
Percayalah semenjak penerimaan lapor hasil belajar, Gavin terus menghindari Naya. Entah itu di depan kelas, kantin, maupun koridor sekolah. Naya sebenarnya tahu kenapa Gavin menghindarinya, karena Riana sudah bilang kalau Gavin adalah langganan rangking terakhir.
Tapi biar bagaimanapun Gavin menghindari Naya, tetap saja mereka akan bertemu, kan mereka akan pulang bersama.
Seperti saat ini, sejak tadi Gavin terus menjawab pertanyaan Naya dengan jawaban nyeleneh.
"Vin aku mau liat lapor kamu dong?!"
"Kelupaan di kelas Yangg!"
"Aku tau kamu sengaja menghindar, aku janji ga bakal marah kok" bujuk Naya lagi.
"Ga ada yangg, di lapor aku ga ada yang bagus untuk di lihat"
Naya menghela nafasnya, "Yaudah sampai rumah lapor kamu harus ada di tangan aku" titah Naya.
"Tap--"
"Ga ada tapi-tapi, harus kasih lihat ke aku!" finish Naya membuat Gavin langsung menelan ludahnya, tamatlah riwayatnya.
°°
Sampai di apartement Naya langsung beranjak duduk di sofa, dan tentu saja Gavin mengikutinya. Gavin duduk di samping Naya dan langsung bersender manja di bahu istrinya itu.
"Mana lapor kamu?!"
"Nay aku pusing" elak Gavin.
"Vin kamu taukan aku ga suka orang yang bohong, siniin lapor kamu. Aku ga bakal marah kok!" ucap Naya.
Gavin menghela nafas beratnya, dan terpaksa mengambil tasnya yang dia taruh di atas meja. Dia mengeluarkan lapornya dan memberikannya pada Naya lalu berbaring di paha Naya.
Tanpa pikir panjang Naya langsung membuka lapor Gavin dan meneliti nya. Naya tersenyum geli melihat list-list nilai Gavin, apalagi list nilai di semester sebelum-sebelumnya.
"Jangan ketawa Nay, itu nilai-nilai aku udah naik loh" sahut Gavin saat melihat Naya menahan tawanya.
"Nilai segini kamu bilang naik?!" tanya Naya dengan nada mengejek.
"Iyah, seenggaknya aku udah ngalahin dua orang di kelas aku!" balas Gavin dengan percaya diri.
Lagi-lagi Naya menahan tawanya, "Yaudah gapapa, nanti ujian di semester depan aku bakal ngajarin kamu lebih sering lagi" ujarnya dan Gavin mengangguk mengiyakan.
"Betewe kamu kok ga marah?"
"Ngapain marah?!" tanya Naya balik.
"Kan nilai aku ga bagus, aku udah sia-siain usaha kamu ngajarin aku kemarin!" Naya tersenyum menatap Gavin.
"Aku ga bakal marah selama kamu jujur sama aku, aku tau kamu ga bakat dalam belajar"
"Kamu nyindir aku nih?!"
"Enggak, emang kenyataankan?!"
"Tau ah!" Gavin hendak bangun dari paha Naya tapi Naya langsung menahannya.
"Becandaa!! Jangan marah dong Vin" seru Naya di ikuti tawanya.
Gavin sempat tertegun melihat Naya yang tertawa lepas, benar-benar gadis yang memikat hati. Tak sadar Gavin sudah senyum-senyum sendiri melihat Naya yang tertawa.
"Nay..." seru Gavin membuat Naya langsung berhenti tertawa.
"Mm?"
Gavin mengubah posisi rebahannya dan memeluk perut Naya.
Naya langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Gavin, ada rasa geli setelah mendengar permintaan suaminya itu.
"Kamu ngomongnya random banget, tiba-tiba pengen punya anak hehe"
"Tapi aku serius Nay!"
"Nanti yah, kalau kita udah lulus!" jawab Naya seraya mengusap lembut kepala Gavin.
Gavin menghela nafasnya kemudian mengangguk setuju, dia benar-benar menyayangi Naya. Dan tentu saja dia akan mengikuti apapun yang di inginkan istrinya itu, termasuk masalah yang dia minta barusan.
°°
Dan yah semester 4 telah berakhir, dan pastinya sebentar lagi sekolah akan mengadakan acara perpisahan untuk anak-anak kelas tiga yang akan lulus.
Biasanya acara perpisahan ini dilakukan setelah Ujian Nasional, dan tentu saja diadakan dengan meriah. Semua penghuni sekolah harus datang untuk memeriahkan acara.
Ujian Nasional akan dilakukan satu minggu lagi, dan selama satu minggu ke depan, kelas satu dan dua akan di liburkan. Naya yang sebelumnya di suruh pulang oleh Kakek Wira, akhirnya memenuhinya.
Mereka berdua baru saja sampai di bandara, dan sudah di sambut oleh pengawal-pengawal dari keluarga Abyasa. Gavin merasa sedikit risih, tapi Naya bilang itu adalah hal yang biasa. Keluarga Abyasa memang selalu seperti ini.
Naya mengajak salah satu pengawal untuk berbicara, dia ingin menyampaikan kalau dia dan Gavin akan tidur di hotel. Pengawal itu mengiyakan, membuat Naya langsung bernafas lega. Naya tahu persis, kalau dia kembali ke rumah keluarga Abyasa, suasana pasti akan langsung berubah.
--
Sampailah Naya dan Gavin di hotel, Naya sudah meminta pengawal keluarga Abyasa untuk menjemput nya besok pagi. Mereka berdua akan mengunjungi rumah keluarga Abyasa besok pagi.
"Kamu khawatir yah?" sahut Gavin ketika baru keluar dari kamar mandi, dan sudah mendapati Naya melamun di depan jendela.
Naya menoleh pada Gavin seraya tersenyum tipis, sangat tipis bahkan hampir tak terlihat. "Aku takut Om Razak marah lihat kehadiran aku" jawabnya.
Gavin menghela nafasnya, lalu menghampiri Naya dan memeluknya erat. "Ga bakal, ada aku yang bakal jadi pembela kamu. Selama ada aku ga boleh ada yang marahin atau nyakitin kamu"
"Aku percaya sama kamu Vin" balas Naya dengan suara pelannya.
"Ngomong-ngomong aku kok aku ga yakin yah, kalau kakek Wira minta kita pulang karna kangen doang" celetuk Gavin sukses membuat Naya mendongak dan menatap bingung.
"Maksud kamu?!"
"Aku ga maksud berfikir negatif sama Kakek Wira, tapi beberapa kali dia nelfon aku buat nanyain masalah perusahaan papa"
"Terus?"
"Kakek Wira minta aku buat ngehandle perusahaan Abyasa yang ada di jakarta" lanjutnya.
"Tapi kan kemarin papa udah bilang kamu bakal ngelanjutin perusahaan nya. Kamu ga bilangin Kakek?!" tanya Naya.
Gavin menggeleng kemudian menenggelamkan wajahnya di bahu Naya, "Urusan orang dewasa ribet Nay, bahkan aku yang belum lulus SMA malah di kasih dua pilihan, aku ga bisa milih lah!!" ucap Gavin terdengar frustasi.
Naya mengusap pelan punggung Gavin, "Kenapa kamu baru bilang sekarang? Tau gitu aku bakal cari alasan untuk Kakek, kalau kita ga bisa pulang ke Jogja" lirih Naya.
"Kita ga bisa menghindar terus Nay, suatu saat Papa pasti akan tau tujuan Kakek Wira saat ini. Aku gabisa pastiin papa ga marah, tapi yang pasti aku ga bakal biarin keluarga kita berdua terpecah belah" ucap Gavin menatap lekat pada Naya.
"Vinn... Ngomongnya jangan serius gitu dong! Aku takut" seru Naya dan langsung memeluk Gavin kembali.
Naya tahu keluarga Abyasa sangat keras, dan selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi biar bagaimanapun keputusan dimana Gavin bekerja, tentu saja ada di tangan Gavin sendiri.
•••
Akhirnya up juga hehe, maap untuk kalian yang menunggu Naya dan Gavin. Seperti biasa jangan lupa like dan komen yah, ngasih point juga boleh wkwkwkw...
💕💕