
"Oh Alesya.. Saya tahu Mbak, dia anak salah satu direktur di perusahaan Wijaya. Alesya suka makan es krim disini, yang di sampingnya itu Ibu Tamara, Mama Alesya. Dan mm Ayahnya..." pelayan itu menggantung ucapannya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe, mungkin ia masih mencari sosok ayah dari Alesya.
"Sepertinya hari ini Pak Angga--"
"Angga?" Naya tiba-tiba memotong kalimat pelayan itu.
"Iyah Mbak, Pak Angga itu Ayah Alesya. Mbak kenal? Atau Pak Angga yang Mbak cari?" tanya Pelayan itu super kepo.
Dan sayangnya belum sempat Naya menjawab pertanyaannya, pelayan itu sudah di panggil oleh rekan kerjanya. Sebenarnya ia tidak boleh terlalu lama-lama bicara dengan pelanggan, nanti bisa kena tegur oleh manajer cafe.
"Mbak Maaf, saya harus kembali kerja hehe. Lain kali kalau mau nanya jangan sungkan-sungkan ke saya!" ujar pelayan itu dan di balas Naya dengan anggukan paham. Sebelum pelayan itu pergi Naya menyempatkan untuk membaca nametag nya. Gina.
°°
Sepuluh menit Naya mengamati anak kecil dan wanita bernama Tamara itu. Ia tak menyangka kalau sekarang ia sudah memiliki keponakan yang lucu. Naya memang sebelumnya tak pernah bertemu dengan Tamara, karena tiga tahun yang lalu, sebelum Naya pergi ke Singapura, Angga belum menikah.
"Kak Angga main curang nih, yang nikah duluan kan aku sama Gavin. Masa Kak Angga yang duluan punya anak" Naya mulai bergumam tanpa sadar, tatapannya masih tertuju pada Alesya yang super imut. Senyumannya bahkan masih terukir sempurna menatap Alesya.
Deg...
Aku sama Gavin kan...
Naya tersadar lagi akan pikirannya yang mulai melayang kemana-mana. Ia sampai lupa akan tujuannya sebelumnya, yaitu bertemu dengan Gavin.
Saat ini Naya berniat ingin menyapa Tamara, Mama Alesya. Ia berharap ini merupakan langkah awal untuk bisa bertemu Gavin tanpa rasa canggung.
Naya menarik napas panjanganya berulang kali. Tenang Naya, kali ini ketemunya sama Kak Tamara sama Alesya dulu, jadi masih bisa tenang..
Tepat saat Naya ingin menyapa, tiba-tiba di sampingnya sudah ada laki-laki berbadan tegap dan langsung mencium Alesya. Naya tentu saja diam kaku, karena laki-laki itu tidak lain adalah Gavin.
Menyadari ada orang lain di hadapannya, Tamara tersenyum. Ia menatap Naya kebingungan, melihat gadis yang menatap sendu ke adik iparnya membuat Tamara bingung harus melakukan apa.
"Vin.." lirih Naya dengan suara super pelannya.
"Vin ada yang manggil kamu tuh!" ujar Tamara berhasil membuat Gavin mengalihkan atensinya dari Alesya.
Dan yah Gavin menoleh, matanya langsung bertemu dengan mata Naya yang sudah berkaca-kaca. Jangan tanya ekspresi Naya saat ini, andai saja disitu tak banyak orang ia pasti sudah menangis bak anak kecil.
Hampir satu menit Gavin dan Naya bertatapan, tapi keduanya masih tak ada yang mengeluarkan suaranya. Tamara yang melihat itupun sepertinya paham dengan kondisi ini.
Tamara menarik Alesya masuk ke gendongannya, kemudian tak lama ia beranjak dari duduknya.
"Kakak pergi yah Vin, mau ketemu Papa Lesya dulu" pamit Tamara walaupun Gavin sudah tak menggubrisnya.
"Vinn..."
Hiks...
•••
Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕