Nayara

Nayara
Bab 25



Dika membawa Andre ke taman kota. Sepi, hanya terdapat beberapa orang pejalan kaki yang melintasi taman itu.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Andre, tatapan nya sinis, ucapan nya juga tajam.Mungkin efek emosi yang masih berkibar di dalam hatinya, karena melihat Reni bersama orang lain.


"Dre, Lo sadar gak sih? Reni itu bukan baik baik buat Lo!"


"Dia itu hanya wanita yang suka memanfaatkan pria kaya. Termasuk Lo!" sambung Dika.


"Gue capek, gak mau bahas soal dia!" balas Andre hendak pergi, tapi di tahan oleh Dika.


"Dre, wanita di masa lalu lo itu Nara. Bukan Reni! apa Lo benar benar tidak mengingat tentang kisah kalian ???"


Langkah Andre terhenti, ia berbalik badan menghadap ke Dika.


"Lo gak usah mengada ada deh Dika. Gue tahu Lo memihak sama wanita jelek itu kan?" dengus Andre mengira Dika sengaja mengatakan hal itu agar dirinya tidak membenci Nara.


"Lo percaya atau tidak, tapi itu fakta nya man. Gue bukan ngebelain dia, tapi dia memang benar Andre!"


Dika melangkah mendekati Andre, berdiri di depan nya dengan tatapan lurus ke manik Andre.


"Lo harus tahu, penyebab wajah nya jelek. Lo juga harus tahu man, kenapa bokap dan mendiang nyokap Lo sangat menyayangi Nara" ungkap Dika.


Andre terdiam, membiarkan Dika meneruskan ucapan nya.


"Sejak kecil, Nara sudah menyukai Lo. Mencintai Lo. Melakukan apapun demi membuat Lo menyukai nya.


Tapi, Lo malah selalu memarahinya. Memakinya karena dia selalu mengikuti kemana Lo pergi.


Asal Lo tahu yah Dre, Nara yang kena gigit ular ketika kemping dulu itu, demi menyelamatkan Lo! Nara yang selalu memperhatikan Lo, melihat seekor ular berjalan kearah lo. Dia dengan cepat menghalanginya dan pergi secepat mungkin dari hadapan Lo. Lo tahu kenapa????"


Andre tak menjawab, ia sangat terkejut mendengar ucapan Dika.


"Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Lo, dia hanya memperlihatkan keceriaan nya di mata Lo, meskipun Lo selalu membentaknya."


Tertunduk, fakta ini membuat Andre merasa terpukul.


"Ada satu hal yang mungkin akan membuat Lo lebih terpukul lagi" sambung Dika.


Andre menatap nya penasaran, apa lagi yang gadis itu lakukan untuk dirinya.


"Wajah Nara menjadi jelek itu karena Lo!"


"Huh? karena gue? kenapa Lo nyalahin gue?" sela Andre.


"Di hari kecelakaan Lo, Nara ikut bersama kedua orang tuanya untuk menjemput Lo di bandara. Tidak sengaja terjadi kecelakaan. Demi menyelamatkan Lo yang terperangkap di dalam mobil yang akan meledak, Nara nekat mendekati mobil dan berusaha menyelamatkan Lo meskipun dia juga dalam keadaan terluka. "


"Apa...???" Mulut Andre terbuka lebar, hatinya terasa tertusuk pisau.


"Yang menyedihkan adalah, di saat Lo tersadar, Lo malah lupa tentang kedekatan kalian. Lo menatapnya penuh kebencian dan rasa jijik. Lo malah mencaci dan memaki dirinya yang buruk rupa!"


"Stop!!! cukup Dika, jangan bicara lagi!!" teriak Andre tidak tahan mendengar betapa jahat nya dirinya pada Nara.


"Arrrgggg!!!!" Andre memegangi kepalanya, rasa sakit itu kembali menyerangnya.


"Di saat itu, Nara merasa sengat hancur, kedua orang tuanya meninggal, dan Lo?? orang yang sangat ia cintai, malah melupakan nya!"


"Arrrg.... Stop!!! Stop!!!" teriak Andre.


Namun, Dika tampak sengaja melakukan nya, ia tidak tahan lagi melihat sikap Andre terhadap Nara yang sudah banyak berkorban.


Kemarin Dika sudah mendatangi dokter yang merawat Andre, Dika menanyakan perihal kesehatan Andre, apa tidak masalah jika pria itu di paksa untuk mengingat masa lalunya.


Bersyukur dokter mengatakan tidak apa apa, tapi akan lebih baik membiarkan Andre mengingatnya sendiri.


Karena sikap Andre yang semakin menjadi, membuat Dika tidak tahan lagi.


Bruk~


Andre jatuh di atas rerumputan taman.


"Andre..." panggil Dika pelan. Tapi, Andre tak bergerak, bahkan tidak menyahutinya.


"Andre!!!!!" panggil Dika sembari menggoyang goyangkan tubuhnya.


"Astaga dia pingsan!!" pekik Andre panik, ia langsung memapah Andre menuju mobil nya, lalu membawa pria itu ke rumah sakit.


...----------------...


Nara terbaring di atas ranjang, pipinya tampak sembab, air mata sudah mengering di pipinya.


Drrttttt .....Drrttttt.....


Nara mengabaikan getaran ponsel miliknya di atas nakas, ia sangat malas menggerakkan tangan nya untuk menggapai benda pipi itu.


Drrrrttt......Drrttttt.....


"Ah, siapa sih? mengganggu saja!" gerutunya bergerak malas.


Ketika melihat mama Dika terpampang jelas di layar ponselnya. Nara langsung menggeser tombol hijau.


"Hallo kak?"


Deg!.


Jantung Nara seakan berhenti berdetak, ada firasat yang tidak baik di hatinya.


"Siap yang sakit kak? kakak baik baik saja kan??"


"Aku baik baik saja Nara, tapi Andre"


Duaarrrr......


Seakan waktu berhenti, seakan jantung nya meledak. Ketika Nara mendengar nama Andre di sebut.


"Andre kenapa kak? apa yang terjadi padanya?"


"Kamu tenang dulu Nara,lebih baik kamu ke sini bersama om Bagas"


"Baiklah, kirim alamat nya. Aku akan segera ke sana!"


"Ok Nara,kita bertemu di sana nanti yah"


Klik.


Nara buru buru membasuh wajah nya, Tampa menambah riasan. Gadis dengan bekas luka bakar di wajah nya langsung bergegas pergi ke rumah sakit yang Dika katakan.


Sebelum berangkat, Nara menyempatkan diri, untuk menghubungi mertuanya.


...----------------...


Dika tiba di rumah sakit, dengan sigap para perawat langsung membantu nya membawa Andre ke ruangan UGD, saat melihat mereka masuk ke dalam rumah sakit.


"Tolong selamatkan teman saya"


"Baiklah pak,silahkan tunggu di luar" tahan suster saat Dika juga ingin ikut masuk ke dalam.


"Tapi, teman saya akan baik baik saja ka"


"Iya pak,kami akan melakukan yang terbaik!"


Pintu ruangan UGD tertutup, Dika tinggal sendirian di luar ruangan Andre di tangani dokter.


"Semoga Lo gak papa yah, sempat Lo kenapa kenapa, gue gak bakal bisa memaafkan diri gue sendiri" batin Dika menatap pintu yang sudah tertutup rapat.


Tap tap tap....


Nara tiba di rumah sakit, langkah nya semakin cepat, ketika melihat Dika berdiri di depan ruangan UGD.


"Kak!!"


Dika menoleh, ia ikut melangkah mendekat kearah Nara.


"Mana Andre kak? apa yang terjadi? kenapa dia bisa masuk rumah sakit?" tanya Nara bertubi tubi.


"Sttt...Nara tenang dulu, aku gak bisa menjawab jika kamu terus bertanya"


"Hiks....Hiks...Kak, "


"Ssst....Ssst...Sudah yah, kamu jangan menangis, Andre tidak apa apa, hanya saja tadi dia pingsan" jelas Dika.


"Pingsan?" Dika mengangguk.


"Kenapa kak re bisa pingsan?" tanya Nara dengan nafas masih tersengal.


"Nara, maaf. Aku tidak bisa menepati janji ku pada mu. Aku tidak tahan lagi." kata Dika menunduk di hadapan Nara.


Deg.


Nafas Nara mulai tercekat, ia tidak mampu menebak apa yang telah Dika lakukan.


"Maaf Nara, aku sudah mengatakan semuanya pada Andre!"


Duarrr!!!!


Jantung Nara seakan meledak, ia bukan tidak senang Andre mengetahui segalanya, tapi yang Nara takutkan adalah keselamatan Andre.


Setahu Nara, Andre tidak boleh memaksa otak nya untuk mengingat memori yang ia lupakan. Karena itu akan mengancam nyawa Andre.


"Kak, kamu gila yah? kamu mau bunuh Andre????" teriak Nara.


"Tidak Nara!" bantah Dika.


"Lalu, apa maksud kakak melakukan semua ini??? kakak kan tahu, dokter melarang nya!"


"Aku tahu Nara, tapi aku juga sudah berkonsultasi pada dokter nya. Dia mengatakan jika Andre tidak akan mati karena hal ini. Andre hanya akan mengalami sakit di kepalanya dan kemungkinan masuk rumah sakit. Itu saja" jelas Dika.


Nara terdiam, ia ambruk di lantai.


Lagi dan lagi, Nara meneteskan air mata.


"Hiks...Hiks....Kak Andre..." hanya itu yang keluar dari mulut Nara.