NO NAME

NO NAME
P A R T 28 Kesepian



Hangga sudah menceritakan bahwa ia hanyalah anak angkat di keluarganya saat ini pada kedua temannya. Japri dan Kenzo. Untuk teman lainnya ia belum membicarakan hal tersebut.


Hangga, Jordi, Japri, dan Kenzo sudah sampai di depan Panti Asuhan Bina Cipta. Panti asuhan itu terlihat sangat sederhana dengan satu lantai.


Mereka masuk kesana bersama-sama. Jordi mengetuk pintu masuk dan seorang wanita paruh baya membukanya.


"Ada perlu apa, ya? Ada yang bisa saya bantu? Silahkan masuk dulu," ujar wanita itu pada Jordi yang sudah berdiri diatas benda bertuliskan 'WELCOME'.


"Assalamu'alaikum," ucap Jordi, Hangga, dan kedua temannya.


"Wa'alaikumsalam. Silakan duduk!" Wanita itu sangat ramah.


"Begini, Bu. Saya dan teman-teman saya datang kesini untuk mencari tahu soal kejadian sekitar enam belas tahun yang lalu dimana ditemukan seorang bayi laki-laki." Jordi berkata dengan nada tenang.


"Ooh kejadian itu. Memang ada apa ya dengan kejadian waktu itu?" Tampaknya wanita itu sudah tahu sesuatu tentang kejadian itu.


"Ini anak yang dulu ditinggal di panti ini, Bu. Namanya Hangga." Jordi menunjuk adiknya dengan menepuk pundak Hangga.


"Udah besar dan cakep," ucap wanita paruh baya itu seraya tersenyum.


"Jelas...Hangga gitu lho," batin Hangga.


Sementara itu Japri dan Kenzo menahan tawanya. Sa ae lah.


"Saya baru bekerja disini selama satu tahun dan hanya tau sedikit tentang insiden itu. Pengurus panti ini saat itu sudah lanjut usia dan perlu istirahat. Dan kebetulan sekali hari ini beliau sedang berkunjung kesini," jelas wanita paruh baya itu.


"Itu beliau. Bu Asih," lanjutnya seraya menatap seorang nenek-nenek keluar dari ruang dalam dengan tongkat kayu ditangannya.


"Apa kabar, Nek?" ucap Hangga seraya mencium punggung tangan nenek itu.


"Saya Hangga. Bayi yang dulu nenek temukan disini."


"Hangga?" Nenek itu tampak sedang mengingat sesuatu


"Ooh Hangga. Yang ditinggal disini waktu hujan besar. Udah besar ya... Kalungnya dimana?"


Nenek Asih memperhatikan leher Hangga yang tidak memakai kalung apapun. Detik selanjutnya Jordi membantu nenek itu untuk duduk di sofa.


"Ini, Nek." Hangga mengambil kalung yang bersimbol bintang dengan huruf 'H' di bagian tengah.


"Nenek nggak bisa ngasih tau soal kejadian waktu itu atas permintaan kedua orangtua angkat kamu, Nak. Jadi, pake kalung ini saja. Dulu pernah ada wanita yang datang kesini dan mengaku menjadi ibu kandung yang telah meninggalkan kamu disini," jelas nenek itu dengan nada lemah.


"Wanita itu meminta agar kamu memakai kalung itu setiap saat sebab wanita itu akan mencarimu. Tapi kamu udah diangkat orang lain. Sehingga nenek nggak bisa ngasih tahu ke keluarga angkat kamu," tambahnya.


"Lagipula kalau nenek minta hal itu, kedua orangtua angkat kamu tidak akan setuju. Jadi, diam-diam saja kamu pake kalung ini kalau kepengin ketemu sama orangtua kandung kamu." Nenek itu mengusap rambut Hangga.


"Makasih, Nek. Udah mau ngasih tau." Hangga memeluk nenek itu dan tersenyum dibalik pelukannya.


➰ ➰ ➰


 


Dua orang berjalan mengendap-endap memasuki rumah Hanggi. Mereka berdua tampak waswas akan kondisi sekitar.


Setelah berhasil masuk mereka langsung mendapati seorang gadis memicingkan matanya dari arah dapur memperhatikan mereka berdua.


"Bapa, Ibu."


Hanggi berlari memeluk kedua orangtuanya. Ia sangat rindu dengan mereka berdua.


"Sekarang kamu beres-beres, Nak. Kita akan pindah ke Jakarta diam-diam. Disana hidup kamu pasti akan bahagia dan kebutuhan kamu terpenuhi." Ucapan ayah Hanggi membuat dirinya mengernyit tidak paham.


"Hanggi udah bahagia disini, Pa. Jadi, Hanggi bakal tetep disini. Nggak akan pindah ke Jakarta atau kemana pun. Di Jakarta Hanggi nggak kenal sama siapapun. Butuh waktu lama untuk berinteraksi." Hanggi kesal.


"Atau kalian berdua udah nggak mau ngurus Hanggi? Kalo emang bener, nggak usah urus kehidupan Hanggi lagi. Hanggi bisa hidup sendiri."


Plak!!!


Satu tamparan mendarat dipipi kanan Hanggi hingga meninggalkan bekas merah. Gadis itu menangis dan mengusap pipinya kasar.


"Jadi, emang bener kalian nggak peduli lagi sama Hanggi. Silakan aja hidup semau kalian dengan harta yang kalian dapet. Hanggi nggak keberatan hidup sendiri disini."


"Terserah kamu mau nglakuin apapun! Suatu saat nanti kamu pasti bakal nyesel nggak mau ikut ke Jakarta," ucap ibu Hanggi padanya.


"Kita berdua pergi dulu."


Kedua orangtua Hanggi meninggalkan dirinya begitu saja. Hanggi tersentak saat pintu rumahnya ditutup keras-keras oleh sang ayah.


Hanggi bersandar di dinding sebelah pintu dan tubuhnya merosot kebawah. Ia memeluk lututnya yang ditekuk kemudian menangis tersedu-sedu disana.


"Hiks...hiks."


Cklekk


Seorang pria berdiri di ambang pintu dan bisa melihat Hanggi sedang menangis.


"Elo kenapa nangis, Nggi?" tanya pria itu seraya mengelus pundak Hanggi.


"Ada yang nyakitin elo? Atau Setia berulah lagi?"


Hanggi mendongak dan bisa melihat siapa pria itu.


"J-Jiyan."


Hanggi menyandarkan tubuhnya di dada bidang Jiyan. Pria itu memeluk tubuh Hanggi mencoba menenangkannya.


"Orangtua gue udah nggak nganggep gue lagi. Hiks... hiks. Mereka nggak peduli sama gue dan ninggalin gue gitu aja. Hiks...hiks."


"Udah jangan nangis lagi. Entar cantiknya ilang. AW!" Jiyan mendapat cubitan gadis itu disisi perutnya. Masih saja ia menggoda kala gadis itu sedih.


 


Brak


Jiyan membentur meja ruang tamu kala seseorang mendorong tubuhnya kasar.


"Elo nggak papa, Nggi?" Setia mendekati Hanggi yang menatapnya dengan tatapan aneh. Tidak bersahabat.


Hanggi bangkit dari duduknya. "Elo ngapain kesini?! Gue udah nggak ada urusan lagi sama lo!"


Hanggi mulai berjalan mendekati Jiyan dan berdiri di samping pria itu.


"Udah gue bilang jangan deket-deket sama tuh cowok, Nggi. Kenapa sih? Elo nggak ndengerin gue?!" Setia memasang wajah kesal.


Hanggi tertawa ringan dan membalas ucapan pria itu. "Kenapa gue nggak ndengerin elo? Elo aja nggak ndengerin gue selama seminggu lebih. Gue nanya alasan elo njauhin gue nggak dijawab. Gue udah berusaha baik sama elo tapi elo sama sekali nggak ngrespon. Sekarang gue udah jadi orang miskin dan tentunya elo nggak bakalan mau deket-deket lagi sama gue. Cincin yang elo kasih ke gue aja diminta balik."


"Gue nglakuin ini semua karena Hangga, Nggi. Sorry kalo gue nyakitin elo. Gue bukan cowok yang baik buat elo dan udah sepantesnya gue ngejauh." Setia hanya bisa membatin.


"Oke gue emang udah nyakitin perasaan elo. Tapi gue minta jangan deket-deket sama Jiyan."


Setia berjalan mendekati Hanggi dan menarik lengan gadis itu pelan tapi gadis itu langsung menepis tangannya dan memegang lengan Jiyan yang berdiri di sebelah kirinya.


"Gue bakal lebih deket lagi sama Jiyan."


Sakit.


Itulah yang Setia rasakan meski tidak sesakit yang Hanggi rasakan saat ini.


"Dengerin gue, Nggi. Sekali ini aja. Setelah itu gue bakal ngejauh dan nggak ada istilah sahabat-sahabatan lagi antara gue dan elo," lirih Setia yang tidak membuat Hanggi merespon sama sekali.


"Gue pulang dulu." Setia berjalan keluar dari rumah Hanggi.


Sementara gadis itu hanya memandangi punggung Setia yang mulai menghilang dari pandangannya.


"Sorry, Yan. Gue tadi ngomong kek gitu cuman manas-manasi Setia. Nggak ada niatan lain bu-"


Ucapan Hanggi terpotong saat pria itu dengan tiba-tiba memegang dagunya dan mencium bibirnya.


Jiyan mencium Hanggi.


Spontan mata Hanggi terbelalak dan mendorong lengan Jiyan supaya menjauh. Tapi pria itu malah memeluk pinggangnya erat hingga membuat Hanggi tidak bisa melepas perlakuan pria itu pada dirinya.


Kesepian.


Itulah yang saat ini Hanggi rasakan. Semua orang di dekatnya pergi menjauh. Orangtuanya, sahabatnya, dan siapa lagi yang akan meninggalkan dirinya. Hidupnya kini benar-benar kesepian.


➰ ➰ ➰


 


BERSAMBUNG...


SATU KATA BUAT PART INI💕


THANKS FOR READING💕


SEE YOU NEXT PART💕


MY IG : marselasepty20