Nayara

Nayara
•S2•(12)•



Sudah tiga puluh menit Naya duduk diam menunggu Gavin dan Zidan yang tengah mendiskusikan berkas yang di bawa Zidan sebelumnya. Beberapa kali Zidan mengamati Gavin yang kadang menatap Naya lebih dari tiga detik, tapi Zidan sama sekali tak ingin menegurnya.


"Apakah ini sudah semua?" tanya Gavin pada Zidan.


Zidan mengangguk. "Sudah Pak, kemungkinan berkas selanjutnya akan saya bawa beberapa hari lagi!" ujar Zidan.


"Baiklah, saya ingin istirahat sekarang." Zidan reflek menahan tangan Gavin, agar tidak kembali dulu ke kasur rawatnya.


"Apa Pak Gavin tidak ingin bicara dengannya, dia sudah lama ingin bertemu Pak Gavin," jelas Zidan mencoba membujuk Gavin.


"Dia bisa bicara sendiri jika ingin bertemu dengan saya." Gavin akhirnya benar-benar pergi ke kasurnya tanpa memperdulikan raut Zidan yang agak kaget dengan sikap dinginnya.


Naya tentu saja mendengar percakapan Gavin dan Zidan. Ia di tolak lagi, dan ia tak bisa membantah itu. Naya menatap punggung Gavin yang berbaring membelakanginya, ingin sekali ia memeluk punggung itu, tapi ia masih belum memiliki keberanian untuk melakukannya.


Zidan pun berdiri dari duduknya, ia menghampiri Naya yang duduk di sofa paling pojok. Menyadari Naya sedih, Zidan menepuk bahu Naya dan memintanya ikut berdiri.


"Saya akan minta bantuan dari Pak Angga untuk membantu kamu membujuk Pak Gavin."


"Tidak perlu Zidan, seperti kata Gavin. Harusnya saya bisa melakukannya sendiri," balas Naya seraya memasang senyum terpaksanya.


"Kamu bisa tinggalkan saya sendiri dengan Gavin?!" tanya Naya.


Zidan menghela napasnya. "Baiklah, saya akan tunggu kamu di luar." Zidan beranjak pergi keluar dari ruangan rawat Gavin, sedangkan Naya berdiri dan menghampiri Gavin yang tentu saja tidur membelakanginya.


"Vinn.."


"....."


"Aku ga mau maksa kamu buat maafin aku lagi, aku juga harus tahu diri untuk ke depannya. Semua ini emang salah aku, aku yang ga bisa perjuangin hubungan kita,"


"Tapi kamu harus satu hal..." Naya menggantung ucapannya.


"Berhenti bicara bertele-tele," ujar Gavin akhirnya menyahut.


"Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja." Naya mengeluarkan map coklat dari tas yang ia bawa.


"Aku harap kamu mau liat surat ini dulu," ucap Naya ragu-ragu. Entah bagaimana reaksi Gavin setelah melihat surat ini, yang jelas Naya akan pasrah saja.


"Surat apa lagi? Hubungan kita sudah selesai. Apa kamu ingin meminta harta?! Bukannya keluarga Abyasa memiliki banyak harta?!" Naya mengernyit tak habis pikir, ia langsung menaruh surat itu di atas nakas samping kasur rawat Gavin.


"Lihat sendiri saja!" ujar Naya lalu beranjak pergi. Ada rasa kecewa setelah mendengar kata-kata Gavin barusan, bisa-bisanya Gavin berpikir dirinya menginginkan harta.


--


"Zidan, kita pulang saja." sahut Naya ketika keluar dari ruang perawatan Gavin. Ia melangkah mendahului Zidan yang masih terlihat bingung. Tentu saja Zidan bingung, pasalnya yang tadi bersikap dingin itu Gavin, kenapa sekarang malah Naya.


"Apa kamu yakin baik-baik saja?" tanya Zidan ketika dirinya dan Naya sudah berada di dalam mobilnya.


"Iyah," jawab Naya datar.


"Sebenarnya apa hubungan kamu dengan Pak Gavin?" tanya Zidan lagi, sebenarnya ini tumben sekali Zidan mau kepo tentang urusan orang lain.


"Saya istrinya" Zidan melongo mendengar jawaban Naya.


"Kamu serius?" Naya mengangguk datar lagi.


"Tapi mungkin sebentar lagi itu hubungan itu benar-benar akan lenyap" gumam Naya sukses membuat Zidan tak bisa berkata-kata lagi.


Dan akhirnya Zidan pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang, ia mengantar Naya pulang.


•••


Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕