
Sibuk dengan cemilannya tiba-tiba seseorang menarik tangan Naya dan membawanya ke tengah-tengah acara. Naya tentu saja kaget, dia berusaha menepis tangan orang yang menarik nya tapi tenaganya justru kalah jauh.
"Tolong lepasin" lirih Naya tak ingin mengundang perhatian lebih.
Yang baru saja menarik Naya adalah Ezhar, partner olimpiadenya. Naya sama sekali tidak tahu kenapa Ezhar membawanya ke tengah ruangan, dan sekarang sudah menyita semua atensi orang-orang.
Ezhar menatap manik Naya begitu dalam, lalu menunduk dan memejam kan matanya beberapa saat. Tak lama, Ezhar kembali menatap Naya.
"Gue ga tau ini bener atau nggak di mata lo.."
"Gue ga bisa nyimpen perasaan ini lagi.."
"Gue juga ga mau nyesel kalau nanti lo udah sama orang lain"
Ezhar menarik nafas panjangnnya, dia mencoba menggenggam tangan Naya, tapi sayangnya Naya langsung bergerak menjauh.
Mengedarkan pandangannya, Naya berusaha mencari keberadaan Gavin. Dia benar-benar membutuhkan Gavin saat ini, siapapun pasti sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Ezhar selanjutnya.
"Gue mau lo--"
"Mau apa?!" sahut seseorang yang tengah berjalan menghampiri Ezhar dan Naya.
"Mau apa hah?!" itu Gavin.
"Lo lagi, ngapain sih lo ikut campur mulu?! Lo itu cuma sepupu Naya ga usah banyak tingkah!!"
Cih..
Gavin berdecih dan membuang pandangannya asal, tapi beberapa saat kemudian dia kembali memberikan tatapan sinisnya pada Ezhar.
"Terus kalau gue cuma sepupu Naya kenapa hah?" Gavin mendorong Ezhar kasar.
Suasana makin panas ketika Ezhar membalas dorongan Gavin. Tak ada yang berani melerai mereka berdua. Satu ketua osis, satunya lagi kapten tim basket. Keduanya terkenal dengan sifat dinginnya, jadi tentu saja tidak ada yang berani ikut campur.
"K-kalian jangan gini, ga baik. Kita bicarain diluar aja" seru Naya mencoba melerai tapi Gavin malah mendorongnya untuk menepih.
Brukhh..
Brengsek...
Brukh.. Brukh.. Brukh..
~~
°°
Sudah satu jam Naya menangis bak anak kecil di pelukan Gavin. Dia benar-benar menyesal datang ke acara Bima, kalau saja Bima tidak datang menghentikan Gavin dan Ezhar, bisa saja mereka berkelahi sampai titik penghabisan.
"Udah nangisnya.. Kan yang sakit aku"
"Kamu itu bandel banget, emang harus banget yah adu fisik kayak tadi?!"
"Haruslah, orang istri aku di gangguin orang lain!"
"Kan bisa di bicarain baik-baik"
"Nggak bisa, orang kayak Ezhar itu keras kepala. Dulu kan kamu udah minta dia menjauh, tapi apa? Dia malah mau nembak kamu kan?!" ujar Gavin tak tanggung-tanggung.
"Tapi kan a--"
"Udah tidur, ngebahas si brengsek itu ga bakal ada habisnya. Biarin Bima yang ngurus dia" titah Gavin seraya mengusap lembut pipi Naya. Dia mencium kening istrinya itu dan perlahan memejamkan matanya.
Naya masih enggan menutup matanya, dia menatap lurus ke wajah Gavin. Perlahan tangannya bergerak mengusap pelipis Gavin yang luka, sebenarnya tak banyak yang di inginkan Naya, dia hanya ingin Gavin berhenti menyelesaikan masalah dengan adu fisik.
Setiap melihat Gavin berkelahi dengan orang lain, Naya selalu merasa sesak sendiri, seakan-seakan Gavin akan meninggalkannya selamanya. Tolong jangan sakit lagi..
•••
Jangan lupa buat Like dan komen :)
♡♥