
Di sebuah ruangan rawat rumah sakit, terbaring seorang pria tampan.
Sebelah kanan pria itu, terdapat seorang wanita cantik, dengan wajah terdapat luka bakar.
Siapa lagi kalau bukan Nayara, gadis baik hati yang memiliki cinta besar untuk pria tampan.
"Kapan kau bangun ka?"
"Aku di sini, menunggu kamu membuka mata dan menatap ku lagi. Tidak masalah jika kau membenci ku, asalkan kamu bangun dan kembali menjadi suami brengsek" Nara menyeka air mata nya sendiri.
Ceklek.
Cepat cepat Nara menghapus air matanya, lalu menoleh ke arah pintu.
"Papa sudah datang?"
Bagas mendekati Nara, ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya perlahan.
"Nak, istirahat lah. Sejak kemarin kamu belum tidur"
Nara menggeleng, ia kembali menoleh pada Andre. Seulas senyum terbit di bibir Nara.
"Aku ingin ka re bangun, dan menjadi orang pertama yang ia lihat. "
"Tapi Nara, kamu harus istirahat juga. Kesehatan kamu bisa menurun jika kamu begini terus" kata Bagas,ia sangat kasihan pada menantunya ini. Ketulusan hati Nara, sejak ia kecil sudah terlihat.
"Gak kok pa, sebentar lagi ka re pasti bangun" Nara meraih tangan Andre, membawa tangan lemah itu ke depan wajahnya, dan menciumnya penuh perasaan.
"Ka re sebentar lagi, bangunkan?" lirih Nara, siapa saj ayang mendengar nya pasti akan meneteskan air mata.
...----------------...
"Halo Frans, aku rindu kamu honey"
"Maaf Reni, aku tidak bisa. Istri ku sedang ingin bersama ku"
"Bisa tidak kau memberi ku uang saja?"
"Maaf Reni, aku tidak bisa!"
Klik.
"Aarrrgg....." Reni melempar ponsel nya ke atas ranjang. Tabungan nya sudah hampir menipis.
"Kehilangan Andre, malah kehilangan semuanya!!!" geram Reni marah.
"Aku harus mendapatkan Andre kembali, bagaimana pun cara nya!" ucap Reni penuh tekad, tatapan mata nya lurus ke foto dirinya dan Andre yang sengaja ia pajang di atas nakas nya.
"Aku harus memikirkan sesuatu untuk membuat Andre kembali!" Reni memutar otak nya dan berusaha mendapatkan ide.
"Ahh... Seperti nya aku tahu apa yang harus aku lakukan" sebuah ide melintas di benak nya, ekspresi wajah Reni langsung berubah menjadi terlihat licik.
...----------------...
"Nara, makan lah. Aku akan menggantikan mu menjaga Andre. Kamu beristirahat lah dulu" Dika memberikan kotak makan, yang sengaja ia jemput di kediaman orang tua Andre.
"Aku tidak lapar kak" tolak Nara.
"Tapi kamu harus makan" Nara tetap menolak, pandangan matanya sedikit pun tidak teralih dari wajah Andre.
Huh.
"Baiklah, jika kamu tidak makan. Aku akan membuang makanan yang Cika dan Nani sengaja masak untuk kamu"
Dika bersiap membuang kotak makan itu ke dalam tong sampah.
"Eh jangan kak, aku akan memakan nya" cegah Nara.
Dika langsung tersenyum lebar, "Gitu dong, kamu harus isi tenaga juga agar sehat."
Nara mengambil kotak makan dari tangan Dika, lalu membawanya ke sofa.
Tempat duduk Nara di gantikan oleh Dika, pria itu menatap sahabatnya dengan tatapan bersalah.
"Maafin gue man, karena gue Lo jadi kaya gini" batin Dika.
Nara memakan makanan nya dalam diam, ia terlihat sangat tidak senang.
"Setelah makan kamu bisa mandi dek, aku sudah membawa pakaian mu" ujar Dika lagi.
Nara mengangguk, ia dengan cepat menyelesaikan makan siangnya.
"Maja baju nya kak?" tanya Nara selesai makan.
"Baiklah kak, aku mau ambil baju dulu yah. Sekalian mau mandi di lantai dasar aja"
Dika mengangguk, ia menatap kepergian Nara lalu kembali fokus pada Andre.
...----------------...
Nara berjalan melewati lorong rumah sakit, tiba-tiba seseorang dengan sengaja mendorong dirinya.
"Aws..." Nara terhuyung ke dinding rumah sakit, tangan nya terasa ngilu.
Nara mendongak, melihat siapa yang telah melakukan hal ini pada dirinya.
"Heh mana Andre, kamu sembunyikan di mana dia huh?" bentak wanita itu.
Nara terheran, ia berdiri tegap sambil mengusap lengan nya.
"Siapa kamu! berani sekali kau melakukan ini pada ku!" balas Nara.
"Gak usah banyak basa basi, cepat katakan di mana Andre!" bentak wanita itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Reni.
Huffff.....
Fyuu.......
"Wah gak nyangka yah, ada orang di dunia ini tanpa rasa malu"
Plak!
Reni menampar wajah Nara, orang orang di sekitar menatap heran pada mereka.
Pertengkaran dua wanita yang mereka duga karena seorang pria.
"Apa yang terjadi?" bisik orang orang yang menatap mereka.
"Kau berani menyentuh ku??" Nara mempersingkat jarak mereka, tatapan mata nya tajam.
Jujur saja, sebenarnya Reni cukup gregetan melihat nya. Namun, ia berusaha terlihat angkuh dan tidak takut pada wanita itu.
"Cih, pantes saja Andre mengeluh dengan pernikahan nya. Ternyata kau adalah gadis jelek dan meminta dikasihani oleh Andre"
Deg.
Nara merasa sesak di hatinya, apakah Andre sering mengeluh tentang dirinya pada wanita itu?.
"Kau tidak perlu memprovokasi aku dan suami ku. " Nara menarik lengan Reni lebih dekat dengan dirinya.
"Pelakor seperti mu, tidak akan dapat sepersen pun dari harta suami ku!" gumam Nara pelan, tapi dapat di dengar oleh pasien yang tengah berjalan di sekitar sana, dan juga beberapa suster yang lewat.
Semua orang langsung menatap sinis pada Reni, mengetahui bahwa gadis itu adalah Pelakor.
"Cam kan itu!"
Dengan elegan, Nara pergi meninggalkan Reni. Wanita itu terdiam, terpaku mendengar ucapan Nara.
"Angkuh sekali kamu Nara. Lihat saja, siapa yang akan menangis nanti!" batin Reni.
"Cantik cantik, tapi Pelakor." gumam pasien wanita yang berjalan menggunakan tingkat.
"Mau juga lah, berapa semalam neng" goda om om yang juga merupakan pasien di sana.
Reni menatap marah mereka, lalu memutuskan untuk pergi dari sana. Ia harus mencari tahu di mana keberadaan Andre.
Sejak tahu Andre sudah memiliki seorang istri, Reni langsung mencari tahu tentangnya. Karena itulah, setiap ia bersama Andre, secara diam diam Reni membuat postingan privat, yang hanya di lihat oleh Nara saja. Bahkan pernah Reni menelfon Nara sepengetahuan Andre, di saat mereka tengah making love.
Nara melangkah masuk ke dalam mobil, pak Joko yang ada di sana terkejut melihat nona mudanya menangis.
"Nona kenapa?"
"Tidak apa apa pak, jalan saja"
"Kita mau kemana Non?" tanya pak Joko bingung. Nara tidak menghubungi dirinya, jika ia ingin pergi.
"Antar aku ke kantor papa"
"Baik non" Pak Joko langsung menghidupkan mobil, lalu mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Nara bersandar di sandaran mobil, mata nya menatap ke luar jendela. Air bening mengalir dari sudut matanya.
"Kenapa ka re sebegitu benci sama aku? apa salah ku ka? kenapa kakak dekat dengan wanita itu, bahkan kakak menyentuh dia, sekalipun belum pernah menyentuh aku" ratap Nara dalam hati.
...----------------...