
Sudah tiga hari berturut-turut Naya mampir ke cafe depan perusahaan Wijaya, lebih tepatnya perusahaan keluarga Gavin. Tak ada maksud lain, Naya hanya berharap bisa melihat Gavin yang mungkin keluar atau masuk ke perusahaan. Tujuan Naya melakukan itu tentu saja agar tahu apakah Gavin sudah sembuh dari luka kecelakaannya atau belum.
Berulang kali Naya mengecek ponsel kemudian kembali menoleh ke pintu utama perusahaan Wijaya, tapi sosok yang ia harapkan masih tak muncul. Meskipun ini sudah hari ketiga, Naya sama sekali tak berniat untuk menghentikan keinginan untuk memastikan kesembuhan Gavin.
Sebenarnya Naya ingin sekali menjenguk Gavin langsung, tapi seperti kata Riana, itu sepertinya bukan rencana yang bagus. Mengingat sikap Gavin yang dingin pada Naya beberapa hari yang lalu.
Naya juga sebenarnya ingin bertanya pada Dean. Tapi sayangnya Riana lupa untuk meminta kontak Dean saat bertemu di kampus kemarin. Alhasil Naya hanya pasrah saja dengan keadaan dan menunggu Gavin dengan cara seperti ini.
Ehem...
Naya reflek menoleh saat mendengar dehemam di samping telinganya.
"Zidan?"
"Ngapain disini? Masih nungguin Pak Gavin?" Naya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pertanyaan Zidan membuatnya sedikit canggung untuk menjawab.
"Oh jadi tebakan saya bener, Pak Gavin udah ga masuk beberapa hari."
"Saya Tahu," ujar Naya
"Mm terus kenapa masih menunggunya disini?" tanya Zidan menatap bingung ke Naya.
"Ahh itu--"
"Mau ikut ke rumah sakit? Saya akan pergi bertemu dengan Pak Gavin. Ada berkas dari Pak Angga yang harus saya berikan padanya langsung," tawar Zidan.
Naya menggeleng cepat. "Tidak, saya hanya akan membuat Gavin marah jika saya kesana," tolak Naya.
"Terus? Apa kamu akan terus seperti ini. Jangan jadi orang bodoh, sakit sedikit tidak apa-apa, kan?"
Naya mengernyit, perkataan Zidan memang tajam, tapi dia ada benarnya juga. Ketimbang menunggu dan berharap bertemu Gavin disini, lebih baik dia yang nekat kesana. Meskipun kejadian beberapa hari yang lalu bisa saja terulang lagi.
"Yasudah, saya harus memesan beberapa makanan dulu untuk di bawa ke Pak Gavin. Kamu tunggu sebentar." ujar Zidan lalu beranjak pergi memesan makanan.
°°
Sampailah di salah satu rumah sakit besar, lebih tepatnya rumah sakit yang menjadi tempat pengobatan Gavin. Sedaritadi Naya hanya diam dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Zidan, saya cuma mau pesan. Nanti kalau Gavin marah ke saya, kamu jangan belain saya yah. Karena kamu kerja di perusahaan Gavin, jadi kamu ga boleh punya masalah dengan dia. Apalagi hanya gara-gara saya," ucap Naya sebelum ia dan Zidan keluar dari mobil.
"Tenang saja, saya tahu apa yang harus saya lakukan," balas Zidan lalu keluar dari mobil.
Naya pun ikut turun dari mobil, ia mengekor di belakang Zidan yang melangkah dengan cepat. Memasuki lift, jantung Naya makin berdegub kencang. Naya tidak tahu, apakah ini pertanda buruk atau baik. Yang jelas hal itu cukup membuatnya takut bertemu Gavin.
"Zidan..." panggil Naya seraya menepuk pelan bahu Zidan.
"Saya batal aja deh ketemu Gavin nya. Saya takut--"
"Kamu sudah di depan ruangannya. Jangan jadi orang bodoh beneran, sini masuk!" titah Zidan membuat Naya tak bisa membantah lagi.
Ceklek...
•••
Gantung lagi kan hahaha :)
Btw makasih yah buat yang nge-vote cerita Nayara. Aku baru ngeh kalau rangkingnya naik drastis wkwkwkw, pokoknya luvluv dah buat kalian semua, kalian baik banget💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕