Nayara

Nayara
•47•



Semester lima telah di tiba, terlihat gadis yang begitu bersemangat dengan buku-buku di mejanya yang tertumpuk rapi. Jangan tanyakan siapa gadis itu, tentu saja Nayara.


"Nay ke kantin yuk!"


Naya menoleh ke samping menatap gadis yang baru saja menegurnya.


"Bentar Na, aku nandain materi buat minggu depan dulu" balas Naya mendapat lenguhan kesal dari Riana.


"Yaudah deh aku tungguin" percuma memaksa Naya, itu tidak akan mempan. Riana tahu itu.


Naya tersenyum kemudian mengangguk pelan, dia mengembalikan atensinya ke buku-buku yang ada di mejanya.


"Eh Nay, Gavin dateng" tegur Riana seraya menepuk pelan bahu Naya.


Sontak Naya menoleh ke arah pintu, dan disitu sudah ada Gavin yang berdiri dan tersenyum. Naya meringis, kenapa Gavin harus seperti ini. Semenjak berekelahi dengan Ezhar di acara Bima, dia sama sekali tak membiarkan Naya jauh dari jangkauannya.


Naya memberikan isyaratnya agar Gavin menunggu dulu, ia harus menyelesaikan urusannya dulu.


--


"Udah, ayuk Na!" ajak Naya dan langsung di angguki oleh Riana.


°°


Sampailah mereka di kantin, Gavin yang duduk di depan Naya sama sekali tak menyentuh makanannya yang sudah datang daritadi. Dia hanya sibuk memandangi wajah Naya yang sedang menikmati makanannya.


"Vin lo ga makan?" tegur Dean tapi Gavin sama sekali tak menggubrisnya.


"Yaudah, makanan lo gue makan yah!"


Plak...


Gavin langsung menepis tangan Dean yang hendak mengambil mangkuk mie ayamnya.


"Hais pelit lo!" ujar Dean kecewa.


Naya yang sudah selesai dengan aktivitas makannya, tiba-tiba kaget ketika Gavin menyodorkan mangkuk mie ayam di hadapannya.


"Aku udah kenyang Vin.."


"Lagian kamu kenapa ga makan?!" tanya Naya menautkan kedua alisnya.


"Udah kenyang liatin kamu" jawab Gavin seraya meraih es teh Naya dan meminumnya tanpa permisi.


Bima dan Dean berdecih bersamaan mendengar jawaban Gavin, sedangkan Riana hanya tersenyum geli. Bisa-bisanya seorang Gavin berbicara seperti itu di depan mereka.


"Ga mau tau, kamu harus makan! Cepet aku tungguin" titah Naya menyodorkan mie ayam Gavin kembali. Mau tak mau yang di sodorkan mie ayam tak bisa membantah lagi.


--


"Eh lo bedua masuk jam olahraga nggak? Katanya kita masuk kelas gabungan, soalnya Pak Abi lagi sakit"


"Gue mah ngikut aja Bim, minggu pertama sekolah kayaknya jangan bolos dulu" jawab Dean diikuti cengiran kudanya.


"Lo Vin?"


"Nggak, males gue. Nggak bawa baju olahraga juga!"


Seketika Naya langsung menatap tajam ke Gavin, dia paling tidak suka kalau Gavin bolos. Mendapat tatapan intimidasi dari Naya tentu saja Gavin langsung kicep, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum kikuk.


"Padahal kelasnya di gabung sama kelas Naya lho, kelas IPA 1" celetuk Bima sukses membuat Gavin langsung menoleh.


"Yan baju lo gue pinjem!" ujar Gavin tiba-tiba.


"Anjjir tadi katanya nggak mau!" timpal Dean.


"Yah kan tadi, sekarang mau!"


"Terus gue pake baju siapa kalau lo make baju gue?!"


"Gue bogem yeh, siapa yang pengen bolos. Orang gue pengen liat cewek-cewek cantik IPA 1"


"Terus gue gimana?" Dean menengahi.


"Udah, lo pura-pura sakit aja dulu!" ujar Gavin seraya menepuk-nepuk bahu Dean.


Dean terlihat menimbang-nimbang jawabannya, "Okedeh gapapa, sebagai gantinya besok lo harus traktir gue!"


"Gampang!!" Gavin mengulas senyum bahagianya. Kapan lagi bisa sekelas dengan Naya, itu moment langka, tidak boleh di lewatkan.


°°


Jam olahraga akan di mulai lima menit lagi, sudah banyak murid yang berkumpul di lapangan. Ada yang sibuk pemenasan ada juga yang duduk santai di pinggir lapangan dan Naya adalah salah satunya.


Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang tidak di sukai Naya, ini adalah satu-satu pelajaran yang tidak dia sukai di sekolah. Selain di haruskan memakai celana, Naya juga tidak suka terlalu banyak berkeringat. Dia lebih suka berkutat dengan buku kimia daripada berkutat dengan lapangan olahraga. Sungguh itu berbanding terbalik dengan Gavin yang notabene nya anak tim basket.


Gavin yang baru saja dari ruang ganti baju datang menghampiri Naya. Langkahnya tentu saja di iringi tatapan kagum dari siswi-siswi manja yang sudah lama mengaguminya.


"Ayo pemanasan dulu, Pak Adam ga lama lagi dateng" ajak Gavin seraya menjulurkan satu tangannya ke Naya.


Naya menggeleng, dia masih ingin duduk. Lagi pula pemanasan bisa dilakukan setelah Pak Adam datang.


"Ayoo"


"Ga mau Gavin"


Sontak Gavin langsung menarik kedua tangan Naya agar berdiri.


"Ap--"


"Istri ketua tim basket ga boleh males olahraga!" peringat Gavin dengan suara pelannya, tentu saja dia tidak ingin yang lain mendengar ucapan nya barusan.


--


Pelajaran olahraga hari ini adalah  badminton. Hampir semua murid bersemangat dengan olahraga ini kecuali Naya, dia sama sekali tidak memiliki bakat apapun dalam bidang olahraga, bahkan olahraga yang mudah sekalipun.


Rautnya benar-benar datar ketika Pak Adam mulai mengintruksikan semua murid untuk pemanasan.


Selesai dengan pemanasan, Pak Adam menjelaskan cara-cara bermain badminton yang benar. Kemudian tak lama dia meminta para murid berhitung sampai 30 dalam dua kali putaran, karena kelas IPA 1 dan IPS 1 harus menghitung secara terpisah.


Siapa yang mendapat angka yang sama, maka akan menjadi partner  dalam olahraga badminton kali ini.


Gavin yang tadinya berdiri paling belakang tiba-tiba berlari ke depan, hal itu tentu saja menyita perhatian Pak Adam, membuatnya langsung berkecak pinggang.


"Kamu kenapa pindah ke depan Gavin?!" tanya Pak Adam.


"Saya budeg Pak, takut ga kedengaran kalau menghitung!" alasan Gavin mendapat gelengan kepala dari Pak Adam, ada-ada saja..


Di sisi lain, Naya yang berada di barisan paling depan lebih tepatnya di barisan anak IPA, tak bisa menahan senyumnya. Dia tahu kenapa Gavin pindah ke depan, tentu saja agar mendapat angka yang sama dengan nya. Mungkin beberapa murid juga sudah bisa menebak gelagat Gavin barusan.


Dan yah, Gavin dan Naya menjadi partner badminton. Banyak tatapan iri mengarah ke mereka berdua, bagaimana tidak, mereka berdua terlihat begitu serasi. Untung saja fans Gavin dan Naya tahu kalau mereka hanya sepupu, iyah! Sepupu di sekolah.


"Mainnya gak gitu sayang, sini.." tegur Gavin menghampiri Naya.


Sungguh pemandangan yang sempurna jika saja orang-orang tahu kalau Gavin dan Naya bukanlah sepupu. Andai saja..  Andai saja..


•••


G B


A U


V C


I I


N N