada, sudah membuat pria itu tampan. Di tambah lagi senyuman manis itu dan peluh yang membasahi wajahnya.
“Elo kenapa bisa seganteng dan semanis itu, Setia?” ucap Hanggi tanpa sadar. Ia terlena dengan penampilan Setia.
“Bah! Bah! Bah!” Hanggi seperti orang yang baru saja kemasukan semut. Lalu mencoba membuang semut itu dari mulutnya.
Melihat Hanggi seperti itu, kedua pria itu mendekat dan bertanya, “Elo kenapa, Nggi?”
“Ehm!” Hanggi sempat berdeham.
“Nelen laler ya? Makanya kalo olahraga jangan kecapean, jadinya mangap-mangap. Pas mangap-mangap-kan kesempatan buat tuh laler masuk ke mulut elo, haha,” ledek Setia.
Disebelah Setia, Hangga mencoba untuk menahan tawanya agar tidak keluar. Apa yang lucu coba? Dari perkataan Setia barusan.
Terkadang tidak semua orang menganggap apa yang kita pikirkan itu selalu sama dengan pikiran mereka.
“Lari bareng yuk, Nggi!” ajak Hangga seraya merangkul bahu Hanggi dan mulai berlari.
Setia tentu mengernyit. Dipikirannya saat ini adalah, “Mungkin Hangga sedang pedekate sama si Hanggi!”
“Gue lagi coba buat bantu elo ndapetin si Setia. Kalo dia cemburu pasti keliatan deh... dan sewaktu gue makein jaket aku di sekolah, itu supaya Setia rada-rada cemburu sama elo dan peka. Tapi tuh anak nggak peka sama sekali. Pengin tonjok aja tuh muka!” jelas Hangga seraya tetap merangkul gadis itu.
“Ooh.”
“Lo ngira gue naruh rasa juga sama elo?”
“Awalnya si gue bingung akan sikap elo yang sepertinya cemburu. Tapi sekarang enggak lagi, hehe.”
“Ish.”
Sebab dirinya diabaikan. Setia menyejajarkan langkahnya dengan kedua sohibnya itu. Sesekali ia melirik Hanggi yang tersenyum lebar ketika Hangga menggumamkan sesuatu.
“Serasa kek obat nyamuk gue,” ucap Setia ketika merasa diabaikan.
Hangga melepas rangkulannya. “Napa? Elo cemburu ngliat gue sama Hanggi mesra-mesraan?” sahut Hangga dengan nada menggoda. Mencoba membuat sohibnya itu peka.
“Emang elo berdua pacaran? Haha,” tanya Setia dilanjutkan dengan tertawa.
“Mungkin iya. Nggak ada salahnya, kan? Kalo gue sama Hanggi pacaran?”
“Gue nggak percaya!” tegas Setia seraya tersenyum miris. Pandangannya tetap tertuju ke arah depan sana.
“Syukur deh kalo elo nggak percaya, Set!” gumam Hangga setelah mendengar pernyataan sohibnya itu.
Setia tidak mendengar Hangga berguman. Tapi tidak dengan Hanggi yang posisinya berada diantara kedua sohibnya itu.
“Juga kalo kalian berdua pacaran, gue nggak cemburu. Banyak cewek yang ngejar-ngejar gue di sekolah. Dan gue juga punya banyak mantan. Kapanpun gue mau balikan sama mereka, pasti mereka mau.”
Disisi lain, Hangga serasa ingin melayangkan tinjunya itu ke wajah Setia. Wajah yang terlihat polos, namun tidak dengan tingkahnya.
➰ ➰ ➰
Gadis itu melepas ikat rambutnya secara perlahan, lalu membiarkan rambutnya itu tergerai sempurna. Ia juga sempat menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat rambutnya itu bergerak kesana-kemari. Senyumnya manis. Mungkin bisa membuat kaum adam terpesona.
“Ternyata kau begitu cantik,” ucap pria itu di hadapan wanita tadi.
“Apa kau baru sadar akan kecantikanku?” tanya wanita itu.
Mereka berdua tersenyum bersamaan. Dan saling berpelukan. Tidak peduli dengan orang yang berlalu-lalang di sekeliling mereka. Suhu, angin, kelembaban, mereka tak pedulikan.
“Ceilehhhhh, elo ngapain nonton drama kuno kek gitu, Ngga? Apa elo pengin cewek kek di drama itu? Murahan!” ledek Hanggi pada sahabatnya yang sedang menonton drama romansa di televisi ruang keluarga. Ia juga menekankan kata terakhir dalam ucapannya.
Hal itu membuat Hangga yang sedang menonton televisi dengan posisi tidur miring–menarik lengan gadis itu–dan membuat Hanggi jatuh tepat diatasnya. Tatapan mereka bertemu seketika itu juga.
“Maksud elo apa tadi? Gue murahan?” tanya Hangga dengan tangan tetap memegang lengan gadis itu.
“Murahan sebab elo nonton drama murahan kek gitu,” ucap Hanggi dengan nada lembut, membuat Hangga bisa meleleh seketika itu juga.
“Gue juga nggak bilang kalo elo itu murahan, kok! Cuman mu-ra-han,” lanjutnya.
Saking imutnya wajah Hanggi saat itu, membuat Hangga memeluk gadis itu. Hanggi sudah biasa akan perlakuan sohibnya itu. Memeluk, mencubit hidung, mengacak rambut, dan lainnya.
“Woi! Lagi ngapain lo berdua, ckckck,” ucap Setia ketika memasuki rumah itu dan menyadari Hangga sedang memeluk Hanggi di atas sofa. Hal itu membuat Hangga melepas pelukan itu.
“Semoga Setia nggak mikir yang aneh-aneh!” batin Hanggi. Ia menatap Setia selekat mungkin. Mancari tahu apa yang ada dipikiran pria itu. Meski hal itu tidak bisa ia lakukan.
Hanggi datang ke Rumah Hangga atas perjanjian mereka bertiga. Hangga, Setia, dan Hanggi.
Sewaktu habis olahraga tadi pagi, mereka janjian untuk berkumpul di Rumah Hangga. Kebetulan rumahnya sepi saat ini.
Jordi dan Lenata keluar rumah entah kemana. Sehingga Hangga sendirian. Mungkin karena ia kesepian, ia meminta kedua sohibnya itu untuk datang kerumahnya.
Meski bukan hanya rumahnya yang sepi saat ini, hatinya juga sepi. Sesepi kuburan di malam hari dan sekosong bedug hari raya idul fitri.
“Elo masuk rumah orang salam atau apa kek?!” ketus Hangga menyadari tingkah Setia.
“Hehe,” kekeh Setia yang langsung duduk di sofa dan mengambil camilan yang tersedia di meja.
“Duduk, Nggi!” pinta Setia seraya menarik lengan gadis itu agar duduk. Hanggi duduk diantara Hangga dan Setia.
“Dari tadi berdiri mulu. Gue nggak mikir yang aneh-aneh kok soal kejadian barusan,” lanjutnya. Hal itu membuat Hangga dan Setia lega.
“Apa kalian berdua emang lagi pedekate?” tanya Setia kemudian.
“Enggak, kok,” sahut kedua sohib itu bersamaan.
Setia mengangguk tanda mengerti. “Nggi!” panggilnya.
“Hm.”
“Elo besok mau jalan nggak sama gue! Suntuk di rumah seharian. Cuman berdua. Mau nggak?” tanya Setia pada Hanggi seraya memperhatikan wajah gadis itu.
➰ ➰ ➰
Bersambung...
Thank for reading
Bisa kasih pendapat di komentar
my ig : marselasepty20
Hangga Malik Rifano
👇