NO NAME

NO NAME
P A R T 15 Takut Ketinggian



Malam itu...


Zidan mengajak Hangga ke lantai dua rumahnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat lantai itu begitu tinggi. Lantai rumahnya tidak terlalu tinggi. Hingga dirinya tidak merasa takut saat naik maupun turun dari sana. Hangga bisa merinding jika turun dari lantai dua rumah itu. Rumah yang ditinggali temannya yang sedari tadi menatap dirinya heran.


"Ayo naik!" Zidan sampai menarik lengan Hangga. Ia sudah sangat mengantuk. Tidak biasa dirinya tidur pagi.


"Gue takut ketinggian."


Tiga kata itu mampu membuat Zidan bergeming kemudian tertawa. Bukan tertawa biasa. Melainkan terbahak.


Baru kali ini Hangga melihat Zidan yang tampangnya cool tertawa puas.


"Laknat. Temen sendiri elo ketawain." Hangga memaki temannya itu.


"Abisnya elo kenapa bisa takut ketinggian? Padahal elo sering naik ke rofttop gedung sekolah. Tapi ternyata oh ternyata. " Zidan tertawa.


"Mana kamarnya gue udah ngantuk."


Zidan menunjukkan kamar tamu untuk temannya itu. Bukan dilantai dua sebab Hangga takut ketinggian. Tapi dilantai satu. Zidan hanya tinggal di rumah itu bersama ibunya. Ayahnya sudah menikah dengan wanita lain.


➰ ➰ ➰


 


Hari Kamis. SMK Maju Jaya Purwokerto memakai jas kebesarannya. Jas berwarna merah marun dengan dalaman kemeja putih. Untuk bawahan baik siswa maupun siswi memakai celana hitam.


Setia berangkat bersama Hanggi. Ia menunggu Hanggi dari halaman rumahnya. Malam itu Hanggi tidur di rumah sendirian. Meski pintu digedor berkali-kali, Hanggi membiarkan hal itu. Ia sudah tahu itu Setia. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun tidur di rumahnya lagi. Terutama pria.


"Elo semalem tidur sendirian? Padahal gue udah dateng kesana. Tapi pintunya nggak elo buka." Setia berjalan beriringan dengan Hanggi.


Hanggi hanya tersenyum.


"Setia!" Panggilan seseorang membuat Setia dan Hanggi menoleh ke arah itu.


Didapati Aurel dengan dandanan menor dan rambut digerai berjalan mendekati mereka. Berbeda dengan Hanggi yang mengikat rambutnya ala ekor kuda.


Setia bergidik geli dan Hanggi melengos pergi. Setia mengikuti Hanggi dan Aurel mendengus. "Arga tungguin." Aurel berjalan di hadapan Setia. Ia berjalan mundur saat pria itu tidak berhenti.


"Minggir!"


"Nggak mau!"


"Jangan panggil gue Arga!"


"Nggak mau!"


Hanggi berbelok ke arah koridor gedung enam. Dan Setia berhenti.


"Mau ngapain?" tanya Setia pada Aurel.


"Jus mangga. Elo suka ini, kan?" Aurel menggoyang-goyangkan sebotol jus manga di depan wajah Setia.


Setia meneguk salivanya merasa ingin saat ini juga ia meminum jus itu. Ia bingung. Antara gengsi dan haus. Minuman itu adalah kesukaannya.


Hangga berjalan menyusuri koridor dengan membawa sebotol minuman yang sama dengan Aurel. Lalu ia memperhatikan Hanggi yang keluar dari kelas dengan wajah manyun sedang menyaksikan kedua manusia di depan gedung. Hangga peka. Tidak seperti Setia.


"Ayo ambil. Atau mau minumin ini ke elo?" Aurel masih memegang botol jus itu.


"Setia!"


Setia menengok saat suara familier itu menyebut namanya.


"Gue bawa jus mangga. Elo mau nggak?" Hanggi menunjukan botol minuman berisi jus mangga ke arah Setia. Setia langsung saja melenggang pergi mendekati Hanggi.


"Iiiih Setia! Kok elo lebih milih jus itu sih? Gue udah bawain ini untuk elo. Setiaaaa gue kesel sama elo." Aurel menghentakkan kakinya kesal, memanyunkan bibir, dan berbalik menuju kelasnya.


"NGAGETIN TAU NGGAK?" Aurel tersentak ke belakang saat Zidan tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Tau," jawab Zidan polos. Ia mengira itu adalah benar-benar pertanyaan. Sehingga ia menjawab.


Disamping kanan Zidan ada Japri dan Kenzo.


"Jus mangga." Zidan memperhatikan isi botol itu. "Buat lo." Ia memberikan botol itu pada Japri.


Tentu Japri menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Bro." Japri terkekeh, membuka botol itu, dan meneguknya.


"Ehk!" Japri tersedak saat Kenzo jahil dengan mendorong kasar botol itu masuk ke mulut Japri.


Kenzo dan Zidan hanya tertawa. Sementara itu Setia dan Hanggi menggeleng kepalanya seraya tersenyum miring.


Dan Hangga tersenyum singkat. Tidak bisa dikatakan senyum jika tidak memperhatikan dengan detail. Ia sengaja memberikan jus itu pada Hanggi. Padahal itu jus dari Lenata. Gadis kecil itu rela membuatkan jus mangga untuk dirinya. Dengan alasan supaya Hangga tidak sering ngambek dan pergi begitu saja dari rumah. Adik yang baik.


➰ ➰ ➰


 


Hari ini memang SMK Maju Jaya mengadakan bazar makanan maupun minuman tradisional. Kegiatan itu memang sudah menjadi tradisi setiap tahun sekali. Dan bazar itu hanya berlaku untuk kelas XI sebagai penjual. Sementara kelas XII menjadi pembeli sebab setahun yang lalu sudah berperan sebagai penjual. Dan kelas X menjadi pembeli seperti kelas XII dan setahun kemudian baru mereka yang menjadi penjual dalam acara bazar Juya Pwt. Bazar Maju Jaya Purwokerto.


Stand untuk para penjual sudah berdiri rapi. Ada sekitar tujuh belas stand. Sebab terdapat tujuh belas kelas XI dari berbagai jurusan. Akuntansi 3 sudah ramai pengunjung sejak jam sembilan pagi. Acara dimulai pukul setengah sembilan.  Banyak murid yang  berangkat siang. Alasannya karena gerbang sekolah tetap terbuka lebar sampai acara itu selesai jam dua belas nanti.


"Ayo dibeli. Jangan malu-malu. Beli satu gratis foto sama bang ganteng Zidan Meidan Zulfana." Japri dengan pedenya menawarkan dagangan pada pembeli. Membuat pembeli malu-malu tapi tetap beli.


Sementara Zidan hanya duduk sambil memainkan handphone-nya. Tidak menggubris ucapan Japri akan dirinya. Sudah banyak siswi yang berfoto dengan dirinya.


"Gethuk lima ribu sama mendhoan sepuluh ribu," ucap Feni seraya memberikan sekresek makanan pada pembeli. Ia tersenyum setelah pembeli itu menerima pesanannya.


Dan Hanggi menerima uang hasil penjualan memberikan pada teman lain untuk dicatat. Setia menggoda para penjual terutama siswi dan Hangga pun sama.


"Nggak foto dulu sama Zidan? Gratis lho." Hangga menggoda pembeli yang barusan hendak beranjak tanpa meminta foto dengan Zidan.


"Laaris maanis," ujar Kenzo yang tiba-tiba datang ke stand kelasnya. Ia sibuk mengurusi kegiatan itu sebab dirinya menjadi ketua OSIS.


"Iya dooong," sahut beberapa teman kelasnya.


Kenzo berkacak pinggang sebelah dan memperhatikan Zidan yang sedari tadi duduk manis. "Elo nggak bantu, Dan?" tanyanya seraya membenarkan posisi kacamata.


Zidan mendongak dan hendak menjawab. Tapi baru saja ia A, teman-temannya sudah menyahut duluan.


"Justru Zidan banyak membantu, Ken. Beli satu mendhoan, gratis foto sama Zidan." - Japri.


"Bahkan ada yang ninggalin uang kembalian. Katanya demi Zidan tercinta. Eahhhh," - Feni.


"Nggak cuman Zidan. Kita juga. Ya nggak, Set?" Hangga menaik-turunkan alisnya seraya menatap Setia.


"Jelas. Justru gue yang paling berpengaruh. Zidan maaah, dibawah gue," ujar Setia dengan tampang percaya dirinya.


Dan murid Akuntansi 3 lainnya hanya tertawa melihat tingkah kelima siswa yang menjadi anggota kelasnya. Justru karena lima siswa itu dari jurusan Akuntasi, menjadi mudah dikenali sebab jarang sekali murid laki-laki memilih jurusan Akuntansi. Dan itu salah satu sebabnya kenapa Hangga dan Setia menjadi most wanted karena sikap kurang baik. Ketiga siswa lainnya manjadi terkenal tentu karena kedisiplinan. Meski terkadang tak disiplin.


➰ ➰ ➰


Bersambung...


💕Satu kata buat part ini💕


💕Thanks for reading💕


💕See you next part💕


💕my ig : marselasepty20💕


 


👇