
Setelah merasa baikan, malam harinya Gavin meminta Bima untuk mengantarnya pulang ke apartement nya, dan kali ini dia sudah pulang bersama Naya tentunya.
"Makasih yah Bim!" ucap Naya ketika Bima hendak melajukan mobilnya.
"Iyah sama-sama, gue pulang yak" balas Bima.
"Makasih mbloo!" sahut Gavin dan dibalas anggukan pasrah oleh Bima, dia sudah kebal di bilang jomblo.
"Nay bantuin dong!!" pinta Gavin merentangkan tangannya, kode minta di rangkul.
"Apaan sih orang lagi rame gini!" sentak Naya.
"Oh jadi kamu sukanya yang sepi-sepi?" goda Gavin.
"Serahmu Vin, ayo jalan sini!" suruh Naya.
"Bantuin Nay, aku ini lagi lemah ga bertenaga" pinta Gavin lagi, sebenarnya itu hanya alasannya saja agar Naya mau merangkulnya.
Naya menghela nafasnya kemudian mendekat ke Gavin, dia melingkarkan satu tangannya di pinggang Gavin dan mulai berjalan ke apartement mereka yang berada di lantai tiga.
Sampai di apartement Gavin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan Naya memilih ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Lima menit kemudian dia sudah keluar dengan setelan baju tidurnya, Gavin yang melihat Naya tersenyum sesaat, kemudian memanggilnya untuk mendekat.
Naya ikut merebahan tubuhnya di samping Gavin, dan tiba-tiba saja Gavin langsung memeluknya dengan manja, bahkan wajahnya dia sembunyikan di lekuk leher Naya.
Naya tersenyum tipis melihat tingkah Gavin yang seperti ini, dia mengusap lembut kepala Gavin berharap suaminya itu merasa nyaman.
"Badan kamu masih hangat Vin, besok ga usah sekolah dulu yah"
"Besok subuh paling udah sembuh Nay, tenang aja"
"Tapi kalau masih belum mendingan ga usah sekolah dulu yah!" pinta Naya.
"Asal kamunya temenin aku di apartement aku mau"
"Yee itu mah mau-mau kamu aja, manja!"
"Biarin, kapan lagi liat seorang Gavin Nikola Wijaya manja kayak gini! Kan jarang"
"Betewe aku kangen banget sama kamu Nay"
"Apaan sih, orang cuma dua hari ga ketemu!"
"Ya emang, tapi aku kangen tidur bareng sama kamu"
"Udah-udah, cepet tidur ga usah banyak bicara lagi" suruh Naya.
Gavin menghelas nafasnya dan langsung mengangguk pasrah seperti anak kecil yang disuruh tidur oleh ibunya.
"Vin.." panggil Naya dan Gavin langsung mendongak menatapnya.
"Kalau kamu tidurnya gini tangan aku sakit banget tau!" protes Naya pada Gavin yang masih setia berbaring di lengannya.
"Oh iya lupa, abis nyaman sih. Sini gantian" balas Gavin lalu menarik Naya untuk berbaring di lengannya, yang di tarikpun tidak menolak sama sekali.
°°
Pagi harinya Naya dan Gavin pergi ke sekolah seperti biasa, mereka berdua melewati koridor bersama. Saat mereka melewati mading sekolah mereka tak sengaja mendengar dua siswi yang sedang bergosip ria pagi-pagi.
"Enak banget yah jadi Naya, bisa deket sama Ezhar"
"Naya pantes sih dapetin itu, secara dia kan setara sama Ezhar yang pinternya ga kebayang. Liat aja nih mereka menang di olimpiade kemaren" jelas salah satu siswi itu seraya menunjuk foto Naya dan Ezhar yang di pajang di mading sekolah.
"Iyah, mereka kelihatan serasi banget disini. Curiga rumor mereka pacaran beneran deh?!"
"Gak!!" sela Gavin dengan suara dinginnya.
Dua siswi tadi menoleh pada Gavin yang sudah menatap tajam pada mereka berdua, raut ketakutan terlihat jelas di wajah mereka berdua.
"Ga-gavin, lo kenapa marah? Kita kan ga ngehujat Naya" ucap siswi itu dengan nada takut.
"Iyah Vin, kita berdua ga ngehujat sepupu lo kok!"
"Pergi lo berdua!!" sentak Gavin, dan tanpa menunggu waktu lama lagi dua siswi itu langsung lari katakutan, sungguh bermasalah dengan Gavin bisa jadi hal tersial yang akan kalian alami.
"Vin kamu ga boleh gitu, kan mereka ga tau" jelas Naya seraya mengusap lembut bahu Gavin agar emosinya mereda.
"Emang ada suami yang seneng kalau istrinya dipasangin sama orang lain?!" tanya Gavin datar membuat Naya diam seribu bahasa. Naya tak kunjung merespon ucapannya Gavin membuatnya langsung berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu sendirian di depan mading.
Naya menghela nafasnya lalu kembali mengejar Gavin hingga langkahnya setara dengan Gavin. Naya melirik wajah Gavin dari samping, dia tahu Gavin cemburu dan hal itu sudah biasa terjadi. Ketika seperti ini biasanya Gavin paling suka di bujuk, tapi dia tidak mungkin membujuknya di sekolah, takut ketahuan.
"Aku masuk kelas yah!" sahut Naya ketika sampai di depan kelasnya, tapi sayang Gavin tak memperdulikannya. Dia malah terus berjalan hingga masuk ke kelasnya.
"Gavin Gavin kapan sih kamu ga ngambekan lagi?!" gumam Naya kemudian masuk ke dalam kelasnya.
Masuk di dalam kelas pandangan Naya langsung bertemu dengan pandangan Luna. Gadis itu menatap Naya dengan wajah sendu. Entahlah, mungkin dia sudah menyadari kesalahannya.
Jam istirahat pertama akhirnya tiba, Naya memasukkan bukunya ke dalam laci begitupun dengan Riana yang duduk di sampingnya.
"Makan apa yah hari ini!" gumam Riana terlihat berpikir ala-ala.
"Paling juga makan bakso" celetuk Naya.
"Hehe kok tau, kamu peramal yah?!" goda Riana seraya merangkul bahu Naya.
Belum sempat Naya membalas ucapan Riana, tiba-tiba Luna langsung duduk di kursi yang berada di depan mereka.
"Nay.. Gue mau ngomong sama lo"
"Soal apa Lun? Soal kamu dan Gavin yah? Kata Gavin dia bakal jelasin semuanya barengan sama kamu"
"Gavin ngomong gitu?"
"Iyah. kalau mau, yuk ke kantin bareng, siapa tahu ketemu Gavin disana" ajak Naya seraya tersenyum membuat Luna tak enak hati.
Saat Naya beranjak dari kursinya tiba-tiba Luna menahan tangannya "Lo ga marah sama gue?!" tanya Luna.
"Aku pengen denger penjelasan kamu sama Gavin dulu, mending kita ke kantin aja" balas Naya dan dibalas Luna dengan anggukan mengerti.
Dan akhirnya mereka berempat termasuk Lira pergi ke kantin bersama.
•••
Jangan lupa kasih like dan komen yah guys :)
Makasih udah baca sampai disini, sayanghee♡♡♡♡